Tuesday, 28 February 2017

[Resensi] Fokus pada Pekerjaan Jadi Kunci Sukses

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 12 Februari 2017 

Judul               : 77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala  Miliarder
Penulis             :  Erlita Pratiwi
Penebit             : Grasindo
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
Halaman          : viii + 311 hlm
ISBN               : 978-602-37552-3-3
Persensi           :  Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Meningkatkan produktivitas berarti kita bisa semakin efisien dalam bekerja.  Produktivitas sendiri bisa diartikan sebagai suatu ukuran yang menyatakan, bagaimana seseorang bisa memanfaatkan waktu untuk  mencapai hasil kerja secara optimal. Mampu mengatur waktu yang efektif dan efisien. Sehingga setiap pekerjaan bisa selesai sesuai target, tanpa membuang waktu secara percuma.

Dalam buku ini penulis berbagi cara bagaimana agar kita bisa menjadi pribadi yang selalu produktif. Setidaknya ada 77 cara atau mantra yang bisa dipelajari dan dipraktikkan. Sebuah buku yang sangat inspiratif dan memotivasi.

Hal pertama yang perlu diperhatikan ketika ingin menjadi seorang yang produktif adala selalu selalu fokus.  Sebagaimana yang dipaparkan Andrew Carnegie, salah satu miliarder di Amerika. Dia percaya bahwa kesuksesan dapat dicapai ketika setiap orang memusatkan semua pikiran dan energi mereka pada tugasnya. Fokuslah pada satu hal dan selesaikanlah dengan baik (hal 1).

Selain itu, jangan menghadapi pekerjaan dengan tekanan. Tapi pekerjaan itu harus dinikmati. Bersenang-senang dengan pekerjaan akan memberi dampak baik. Karena hati yang senang akan mempengaruhi produktivitas dan membuat semangat (hal 27). 

Cara ketiga adalah selalu berpikir terbuka.  Orang yang berpikir terbuka cenderung lebih maju dan produktif dalam bekerja. Mereka tidak membatasi diri terhadap satu pemahaman tertentu.  Cara berpikir inilah yang harus ditiru. Jangan hanya melihat apa yang ada di masa sekarang. Berpikirlah jauh ke masa depan (hal 55).

Selanjutnya hindari multitasting. Kurang lebihnya inilah pendapat Steve Jobs—pemilik Apple  dan banyak miliarder lainnya.  Menurut mereka , multitasting justru membunuh produktivitas terbesar.  Karena saat kita mencoba melakukan banyak hal secara bersamaan, kita tidak dapat memberikan perhatian yang dibutuhkan pada semua hal dan itu akan berefek pada kualitas kerja (hal 120). Bahkan dari sejumlah penelitian menyimpukan kegiatan  multitasting justru mengurangi produktivitas.

Kesimpulan dalam buku ini adalah, untuk bisa menjadi pribadi yang selalu produktif dalah dengan memiliki niat kuat, disiplin dan tanggungjawab. Tidak lupa selalu belajar, menyerap bergagai ilmu dan tidak mudah putus asa. 

Selain beberapa cara yang telah dipaparkan, tentu saja masih banyak cara-cara lain yang bisa ditiru agar bisa meningkatkan produktivitas.  Buku ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang memikat dan mudah dipahami. Selain itu dalam setiap cara, penulis juga memberikan kisah inspiratif bagaimana para miliarder meningkatkan produkfitvitas.

Srobyong, 2 Januari 2017 

Sunday, 26 February 2017

[Resensi] Pendidikan Akhlak untuk Anak

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 11 Februari 2017


Judul               : Misteri Kaus Kaki yang Hilang
Penulis             : Dinu Chan, Fajriatun Nur & Kayla Mubara
Penerbit           : Pro-Kids
Cetakan           : Pertama, November 2016
Tebal               : 112 hlm
ISBN               : 978-602-744492-3-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Ismaln Nahdlatul Ulama, Jepara


Pendidikan akhlak adalah salah satu pendidikan yang harus diajarkan pada anak sejak dini. Karena akhlak itu akan menunjukkan bagaimana perangai anak itu baik atau buruk. Salah satu cara untuk mengajarkan pendidikan akhlak pada anak itu melalui media cerita. Dan buku ini merupakan salah satu buku yang direkomendasikan dibaca untuk anak.

Buku ini ditulis oleh tiga penulis dengan sepuluh kisah yang penuh hikmah. Selain menyimpan pendidikan akhlak, juga dilengkapi dengan pengetahuan yang terdapat setelah akhir cerita.

Seperti kisah pertama karya Dinu Chan berjudul “Pohon Mangga Abah Somad”. Dikisahkan Aldo dan Helmi merasa tergiur dengan pohon mangga Abah Somad yang sedang berbuah. Hanya saja mereka tidak berani meminta karena tidak terlalu akrab dan bah Somad sendiri jarang keluar rumah. Hingga akhirnya mereka memiliki rencana untuk mengambil mangga tanpa sepengetahuan Abah Somad.  Tapi berhasilkah mereka? (hal 11).

Atau kisah lainnya karya Fajriatun Nur yang berjudul “Koleksi Devi”. Dalam cerita ini Devi merasa tidak percaya diri  dengan koleksi buku bekas yang dimilikinya. Dia merasa malu karena hanya bisa mengoleksi barang bekas. Bagaimana kalau nanti dia diejek teman-temannya? Bagaimana kalau nanti ditertawakan? (hal 40).

Selain dua kisah itu tidak kalah menarik menarik adala cerita karya Kayla Mubara “Sandi Pemberi Hadiah” Di mana menceritakan tentang Akbar yang harus memecahkan sandi yang ditulis dengan huruf morse.  Dan semua itu berhubungan dengan akuarium dan ikan. Berbagai cara sudah Akbar lakukan demi memecahkan sandi tersebut.

Selain tiga kisah ini tentu saja masih banyak kisah-kisah lain yang tidak kalah seru dan menarik . Semua cerita dipaparkan dengan gaya bahasa renyah khas anak-anak, sehingga mudah dipahami. Dari cerita-cerita di sini para penulis  mencoba mengajarkan tentang beberapa akhlakul harimah.

Di antaranya adalah   mencuri itu bukan perbuatan yang baik, jangan suka iri terhadap milik orang lain, jangan menjadi anak yang penakut, jangan berburuk sangka, harus selalu bersyukur, jangan ceroboh, dan masih banyak lagi.  Lalu disambung berbagai pengetahuan seperti jenis-jenis buah mangga, lalu pengetahuan tentang mahram, ciri-ciri makanan yang mengandung roadhim B dan banyak lagi. 

Srobyong, 28 Januari 2017 

Friday, 24 February 2017

[Resensi] Hubungan Kegeniusan dengan Lingkungan Negara

Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 7 Februari 2017 

Judul               :  The Geography of Genius
Penulis             : Eric Weiner
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
Tebal               : 576 hlm
ISBN               : 978-602-402-024-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Naskah ini merupakan resensi versi ke-2 dari buku "The Geography of Genius" karya  Eric Weiner.  Versi Satu bisa dilihat di sini Dan ini adalah naskah asli ketika mengirim sebelum ada sedikit revisi dari redaksi yang bisa di baca di sini (Koran Jakarta)

Eric Winer memiliki pendapat bahwa sejarah suatu negara memiliki keterkaitan dengan adanya orang  jenius. Karena itu, dia mencoba mencari dan mengulik tempat-tempat paling kreatif di dunia untuk menemukan hubungan antara lingkungan dan ide-ide inovatif, lalu meredefinisi argumen tentang bagaimana seorang jenius muncul.

Selama ini sebagian orang sering mendefinisikan jenius  sebagai seorang yang sangat cerdas dan memiliki IQ tinggi. Padahal pendapat itu tidak seratus persen benar. Pada kenyataan di lingkungan masyarakat, orang ber-IQ tinggi belum tentu memiliki banyak prestasi dan sebaliknya orang  yang memiliki IQ rata-rata bisa melakukan hal-hal yang besar dan menakjubkan.  

Negara yang pertama disambangi adalah Athena, Yunani—pusat peradaban tertua di Eropa.  Pada zaman keemasannya Yunani merupakan negara yang paling menonjol dengan segala ilmu pengetahuan yang dimiliki. Banyak orang-orang jenius yang berasal dari sana. Di antaranya adalah Plato, Aristotales, Archimades, Thales dan banyak lagi. Dari perjalannya Eric menyimpulkan bahwa Athena penuh dengan orang-orang jenius itu karena beberapa alasan.

Mereka menghargai alam dan manfaat berjalan. Hidup  dengan sederhana dan menyederhanakan diri.  Suka persaingan, tapi bukan untuk kejayaan pribadi. Tidak takut akan perubahan atau bahkan kematian. Merangkul  ketidak pastian dengan segala resiko, tetap terbuka dalam segala hal, bahkan ketika akal sehat mungkin memerintahkan sebaliknya. (hal 116).  Bahwa genius bukan hanya tentang akal tapi juga melibatkan emosi, hubungan masyarakat dan berani mengambil resiko.

Dari Athena, Eric menuju Huangzhou, China. Kota ini merupakan kota paling kaya dan berpenduduk paling padat di dunia sekaligus kota yang paling inovatif. Di saat Amerika masih merangkak, China sudah menunjukkan taringnya dengan segala peradaban ilmu pengetahuan yang membawa kemajuan bagi negaranya.  China menciptakan bubuk mesiu,  kembang api, tekstil, porselen terbaik di dunia serta memelopori kemajuan di bidang kelautan.

Apa yang membuat negara itu penuh dengan orang-orang genius adalah Huangzhou merangkul teknologi baru, suka membaca berbagai literatur klasik, memiliki cita rasa yang tinggi terhadap seni, dan menganggap menulis adalah kegiatan kreatif dan tidak mudah putus asa.   

Para jenius memiliki tekad sekuat baja serta kerelaan  untuk mengulangi lagi dan lagi sehingga, walaupun tidak sesuai dengan gagasan romantis kita mengenai penciptaan tanpa susah payah, tekad tetap  menjadi faktor penting. Yang membedakan orang genius dari orang gagal sebenarnya bukan berapa kali dia berhasil, melaikan berapa kali dia memulai dari awal (hal 139).  Selain itu di Huangzhou adalah negara yang sangat menjunjung tinggi tradisi. “Tradisi bukan sesuatu yang perlu dijauhi oleh orang-orang inovatif melainkan sesuatu yang perlu dirangkul” (hal 156).

Sedangkan di Florence,  kejeniusan memiliki keterkaitan yang erat dengan uang.  Namun begitu, uang yang dimiliki diinvestasikan pada pengetahuan. Hal itu bisa dilihat dari kecintaan mereka pada buku dan kepedulian pada orang yang membutuhkan. Pada abad ke-15 buku sama dengan harga mobil saat ini dalam konteks relatif. Tapi buku tetap diburu. Saat itu para humaris memang percaya buku itu mengandung tak kurang  dari rahasia kehidupan dan kedatangan manuskrip baru disambut dengan antusiasme yang sama seperti bila kita  menyambut kedatangan iphone  versi terbaru (hal 235). 

Selain tiga negara itu masih ada Edinburgh, Kolkata, Wina sampai Silicon Valley yang disambangi Eric demi menuntaskan rasa ingin tahunya perihal kolerasi sejarah dan lingkungan  suatu negara dengan  makna jenius.  Membaca buku ini menambah wawasan luas yang sangat inspiratif. Yaitu mengenal lebih dekat negara-negara yang memiliki sumbangsih besar dan kemajuan di dunia, serta makna jenius dari sudut pandang yang berbeda.   Dipaparkan dengan bahasa yang lugas dan sesekali humor, membuat buku ini asyik untuk dibaca.

Di sini dapat disimpulkan jenius itu bukan hanya masalah IQ yang dimiliki tapi tentang perilaku dan bagaimana mereka membawa diri. Jika kebanyakan dari orang biasa hanya menatap, maka orang jenius melihat. Dalam artian, mereka tidak mengabaikan keganjilan atau menyisihkan, tapi menyelidiki lebih jauh, mengajukan berbagai pertanyaan untuk mengetahui kebenaran (hal 285). Selain itu para jenius cenderung berani mengambil tantangan dan tidak mudah menyerah.


Srobyong, 27 Januari 2017 

Wednesday, 22 February 2017

[Resensi] Mengenali dan Mengatasi Demam Berdarah

Dimuat di Kabar Madura, Senin 6 Februari 2017 


Judul               : Bijak Memahami Masalah Kesehatan Terkini
Penulis            : Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt.
Penerbit           : Kanisius
cetakan             :  Pertama, 2016
Tebal               : 204  Halaman
ISBN               : 978-979-21-4908-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Bijak Memahami Masalah Kesehatan Terkini merupakan buku karya Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt. Seorang guru besar Farmakolagi dan Farmasi Klinis, Fakultas Farmasi, Universitas Gajah mada.  Dia menerima gelar doktornya di Ehime Universitas School of Medicine Japan di bidang farmakolagi. Buku ini mengenalkan tentang berbagai penyakit yang ada di lingkungan masyarakat, beserta gejala, pencegahan dan cara mengobatinya.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aides aegypti betina.  Virus Dengue menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan pendarahan, yang jika parah dapat menimbulkan kematian (hal 60).

Merupakan salah satu masalah penyakit utama di Indonesia. Bahkan di beberapa daerah Indonesia dilaporkan menjadi daerah endemik sehingga warga harus meningkatkan kewaspadaan. Di musim hujan  wabah penyakit demam berdarah sangat  mudah menjangkit siapa saja.

Penyakit DBD memiliki gejala yang kadang sering tidak terduga. Namun secara umum, ciri-cirinya adalah mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak lemah lesu suhu badan antara 38-40 atau lebih. Lalu mulai tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang.  Kadang-kadang mengalami mimissan, muntah darah atau berak darah,  ujung tangan dan kaki berkeringat dingin. Kadang juga badan terasa pegal-pegal dan kepala pusing, tidak nafsu makan, jika makan lidah terasa pahit, berkeringat dingin dan mual (hal 61-62).

Penyakit ini sedikit banyak memiliki ciri-ciri yang sama dengan penyakit tifus. Karena itu kadang banyak orang yang merasa salah paham perihal penyakit ini.  Untuk itulah perlu kita tahu apa perbedaannya agar bisa cepat menanggulanginya. Jika DBD disebabkan virus maka penyakit tifus disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.  

Perbedaan yang paling khas adalah pada pola demamnya. Pada  penderita DBD, gejajal panas tinggi terjadi secara mendadak, sedang pada tifus biasanya timbul pada sore atau malam hari.  Pagi  menjelang siang sudah mulai turun, lalu sore harinya kembali panas. Ciri khas lain demam dengue adalah pada hari kelima biasanya demamnya turun. Namun ini bukan pertanda semakin membaik. Ini merupakan fase berbahaya karena merupakan fase kritis. Sementara pada pasien tifus demam yang turun artinya penyakit semakin membaik (63-64).

Untuk lebih jelanya bisa melakukan cek laboratorium agar bisa mendeteksi  penyakit yang menyerang. Seperti dengan melakukan imuglobulin G (IgG) atau imuglobulin M (IgM) dengue dan NSI Ag (antigen) dengue. Pemeriksaan IgG atau IgM dengue adalah untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dengue.  Sehingga tidak

Sedang langkah pertama untuk mengobati demam berdarah adalah memberi minum sebanyak-banyakknya. Airnya bisa berupa air masak yang dibubuhi garam oralit atau gula, susu, air kelapa, jus buah-buahan atau air teh.  Untuk demamnya bisa diberi obat penurun panas parasetamol. Dan untuk rasa mual bisa diberi obat antimual. Namun jika gejalanya sudah semakin parah, maka harus dirawat di rumah sakit.

Selain memaparkan tentang  ciri-ciri dan cara pengobatan demam berdarah, buku ini juga memaparkan berbagai penyakit yang sering dialami kebanyakan masyarakat. Buku ini dijelaskan dengan gaya bahasa yang akurat dan mudah dipahami. Banyak ilmu yang bisa diambil setelah membaca buku ini. Serta semakin menyadari pentingnya hidup sehat. Karena kesehatan itu memang sangat mahal.

Ada baiknya kita mencegah sebelum mengobati. Untuk mencegah wabah demam berdarah, seyogyanya kita selalu melakukan 3 M (menguras, menimbun dan membakar) tempat-tempat yang mudah digenangi air, tempat bersarangnya nyamuk Aides aegypti, menggunakan serbuk abate, memakai lotion atau obat nyamuk dan banyak lagi.

Srobyong, 5 Desember 2016 

Tuesday, 21 February 2017

[Resensi] Mitos, Persahabatan dan Keindahan Pulau Bawean

Dimuat di Radar Surabaya, Minggu 5 Februari 2017

Judul               : Sang Penakluk Kutukan
Penulis             : Arul Chandrana
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Februari 2016
Halaman          : viii + 289 hlm
ISBN               : 978-602-0822-18-1
Peresensi         : Ratnani Latifah, lulusan Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara, Jateng.

Ini adalah naskah asli ketika mengirim ke Radar Surabaya. Hanya saja ketika dimuat sepertinya ada pemotongan sedikit dari redaksi. Dan yang lebih membuat agak nyesek adalah kesalahan penulisan nama peresensi yang ditulis Annisa L meski di kolom berikutnya tetap ada di tulis nama Ratnani Latifah. Tapi tetap saja sedikit banyak merasa entah. Kenapa nama penulis resensi keliru, ya? L

****

“Tidak semua yang diceritakan orang banyak adalah kebenaran, kadang kala kebenaran ada di dalam kisah yang paling jarang diceritakan.” (hal. 122)

Mitos memang selalu asyik untuk dibicarakan.  Dan kenyataanya,  banyak orang akan lebih mempercayai apa yang banyak didengar dari pada, sejarah yang jarang diungkapkan.  Sebagaimana yang termaktub dalam kisah ini.  Sebuah novel, yang selain menyuguhkan kisah persahabatan yang cukup unik, dipaparkan juga sebuah mitos yang menarik. Tidak ketinggalan, pembaca bisa menikmati keindahan Pulau Bawean—sebuah pulau yang terletak  di laut Jawa, kabupaten Gresik, Jawa Timur. 

Desa Kumalasa adalah salah satu desa kecil di Pulau Bawean. Wilayah laut Desa Kumalasa   bernama  Labbhuan. Ada sejarah kenapa diberi nama tersebut. Dan di sana ada sebuah  ada sebuah mitos tentang makhluk kutukan bernama Akdong yang tinggal di tempat itu.  sosok yang dienyahkan dari desa sepuluh tahun lalu (hal. 3).

Konon katanya, Akdong pernah terdampar di Pulau Karabillo—pulau yang terletak di sebelah selatan Pulau Bawean dan berada di wilayah Kecamatan Tambak. Di sana di kenal sebagai tempat para jin berada juga tempat pesugihan berada (hal. 78-79). Akdong disinyalir sebagai salah satu pengikut jin.
Sebagaimana warga pada umumnya, Ranti pada awalnya mempercayai mitos tersebut. Dia takut dengen keberadan Akdong dan membencinya. Sampai kemudian sebuah kejadian-- Ranti bertemu Akdong dan Aknang—putra Akdong, dan itu merubah pandangannya. Kejadian itu terjadi ketika Ranti pergi dengan ramanya ke Pantai Labbhuan—tempat yang unik. Dia berada di lereng perbukitan berhutan lebat yang membentang hampir di sepanjang pantainya.  Dan yang paling unik adalah, pada salah satu bagian kaki bukit yang mengitarinya terdapat sumber air tawar yang tak pernah kering (hal. 82-83).

Selain karena sudah bertemu dengan makhluk kutukan itu, Ranti pada akhirnya mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan warga Bawean. Gadis yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu, kemudian bersahabat dengan Aknang secara diam-diam.  Sayangnya persahabatan itu berbuah petaka pada keluarga Ranti, ketika kenyataan itu terkuak karena sahabat dekat Ranti lainnya—Hekma. Sahabat yang selalu setia membantu Ranti, ketika dirinya selalu dibully teman-temannya, karena tidak suka dengan pekerjaan ramanya, yang seorang tabib.  Entah bagaimana nasib Ranti dan keluarganya kemudian. Juga nasib Akdong dan Aknang yang semakin dibenci warga.

Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah, sehingga sangat asyik untuk diikuti. Selain itu, lokalitasnya pun sangat terasa. Hal itu bisa dililahat dari pemakaian asli bahasa daerah di sana, serta pemaparan setting-nya. Seperti benar-benar berada di Bawean. Saya jadi ingin berkunjung ke Pantai Labbhuan, yang kata kebanyakan turis pantai ini pantas dilestarikan dan dijadikan salah satu  icon pariwisata di Jawa Timur.   Belum lagi penokohan Ranti yang polos dan apa adanya.

Hanya saja saya masih menemukan beberapa typo yang berseliweran dalam buku ini. Selain itu saya lebih suka untuk arti bahasa daerahnya itu menjadi footnote daripada berada di halaman catatan di belakang.

Lepas dari kekurangannya, buku ini sangat direkomendasikan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini. Seperti arti pentingnya kejujuran, rasa kemanusiaan, menghindari rasa iri, jangan berbuat jahat antara sesama makluk Tuhan,  tentang arti penting dari persahabatan.  “Persahabatan sesungguhnya hanya membutuhkan ketulusan perasaan, bukan manisnya perkataan” (hal. 136).  Serta anjuran untuk tidak suka memfitnah. “Menuduh seseorang melakukan kejahatan yang tidak dia lakukan adalah sebuah kejahatan. Buktikan dulu dugaanmu, barulah tunjukkan tuduhanmu.” (hal. 214). Menngajak kita berpikir ulang dalam berkata harus melihat situasi dan kenyataan yang ada. Hanya jangan asal menuduh tanpa ada bukti yang nyata.


Srobyong, 27 Oktober 2016 

Friday, 17 February 2017

[Resensi] Mencari Pengakuan Lewat Olimpiade Sains Astronomi

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 31 Januari 2017

Judul               : Starlight
Penulis             : Dya Ragil
Editor              : Abduraafi Andrian
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 264 hlm
ISBN               : 978-602-03-2753-2
Peresensi         : Ratnani Latifah (Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara)


Starlight adalah sebuah  novel yang  mencoba mengingatkan bahwa setiap anak tidak boleh dibeda-bedakan dan  berhak bermimpi dan berjuang dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan yang disukai. Selayaknya teori Big Bang atau teori asal-usul alam semesta. Di mana itu berarti, setiap orang punya potensi. Jika mau berusaha, meski berasal dari  nol bisa meledak menjadi hebat.  (hal. 10-11)

Novel ini menceritakan tentang Wulan yang sangat menyukai bintang dan bermimpi ingin menjadi astronom.  Karena memang sejak kecil, ayahnya  sudah mengenalkan Wulan dengan bintang. Memberitahunya tentang teori Big Bang, mengenalkan Proxima Centauri, bintang yang paling dekat dengan bumi setelah matahari, atau tentang Sirius—bintang kembar dan Pleiades—kumpulan ratusan, mungkin ribuan bintang. Namun sang ayah tidak terlalu peduli dengan impiannya dan malah lebih mendukung saudara kembarnya—Lintang untuk menyukai astronomi.

Suatu hari di sekolah diadakan seleksi olimpiade sains, di mana salah satu pilihannya adalah bidang astronomi. Tentu saja dia sangat girang.  Karena tahun lalu perwakilan dipilih langsung melalui nilai rapor. Di mana dia tak mungkin terpilih, karena bisa dibilang dia bukanlah murid yang cukup berprestasi. Tapi berbeda dengan seleksi, dia masih punya kesempatan. (hal. 50)

Tiba-tiba Wulan teringat saudara kembarnya.  Jika nanti Lintang tahu tentang seleksi olimpiade ini, sudah pasti ayah mereka akan memaksa Lintang ikut ambil bagian astronomi, meski anak itu tidak akan setuju. Karena ayah mereka sangat yakin, Lintang mampu bersaing untuk lolos dalam olimpiade nasional dengan kecerdasan yang dimiliki.  Berbeda dengan Wulan yang hanya memiliki kecerdasan pas-pas-an.

Selain Lintang yang menjadi saingannya,  ada juga Bagas dan Nindi, siswa yang tidak kalah cerdas dengan saudara kembarnya itu.   Untungnya, pada seleksi awal itu, Wulan bisa lolos, meski dia harus marah mengingat ulah kembarannya yang tidak serius dalam seleksi itu. (hal. 102)

Namun olimpiade harus tetap berjalan. Apalagi sekarang Wulan punya dua misi. Harapan tentang impiannya sendiri, menekuni bidang astromoni, juga sebuah harapan  bisa menunjukkan kemampuannya agar ayahnya bisa bangga pada dirinya, bukan hanya bangga pada kepandaian Lintang.

Bersama Bagas dan Nindi, Wulan dibimbing  Pak Hadi untuk  sampai di seleksi tingkat kabupaten.  Mereka berlajar dengan sangat tekun meski sesekali ada masalah yang kadang membuyarkan konsentrasi. Salah satunya tentang pertengkaran Teguh dengan Lintang, juga ketidakharmonisan hubungan antara dirinya, Bagas dan Nindi.

Dan betapa kagetnya Wulan ketika melihat pengumuman siapa saja yang lolos dalam seleksi olimpiade sains tingkat kabupaten—dua di antaranya dari bidang astronomi. (hal. 163) Padahal dia sudah menyiapkan diri jika memang gagal. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, dia lolos.

Impian Wulan pun terasa semakin dekat. Dia sudah belajar sungguh-sungguh untuk menyongsong olimpiade sains tingkat provinsi. Tapi wajah gadis itu malah terlihat mendung. Ternyata setelah diusut, kemurungannya terjadi karena ucapan sang ayah. Ayahnya bilang, “Kalau gagal di olimpiade, jangan merasa terbebani.” (hal. 181) Ucapan itu seolah menunjukkan dia tidak diharapkan ayahnya menang.  Dan pasti akan berbeda jika Lintang yang ikut, ayahnya pasti akan memberi semangat. “Semangat kamu pasti bisa.”

Melupakan kesedihan itu, Wulan tetap melakukan yang terbaik. Entah bagaimana kelanjutan usaha Wulan. Apakah nantinya dia bisa memperoleh pengakuan dari sang ayah dan lolos dari olimpiade astronomi apa tidak.

Selain membahas tentang usaha Wulan yang ingin mendapat pengakuan sang ayah, olimpiade atronomi, novel ini juga menceritakan tentang arti persahabatan juga cinta. Penulis meramunya dengan sangat baik dan dengan porsi yang pas. Novel yang sarat makna, mengajarkan tentang keluarga, khususnya orangtua yang seharusnya tidak boleh pilih kasih, lalu tentang semangat dalam mengejar impian juga ada bumbu persahabatan dan cinta. Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah, sehingga membuat kisah ini mudah dinikmati. Dan tidak ketinggalan, pengetahuan tentang ilmu astronomi juga banyak bertebaran dalam buku ini.

Srobyong, 9 Juni 2016 

Thursday, 16 February 2017

[Resensi] Belajar Menjadi Pribadi yang Sabar dan Ikhlas dari Novel

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 29 Januari 2017 


Judul               : Tentang Kamu
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Kedua, Oktober 2016
Tebal               : vi + 524 hlm
ISBN               : 978-602-0822-34-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmah buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahlatul Ulama, Jepara.


Sabar adalah sikap yang menunjukkan kekuatan emosi untuk selalu bertahan dalam segala situasi, meski itu sangat sulit.  Sabar juga berarti tidak mudah mengeluh dan memiliki jiwa yang kokoh. Membaca novel ini, kita akan dikenalkan pada sosok yang begitu sabar dan ikhlas meski cobaan keras datang bertubi-tubi.  Tere Liye, penulis asal Sumatra kembali menyapa penggemarnya dengan buku yang sangat inspiratif.  Dia selalu memiliki ide-ide segar dan unik.

Novel ini mengisahkan tentang jejak kehidupan Sri Ningsih yang akan dipaparkan melalui perjalanan panjang dari Zaman Zulkarnaen—seorang junior associate di Thompson & co, London.  Di mana dalam kasus ini Zaman harus menemukan ahli waris Sri. Karena siapa sangka, perempuan tua yang memilih tinggal di panti Jompo di Paris, ternyata memiliki kekayaan sebesar  satu miliar poundsterling dalam bentuk saham. Dan jika dirupiahkan itu akan sama nilainya dengan 19 triliun rupiah (hal 11). 

Zaman memiliki amanah untuk memecahkan misteri ini. Tidak menunggu lama Zaman segera bertindak. Pertama, dia mendatangi panti jompo di paris—di mana dia malah mengetahui kenyataan Sri telah meninggal dan hanya meninggalkan diary tipis.  Tapi dari benda itu, pada  akhirnya  membawa Zaman kembali ke negerinya tercinta untuk mengendus perjalanan Sri Ningsih.

Pulau Bungin menjadi langkah awal mengikuti isi cacatan tersebut. Karena di sanalah Sri dilahirkan. Di sini Zaman nampak terkejut mendapati kisah perjalanan hidup Sri yang tidak terduga. Dicap sebagai anak pembawa sial dan harus menjadi anak yatim piatu di usia kecil. Tidak cukup itu Sri pun harus rela diperlakukan kasar oleh ibu tirinya.  Namun Sri menerima semua itu dengan sabar dan ikhlas.

Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak akan ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia,  sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa (hal 48).

Setelah dari Bungin, Zaman melanjutkan perjalanan ke Surakarta, ke tempat Madrasah Kiai Ma’sum. Di sini Sri hanya memiliki Tilamuta, adik tirinya sebagai anggota keluarga. Ibu tirinya meninggal dalam insiden kebakaran. Pada bagian ini Sri akhirnya menemukan dua sahabat yang sangat disayanginya. Namun rasa iri dan benci ternyata mampu menggoyahkan rasa kekerabatan itu. Bahkan Sri sampai mengalami trauma yang mendalam akibat kejadia ini.

Rasa dengki telah menjadi kebencian luar biasa, yang bahkan bisa membuat pelakunya tega membabi-buta (hal 191).

Untuk mengobati traumanya itu ... Sri memutuskan tinggal di Jakarta. Dan Zaman pun dengan setia mengikut pola perjalanan hidup Sri. Kali ini selain ada diary tipis, Zaman juga mendapat surat-surat milik Sri yang cukup membantunya dalam penyelidikan. Namun lagi-lagi Sri bagai hilang di telan bumi, setelah berhasil menjadi wanita sukses—setelah berkali-kali jatuh bangun dan mengalami kebangkrutan.  

Ternyata Sri memilih London sebagai tempatnya bersembunyi. Di sana dia sempat memiliki keluarga yang begitu baik dan bahkan menikah. Namun, tak lama setelah itu ... Sri kembali menghilang tanpa pesan apa pun. Di sini Zaman merasa buntu. Dia bertanyaa-tanya apa yang membuat Sri selalu menghilang?

Belum selesai kebingungan Zaman perihal penyelidikannya, tiba-tiba ada seseorang yang mengaku sebagaia istri Tilamuta dan merupakan ahli waris kekayaan Sri. Padahal menurut penyelidikan Zaman, Tilamuta telah meninggal. Kehidupan Sri yang penuh  puzzle-puzzle ini, menjadi tantangan besar bagi Zaman. Dia bertekad akan mengungkapkan semua kebenarannya. Itulah prinsip yang selama ini dipegangnya.

“Jika berkata jujur akan membuat empat orang jahat terbunuh mengenaskan, sedangkan berbohong akan membuat selamat, maka pilihan yang akan aku ambil adalah bersedia mati bersama dengan empat orang jahat itu demi menegakkan kebenaran” (hal 512).

Dipaparkan memakai sudut pandang orang ketiga, membuat kisah terasa hidup. Gaya bahasanya pun renyah dan gurih. Penulis pandai menyimpan kebenaran hingga akhir. Menuntun pembaca agar menyelesaikan novel ini sampai akhir. Tidak ketinggalan kejutan akhir yang mungkin tidak pernah terbayangkan.  Beberapa kekurangannya tidak menutupi keasyikan dalam membaca.

Sebuah novel yang sarat makna dan menginspirasi. Kita diajak belajar menjadi sosok yang selalu sabar dan ikhlas. Selain itu kita juga diajarkan untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan selalu positif thinking.

Jadilah  seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir dengan sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru (hal 278).

Srobyong, 30 Desember 2016 

 
Resensi ini merupakan resensi versi kedua. Resensi versi pertama bisa dicek di sini (salah satu resensi terpilih dari lomba resensi Tentang Kamu yang diadakan Penerbit Republika)

Wednesday, 15 February 2017

[Resensi] Kisah Tentang Orang-Orang yang Patah Hati

Dimuat di Koran Pantura, Senin 9 Januari 2017 

Judul               : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis             : Eka Kurniawan
Penyunting      : Ika Yuliana Kurniasih
Penerbit           : Penerbit Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Maret 2015
Halaman          : vi + 170 hlm
ISBN               : 978-602-291-072-5
Peresensi           : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.


Terdiri dari 15 cerita pendek, buku ini bisa membuat pembaca hanyut memasuki labirin yang entah kapan bisa keluar.  Sebagian banyak cerpen-cerpen yang dituangkan Eka Kurniawan dalam buku ini adalah tentang perasaan terluka—patah hati, dari berbagai kerancauan hidup. Kelebihan dari semua cerpen yang ada di sini adalah, penulis bisa mengusung ide cerita sederhana namun dikemas dengan keunikan tersendiri, sehingga membuat cerita semakin berwarna.

Diawali dengan kisah Gerimis yang Sederhana. (hal. 1) Pertemuan antara Mei dan Efendi. Lalu kehadiran seorang pengemis, yang kemudian membuka tabir  tentang sebuah rahasia. Diceritakan dengan gaya bahasa lugas dan tidak berele-tele.  Eka Kurniawan sangat piawai dalam membuat kisah ini menjadi cerita manis, pahit dan menghentak.

Kemudian kisah Gincu Ini Merah, Sayang. (hal.13) Judulnya saja sudah menarik. Begitupun ceritanya yang ternyata mengangkat tentang seorang PSK. Bagaimana Marni yang akhirnya merasakan cinta dan gayungnya juga disambut. Marni akhirnya menikah dengan Rohmat Nurjaman. Pertemuan mereka di bar Beranda membuat mereka saling jatuh cinta. Dan memutuskan menghapus semua masa lalu. Tapi hanya karena sebiah gincu merah, pernikahan itu mengalami prahara. Entah ada apa dengan dengan keberadaan gincu merah itu.

Cerpen ini diceritakan dengan alur maju mundur. Jadi selama membaca, akan ada potongan puzle yang membuat ingin mengetahui di balik maksud gincu merah.

Cerita ketiga adalah Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.  (hal. 25) Cerpen yang dijadikan judul cover buku ini.  Sebagai sebuah judul memang agak panjang, tapi jangan khawatir, cerita yang ditawarkan akan membuat pembaca merasa puas dengan gaya penuturan penulis.

Maya merasa sangat terluka, ketika pada  malam sebelum menikah, dia ditinggalkan sang kekasih. Yang lebih membuatnya terpukul adalah kekasihnya itu meninggalkan dirinya karena lebih memlih sahabatnya.  Alasan itulah yang kemudia membuatnya mengiris nadi. Hanya saja ternyata dia masih bisa diselematkan.  Dalam masa istrihatanya itu, tiba-tiba dia memperoleh mimpi aneh.

Dalam mimpi itu dia akan memiliki kekasih baru yang tampan dan menjanjikan kehidupan bahagian. Tak hanya sekali tapi berulang kali mimpi itu hadir dalam tidurnya. Dikisahkan kekasihnya itu tinggal di kota kecil Pangandaran.  Namun adakah mimpi itu benar nyata atau hanya sebuah halusinasi?  Ending cerita ini sungguh mengejutkan dan bisa dibilang gila.

Dan sebuah kisah yang tidak kalah menarik adalah Cerita Batu (hal. 77)  Sebagaimana manusia, batu ini memiliki perasaan. Dia ingin dihormati dan tidak suka jika diperlakukan semena-mena.  Pernah suatu hari ada seorang lelaki yang membuatnya dirinya merasa terhina. Sehingga dia bertekad untuk membalas dendam pada lelaki itu.  Entah apa yang dibuat lelaki itu hingga batu merasa marah.

Tapi dalam perjalannya melakukan aksi balasa dendam, dia menemukan kenyatakan yang tidak pernah dia tahu sebelumnya. Kalau ternyata selalu ada kejahatan di mana-mana.

Bagaimana pun Eka Kurniawan berhasil menciptakan cerpen dari kisah-kisah sederhana namun dengan kemasan yang tidak biasa. Sehingga membaca kumpulan cerpen ini, kita bisa menemukan banyak hal-hal baru. Bagaimana mengolah ide yang biasa jadi luar biasa.  Pun bagaimana mengolah gaya bahasa yang sederhana tapi tetap membekas di hati pembaca. Inilah kelihaian penulis yang karyanya memang sudah wara-wiri di berbagai media Indonesia, pernah terpilih sebagai salah satu “Global Thinkers of  2015” dan menjadi penulis Indonesia pertama dalam daftar Man Booker International Prize 2016.

Selain empat cerita itu, cerita yang lain pun tidakalah menarik dan sangat menghibur.  Sebagaimana kisah Kapten Bebek Hijau atau Pelajaran Memelihara Beo.  Sederhana tapi selalu ada kejutan yang diberikan penulis. Ada juga pesan tersirat yang bisa diambil dari buku ini. Bahwa hubungan antara dua manusia itu  jika tidak diikuti dengan saling memberikan kepercayaan, maka keretakan itulah yang akan didapat.  Atau bahwa dendam sejatinya tidak akan membuat perasaan merasa lega. Dan harusnya kita selalu mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan.


Srobyong, 10 Mei 2016