Tuesday, 8 November 2016

[Cerpen] Kisah Pak Parman dan Berita Pagi Ini

Dimuat di Koran Pantura, Rabu 26 Oktober 2016



Kazuhana El Ratna Mida

            Aku melihat siaran berita pagi ini. Istana Merdeka, Jakarta sudah dipenuhi para demonstrasi. Mereka menangih janji yang katanya akan direalisaikan, namun tiba-tiba janji itu dibatalkan secara sepihak. Mengatakan bahwa pemerintah tidak memiliki anggaran. Sebuah dalih yang terdengar lucu. Tak memiliki anggaran tapi meluncurkan sebuah proyek besar? Sepertinya pemerintah mencoba menjilat ludahnya sendiri. Entahlah. Aku mengidikkan bahu. Mendadak ingatanku terpatri pada Pak Parman,  yang tanpa sengaja  bertemu dua minggu yang lalu.  Apakah mungkin Pak Parman juga ikut di sana? Berdesak-desakan demi mewujudkan cita-citanya? Kesejahteraan rakyat kecil.

            Aku sungguh tidak mengerti dengan pemerintahan negara ini. Ketika mereka berorasi dulu—orasi nan manis selalu digemakan. Memuliakan telinga. Tapi ketika sudah mencapai tujuan, mereka dengan mudah melupakan janji. Mereka yang mengatakan akan amanah, tapi hanya memakan kata itu sesuka hati.
~*~
            Hari itu, Minggu tanggal 24 Januari. Yah, aku ingat betul hari dan tanggalnya. Bahkan cuacanya. Hujan deras tiada henti  dan membuat orang merasa malas ke mana-mana. Tapi tentu tidak denganku. Pekerjaan menuntut untuk bekerja meski hari libur seperti ini,  bahkan kadang kala harus  lembur segala. Yah, mau bagaimana lagi. Demi bisa mengumpulkan uang membantu asap dapur ibu mengepul yang setiap bulan kukirim,  juga demi cita-citaku yang masih ingin menyelesaikan kuliah. Bekerja di market memang seperti itu.

            Tapi hari itu aku tidak lembur. Aku pulang sekitar jam 15.30 WIB. Ketika teman  pergantian jam datang bergegas aku memberesi barang dan menuju halte. Bus Kencana, yah itu bus yang harusnya aku tumpangi hari itu. Tapi langkahku terhenti ketika melihat seorang bapak yang menghentikan dorongan gerobaknya. Bapak itu duduk di bangku tidak jauh dari halte. Berteduh. Entah kenapa aku merasa tidak asing dengan bapak itu.

            Gegas kulangkahkan kaki. Membuka payung lipat. Meninggalkan halte dan mendekati bapak itu. Kulihatnya bapak itu kelelahan. Karena berkali-kali tangannya itu memijat kedua lutunya. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang duduk di sana. Bapak itu adalah Pak Parman—guru Agama di SMA dulu.

            “Assalamu’alaikum, Pak.” Ramah aku menyapa, menyunggingkan senyum termanis yang  aku punya. Aku duduk di samping guruku itu. Gurat kekagetan nampak di wajah Pak Parman.

            Aku sungguh tidak menyangka bertemu Pak Parman  itu di sini. Rasanya senang sekali. Dulu aku sering dibina dan dinasihati. Juga mengarahkan aku ketika ingin kuliah sambil bekerja.  

Tapi yang tidak habis aku pikir adalah, kenapa Pak Parman sekarang berjualan gorengan keliling seperti ini? Sungguh, menurutku ini sangat aneh dan membuatku mengernyitkan dahi. Apa mungkin Pak Parman sudah tidak mengajar lagi? Tapi kenapa? Setahu Pak Parman itu sangat rajin dan disiplin. Cara mengajarnya juga menyenangkan. Banyak murid-murid yang menyukainya. Termasuk aku tentu saja.

“Maaf ..., apa Bapak sudah tidak mengajar lagi?” hati-hati aku bertanya. Tentu saja aku takut menyinggung perasaan guruku itu. Tapi aku juga penasaran.

Pak Parman tersenyum mendengar pertanyaanku. Lalu menatap dalam pada hujan yang mengguyur kota. Seolah dengan tatapannya hujan itu akan menggantikan beliau bercerita. Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan guru favoritku? Rumah Pak Parman memang lumayan jauh dari daerah tempat tinggal dan sekolahku. Dulu saja aku sekolah di sini juga dengan nge-kost. Pun sekarang. Jadi kalau tidak sekolah maka akan jarang bertemu. Sedang sekarang aku sudah empat tahun lulus SMA. Kecuali hari lebaran, kadang aku masih sering ke sana dengan teman-teman.

            Lalu meluncur-lah cerita kehidupan Pak Parman yang selama ini tidak pernah aku ketahui. Aku sungguh tidak menyangka, bahwa guruku ini memiliki kehidupan yang tidak kalah pelik dari hidupku sendiri.

            “Jadi sudah sejak dulu bapak melakukan ini? Bahkan ketika masih mengajar saya dulu?”

            “Ya, begitulah, Ning. Kalau bapak tidak jualan gorengan di keliling, mau bapak kasih makan apa keluarga bapak.” Pak Parman tersenyum. Wajahnya tetap teduh.

            “Gaji menjadi guru tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup.” Lagi-lagi Pak Parman tersenyum.

            “Kenapa begitu, Pak? Saya pikir guru ditanggung kesejahteraan hidupnya. Karena katanya para guru juga mendapat tujangan.”

            “Yah, jika itu guru PNS, Ning. Guru honorer seperti bapak sebulan hanya 500 ribu tanpa tunjangan apa pun. Berbeda dengan guru PNS gaji dan tunjangannya yang diperoleh jika ditotal mungkin berkisar 10 juta perbulan.”

            “Aduh, maaf ya, Ning bapak malah cerita yang macam-macam.” Aku menggeleng. Aku sungguh tidak keberatan mendengar semua ini. Dulu aku yang sering berkeluh kesah pada guruku ini. Setidaknya jika kini dengan menjadi pendengar bisa meringankan bebannya aku ikhlas.

            Aku sungguh tercekat mendengar cerita Pak Parman. Seperti itukah? Timpang sekali. Padahal mereka sama-sama guru yang mencerdaskan bangsa. Padahal jika dilihat cara mereka bekerja pun sama saja.  Bahkan ada guru honorer yang sudah lama mengabdi di sebuah instansi sekolah dari pada guru baru yang langsung diangkat PNS. Mirisnya guru honorer itu  kesejateran hidupnya juga tidak terjamin.  

            Sekarang aku mengerti, kenapa dulu ketika mengajar Pak Parman kadang terlihat kelelahan. Dan gosip yang sempat diceritakan teman-teman memang tidak salah. Hanya saja aku yang tidak percaya. Aku selalu yakin menjadi guru itu sudah pasti mendapat gaji tinggi dan tunjangan dari pemerintah. Ah, betapa piciknya aku. Indonesia ini bukan seperti China atau Amerika yang menghargai jasa guru karena telah mencerdaskan bangsanya.  Ketimpangan masalah pemberian gaji sungguh memprihatikan.

            Kecampuk pertanyaan seketika menghujaniku. Untungnya Pak Parman dengan senang hati menceritakan semuanya. Hari ini aku mendapat pelajaran yang berharga. Betapa hebatnya sosok Pak Parman. Perjuangannya untuk mendidik bangsa juga memenuhi kebutuhan keluarga. Meski itu berarti dia harus berusah payah.  Lalu Pak Parman melanjutkan ceritanya. Bahwa sebenarnya para guru honorer pernah mengajukan gugatan keadilan. Menuntut untuk mendapat gaji yang lebih baik.  Dan hasilnya sempat membuat para guru honorer senang. Mereka dijanjikan untuk diangkat menjadi CPNS secara bertahap. Katanya itu akan dilakukan tanggap 15 September tahun lalu.  Aku ternyuh mendengarnya.

            “Wah selamat, Pak. Saya turut senang mendengarnya. Tapi ...,” aku kembali menatap gerobak yang tak jauh dari kami duduk ditemani gemericik hujan.

            “Tapi ternyata itu hanya isapan jempol,” kata Pak Parman lagi, “bahwa tanggal 20 Januari kemarin, ada berita yang mengatakan pemerintah tidak memiliki dana untuk pengangkatan itu.” Aku kembali terhenyak.

            “Mereka menjilat ludahnya sendiri, Pak?” aku sungguh tidak terima mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin hal itu dicontohkan para pembesar?

            “Yah, karena itu kami ingin mengajukan tuntutan, menangih janji. Doakan semoga perjuangan kami berhasil.”

            Aku mengangguk pasti. Aku pasti akan mendoakan yang terbaik untuh guruku ini.  Aku pun pamit pulang dengan seplasptik gorengan dari Pak Parman. Aku dimarahi ketika menolaknya. Hadiah katanya sudah menjadi pendengar yang baik. Hari ini mungkin Pak Parman memang sedang merasa sangat lelah dengan segala keadaan ini. Ingkarnya pemerintah membuatnya sangat kecewa. Hingga segala kepedihan itu ditumpahkan padaku yang tanpa sengaja ditemuinya. Aku pikir mungkin selama ini Pak Parman sudah berusaha sabar setiap saat.

~*~

            Kutatap kembali berita itu. Para demonstrasi mulai meneriakkan tuntutannya. Meminta hak yang sudah diingkari. Berita yang membuatku ingat dengan kerasnya hidup dan perjuangan Pak Parman. Bagaimana keadaan beliau. Apakah tuntutan kali ini akan berhasil? Seketika darahku berdesir ketika putusan masalah guru honorer yang menuntut keadilan dipaparkan.

Aku menarik napas panjang. “Ning, pagi-pagi bengong, nggak kerja?” Santi teman satu kosku membuat tersentak. Aku kembali ke alam nyata.

“Aku masuk sore, Sar.” Jawabku sekenanya, masih fokus pada televisi.

“Nonton berita apa, sih. Serius amat.”  Santi sudah duduk di sampingku. Mulutnya langsung membulat.

Aku kembali terpaku. Sungguh hasil tuntutan kali ini membuat dadaku sesak. Lagi-lagi ada penundaan. Empat hari mengajukan untuk bertemu presiden, tapi selalu gagal. Dan kini mereka harus pulang dengan membawa janji lagi, bahwa sebulan yang akan datang presiden katanya akan menumui mereka. Apakah kali ini akan berbuah nyata atau hanya isapan jempol? Tiba-tiba dadaku terasa sesak.

            Srobyong, 13 Februari 2016 

No comments:

Post a Comment