Sunday, 6 November 2016

Buku : Godaan yang Tak Bisa Dihindari



“Hidup tanpa buku seperti ruang gelap tak berlampu” 
~Titon Rahmawan~ [1]

Melihat buku entah kenapa selalu memberi sensasi yang berbeda. Bahkan saking istimewanya buku selalu menjadi prioritas utama untuk dibeli daripada kebutuhan sekunder lainnya.  Saya rela tidak membeli tas, atau sepatu baru yang penting ada buku baru. J

Karena buku seperti emas yang selalu nampak berkilau di mata. Seperti bunga yang selalu menerbar harum serta sedap dipandang mata.

Laksana sebuah jendela. Terbuka lebar menawarkan banyak pemandangan baru yang tak terduga, tumpukan pengetahuan yang tersimpan bisa selami kapan pun dan di mana pun. Laksana teman yang setia menemani dalam suka dan duka.  Memberi hiburan tatkala saya sedih. Dia menerima saya apa adanya.

Menjadi vitamin menyehatkan jiwa. Laksana lilin yang siap menjadi penerang hati dengan petuah-petuah yang tersimpan rapi. Juga menjadi guru yang tak pernah marah. Melihat tumpukan buku sungguh serasa mendapat tenaga baru. Jadilah berbagai buku menjadi santapan lezat yang tak ingin terlewatkan. Buku adalah godaan yang tak bisa dihindari.  Dia melekat, menempel dengan kuat. Sulit rasanya jika harus berjauhan dengan buku.

Kenapa saya bilang begitu? Maka saya akan mencoba mengulas sedikit bagaimana hubungan yang tercipta antara saya dan buku.

~*~
Awal Perjumpaan

Membicarakan buku itu selalu menarik di mata saya. Dia seolah memiliki magnet yang mampu menarik saya  untuk menempel padanya.  Saya sangat ingat bagaimana awal perkenalan saya dengan buku.

Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu minat baca saya sedang meningkat. Buku-buku kisah Nabi, wali songo dan dongeng menjadi bacaan favorit saya kala itu. Beruntung di rumah kakek saya, buku-buku itu bertebaran di sana. Jadilah saya suka menghabiskan waktu di sana.

Sampai kemudian, kakak saya mulai mengenalkan saya pada kisah-kisah lain—dongeng moderen dan cerpen dari majalah bobo dan fantasi.  Di sini minat baca dan minat buku saya semakin meningkat. Tanpa sadar sejak itu saya sudah jatuh cinta dengan buku.  Dan saya selalu tergoda untuk membelinya.

Di zaman Madrasah Tsanawiyah, saya rela tidak menghabiskan uang saku di kantin. Saya menyisihkannya demi melegakan dahaga saya pada buku.  Berpuluh-puluh majalah dan tabloid menjadi teman setia saya. Saat itu untuk buku seperti novel saya belum mampu membelinya. Saya hanya bisa mengandalkan perpustakaan di sekolah. Mengingat saya tinggal di desa yang belum memiliki toko buku lengkap—bahkan hingga sekarang tidak ada Gramedia di kota saya. Poor me.  :( Apalagi di daerah terpencil tempat saya tinggal. Atau entah karena saya yang terlalu cupu, sehingga tidak tahu di mana ada toko buku.  Dan pastinya belum marak juga penjulana buku secara online.

Beruntungnya di masa Aliyah sudah ada sebuah toko buku di bangun. Di sinilah, saya semakin menggila. Saya berpikir itu adalah kesempatan. Jadi uang tabungan saya habiskan untuk menambah buku saya. Dan kalau pergi ziarah ke Kajen, maka prioritas pertama setelah berziarah adalah berburu buku.  Buku telah mengikat saya begitu erat.

~*~

Alasan Kenapa Tergoda dengan Buku

Kenapa saya bisa tergoda dengan buku? Karena saya meyakini  dengan bersahabat dengan buku saya akan mendapat banyak manfaat. Dan inilah beberapa manfaat yang saya rasakan. Dan pastinya hal ini semakin menggoda saya untuk bisa merengkuh buku sebanyak-banyaknya.

1.             Buku Adalah Sumber Berbagai Ilmu Pengetahuan

Saya sangat percaya, dari buku tersimpan banyak sekali ilmu.  Berbagai macam pengetahuan bisa diserap siapa saja yang mau membaca buku. Bagaimana tidak, jika di dunia ini tak ada buku? Bagaimana ilmu pengetahuan bisa disalurkan? Bagaimana orang menjadi pintar tanpa adanya buku? Media buku adalah sarana yang paling diperlukan di dunia ini.  Menyalurkan berbagai ilmu baik ilmu. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “Semua penulis akan meninggal, dan karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakanmu di akhirat nanti.”

Perkataan ini selain merujuk kita agar menulis juga menyimpan kesimpulan bahwa buku itu akan abadi dan bisa terus disalurkan pengetahuannya untuk orang banyak. Berbeda dengan penulisnya—manusia yang bisa meninggalkan kapan saja.  Coba kita pikir bagaimana ilmu bisa tetap disalurkan tanpa seorang cendekiawan? Maka buku adalah salah satu solusinya. Dia menyimpan ilmu-ilmu yang selalu dibutuhkan di berbagai zaman dari pengetahuan yang dikuiasai penulis.

2.             Buku Sebagai Jendela Dunia

Buku memang laksana jendela yang membuka berbagai bentang dunia di depan mata. Hanya dengan membaca jejak para penulis kita seolah diajak menyusuri setiap lekuk dunia. Keindahan, panorama semua termaktub dan bisa kita akses melalui buku. Dan buku bisa menjadi panduan yang menarik jika kita benar-benar ingin mengunjungi tempat-tempat yang telah dipamerkan pada kita.  sebagaimana yang dikatakan Henry Ward Beecher “Buku adalah jendela Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini. Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela.” [2] 

3.             Buku Adalah Sumber Imanjinasi

Degan membaca banyak buku bisa merangsang pembaca untuk menciptakan imajinasi-imajinasi yang tidak terduga. Bagaimana tidak, kenyataan saat ini banyak sekali penulis yang terinspirasi dari sebuah buku bacaan lalu menuangkannya lagi dan sebuah tulisan lain hingga menjadi buku baru. Tentu dalam artian bukan menjiplak, namun memberi rangsangan agar menciptakan sesuatu yang baru dengan sentuhan eksekusi yang berbeda. Karena toh, setiap orang itu memiliki keunikan sendiri dalam menulis. Tema boleh sama tapi cara penyajian baik dari gaya bahasa, plot dan karakter saya yakin beda.  Inilah gunanya membaca.

4.             Memiliki Pancingan untuk Menemukan Ide-Ide Baru

Sebagaimana buku bisa merangsang imajinasi, berbagai ide baru juga bisa didapatkan di sini. Yah, saya merasakannya sendiri. Sebagai seorang yang suka membaca buku, membuat saya juga mencintai dunia kepenulisan. Dan Buku bagi saya adalah tumpukan ide yang bisa digali kapan saja. Setiap kali membaca buku, banyak ide berseliweran yang kemudian bisa saya jadikan cerita menurut versi saya. Dan mungkin di tempat lain banyak orang yang memiliki pemikiran serupa dengan saya.

5.             Menambah Kosa Kata Baru

Ini salah satu kenapa buku menjadi godaan terbesar bagi saya. Dengan menambah koleksi buku dan membaca, saya bisa menyerap berbagai kosa kata baru yang mungkin tidak saya kenal sebelumnya. Yah, mengingat penulis itu terlahir dengan latar belakaang berbeda dan pastinya mereka memiliki keunikan tersendiri sehingga bisa menciptakan hal-hal baru yang kemudian menginspirasi pembaca.

6.             Menghibur

Ini sudah pasti. Buku adalah penghibur yang paling menyenangkan. Alasan inilah yang semakin membuat saya tergoda untuk menjadi pemburu dan pecinta buku. Membaca buku membuat saya bisa melepaskan penat. Dia bisa membuat saya tertawa ketika kesedihan kadang mendera.  

7.             Menjadi Salah Satu Sarana Memperbaiki Diri

Betapa buku memiliki banyak khasiat yang membuat siapa saja tergoda untuk memilikinya.  Termasuk saya. Memiliki dan membaca buku-buku motivasi sudah pasti akan membawa dampak baik. Yaitu mensugesti pembaca untuk meniru dan memperbaiki diri. Kisah inspiratif yang ditawarkan bisa memberi dorongan dan motivasi untuk menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri.

Tujuh alasan ini setidaknya memberi saya dorongan untuk selalu mencintai buku. Membuat saya selalu tergoda untuk memilikinya.  Keberadaan buku sungguh berarti bagi yang belum mumpuni dalam berbagai ilmu pengetahuan. Sedang saya sangat ingin menambah wawasan agar otak saya tidak mudah karatan.

Genre Buku yang Menggoda

Jika saya ditanya genre buku apa yang bisa menggoda saya untuk segera membeli dan mengoleksinya?

Maka jujur saya harus mengaku, saya termasuk pecinta buku dengan berbagai jenis genre buku. Bahkan bisa dibilang semua genre. Kecuali yang agak berat—sastra tertentu. Kembali pada selera tentang berat yang saya maksud.

Kenapa saya bisa suka membaca berbagai genre? Oh itu simple karena saya memadang setiap buku sudah pasti menyimpan pesan-pesan tersendiri dan pastinnya bisa memberi saya inspirasi.  Inilah beberapa koleksi buku saya dengan berbagai genre yang campur aduk. Baik itu romance, horor, misteri, non-fiksi, keagamaan, manga , religi  dan buku anak. Semua ini selalu menggoda membuatku ingin memeluk mereka. Menimbun dan berselancar dalam lautan ilmu yang dibentangkan. 

Romance 

Horor & Misteri











Non-fiksi & Motvasi


Buku Anak


Manga Detective & Petualangan


Manga Romance


Andai Hidup Tanpa Buku

Membayangkan jika hidup tanpa buku, maka dunia saya akan gelap. Karena buku itu seperti cahaya. Dia menjadi lilin yang menerangi jiwa. Selain itu buku itu seperti napas yang harus saya hirup agar bisa bertahan hidup. Dan buku laksana makanan yang harus saya makan akan bisa menambah gizi pengetahuan.  Maaf jika agak lebai, hehhh. Tapi inilah yang memang saya rasakan. 

Hal Gila Jika Sudah Menyangkut Buku

Membicarakan hal gila yang pernah saya lakukan sehubungan dengan buku? Saya tidak yakin enntah ini bisa disebut gila atau tidak. Karena ini hanya saya lihat dari kacamata saya sendiri.  Tapi saya tetap akan menceritakannya. J Jujur menjadi orang yang mudah tergoda dengan buku juga membuat saya lebih posesif terhadap buku.  Bagaimana tidak? Buku bagi saya itu seperti harta karun, jadi harus selalu saya jaga sedemikian rupa agar tetap dalam keadan baik dan segar di mata saya.  Ketika habis membeli buku saya langsung menyampulnya dengan rapi. Memberi tanda kepemilikan.

Saya tipe orang yang tidak suka jika melihat buku berantakan. Dalam artian ada lipatan dalam buku untuk dibuat pembatasan buku atau tangan yang kotor menyentuh buku. Pembatasan buku dilipat-lipat. Atau malah tekena tumpahan minyak, teh atau kopi. Aih, jujur saya tidak tahan.  

Alasan-alasan itu menutut saya menjadi orang yang sangat cerewet jika berhubungan dengan buku. Terkhusus bagi mereka yang ingin meminjam buku saya. Bisa jadi orang mungkin akan malas juga. Tapi mau bagaimana lagi?  

Jujur saya kadang ada rasa enggan meminjamkan buku pada orang lain. Karena dalam istana pikiran saya, akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan gila mengenai kekhawatiran saya.

“Bagaimana jika mereka tidak merawat buku saya dengan baik?”
“Saya takut buku saya nanti rusak. Padahal selama ini saya selalu menjaganya dengan baik.”
“Bagaimana kalau mereka lupa mengembalikan buku saya?”
“Saya selalu mengembalikan buku pinjama tepat waktu.”
“Bagimana kalau buku saya nanti dilipat-lipat?”
“Saya tidak suka buku dilipat. Karena itu membuat buku terlihat berantakan dan tidak sedap dipandang mata.”

Dan masih banyak pertanyaan dan penyetaan  lain menggema di kepala.   Sehingga ketika ada teman atau saudara yang meminjam saya akan menjelaskan dengan detail bagaimana cara perawatan buku menurut versi saya. Saya akan mewanti-wanti agar buku itu jangan sampai kenapa-napa. Menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan tidak bolek dilakukan dengan koleksi buku saya. Lebai, kan?  L Tapi mau bagimana lagi itu demi melindungi buku-buku kesayangan saya.

Lagi pula memang ada kejadian teman yang kalau suka meminjam buku malas  mengembalikannya. Atau kalau dikembalikan,  sampulnya rusak, buku ada lipatan atau bahkan terkena hujan. Duh rasanya mangkel banget. Pengen nangis. Padahal selama ini saya selalu menjaga buku dengan sepenuh hati.  Hal ini membuat saya kadang harus menagih agar segera dikembalikan. Tidak enak, sih harus meminta-minta, tapi salah dia sendiri meminjam kok tidak bertanggungjawab.  Padahal jika saya meminjam saya akan menjaga buku pinjaman dengan baik dan mengembalikannya tepat waktu. L

~*~

Kisah lainnya adalah masalah saya dalam memanage uang jika berhubungan dengan buku.  Jangan tanya seberapa saya ini terlalu boros jika menyangkut buku. Hal ini-lah yang kadang menjadi pemicu bagi saya dimarahi orangtua. Saya dianggap boros dan buang-buang uang L Duh salah lagi.

Karena seberapa pun uang yang saya pegang jika ke toko buku atau bazar sudah dipastikan akan habis. Bahkan kadang mengambil jatah uang lain demi menuntaskan rasa haus dengan buku.  Ini sungguh di luar kendali. Melihat buku di rak-rak  itu seolah memanggil saya untuk segera membelinya.  Mata saya langsung hijau dan ingin memborong semuanya. Hhheh.  Duh, buku kenapa kau selalu menggodaku? 

Yah, saya tidak peduli, meskipun di rumah sudah banyak buku menumpuk dan antri dibaca, jika memang ada buku baru yang menggoda iman, pastinya akan saya beli.  Kalau tidak beli itu bisa membuat saya gelisah dan kepikiran terus. Jadi lebih baik beli dulu saja. Masalah baca nanti bisa diatur waktunya. J Yang penting buku sudah di tangan dulu. Hhehh.

Buku memang selalu menjadi godaan yang paling sulit dihindari.  Tapi selain itu,  buku adalah  teman suka duka, teman paling setia.  

“Buku adalah teman yang paling tenang dan konstan; mereka adalah konselor paling mudah dan bijaksana, serta guru yang paling bijak.”


Srobyong, 6 November 2016 

Ket

4 comments:

  1. Terimakasih sudah mengikuti GA Kisah Antara Aku dan Buku. Nantikan pengumuman pemenangnya di tanggal 15 Nopember 2016.


    Salam,

    Izzah Annisa

    ReplyDelete