Tuesday, 11 October 2016

[Cerpen] Kisah Perempuan di Halte Bus

Dimuat di Kaltim Post, Minggu 9 Oktober 2016
Kazuhana El Ratna Mida*)

Aku mengernyitkan dahi—antara kaget dan tidak percaya.  Aku menatap  sekali lagi dengan lebih cermat bahwa apa yang aku lihat sekarang benar-benar kenyataan. Dan begitulah. Aku yakin itu kamu. Salah satu teman di Unmul  dulu. Ah, betapa aku sangat merindukanmu. Entah kenapa kala itu, tiba-tiba kamu tak bisa dihubungi. Kamu bagai hilang di telan bumi. Dan tahukah kau? Betapa kini aku bahagia ketika akhirnya aku bisa melihatmu.  Gegas aku mendekatimu. Duduk di sampingmu dengan semringah.  Namun beberapa saat kemudian ada sakit yang langsung menusuk ulu hatiku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

~*~

Aku masih ingat jelas. Kamu adalah salah satu bintang kampus di Unmul. Selain memiliki otak yang encer dan selalu memberikan sumbangsih prestasi,  kamu juga seorang mahasiswi cantik yang banyak disukai seantero mahasiswa. Pun dikagumi para mahasiswi. Siapa yang tidak kenal denganmu? Kamu memiliki pesona yang luar biasa. Dan salah satunya itu adalah aku. Yah, aku sangat mengagumimu.  Kamu adalah sosok pertama di depanku. Berkilau dan selalu indah.

Hanya saja, aku sadar. Siapalah aku ini. Aku terlalu takut menyapamu. Aku merasa seperti ada benteng menjulang yang memisahkan dunia kita—kamu adalah anak orang berada, sedang aku hanyalah mahasiwa serabutan yang kuliah sambil kerja.  Akhirnya, aku hanya bisa mengagumimu dalam diam.  Hal itu berlangsung selama satu tahun perkuliahan. Lucu bukan? Padahal kita satu kampus bahkan satu fakultas. Salahku juga yang terlalu minder dan tak berani melangkah.

Namun pada semester selanjutnya, tanpa sengaja kita dipertemukan dalam suatu insiden—tanpa sengaja aku menyelamatkanmu dari kejadian nahas yang hampir merengut hidupu. Klise memang, tapi begitlah kenyataan yang ada.  Katamu saat itu sedang tergesa-gesa dan menyeberang tanpa melihat kiri-kanan. Aku yang saat itu tak sengaja sedang menunggu bus melihatmu dengan degup jantung berdentam. Dan aku hampir memekik ketika sebuah sedan melaju kencang dari sebelah kanan. Gegas aku menarik tanganmu agar tak menjadi korban kecelakaan.

“Maaf, telah lancang.” Aku menunduk dan segera melepaskan tanganmu. Oh, kau tahu betapa jantungku mau melompat setiap mengingat kejadian itu?  Aku sangat menyadari kala itu badanku rasanya menggigil karena grogi. Dan aku berkali-kali mengepalkan tanganku.

“Oh, tidak apa-apa. Terima kasih. Kalau kamu tidak menarikku, mungkin aku sudah bersimbah darah di sana.” Kamu menunjuk jalan raya.

Itulah perkenalan pertama aku dan kamu.  Namaku Arya, fakultas ekonomi di Unmul dan namamu, Kinan  pun fakultas ekonomi. Seketika kamu tertawa menyadari kesamaan di antara kita. Dan betapa terkejutnya aku ternyata selama ini kamu juga memerhatikanku. Hanya saja kamu segan menyapa, karena katamu akau terlalu pendiam dan menutup diri.

Mungkin memang begitulah aku. Aku lebih suka dengan sepi. Berkawankan pena dan buku. Meski sesungguhnya aku pun ingin menjaring pertemanan, tapi entahlah, jiwa dan tubuhku tak berjalan seirama.

 Begitulah. Kemudian aku dan kamu menjadi dua orang yang selalu bersama, karena ternyata aku dan kamu punya kesamaan hobi—membaca dan menulis. Aku sungguh senang pastinya. Merasa ada angin segar. Mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan. Namun kesenangan itu hanya sebentar. Tiba-tiba lubuk hatiku  yang terdalam seperti ada yang menghantam. Ternyata kamu sudah memiliki tambatan hati yang katamu akan segera melamarmu untuk mengucapkan ikrar sumpah setia. Pram laki-laki beruntung yang  bisa menaklukkanmu. Pram yang kupikir memang sepadan denganmu. Kalian tumbuh pada lingkungan yang sama.

Kala itu aku sungguh tidak menyangka ketika kamu menceritakan kisahmu dengan calonmu. Sejujurnya aku sungguh sedih dan merasa patah hati, tapi tentu saja aku menutupi perasaan itu. Aku tetap tersenyum dan tulus mengucapkan selamat atas hubungan kalian. Aku ikut senang dengan kebahagianmu. Sungguh.

~*~

“Kinan? Benarkan kamu Kinan? Lama sekali kita bertemu. Kenapa kamu tiba-tiba hilang?” Sapaku dengan antusias. Aku bertanya tanpa jeda saking tidak menyangka bisa bertemu lagi kawan lama—ah, tepatnya cinta lama yang kupendam.

Namun perempuan di halte bus yang kuyakini itu kamu, Kinan sama sekali tak memedulikanku. Perempuan itu—kamu malah asyik sendiri dengan dunianya. Mungkinkah aku salah orang?  Tapi dari wajah dan semua ciri-cirinya aku yakin itu kamu, Kinan.

“Hai, kau tak mengingatku sekarang? Aku Arya.” Aku kembali mengenalkan diri. Yah, siapa tahu perpisahan tiga tahun telah membuatmu agak pangling pada diriku. Apalagi melihat bagaimana kamu itu menatapku dari atas sampai bawah dengan penuh selidik.

“Aku duduk di sini, ya. Kau tahu aku kangen sekali denganmu ...,” aku menarik napas sejenak, “Kau tiba-tiba hilang setelah acara wisuda. Tak ada kontak yang bisa dihubungi. Bagaimana kabarmu sekarang? Kamu baik-baik saja, kan?”

Jawaban yang keluar dari mulutmu seketika membuatku semringah. Ternyata kamu masih mengingatku Kinan. Selorohku dalam hati.

Percakapanmu kemudian begulir dengan sendirinya. Menapaki kenangan lama yang sempat aku dan kamu lalui bersama. Tentu saja sebelum kamu yang tiba-tiba hilang seperti di telan bumi.  Lalu kamu menceritakan kisahmu. Pernikahan antara kamu dan Pram juga tentang buah hatimu—Kasih.  Dan aku menceritakan tentang diriku yang lebih banyak berkutat dengan pekerjaan—menjadi penulis lepas pun kerja di salah satu kantor yang cukup ternama di Samarinda. Karena hingga detik ini aku belum bisa melepas bayanganmu. Aku masih menyimpan sepercik rasa itu.  Namun tentu saja pada bagian ini aku hanya menyimpannya dalam hati.

Pertemuan tidak sengaja ini awalnya berlangsung baik-baik saja. Itulah yang aku rasakan. Tapi kenyamanan itu hilang ketika aku menanyakan hal yang aku pikir wajar. Kamu malah berteriak dan memakiku. Bahkan kamu melotot dengan sorot kebencian. Sungguh aku bingung melihat keadaanmu.

Yang lebih membuatku kaget, kamu kemudian menjerit-jerit. Saat itulah aku melihat Santi—kakakmu mendekatiku dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat pasi tentu saja. Santi tidak sendirian, segerombol orang juga ikut dengannya, yang kemudian kulihat segerombolan itu memegang tanganmu.

Pada detik itu aku menyadari, bahwa kamu sudah berubah. Perempuan di halte bus itu sudah bukan  Kinan yang aku kenal dulu.

“Kinan Gila Ar.” Santi sesenggukan. “Halte bus, adalah tempat pelariannya setiap kabur dari rumah sakit. Katanya di sana mungkin dia bisa bertemu dengan sahabatnya dulu. Kamu.” Aku semakin ngilu.

 Ternyata Pram tak sebaik prasangka Kinan. Kinan disiksa tubuh juga batin—Pram selingkuh dan Kasih sudah tak ada sebelum keluar ke bumi.  Begitulah yang Santi ceritakan, yang sontak membuatku ingin meninju juga mengingat sesuatu yang penting. Bahwa dalam pernikahan bukanhanya harta atau fisik yang menjadi poin utama, tapi akhlak dan agamanya.

Srobyong, 24 Juli 2016 

6 comments:

  1. Menarik Mbak, hanya saja ada beberapa yang salah ketik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas. Iya nih kelemahanku di typo :( Siap buat memperbaiki

      Delete
    2. Semangat ^_^, apakah ilkannya sudah bekerja dan menghasilkan? hehe.. kepo :D

      Delete
  2. Hihi ... bagus mba, terlepas dari typo. Tapi di samarinda nggak ada bus, kecuali antar kota, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, masih kelewat typonya, ya :(. Wah kurang riset aku. :(

      Btw terima kasih sudah mampir dan baca

      Delete