Saturday, 24 September 2016

[Cerpen] Sebuah Mandat

Dimuat di Tabloid Banger edisi 2 (April-Agustus 2016)

Kazuhana El Ratna Mida

Bumi tengah marah. Atau malah Tuhan?—Pemilik langit—tepatnya jagad raya. Yah, mungkin salah satunya. Atau malah keduanya. Aku mengangkat bahu. Tidak tahu. Antara yakin dan tidak yakin. Lagipula aku juga tidak bisa bertanya pada bumi atau pun langit.  Apalagi Tuhan. Aku hanya bisa melihat kenyataan saat ini. Kenyataan yang membuat miris. Sungguh di luar logika untuk dipikirkan. Dan kenyataan yang ada ..., ketika mandat sudah ditetapkan memang apa yang bisa aku lakukan selain pasrah? Begitulah.

~*~

Huft! Aku menghela napas, mengedarkan pandangan ke setiap sudut. Tidak ada yang terselamatkan. Mungkin ini peringatan? Aku bertanya dalam hati. Lalu mulai mengitari tempat yang sudah tidak karuan itu. Mayat yang tergeletak di mana-mana, serta rumah-rumah yang roboh. Oh, sungguh kasihan mereka! Aku bergidik. 

Lalu sapuan pandanganku kini teralih pada korban selamat. Miris. Mereka tidak lebih baik dari korban yang meninggal. Ah, sungguh malang nian nasib mereka. Ikut menanggung azab yang mungkin hanya karena ulah satu di antara penduduk kota. Benar begitu bukan? Macam kisah Nabi Nuh dulu atau pada zaman Nabi Lut. Satu yang melakukan kedzaliman, seluruh warga menjadi korban.

Aku kembali mendesah. Prihatin tentu saja, tapi toh  tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melihat dengan hati teriris. Mengerang dalam ketidak berdayaan. Hanya bergumam, andai mereka menjaga bumi. Menempati bumi dengan sikap  tawadu’. Tuhan dari bumi pasti tak akan murka.

Yah, ingatanku tiba-tiba melayang pada kejadian lalu. Sebelum tanah ini luluh lantak tidak berbentuk. Ketika aku melihat dengan jelas tindakan-tindakan yang tidak sesuai aturan. Ada orang yang melemparkan granat utuk menangkap ikan. Katanya praktis dan mudah. Tapi tidak tahukah mereka itu adalah kejahatan pemusnaan habitat suatau ekosistem? Menebang hutan secara liar, katanya untuk kesejahteraan kehidupan. Tapi tidak tahukan mereka itu akan menimbulkan bencana karena gundulnya pohon membuat banjir? Lalu tentang sebuah kisah lainnya. Aku sungguh malu jika mengingatnya. Ah .... Bagaimana aku menceritakannya. Karena saat itu aku juga ikut menikmati. Kemaksiatan yang sudah tidak tabu lagi. Aku melihat dengan mata lebar. Tapi aku tidak mengingatkan. Hanya diam dan menatap lamat-lamat. Mungkin, aku juga berdosa. Karena tak mau bersyiar. Tentang semua yang aku lihat. Karena kebetulan tempat-tempat itu masih dalam jangkauan mata.

Padahal seperti yang sering aku dengar ..., ceramah melalui speker masjid yang tidak jauh dari tempatku. Ulama itu selalu menerangkan segala macam hadis dan ayat-ayat Al-Quran agar sesama umat harus saling mengingatkan. Bahkan aku sampai hafal hadis yang sering dikatakannya. Tapi, aku memilih bungkam.  Membiarkan kenistaan itu terus berjalan.

Aku menghela napas lagi. Kudengar rintihan para warga yang selamat dari amukan bumi itu. Lamunanku pun buyar, dan beralih menatap mereka yang tengah saling berpelukan dengan keluarga. Tangis mereka menyayat hati. Keadaan mereka membuatku membatu. Sayang ..., lagi-lagi aku hanya bisa diam dan hanya memerhatikan. Cukup lama aku memerhatikan hingga mereka hilang setelah memasuki tenda-tenda yang dibangun unttuk penampungan sementara.

Aku lalu menengadah, menatap langit yang sudah kembali cerah, setelah puas memuntahkaan segala amarah dengan hujan badai yang tiada tara. Lalu pandanganku beralih pada gelombang yang tadi menggila, melibas semua  warga juga mendadak tenang. Seperti sebuah tanda kepuasan, karena berhasil menghukum biang masalah yang merusak jagad ini juga akhlakul karimah. Tapi ..., apakah tidak apa jika tidak peduli dengan warga yaang sejatinya tidak tahu menahu pokok masalah? Kenapa harus semua orang terkena adzab ini? Membingungkan! Pikiranku buntu.

Kelebat bayangaan itu kembali mengusikku. Tumpang tindih hingga ingin menggigil. Tentang perempuan yang sejatinya aku kagumi dulu. Aku menajamkan penglihatan. Lekuk tubuh yang sempurna yang telah Tuhan ciptakan itu tengah dipampang. Tanpa malu, tanpa merasa risih dan bersalah. Di sampingnya ada seseorang yang merangkul pundaknya. Mesra. Hingga mungkin akan membuat siapa saja yang melihat akan iri. Mungkin aku juga. Karena aku mengaguminya. Dulu. Ah ..., andai mereka memang suami istri pasti tidak apa. Walau aku masih menyayangkan cara pakaian yang dikenakannya itu. Membentuk tubuh hingga benjolannya terlihat. Ranum dan mengundang banyak mata untuk memerhatikan dengan penuh nafsu. Aku menelaan ludah. Dan sayangnya lagi, aku tahu mereka bukan suami istri.

Kepalaku mendadak pening. Aku menatap Kemala. Perempuan yang kuceritakan tadi, yang bersama pria itu. Kemala adalah perempuan paling cantik dan selalu dicari oleh para tamu. Baik pendatang atau warga asli dukuh. Dan yang selalu aku rindukan. Dulu dia senang bermain bersamaku. Memainkan kecipak air lalu tertawa lebar. Tapi akan selalu pulang ketika azan berkumandang. Dia juga rajin mengaji. Tentunya itu dulu. Berbeda dengan sekarang. Dia berubah dengan iming-iming rupiah demi mengubah hidup. Aku mendesah.

Kembali aku menatap mereka yang bergelung mesra. Tapi mereka seolah tidak peduli dengan keberadaanku yang terus memerhatikan dengan saksama. Malah mereka terlihat semakin mesra. Ah, pemandangan yang mereka tontonkan semakin memebuat merinding. Antara malu dan tidak menyangka. Sungguh tidak habis pikir bagaimana mereka begitu santainya dalam keadaan itu. Malah Kemala tersenyum nakal dan terus menggoda hingga .... Ah, aku tidak bisa menceritakannya lagi.  Yang terakhir aku lihat mereka memutuskan pergi setelah saling berbisik mesra  dan menuju sudut tempat curam yang saat ini memang selalu menjadi tujuan kebanyakan orang. Kataanya untuk menghilangkan stress dan alasan lainnya. Mereka tidak memedulikan  deru azan yang mengajak mereka untuk segera menghadap Tuhan. Akidah telah dilupakan. “Mereka sungguh keterlaluan.” Aku bergumam dalaam hati. “Dan kau Kemala ..., aku sungguh kecewa.”

~*~

“Mayat Bunga Kemala ditemukan!” Teriakan Tim SAR membuatku tersentak. Sedari tadi pun aku mencarinya. Kini aku terkesiap melihat jasad itu. Mendesah dan menatapnya dengan pilu. Perempuan yang paling cantik dan selalu eksotis. Yang dulu baik dan berubah memiliki tatapan nakal tapi selalu menjadi primadona hingga membuat pria terjajah. Lupa istri bahkan Tuhan.  Mungkinkah karena semua kejadian itu bumi marah? Murka? Mungkin juga Tuhan? Aku bertanya-tanya. Atau ini sebuah peringatan?

Aku kembali menatap Kemala. Perempuan yang aku kagumi dulu. Yah, dulu sebelum dia menjadi seperti ini. Sayangnya, aku tidak bisa menolong atau mencegah. Aku tidak punya kekuatan. Memangnya aku siapa? Punya kekuatan apa? Aku tidak punya harta untuk menyenangkannya. Padahal itu yang sejak dulu diidamkannya. Aku sangat miskin dan lemah sama dengan yang lainnya. Tidak berdaya. Hanya bisa pasrah ketika garis takdir itu ditentukan. Tidak bisa memilih, jalan mana yang harus kutempuh. Semua ada yang mengaturnya. Begitupun skenario Kemala. Ternyata dia perempuan cepat putus asa akan rahmat Tuhan dan memilih jalan pintas. Mungkin karena itu ... dia berubah. Tunduk dengan keadaan.

Sama halnya seperti Kemala yang pasrah karena keadaan, hingga menjual akidah. Aku juga pasrah, tapi itu karena perintah Tuhan. Yah, aku ingat kenapa semua ini bisa terjadi. Kekacauan yang mengakibatkan banyak korban yang mati. Sebuah perintah yang tidak bisa aku bantah ketika mandat telah diterima. Tidak bisa memilih siapa saja yang bisa ditolong ketika bencana datang. Meski aku ingin. Ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk menjalan perintah  agar selalu di sisi-Nya. Hingga kejadian maha dasyat itu tidak bisa dicegah. Hujan deras dan angin puyuh. Lalu aku  ikut berkontribusi, menggulung duku dengan bah, dalam sekali gilas.  Tidak memedulikan mana warga yang salah dan benar, semua  aku libas. 

Dan ternyata cerpen ini juga dimuat di Koran Pantura Senin 19 September 2016, masih satu wadah soalnya. Seperti halnya cerpen "Beras Subsidi" . Mungkin ada seleksi untuk dimuat di Jurnal Banger. 

Koran Pantura, Senin 19 September 2016



No comments:

Post a Comment