Saturday, 10 September 2016

[Cerpen] Lidah Bertuah

*Kazuhana El Ratna Mida

 Sepertinya kamu termakan rasa cemburu berlebih, hingga menggerogoti hati. Kamu tak suka. Kamu marah dan tidak terima. Kenapa bukan kamu yang meraih kesuksesan? Kenapa harus kamu yang menelan kegetiran bahkan pengkhianatan?  Yah, sepertinya memang begitu. Hatimu sudah dijajah iri hingga lubang putih tak bisa dijamah lagi. Berubah hitam—semakin pekat. Begitulah.  Jika tidak kamu tak mungkin melakukan hal gila yang membuat semua menjadi kacau balau. Pertikaian hingga kerusakan.    Membuatmu menjadi pribadi   gila tak lagi bisa terkendali.

Kebencian yang bersarang di hati, menuntun langkahmu ke gunung Siguntang. Satu tahun lamanya, kamu bertapa—meminta kekuatan pada penunggu gunung—Dewa Mahameru. Kamu percaya dengan pergi ke sana kamu bisa dapat kekuatan dan mengalahkan rifalmu—Aryo. Lelaki yang paling kamu benci di jagad raya. Lelaki yang merebut harta juga istri yang kamu cinta—Martini.
~*~

Begitulah. Seperti rencana yang telah lekat di kepalamu, kekuatan yang kamu inginkan pun terwujud.  Lidahmu telah bertuah. Dengan kekuatanmu itu, banyak warga yang menjadi menderita. Apa yang kamu ucapkan seolah benar-benar menjadi kenyataan.  Seperti Karno yang akhirnya meninggal setelah bertengkar denganmu hingga kamu menyumpahinya mati dengan bunuh diri. Atau Salma, perempuan yang ditemukan gantung diri setelah kamu memfitnahnya.

Puas? Yah, kamu sangat puas. Merasa menjadi orang paling hebat di desamu. Sikapmu itu membuat seorang kakek menyebutmu Si Pahit Lidah. Karena apa yang kamu ucapkan, semua  berbentuk malapetaka. Kamu tak pernah berkata baik apalagi bijak. Hanya bisa racun yang keluar dari lidahmu itu.  Membuat orang-orang takut dan ngeri jika di dekatmu.

Ah, kenapa disebut Si Pahit Lidah? Sejatinya ada sejarah tersendiri tentang kisah itu. Yah, zaman dulu ada sebuah dongeng yang hampir menyerupai kisah hidup yang kini kamu jalani. Kebencian dan rasa iri yang membabi buta menyeretnya  pada jalan yang salah.   Namun entah bagaiamana akhir kisahmu nanti. Apakah akan benar-benar mirip atau melenceng jauh?  Tentunya  hal ini tidak mudah terdeteksi. Kamu sudah hidup di zaman modern, sedang dia entah sudah berapa puluh abad lalu mejadi legenda. 

“Persetan dengan sebutan itu.” Kamu malah nyalang memprotes penuturan  kakek  yang menyebut dirimu Si Pahit Lidah.

“Kau tak takut mendapat julukan yang sama?”

“Kenapa harus takut. Bukankah itu malah hebat? Aku seperti legenda.” Kamu tertawa terbahak. Kakek itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Iba.

“Apakah kau tahu bagimana kisah Si Pahit Lidah?” Kamu mengidikkan bahu. Berpikir sebentar “Itu bukan urusanku.”

Kamu meninggalkan kakek itu.  Saat ini tujuanmu hanya satu ke rumah Aryo dan Martini membalas semua perlakuan yang telah dilakukan padamu.

~*~

Semua bermula pada hari itu ...  hari nahas yang harusnya tak pernah terjadi jika tak ada sulutan api iri  yang membuat semua terbakar.  Hari itu kamu menyadari bahwa ada ketidakberesan antara Martini dan Aryo. Kamu melihat mereka saling melumat di kebun pemberianmu. Ditambah lagi ketika kamu melihat betapa suburnya kebun milik  lelaki yang mengaku sebagai adik iparmu—Aryo. Kenyataan yang membuatmu akhirnya mendidih dan tak lagi bisa mengendalikan diri. Gigimu bergemelatuk. Matamu merah menyala. Ternyata omongan warga tentang  Aryo  benar adanya. 

            Yah, beberapa hari ini kamu mendengar selentingan tentang kedekatana Aryo dan Martini yang tak wajar.  Tapi tentu saja kamu tidak percaya. Setahumu mereka hanya saudara.  Kamu juga mendengar tentang kebun Aryo yang begitu subur. Semua sayur yang ditanam di kebun itu tumbuh lebat, salah satunya Cendawan. Menunjukkan akan sangat banyak keuntungan yang nantinya bisa Aryo terima. Dan kamu tidak suka itu.  Harusnya kamu yang lebih pantas untung dalam masalah perkebunan.

            “Bagaimana ini bisa terjadi?” dadamu bergemuruh dengan amarah. Seperti yang dikatakan warga—berita itu benar.  Lalu timbul keinginanmu untuk melakukan sesuatu.

            “Aku tidak akan diam saja.” Begitulah kamu bergumam. 

            Hari yang telah senja membuatmu memutuskan melepas lelah dulu—pulang,  sebelum memutuskan cara apa yang bisa kamu lakukan untuk menghancurkan, Aryo. Masih teringat jelas dalam benakmu, bagaimana akhirnya kamu bisa mengenal lelaki itu.  Yah, semua karena satu nama yang bersarang di hatimu. Martini, wanita yang sangat kamu cintai. Wanita yang membuatmu merasakan indahnya keluarga.

            Di rumah Martini ternyata telah kembali. Seolah tidak terjadi apa-apa, perempuan itu  sangat telaten mengurusmu. Menyiapkan segala keperluanmu. Dulu itulah salah satu alasan yang membuatmu sangat menyukai wanita itu. Martini sangat keibuan dan selalu lemah lembut. Hingga akhirnya kamu juga memutuskan membagi satu petak kebun warisan bapakmu untuk adik lelaki Martini—Aryo, memenuhi permintaan Martni yang tidak tega melihat Aryo hidup lontang lantung setelah pernikahannya denganmu.  Toh, kekayaanmu memang berlimpah ruah. Semua tahu kamu adalah anak juragan tanah di desa. Dan kamu memiliki kekuasan tak terbantahkan.

            “Aku tidak bisa membiarkan Aryo menderita, Mas. Kami hanya dua bersaudara.”

            Kamu pun mengalah. Memberikan satu petak kebun milikmu, sesuai permintan Martini. Dan sekarang kamu mendapat balasan yang menyakitkan.

            “Ada apa, Mas. Kok sejak pulang dari kebun diam saja?” lembut Martini bertanya dan membuatmu tersentak.

            Cepat kamu mengarang alasan tentang kegundahanmu. Tentu tanpa menyebutkan nama Aryo di depan istrimu.

            “Oh iya, tadi  Aryo sempat datang ke sini. Dia senang sekali kebunnya sangat subur. Tadi dia bahkan memberikan beberapa sayuran untuk kita.” Martini menceritakan dengan wajah berseri dan membuatmu semakin geram. Membayangkan bagaimana mereka bergumal.

            “Aku tidak akan tinggal diam.” Kamu bergumam dalam hati dan mengepal kuat tanganmu.

~*~

            Semalaman membuatmu tak bisa tidur tenang. Kamu terus memikirkan tentang Aryo, Martini juga kebun milikmu.  Sampai kemudian sebuah ide terbesit di kepalamu. Kenapa tidak? Itulah yang kamu pikiran. Entah itu adik ipar kamu tidak peduli.

Dan esok harinya kamu segera melancarkan aksimu. Kamu sengaja mendatangi rumah Aryo.  Menjelaskan alasan kedatanganmu dengan sangat gamblang.

“Jadi Mas Danu mau bertaruh denganku?” 

Kamu mengangguk pasti. “Jika aku menang kamu harus pergi dari desa  dan  mengembalikan kebun itu padaku. Jika  aku kalah  kamu bisa memiliki kebun itu bahkan kebunku.”

Begitulah perjanjian yang dibuat antara kamu dan Aryo.  Lelaki yang tak kenal takut itu pun dengan senang hati mengikuti permainanmu.

Berminggu-minggu kamu bekerja banting tulang. Menyiangi kebun dengan telaten. Kamu memilih pupuk terbaik agar bisa membuat sayuran-sayuranmu tumbuh subur.  Selain mengerjakan kebunmu dengan baik, kamu juga melakukan satu pekerjaan lagi. Memantau kebun  Aryo.

Bukan, kamu tak ingin tahu bagimana lelaki itu bekerja. Kamu hanya mengawasi dari jauh dan ketika Aryo selesai dengan pekerjaannya yang dilakukan, gegas kamu merusak pekerjaan itu. Kamu melakukan kecurangan. Dan tanpa kamu ketahui, Aryo melihat semua ulahmu. 

Itulah petaka  yang pada akhirnya membuatmu bukan sukses malah semakin terpuruk.  Kamu kalah karena telah melakukan kecurangan.  Dan wanita yang paling kamu sayangi malah mengkhianatimu. Martini lebih memilih Aryo dibanding dirimu, ketika tahu kamu kini tak lagi punya apa-apa. Sebuah fakta yang sekian lama ditutupi kini terbongkar. Martini dan Aryo ternyata tak memiliki ikatan darah. Mereka bukan kakak adik tapi sepasang kekasih yang bersandiriwara demi mengambil kekayaan yang kamu punya.  Dan mereka berhasil.  Kamu tersungkur.

~*~

Akhirnya kamu sampai juga. Kamu menatap rumah yang dulu kamu tempati. Surga yang kamu pikir penuh dengan cinta, dan ternyata semua hanya kebohongan belaka. Kamu datang ke sana adalah untuk menuntaskan kesumbat dendam yang sudah kamu pelihara. Siapa peduli dengan nasehat kakek tadi yang menyuruhnya menyerah. Melupakan dendam. “Bijaklah seperti Si Pahit Lidah yang memutuskan berubah meski tak bisa merubah julukannya”

“Aku bukan Si Pahit Lidah, Kek.” Begitulah yang kamu katakan.

Yah, kamu tidak akan berubah pikiran. Kamu sudah merencakan masak-masak rencana pembalasan dendam yang kamu tunggu. Semua sudah kamu lakukan. Menyebar bisa lewat lidah bertuahmu. Dan sepertinya itu berhasil. Kamu melihat kerumunan orang di rumah milikmu dulu. Dua mayat terbujur kaku di sana. Fitnah yang kamu tebar membuat dua pasangan itu saling baku hantam, menghujam dendam—sepertimu.

            Kamu menaikkan bibir sejengkal—tersenyum menang dan berlalu melangkah.

Srobyong, 13 April 2016

*Terinspirasi setelah membaca dongeng Si Pahit Lidah.

Referensi

Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, Yudhistira Ikranegara, Dua Media. 

Dimuat di Tanjungpinang Pos, Minggu 4 September 2016



No comments:

Post a Comment