Sunday, 31 July 2016

[Resensi]Mengejar Mimpi tak Boleh Menyerah

Judul               : Serpihan Inspirasi
Penulis             : Salim Darmadi
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetekan           : Pertama, Juni 2016
Halaman          : 225 hlm
ISBN               : 978-602-02-8316-6
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat dan penyuka literasi, alumni Universitas Islam Nadlatul Ulama Jepara

Buku  ini mengungkapkan bahwa inspirasi itu bisa didapat di mana sana. Baik di tempat yang dekat atau jauh. Dan ini menunjukkan bahwa  hikmah adalah harta terserak. Dan langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah  mempelajari dan merenunginya sebagai bekal untuk memperbaiki diri. Read, Reflect dan Revive. Buku ini sangat patut untuk dibaca sebagai penyemangat dalam meraih impian juga sebagai renungan dalam memperbaiki kualitas diri.

Mengisahan tentang apa yang dipelajari Salim  selama melanjutkan program pascasarjana di Negeri Kanguru, Australia—tepatnya di University of Queensland (UQ) di St. Lucia, Brisbane. Bagaimana dia beradaptasi dan hikmah apa yang dia dapat selama tinggal di Negeri Kanguru.  

Di sana Salim belajar tentang arti perjuangan dan kegagalan—menjadi pribadi yang tidak boleh cepat putus asa.  Mimpi  semasa kecilnya memang akhirnya terwujud,  namun itu  menjadi pengingat baginya dalam usaha meraih mimpi-mipi selanjutnya. Karena dia sadar tidak boleh berhenti bermimpi. Mimpi yang tidak diiringi usaha akan selamanya menjadi mimpi. (hal. 16)

Apalagi setelah Salim bertemu dengan teman-teman seperjuangannya yang dalam meraih mimpi harus merasakan jatuh bangun terlebih dahulu. Misalnya saja Mas Arfan yang harus  mengikuti ujian International Language Testing System (IELTS) sampai enam kali baru bisa diterima di UQ.  Padahal untuk mengikuti ujian IELTS tergolong mahal. Tapi Mas Arfan tidak pernah putus asa. Atau kisah Mas Andra yang baru bisa menerima beasiswa setelah mengalami kegagalan sebanyak empat kali. Salim pun menyadari,  “Para pengejar mimpi sejati selalu memiliki “sumbu” yang panjang. Motivasi yang tidak pudar, etos kerja yang tak lengkang dimakan waktu, semangat yang tidak terpatahkan juga doa yang tak putus.” (hal. 26)  

Kisah lainnya yang tidak kalah menginspirasi dan menebar hikmah adalah tentang pertemanan Salim dengan Simon dan  Daniel—warga asli Australia yang bukan muslim, namun kedua temannya ini memberi teladan dalam ketaatan beragama di tengah-tengah masyarakat yang lebih menyukai kebebasan, daripada terikat dengan agama. Atau tentang adik kelasnya—seorang muslim yang memiliki cara pandang yang sama dengan Simon dan Daniel. Mereka  tetap bergaul akrab dengan teman-teman sebaya. Namun teguh mengamalkan nilai-nilai agama di tengah dinamika kehidupan remaja seumuran yang kadang acuh soal agama. (hal. 49)  Ini sesuatu yang patut untuk diteladani.

Ada pula serpihan hikmah tentang sikap saling peduli yang Salim dapatkan dari salah satu perkumpulan—Students for Palestine, begitulah nama perkumpulan itu. Salim pikir perkumpulan itu adalah organisasi siswa yang menyuarakan dukungan kemerdekaan untuk negeri yang rakyatnya terusir. Namun ternyata Salim salah. Students for Palestine bukanlah organisasi formal, melainkan sekadar perkumpulan mahasiswa dari berbagai universitas yang turut mendukung perjuangan bangsa Palestina, tentu saja tanpa melihat latar belakang warna kulit, kewarganegaraan, maupun agama. (hal. 81)

Dan tidak ketinggalan pelajaran penting tentang integritas. Hal ini terlihat dari rasa saling percaya antara satu individu dengan yang lain.  Saat itu Salim bersama Bu Farah dan dua orang sahabatnya baru saja mengunjungi Springbrook. Dalam perjalanan pulang, mereka melintasi daerah pertanian. Di sana ternyata ada sebuah kios kecil, mereka pun memutuskan untuk belanja. Siapa sangka, kios itu ternyata tanpa ada penjaganya. Pada masing-masing buah atau sayur sudah diberi tarif harga. Jadi bagi siapa saja yang ingin memberli tinggal memasukkan uang ke dalam kotak yang sudah disediakan di sudut kios.  Dan kios ini hanyalah salah satu dari  banyak kios yang ada di negeri selatan ini dengan aturan yang sama. (hal. 165)

Diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami.  Buku ini sangat inspiratif dengan berbagai hikmah yang bisa diambil pelajaran. Selain beberapa hikmah ini masih banyak hikmah lain yang bisa diambil dari buku ini. Misalnya tentang, manfaat berolahraga, bangga dengan budaya sendiri, anjuran untuk berbagi, memiliki sikap optimisme dan jangan suka menilai seseorang berdasarkan covernya saja.

Ini menunjukkan, kita bisa mengikat hikmah di mana saja, baik di negeri sendiri atau negeri seberang.  Dari peristiwa sederhana atau besar. Alam dan ragamnya yang membentang adalah sumber pembelajaran yang berharga.


Srobyong, 18 Juli 2016

Ini merupakan naskah asli ketika saya kirim ke Korjak. Namun pada pemuatannya ada beberapa bagian yang dipotong dan judulnya pun direvisi. Versi pemuatannya  bisa dilihat Korjak

Dimuat di Koran Jakarta, Senin 25 Juli 2016



Friday, 29 July 2016

[Cerpen] Menjual Kenangan

Dimuat di Tanjungpinang Pos, Minggu 24 Juli 2016 


Kazuhana El Ratna Mida

Entah kali keberapa aku beradu mulut dengan ibu. Tunggu jangan berpikir aku beradu mulut karena aku tidak sayang pada ibu. Aku bukan kacang yang lupa dengan kulitnya. Bukan! Malah sebaliknya aku sangat menyayangi perempuan yang berbagi nyawa denganku. Aku ingin ibu tinggal bersamaku. Hidup dengan damai tanpa perlu kerja keras. Aku hanya ingin ibu bahagia.  Itu saja. Makanya aku sangat berharap ibu mau memahami keinginanku. Aku tak ingin ibu tinggal sendirian setelah aku menikah dan bapak juga telah berpulang.

“Ayolah, Bu. Kali ini saja.” kugenggam tangannya sambil bersimpuh. Tapi sampai detik ini, ibu tetap  pada pendiriannya. Tidak. Ibu menggeleng kuat.

“Ibu tidak bisa meninggalkan rumah ini, Ris. Ini adalah nyawa ibu juga.” Begitulah alasan yang selalu dikemukakan ibu.

“Tapi, Bu,  bapak sudah meninggal. Aku ingin ibu hidup lebih baik.”

“Kamu tahu, Ris. Tinggal di rumah sendiri adalah pilihan yang terbaik. Ibu tidak apa-apa. Ibu suka.” Ibu menatapku dengan lembut. Senyumnya ranum membuatku ingin menangis.

“Tapi bagaimana dengan warga—,” aku menarik napas, “mereka pasti menganggap aku anak tidak berbakti yang tega meninggalkan ibunya sendiri di rumah ini. Padahal aku sudah memiliki rumah lain yang cukup besar yang bisa menampung kita semua.”

“Sudah tidak usah memikirkan pendapat orang lain.”

Aku menggigit bibir. Lagi-lagi aku gagal membujuk ibu.

~*~

“Bagaimana, Ris. Ibu masih tak mau ikut dengan kita?” tanya Mas Rusman suamiku. Aku menggeleng lemah.

Pada kenyataannya ibu terus saja menolak.  “Aku bingung harus bagaimana lagi membujuk ibu, Mas.”

“Sudah mungkin ibu punya pemikiran lain.” Mas Rusman mengelus punggungku pelan memberi kekuatan.

Sudah satu bulan ini—pasca aku menikah dengan Mas Rusman—aku mencoba membujuk ibu agar mau tinggal denganku nanti di kota.  Karena mungkin setelah ini aku dan Mas Rusman akan sibuk dengan berbagai pekerjaan. Aku takut tak sempat menengok ibu. Karena itu ... jika ibu bersamaku aku merasa tenang. 

Aku tahu ... setelah kepergian bapak tiga tahun lalu, ibu terlihat kesepian. Ibu terlihat suka melamun dan diam-diam menangis.  Dan aku tidak tega melihat hal itu.   Hanya aku yang kini dimilikinya, tapi sekarang akan diboyong suami. Bagaimana aku tidak sedih melihat keadaan ibu?

Keesokan harinya kembali aku bersama ibu. Kali ini aku tak membujuk lagi. Aku hanya ingin mendengarkan kenapa ibu sangat ngotot tetap mempertahankan rumah ini  dan meninggalinya. Padahal kupikir, lebih baik ibu mau menjual rumah ini dan hidup bersamaku tentu saja. Dan usulan inilah yang paling keras ditentang ibu.

“Sampai ibu mati, jangan pernah kamu menjual rumah ini, Ris.” Begitulah ucapan ibu.

            “’Maafkan Risma, ya, Bu.”  Aku menunduk.

            “Kamu tahu, Ris. Alasan kenapa ibu mempertahankan rumah ini?” ibu menatap manik mataku dengan lekat.            

            Aku menggeleng kuat. “Kenapa, Bu. Beritahu Risma.” Aku menunggu dengan sabar.

            Kulihat ibu lalu menerawang sebentar dan kemudian membelai punggungku.

            “Rumah ini adalah kenangan. Kenangan yang tak akan usang oleh waktu. Rumah ini adalah bukti sejarah adanya ibu bapak dan dirimu. Di sinilah kamu tumbuh besar. Sejak dalam rahim ibu ...,” ibu menarik napas lagi,

            “lalu ketika kamu mulai bisa berjalan, berbicara dan tumbuh hingga kamu menikah. Ibu tidak ingin kehilangan momen  semua itu. Rumah ini adalah kenangan yang tak mungkin bisa tergantikan.” Ibu memejamkan mata.  

            “Karena itu, Ris. Ibu tidak akan menjual kenangan ini—rumah ini.”

            Aku diam mendengarkan penuturan ibu. Ah, aku tak pernah berpikir ke sana sama sekali. Aku tidak memikiran perasaan ibu. Kenangan hangat yang selama ini disimpan dengan rapi.

            Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Aku sungguh anak yang egois. Pelan kurasakan panas di mataku meleleh.

            “Kamu jangan khawatir soal ibu.  Ibu masih sehat, kok. Ibu tidak apa-apa tinggal di sini.”

            “Tapi, Bu ...,” aku masih memprotes.

            “Kamu ini memang keras kepala, seperti ibu.” Aku sedikit tergelak dengan leluccon ibu kali ini.
            “Sudah, ibu tak apa tinggal sendiri. Kamu tinggal dengan suamimu. Jadilah istri yang selalu menurut pada suami.  Ikuti perintah suamimu. Temani dia salam suka dan duka, baik miskin atau kaya, karena begitulah tugas seorang istri.”

~*~

            Aku menarik napas panjang. Menatap sekeliling rumah dengan perasaan campur aduk. Rumah yang menyimpan banyak kenangan antara aku, ibu dan bapak.  Setelah tak bisa membujuk ibu kala itu, aku dan Mas Rusman memang sempat pindah ke kota. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Entah kenapa aku selalu terbayang-bayang sosok ibu ketika mata ini ingin lelap. Aku tidak tenang meninggalkan ibu sendirian.

            Aku bersyukur Mas Rusman bukan tipe suami yang suka memaksakan kehendak. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk kembali ke rumah ibu.  Seorang anak memang harus berbakti pada orangtuanya.

            Begitulah, aku  pulang ke rumah ibu satu minggu setelah kami pergi ke kota. Mas Rusman akan menyusul nanti setelah pekerjaannya selesai—mungkin seminggu lagi.  Begitulah yang Mas Rusman katakan padaku. Dan betapa kagetnya aku mendapati ibu dengan pemandangan yang membuatku berkali-kali mengernyitkan dahi.

            Kecamuk pertanyaan menjajah kepala. Apa yang terjadi dengan ibu setelah kepergianku? Sungguh aku tidak ingin beripkir buruk, tapi melihat tingkah itu, sesalku semakin menumpuk. Harusnya aku tak meninggalkan ibu dulu. Ibu kesepian, butuh teman berbagi.

            Lamunanku buyar ketika ibu menepuk bahuku dengan senyum lebar. “Kamu ini datang-datang kok malah melamun. Tidak mengucapkan salam.”  Ibu sudah berdiri tepat di depanku.

            Aku menelan ludah. Dan hanya tersenyum getir sambil mengucapkan salam. Ah, bahkan di saat seperti ini ibu masih mengingatk keutamaan salam?

            “Kamu kenapa Ris? Dari tadi menatap ibu seperti itu. Ada yang salah dengan ibu?”  Aku menggigit bibir. Ragu. Kuhembuskan napas berkali-kali.

            “Ibu baik-baik saja, kan?” tanyaku akhrinya setelah kami duduk di ruang tamu.

            Kini ibu malah menatapku penuh selidik.

            “Ibu, Risma benar-benar khawatir. Tadi ketika Risma sampai, ibu sedang—,” aku tak meneruskan ucapanku.

            “Jadi kamu mengira ibu gila?”

            Seperti dipukul palu, hatiku berdentum tak tentu.

            Aku memilin jilbab—kebiasaan ketika gugup mulai menyergap.

            “Ris,” tangan ibu mengelus pipiku.

            “Maaf kalau ibu tidak menceritakan semuanya.”

            Aku menatap tidak paham. “Tentang rumah ini, Ris. Alasan ibu tak ingin pergi dan menjual rumah ini.”

            Jadi  cerita ibu kala itu hanya kebohogan? Lagi-lagi aku semakin bingung.

            “Ibu tak pernah bohong. Dulu ibu memang sudah menceritakan tapi tidak semuanya. Bukan hanya karena kenangan rumah ini. Tapi ...,” ibu menarik napas.

            Aku menunggu dengan debaran jantung yang memburu yang kemudian berujung tangis haru. Aku memeluk ibu erat. Ternyata begitu dalam rasa sayang ibu pada bapak.

            Ibu tak mau menjual rumah ini karena ada pohon waru, yang mereka tanam berdua. Pohon yang konon memiliki banyak khasiat untuk obat. Juga kenangan manis sepasang suami istri tatkala rindu menyeruak kalbu.

Srobyong, 25 April 2016. 

[Resensi] Tips Menghadapi Pubertas dengan Cara Cerdas


Judul               : Puber Stories
Penulis             : Lia Herliana
Editor              : D. Kurniawan, S.Si.
Penerbit           : Tiga Ananda, Imprint of Tiga Serangkai
Halaman          : 265 hlm
Cetakan           : Pertama, September 2015
ISBN               : 978-602-366-074-2
Peresensi         : Ratnani Latifah, Penyuka buku dan penikmat literasi. Alumni Unisnu Jepara.

Setiap anak nantinya pasti akan mengalami fase pubertas. Pubertas sendiri  adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi masa remaja. Peralihan ini biasanya ditandai dengan adanya perubahan fisik, psikis dan matangnya organ reproduksi. Masa puber biasanya dimulai pada usia 8 - 10 tahun dan berakhir pada usia 15-16 tahun. Namun  Santrok dan Yussen memperikirakan pubertas dimulai kira-kira umur 10-12 tahun dan berakhir ketika umur 18-22 tahun. (Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih, Perkembangan Peserta Didik, 2008)

Pada masa pubertas ini, anak akan mengalami pertumbuh dengan cepat. Pada anak laki-laki masa pubertas bisa ditandai dengan mimpi basah. Sedang perempuan ditandai dengan menstruasi.

Menstruasi atau haid pada anak perempuan biasanya  dimulai pada usia 10-11 tahun, tapi bisa juga datang lebih awal atau lebih awal.  Ciri remaja ketika mengalami menstruasi biasanya  sikapnya lebih sensifit—suka marah, murung, cemas,  kram pada perut, pusing, capat capek dan  sakit di area dada. Inilah yang biasanya disebut PMS—Premenstrual Syndrome—di mana para ahli menyatakan bahwa gejala itu  disebabkan oleh perubahan hormon-hormon tubuh dalam siklus haid. (hal.22) Dan sangat dianjurkan sebelum masa menstruasi datang untuk memperbanyak konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, gandum dan daging. (hal. 23)   

Selain mulai menstruasi, pubertas  juga ditunjukan dengan mulai timbul jerawat pada wajah. Hal ini terjadi karena hormon-hormon sedang berpacu pada tubuh. Dan hal yang harus dilakukan ketika berjerawat adalag selalu menjaga kesehatan kulit wajah dengan mencuci muka, dan jangan sekali-kali memencet jerawat. (hal. 40-41)

Dan yang paling menonjol pada anak perempuan ketika mengalami masa pubertas adalah pertumbuhan dada yang akan terus berlangsung sampai masa remaja berakhir. Yang harus dilakukan adalah memberitahu anak untuk memakai bra demi kesehatan dada. (hal. 58-59) Ada pula masalah bau keringat pada ketiak. Maklum pada masa pubertas semua komponen di tubuh sedang giat-giatnya beproduksi. Sehingga sangat baik jika seorang remaja harus selalu menjaga badan dan mandi dua kali sehari. 

Satu lagi yang terjadi ketika memasuki masa pubertas ini, biasanya mereka lebih suka mengurung diri. Berkumpul teman-temannya itu lebih seru daripada bersama keluarga. Padahal hidup itu butuh orang lain apalagi keluarga.

Sedang bagi anak laki-laki masa pubertas ditandai dengan mimpi basah. Hal itu  bisa terjadi karena  organ reproduksi anak laki-laki sudah mulai memproduksi sel sperma. (hal.  163)  Lalu mereka mulai mengenal yang namanya genk atau komunitas. Di mana genk atau komunitas  itu dipakai sebagai ajang untuk mendapat pengakuan. Lalu timbre suara anak lelaki akan berubah. Suara yang tadinya cempereng mendadak menjadi lebih berat, jadi aneh dan pecah.  Penyebabnya adalah pita suara menjadi lebih lebar. (hal. 200-201)

Mereka juga mulai mengenal pornografi dan pornoaksi. Ini harus disikapi dengan cerdas dan bijak. Jangan sampai pornografi merusak hidup masa depan para remaja. Karena itu  harus memperkuat iman dan bergaul dengan teman-teman yang positif, agar terhindar dari dampak negatif perbuatan itu. Lalu tumbuhnya banyak bulu pada tubuh. Khusunya pada area genital, ketiak, bibir, dan kaki.

Buku ini dipaparkan dengan bahasa yang renyah dan ringan sehingga mudah dipahami.  Pembahasan tentang masa pubertas dengan tips-tips menghadapi fase itu dengan cerdas dan bijak sangat penting untuk diketahui para remaja juga orangtua.  Buku ini bisa dijadikan panduan agar ketika memasuki masa pubertas anak tidak perlu takut dan sudah memiliki bekal yang cukup. Mereka jadi  bisa membedakan mana yang baik yang harus dilakukan dan meninggalkan sisi negatif yang merugikan.
Buku ini juga dilengkapi juga kisah-kisah yang cuku menghibur dan inspratif.  Jadi ketika membaca terasa santai. Beberapa kekurangan buku ini tidak mengurangi kenikmatan membaca.

Srobyong,  4 Juni 2016

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 21 Juli 2016 



Wednesday, 27 July 2016

[Resensi] Mengungkap Kebenaran Dan Memperjuangkan Setitik Harapan


Judul               :  The Secret of Room 403
Penulis             : Riawani Elyta
Penerbit           : Penerbit Indiva
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 272 hlm
ISBN               : 978-602-1614-51-8
Perensi             : Ratnani Latifah, penyuka buku dan penikmat literasi, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Novel The Secret of Room 403 merupakan pemenang harapan pada Lomba Menulis Indiva (LMNI) 2014. Sebuah novel yang mengisahkan tentang kisah di balik sebuah  tragedi  tanjung berdarah 1984, perjalanan seorang penulis serta sebuah ambisi dan intrik dalam politik.  Kisah ini diceritakan dengan dua latar berbeda—dimulai antara 1984 dan 2013 secara bergantian. Membuat novel ini terasa unik dan memikat.

Kisah dimulai dengan terpilihnya Alif menjadi penulis yang dipercaya untuk menulis biografis dari sosok militer—ayah dari mentri yang mencalonkan diri menjadi  presiden pada ajang pilpres tahun depan. Martin—orang kepercayaan sang mentri, memberikan mendapat bundelan yang lembar-lembar kertasnya mulai menguning kepada Alif.  Bundelan itu berisi semua referensi yang dibutuhkan selama menulis naskah biografi. (hal. 41)

Setelah menerima bundelan itu, Alif pun mulai membaca, sehingga latar waktu cerita membuat pembaca menengok pada tahun 1984. Diceritakan pada tanggal 12 September 1984  terjadi tragedi berdarah di  Tanjung Tritis. Aparat tanpa pandang bulu menodongkan senjata sehingga banyak warga yang tumbang. Salah satu korban itu adalah Husein Abdul Rahman. Tapi siapa sangka ternyata Husein  selamat dari kejadian nahas itu. Hanya saja dia tidak bisa lagi kembali ke kehidupannya yang dulu. (hal. 139)  Dia meninggalkan tanah air dengan membawa identitas baru dari sang penolong—Rusydi.

Kembali pada keadaan Alif. Demi mendapat ketenangan dalam menyelesaikan tulisannya, Alif memutuskan berlibur ke Tanjungpinang. Lagipula selama ini dia memang sudah terlalu terkungkung dengan rutinitas kerja yang tidak ada batasnya. Di sana dia bertemu dengan Revi. Gadis yang kemudian menjadi teman perjalanan dalam menjelajahi seluk beluk Tanjungpinang.

Pada mulanya semua rencana Alif berjalan lancar—berlibur dan menulis di malam hari. Tapi pada suatu hari dia menyadari benda bundelan yang paling penting itu hilang. (hal. 191) Dan ketika dia menemukan lagi bundelan itu, Alif menerima sebuah kenyataan yang tidak terduga. Bagaimana mungkin tulisan dalam bundelan itu mirip tulisan almarhum ayah Revi? (hal. 196)

Tidak hanya terkejut pada kenyataan itu, dalam keadaan bingung untuk menyelesaikan tulisan, Alif membolak-balik terus bundelan itu. Siapa tahu dengan begitu dia akan menemukan ilham lagi. Alih-laih menemukan ilham, dia malah menemukan tulisan kamar 403 dan rangkaian kata sebuah nama. (hal. 204)

Merasa perlu menjawab segala teka-teki itu, Alif memutuskan untuk meminta permohonan agar bisa bertemu sang menteri. Seperti dugaannya di tempat sang mentri, Alif melihat kamar 403. Dan ketika dia nekat memasuki tempat itu, sebuah rahasia yang selama ini tersembunyi akhirnya terkuak. Dan Alif  berharap bisa  mengungkap semua kebenaran meski dia tahu hanya setitik harapan yang dimiliki.

Sebuah novel thriller-historis yang menegangkan, membuat penasaran, juga sarat makna. Diceritakan dengan gaya bahasa yang memikat, memiliki keunikan plot dan ending yang tidak terduga. Mengajarkan pada pembaca bahwa  kita harus terus berjuang meski hanya ada setitik harapan. Namun selain pesan itu,  novel ini  juga kental dengan pesan-pesan religi.  Hal ini dilihat dari pergulatan batin Alif setelah membaca bundelan dari sang menteri.

Semisal tentang ingatan Alif bahwa mendirikan shalat itu sangat penting. “Shalat itu ibarat tiang agama. Tanpa shalat, agama akan runtuh.” Atau tentang ingatannya untuk selalu membaca Al-Quran yang memiliki khasiat hebat—yaitu menghindarkan dari rabun dan pikun. (hal. 77) Juga khasiat melakukan sujud agak lama saat shalat yang bisa membuat peredaran darah akan mengalir lebih lancar dan membuat tidak cepat pusing. (hal. 133)  Tak ketinggalan sebuah pesan untuk selalu bersikap legowo—mau memaafkan, sabar, ikhas dan tidak menyimpan dendam. “Jangan dendam dengan orang yang sudah menyakiti kita. Apalagi sampai membalas dengan perbuatannya dengan perbuatan yang tak kalah buruk. Cukuplah Allah  saja yang membalasnya.” (hal. 251)

Srobyong, 6 Juni 2016 

Dimuat di Kabar Madura, Senin, 18 Juli 2016 



Monday, 25 July 2016

[Resensi] Mengemas Senja dalam Cerita yang Berbeda


Judul               : Sepotong Senja untuk Pacarku
Penulis             : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Februari 2016
Halaman          : 208 hlm
ISBN               : 978-602-03-1903-2 
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi almuni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Semburat cahaya yang dipancarkan selalu dicari sebagian orang yang memang sangat tergila-gila pada senja. Karena konon senja itu bisa memunculkan efek romantis dan  eksotis.  Menilik betapa menariknya senja,  Seno Gumira mencoba mengemas senja menjadi cerita yang berbeda.

Kenapa berbeda? Karena senja yang ditulis Seno adalah senja dalam berbagai pendekatan dan konteks. Mulai dari gelaja alam kasat mata, sampai genap konstruski struktural dan tematik yang dimungkinkan oleh subjek bernama senja. Masih merujuk dari kata penulis, “Dari saat ke saat, memburu senja secara konkret maupun sebagai konsep yang abstrak, memberikan kepada diri saya suatu ruang-waktu mewah.”

Bedanya lagi, kumpulan cerpen ini seperti sebuah komposisi yang saling melengkapi. Kumpulan cerpen ini merupakan cetak ulang cover baru dengan tambahan beberapa cerpen. Sehingga jika pada buku lawas hanya ada 13 cerpen, maka dalam buku baru ini akan terdiri enam belas cerpen dan dibagi menjadi  tiga bagian; Trilogi Alina, peselancar Agung dan Atas Nama Senja.

Dibuka dengan Trilogi Alina dengan cerpen pertama berjudul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’. Dalam cerpen ini  diceritakan Sukab sengaja mengirimkan sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam dan cahaya kemasan—kepada pacarnya, Alina untuk pembuktian cintanya. Karena dia merasa kata-kata sudah tidak lagi ada gunanya. Sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Kalau cinta harus berani berkorban dan berjuang dengan tindakan. (hal. 5)  

Kala itu Sukab tengah di pantai dan tiba-tiba melihat senja dan cahaya gemetar dan dia pun jadi teringat dengan Alina. Lalu dengan cepat memutuskan untuk memotong senja itu dan dikirimkannya. Sayang, dengan cepat warga menyadari kalau senja telah dicuri oleh Sukab.  Pengejaran pun tak terelakkan. Namun dengan usaha keras Sukab mencoba pergi menjauh agar sepotong senja itu bisa dikirim pada kekasihnya.
Dilanjutkan cerpen kedua ‘Jawaban Alina’. (hal. 17) Mengisahkan tentang tanggapan Alina akan usaha keras Sukab yang dengan keberanian memotong senja dan diberikan padanya. Serta kisah panjang di balik sampainya paket itu.   Lalu, tidak ketingalan cerpen ketiga berjudul ‘Tukang Pos dalam Amplop’ cerpen ini juga tidak kalah menarik dengan cerpen-cerpen sebelumnya. Karena di sini, akan terungkap kenapa  paket dari Sukab bisa terlambat datang sampai sepuluh tahun lamanya.
Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul ‘Kunang-Kunang Mandari’ (hal. 67) Perpaduan antara mitos dan keindahan senja. Menjadikan cerpen ini unik dan asyik untuk dibaca. Bagaimana mungkin kunang-kunang itu berasal dari potongan kuku orang-orang Mandarin? Bahkan diternakkan.

Atau kisah ‘Anak-Anak Senja’ (hal. 145) Tentang ketakutan seorang ibu, agar anak-anak kecil  jangan sampai mengikuti  melihat dan mengikuti anak-anak senja. Karena konon jika sudah mengikuti anak akan hilang bersama anak-anak senja. Siapakah anak-anak senja dan apakah hal itu benar adanya?

Cerita- cerita dalam kumpulan cerpen ini  dipaparkan Seno Gumira dengan sangat piawai.  Dari gaya bahasa, plot sampai permaninan endingnya.  Yang lebih membuat cerpen-cerpen ini menarik adalah, pemilihan judul yang menarik juga pembukaan cerpen yang memikat, membuat siapa yang membaca tertarik untuk membaca dan menyelesaikan ceritanya.

Memang dalam urusan menulis cerpen, Seno Gumira sudah tidak lagi diragukan. Banyak tulisanya yang sudah dimuat di media cetak. Sebut saja Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo dan masih banyak lagi. Bahkan untuk Cerpen ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’ berkali-kali dimuat ulang dalam berbagai literatur dan diterjemahkan pula dalam  bahas Inggris. Bagi penikmat senja dan surealis, buku ini sangat recomended dibaca.

Dari membaca kumpulan cerpen ini, saya mengambil kesimpulan bahwa cinta kadang memang memabukkan dan membuat hilang akal. Namun bagaimana kita menyikapi agar cinta itu tidak menjadi budak dan menyakiti diri sendiri.


Srobyong, 14 Juli 2016 

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 17 Juli 2016 


Saturday, 23 July 2016

[Resensi] Belajar Macam-Macam Vitamin dan Manfaatnya Melalui Cerita Anak


Judul               : Cerita Anak Terbaik Sepanjang Masa; Seri Aku Anak Sehat
Penulis             : Dyah Ummi Purnama
Penyunting      : Tin Zulaeha
Penerbit           : Visimandiri
Cetakan           : Pertama, Desember 2015
Halaman          : 112 halaman
ISBN               : 978-602-317-174-6
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Mengenalkan macam-macam vitamin dan manfaatnya pada anak sejak dini itu sangat penting. Karena dengan begitu secara tidak langsung, orangtua sudah mulai mengajarkan anak untuk hidup sehat. Mengingat jika dalam tubuh tidak memiliki vitamin, maka hal itu bisa mengakibatkan tubuh mudah terserang penyakit. 

Namun yang jadi masalah adalah bagaimana cara mengenalkan anak tentang macam-macam vitamin dan manfaatnya untuk tubuh pada anak dengan cara menyenangkan dan seru? Buku ‘Seri Aku Anak Sehat’ akan sangat cocok untuk dijadikan rujukan dalam mengenalkan anak tentang berbagai macam vitamin dan kegunaannya. Karena dalam buku ini, selain itu akan ada tujuh cerita seru yang menggiring anak belajar dengan nyaman, akan dibahas dengan tuntas juga tentang makanan apa yang baiknya  dikonsumsi anak  dengan kandungan vitamin yang ada.

Buku ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, sehingga mudah dipahami anak. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi yang cantik yang menambah semangat anak membaca juga berbonus kartu  kuartet. Diharapkan dengan adanya buku ini bisa menambah pengetahuan anak dan orangtua agar bisa mengajak untuk hidup dengan cara yang sehat dan bergizi.

Sebut saja cerita berjudul “Rabun Ayam Karena Suka Mata Ayam?” (hal. 7) Dari kisah ini penulis mencoba mengulas tentang pentingnya mengkonsumsi vitamin A. Bahwa vitamin A memiliki fungsi untuk meningkatkan penglihatan dan ketajaman mata.  Fungsi lainnya adalah membentuk jaringan tubuh, memelihara kesehatan kulit dan rambut, serta melindungi jantung.  Vitamin A juga sumber aktioksidan untuk mencegah penyakit kanker. (hal. 20). Kekurangan vitamin A akan mengalami gangguan Xerosis Conjuntiva, Rabun Ayam, Bitot’s Spot (Bercak Bitot), Xerosis Cornea dan Corneal Ulceration. (hal. 22-23)

Lalu cerita berjudul “Beri-Beri Tidak Sama dengan Biri-Biri” (hal. 26) Kali ini penulis mencoba mengulas vitamin B1 atau thiamine yang merupakan salah satu bagian kelompok vitamin B yang ada beberapa jenis. Fungsi dari vitamin B1 berperan dalam metabolisme karbohidrat, berperan dalam jaringan napas, serta memperkuat otot, jantung dan saraf. (hal. 38)Gejala klinik kekuangan thiamine—vitamin B1 menyangkut sistem saraf dan jantung, yang dalam keadaan berat dinamakan beri-beri. Beri-beri sendiri ada dua. Yaitu, beri-beri basah dan beri-beri kering.

Dikenalkan juga tentang vitamin  C melalui kisah berjudul “Ketika Awan Sakit Sariawan” (hal. 59) 
Fungsi vitamin C adalah sebagai antioksidan. Selain itu vitamin C juga membantu dalam penyembuhan luka, pembentukan sel-sel darah merah dan mencegak infeksi. (hal. 68) Dan akibat kekuarangan vitamin C adalah dapat menyebabkan sariawan dan gusi mudah berdarah. Pada tingkat berat, dapat timbul penyakit scurvy yang ditandai dengan kerusakan pada gigi dan gusi, badan lemah, nyeri pada tungkai dan persendian, mudah terkenal infeksi serta timbulnya bercak-bercak perdarahan. (hal. 69)

Lalu  vitamin K melalu cerita “Awas, Ada Sungai Darah!” (hal. 98) Fungsi vitamin K adalah berperan dalam pembekuan darah dan mencegah terjadinya pendarahan yang berlanjut jika terjadi luka. Selain itu, vitamin K juga berperan dalam meningkatkan mineral-mineral yang diperlukan dalam pembentukan tulang. (hal. 104) Jika kurangan vitamin K akan menyebabkan memar, darah tidak dapat menggumpal sehingga menyebabkan pendarahan yang terus-menerus bisa terjadi luka.

Selain itu, tentu saja masih ada tiga  cerita seru lain yang pengenalan vitamin yang harus diketahui anak. Dalam setiap pembahasan penulis yang merupakan seorang ahli gizi tidak lupa mencantumkan apa saja sumber-sumber vitamin yang bisa dikonsumsi anak juga sebuah resep masakan  yang kaya akan vitamin. Jadi selain sangat berguna untuk anak buku ini pun baik dibaca orangtua sebagai pemandu anak dalam belajar masalah vitamin dan hidup sehat.

Srobyong, 4 Juli 2016 

Dimuat di Koran Singgalang, Minggu 17 Juli 2016