Sunday, 19 June 2016

[Resensi] Ketika Hati Diperbudak Dendam

Judul               : Cinta dan Dendam yang tak Akan Membawamu ke Mana-Mana
Penulis             : Redy Kuswanto
Penyunting      : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Trust Media Publishing
Cetakan           : 1, Maret 2016
Halaman          : vi + 254 hal
ISBN               :978-602-73678-6-9
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi, alumni Unsinu Jepara.

“Kalau kamu ingin bahagia, cobalah terlebih dahulu membersihkan hati dan pikiran, hilangkan segala prasangka buruk, kebencian, amarah, dan segala hal buruk lainnya. Lalu dekatkanlah diri pada Allah. Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki.” (hal. 230)

Dendam memang tidak pernah akan memberi manfaat. Dia hanya akan menimbulkan percikan api kebencian yang terus berkobar dan tidak akan pernah selesai. Ketika hati diperbudak dendam, maka  dengan sendirinya hati mengajak pikiran untuk terus melakukan keburukan tanpa pernah merasa puas.

Novel merupakan lanjutan dari jilbab (love) story yang sudah terbit 2015, karya Redy Kuswanto—juara satu lomba menulis novel yang diadakan Penerbit Tiga Serangkai dengan tema “Seberapa Indonesiakah Dirimu?’

Menceritakan tentang Keyzia yang harus kembali menelan kepahitan dalam usahanya menekuni karir musik yang sangat diimpikannya.  Setelah masa kontraknya dengan manajemen The Singers berakhir, dia nyaris tak lagi memiliki job menyanyi. (hal. 7) Yang ada malah pembatalan-pembatana job yang diterima dan  digantikan Melody.  Tentu saja hal itu sangat membuatnya marah.

Lagi-lagi dia kalah pamor dengan Melody, gadis yang selalu dianggapnya cupu dan tidak pantas mendapat kesuksesan. Gadis itu semakin meroket dengan karirnya dan sudah memiliki dua album yang sangat diminati remaja. Sedang dia, single pertama tidak memiliki respon yang baik. Tentu saja hal itu, membuat Keyzia  semakin benci dan tidak terima. Dia merasa, kegalan yang diterimanya adalah karena ulah Melody. Dia  harus melakukan sesuatu agar Melody tidak lagi menganggu jalan karirnya.

Saat itulah, tanpa sengaja, Keyzia mendengar berita tentang cincin pengasih yang dikenakan Melody. Katanya  cincin itu dianggap sebagai keberuntungan yang menjadi kunci kesuksesan gadis itu. Keyzia pun bertekad untuk menghancurkan karir Melody. Mengungkap kebenaran cincin  bertua itu dan mengambil cincin itu jika perlu.

Dari pihak Melody ketika diminta konfirmasi tentang  gosip miring yang tengah hangat, gadis berjilbab itu hanya memilih diam. Dia yakin semua ini adalah ujian Allah dan dia akan sabar menjalani semua itu. lagipula sudah hukum alam, semakin tinggi pohon, semakin kencang  angin yang meniupnya. (hal. 76)

Obesesi Keyzia yang sangat ingin menghancurkan Melody, membuatnya bertemu dengan Ragiel. Cowok yang telah membuatnya terpesona hingga menyingirkan nama Inu yang selama ini menjadi incarannya. Meski kedekatannya dengan Ragiel ditentang teman-temannya, dia tidak peduli. Keyzia memang sangat keras kepala. Apa yang dia mau harus bisa diwujudkannya. Seperti menjatuhkan Melody, agar gadis itu sedih.  Dan dia memang berhasil mengambil cincin itu. berkat seseorang yang selama ini dibayarnya.

Keyzi sangat yakin setelah ini kesuksesan yang dulu dimiliki Melody pasti akan jadi miliknya. Tapi siapa sangka, apa yang diharapan Keyzia tidaklah sesuai dengan penantiannya selama ini. Bukan kesuksesan yang diterima, dia malah mengetahui masalalu ibunya. Tabir yang selama ini tidak pernah dia ketahui akhirnya terkuak. Sebuah rahasia yang menyakitkan dan mengguncang jiwanya.

Syok dan tidak terima itulah yang dirasakan Keyzia. Dia tidak lagi merasa bahagia meski sudah berhasil memiliki cincin bertuah milik Melody. Pikirannya kacau apalagi setelah mengetahui kebenaran di balik masa lalu ibunya.  Dia ingin bunuh diri. (hal. 219)

Sebuah novel yang dipaparkan dengan bahas renyah dan asyik dinikmati serta tidak menggurui. Penjabaran setting terasa nyata hingga terlarut dalam cerita.  Tokoh-tokohnya pun memiliki karakter yang kuat.  Novel dengan tema sederhana ini juga sangat sarat makna. Mengajarkan tentang arti kebahagiaan melalui syukur, berpikir positif dan menghilangkan dendam.

Kekurangan dari novel ini adalah masih ditemukan beberapa kesalahan kepenulisan di beberapa kalimat. Namun  lepas dari semua itu, buku ini sangat recomended untuk dibaca dan diambil pesan-pesannya yang tersirat.  Dari dua quote ini; “Cobalah belajar selalu berprasangka dan berbuat baik pada sesama.” (hal. 135) “Kunci bahagia itu sebenarnya gampang. Salah satunya  adalah dengan bersyukur. Sesungguhnya kalau  kita mau bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmat kepada kita.” (hal. 214)


Srobyong, 23 Maret 2016 

Resensi ini juga pernah tersiar di Pesantren Penulis  bisa di cek di sini Pesantren Penulis

2 comments:

  1. Aku baru tahu novel ini, mbak. Banyak yang bisa dipelajari dalam satu novel dengan menyisipkan quote ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak banyak belajaran yang bisa diambil dari membaca novel ini. ^_^

      Delete