Wednesday, 15 June 2016

[Cerpen] Macan Putih di Depan Rumah

Dimuat di Tanjungpinang Pos, Minggu 12 Juni 2016

Kazuhana El Ratna Mida


            Entah bermula dari mana cerita itu. Saat ini warga di desa Kantil  tengah sibuk membicarakan tentang munculnya macan putih. Katanya ada beberapa warga yang pernah melihatnya. Macan itu duduk perkasa di atas lincak. Matanya nyalang memandang dengan tajam. Tentu saja warga yang melihat lari tunggang-langgang. Mereka ketakutan. Bukan tidak berarti macan itu malah akan menerkam jika mereka mendekat? Mereka masih waras untuk tidak cari perkara dengan mencoba mencari tahu makhluk apa sebenarnya macan itu? Karena kedatangannya itu hanya ketika malam mulai larut. Bukankah itu mencurigakan?

Kasak-kasuk itu dari hari ke hari pun semakin santer terdengar. Warga mengatakan bahwa macan putih sering muncul tidak terduga. Namun yang paling sering ketika malam Jumat Kliwon. Begitulah gosip yang beredar. Kemunculannya itu sering membuat  warga kaget dan ketakutan. 

Kata warga lagi, macan itu hanya muncul di depan rumahku. Aku sungguh terperangah. Jadi itukah alasan beberapa warga yang beronda mulai takut ketika  menyambangi rumahku?

~*~

Aku duduk tidak nyaman di atas kasur. Cerita yang aku dengar sungguh membuat bingung. Benarkan apa yang dikatakan oleh  warga? Mungkinkah ada hal semacam itu? Jika iya kenapa aku yang di rumah tidak pernah melihat macan putih itu? Kelebat pertanyaan terus menghiasi kepala. Penasaran. Kenapa ada macan putih? Dan kenapa harus di depan rumahku? Apakah sosok macan putih itu sebuah pertanda?  Aku menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Aku berseloroh dalam hati.

Memikirkan tentang macan putih, sukses membuatku bergadang. Malam itu kelebatan pikiran mulai menjajah. Otakku merajut sendiri cerita yang tengah terjadi. Mungkin macan putih itu jelmaan siluman. Yah, mungkin saja. Orang-orang pada zaman dulu sering melakukan tapabrata untuk mendapat kekuatan. Katanya agar bisa hidup kekal atau malah dapat kekuatan luar biasa. Seperti menjelma jadi pacan putih mungkin. Aku mengedikkan bahu.

Atau bisa jadi itu pertanda ketidakberuntungan. Ah, jangan sampai itu terjadi. Atau mungkinkah .... Aku menggigit bibir sendiri. “Tidak mungkin.” Aku kembali menggeleng sambail meracau. Bapak atau ibu tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Bapak selalu rajin beribadah juga sedekah. Begitu pun ibu. Sejak kecil aku dididik dengan nilai-nilai luhur Islam. Bapak mengajari aku membaca Al-Quran beserta tajwid dan gharibnya. Bapak ingin aku menjadi wanita shalihah yang berpegang teguh pada agama. Bagamaiana mungkin pikiran jelek itu hinggap dan memakan otak warasku? Menuduh bapak melakukan pesugihan? Erat kupeluk bantal. Malam semakin larut. Dan aku tetap terjaga tanpa melihat ada macan putih seperti yang dikatakan warga.

Kesokan harinya, pembicaraan tentang macan putih masih terdengar. Teman-teman di sekolah merecoki dan bertanya macam-macam. Dan tentu saja aku tidak tahu. Melihat saja tidak pernah. Bisa jadi itu hanya bualan warga untuk menjelekkan bapak dan ibu.

“Ini memang beneran, Mar. Ibuku melihatnya pada suatu malam.” Laksmi berkata dengan sungguh-sungguh. Dia tetanggaku—rumahnya tepat di depan rumah.

“Awalnya ibu mendengar ada suara tangis dari rumahmu, jadi ibu berbegas menengoknya karena penasaran. Tapi ketika ibu membuka pintu belakang dan memincingkan mata mengintip di pelantaran rumahmu ..., ibu malah melihat macan putih yang duduk di atas lincak. Menatap dengan mata yang menyala.”

“Tapi kenapa aku tidak pernah melihat macan itu? Aku sering bergadang semalam. Menyelesaikan coretan-coretan naskah yang ingin kukirim ke majalah, atau hanya sekedar nonton drama Korea dan juga kadang untuk mengerjakan tugas sekolah.”

“Entahlah ..., itu aku juga tidak tahu.”  Mereka mengedikkan bahu. Dan aku semakin penasaran kenapa macan itu muncul di depan orang lain dan bukan pada aku atau keluarga.

Dan yang melihat macan putih ternyata bukan hanya ibunya Laksmi. Katanya, Haris—anak yang memiliki tulang kuning—yang menurut orang-orang bisa melihat hal-hal kasat mata juga pernah melihatnya. Saat itu dia akan pulang dari rumah pamannya. Tiba-tiba ada makhluk putih besinar tertangkap penglihatannya. Yah, macan putih itu yang dilihat di depan rumahku.  Ketika keesokan harinya dia bertanya pada sang paman, ternyata pamannya itu—yang kebetulan juga guru ngajiku—Pak Muhsin membenarkan bahwa memang ada macan putih yang berjaga di rumahku. Hanya saja alasan kenapa binatang itu di sana sampai sekarang aku tidak tahu. Hanya selentingan-selentingan aneh yang malah semakin mengusik ketenanganku. Berita paling senter mengatakan bahwa bisa jadi  bapak melakukan pesugihan. Kabar kedua mengatakan kemungkinan ada keluarga bapak atau ibu yang menikah dengan jin yang kadang penampakannya terlihat seperti macan putih. Aku bergedik ketika mendengar berita itu.

Sudah seminggu masalah macan putih menjadi berbincangan warga Kantil. Gosip tentang munculnya binatang itu di rumah membuat panas telinga. Tapi bapak dan ibu hanya diam saja, tanpa menjelaskan apapun, ketika aku bertanya. Mereka tidak menanggapi juga tidak menyalahkan. Hanya berpesan agar aku tidak menghiraukan semua berita miring itu dan suatu saat bapak akan menceritakan semua. Tapi kapan?

Kepalaku terus berdenyut memikirkan semua ini. Pesugihan? Menikah? Dengan jin? Ah, sungguh keterlaluan gosip itu.  Tidak mungkinkan bapak melakukan pesugihan. Bapak tahu betul larangan perbuatan hina itu.  Dan ... menikah lagi? Apalagi dengan jin. Ini gila. Apalagi ibu. Memang ada sebagian warga jin yang memeluk Islam. Seperti yang aku dengar pada zaman Nabi Sulaiman dulu.  Bapak pernah bercerita kadang orang-orang pada zaman dulu menikah dengan jin dan membuat perjanjian. Tentang pernikahan antara jin dan manusia, memang sejak dulu menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan makruh—sebagaimana pendapat Imam Malik dan Ibnu Taimiah,  haram—menurut Imam Ahmad, dan ada juga yang membolehkan—ini pendapat sebagian ulama Madzhab Syafi’i. Tapi meskipun demikan, hal yang sekiranya tidak sesuai dengan ajaran Islam—atau disebut bid’ah lebih baik dihindari saja. Toh masih banyak manusia di dunia ini.  Sebagaimana yang temaktub dalam surat Ar-Rum ayat 21—yang menyatakan bahwa Allah  menciptakan isteri dari jenismu sendiri.  Aku menutup mulut. “Oh mungkinkah?”

~*~

Laki-laki bertumbuh tinggi dan bermata lebar itu terlihat asyik menikmati kopi yang baru saja disuguhkan ibu. Bapak menghirup kepulan aroma kopi baru mulai  menyesapnya secara perlahan. Biasanya aku akan datang dengan riang dan menghampiri bapak. Mencium tangannya yang mulai keriput dan kemudian duduk si sampingnya. Meminta bapak bercerita tentang kisah-kisah zaman dulu. Yah, sejak kecil aku suka sekali mendengar dongeng dari bapak. Bahkan hingga kini aku beranjak dewasa. Tapi saat ini pikiranku sungguh kacau. Banyak praduga yang menjajah kepala. ada setitik ketakutan jika kenyataan yang aku duga itu benar.  Bagaimana jika itu benar? Kenapa harus bapak? Aku bergidik ngeri.

“Lho, Mar, kok tidak uluk salam dulu.” Ibu membuatku kaget. “Kamu kenapa, to? Kenapa tadi menatap bapak seperti itu.” Aku menelan ludah. Ternyata ibu memerhatikanku.

“Bu. Aku mau masuk kamar dulu. Lelah. Mau istirahat.” Bergegas aku meninggalkan bapak dan ibu. Aku membenamkan kepala di bawah bantal setelah shalat Ashar dan terbangun ketika sayup kudengar suara adzan Magrib.

Malam ini ..., rasanya aku malas ke mana-mana. Aku akan bolos mengaji di tempatnya Pak Muhsin. Lelah aku mendengar gunjingan warga dan teman-teman tentang keluargaku. Yah, sejak macan putih menampakkan diri di depan rumah, hidupku merasa tidak tenang.  Diamnya bapak dan ibu membuatku benci. Ketika mereka bilang akan menceritakan semua ..., hingga detik ini nyatanya aku tidak juga tahu apa-apa.  

~*~

Aku masih duduk bersila di depan laptop-ku, mencerna setiap kejadian yang tengah terjadi. Tiba-tiba ibu datang dan mengatakan bapak akan menceritakan sesuatu.

“Ayo, keluar bapak dan ibu mau bicara.” Ibu mengusap lembut punggungku. Dengan malas aku menuruti keinginan ibu. Walau tidak kutangkis aku juga penasaran dengan penjelasan bapak. Dadaku bergetar takut bahwa kecurigaanku benar. Aku menggigit bibir dan meramas tangan yang mulai berkeringat.

Bapak menatapku tajam. Menghela napas berkali-kali baru kemudian menyebut namaku dengan suara seraknya.

“Mar ...,” Aku menelan ludah siap mendengarkan semua cerita dari bapak dan ibu.  “Sudah bapak bilang, omongan warga itu tidak benar. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Kesalahpahaman kadang sering terjadi. Kamu jangan terlalu memedulikan perkataan orang lain. Mereka hanya menerka tanpa tahu kebenarannya. Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu.”

“Tapi Marni juga ingin tahu kebenarannya. Kenapa ada macan putih di rumah kita, Pak? Apa Marni salah jika ingin tahu juga?”

“Lagipula Marni tidak suka mereka membicarakan kejelakan bapak dan ibu.” Aku memberengut. “Berita itu tidak benar kan, Pak?”

Bapak terdiam. Laki-laki yang sudah semakin dimakan usia kembali menarik napas. Mulai menceritakan semuanya. Dan ketika semua telah bapak ceritakan dengan gamblang aku hanya bisa memasang wajah pias  dan menunduk penuh sesal.

~*~

Kau tahu apa yang bapak ceritakan padaku? Bapak mengatakan beliau tidak pernah melakukan pesugihan. Meski harus hidup miskin beliau tidak mau memberikan makanan haram pada keluarganya. Aku sungguh lega mendengar itu.

“Lalu tentang pernikahan dengan jin?” Aku mengejar.


Kulihat bapak menatapku semakin lekat dan berkata, “Kakek buyutmu dulu memang pernah menikah dengan seorang jin yang cantik—beragam Islam. Kamu tahu, kan pada zaman dulu, banyak hal-hal yang terjadi dan tidak bisa kita pahami secara rasional? Tapi itulah kenyataannya. Kekek buyutmu menikah dengan jin dan soal macan putih, itu adalah peliharaan istri kakekmu.  Sejak dulu bapak sudah menceritakan semua pada warga, tapi mereka tidak percaya. Macan putih di depan rumah itu tidak mengganggu. Dia hanya ingin menjaga keturunan dari suaminya. Jika memang macan putih adalah makhluk jahat, bukankah harusnya di sudah memangsa warga yang katanya sudah sering melihatnya? Yang selalu menggunjingkannya?”

4 comments:

  1. Nuansa horor. Tapi masuk ke religinya. Paragraf pembukanya bikin penasaran. Aku jadi ingat novel Wuni,pada cerpen mbak ini. Dan pesannya dapat. Keren, Mbak Ratna. Barakallahu ya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih Mbak, Rosi sudah berkenan mampir dan baca. ^_^

      Delete
  2. True story kah ini.mbak? Hii bayanginnya serem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak yang Macan putih asli ada, juga cerita-cerita warga yang pernah melihat di depan rumah,namun tetap dipaduka fiksi biar lebih hidup dalam cerpen.

      Delete