Monday, 27 June 2016

[Cernak] Rahasia Kertas Salinan Nana

[Dimuat di Koran Joglosemar, Minggu  26 Juni 2016]

Kazuhana El Ratna Mida* 

            Nana menatap buku pelajarannya dengan wajah sedih. Dia masih mengingat  dengan jelas kejadian pada semester satu lalu. Nilai ujian pada semester pertama, belum sesuai dengan yang diharapkannya. Padahal dia sudah belajar dengan rajin.  Kata ibunya jika mau rajin belajar dia bisa pintar dan mendapat nilai yang baik. Tapi kenyataannya nilainya tetap jelek. Apa yang salah dengan  cara belajar Nana?  

            Nana menarik napas sambil melirik bukunya. Tiba-tiba sebuah ide terpikirkan olehnya.  Kali ini dia harus berhasil mendapat nilai yang lebih baik. Gadis kecil yang sudah duduk di bangku kelas empat itu lalu mulai mengambil kertas dan menyobeknya. Dengan telaten dia membagi kertas itu beberapa bagian kecil, seperti yang pernah dia lihat di televisi, pada sebuah film remaja.  Lalu dia mulai menyalin beberapa catatan penting dari buku paket.

            Setelah  belajar dan juga menyalin  catatan untuk persiapan  menyontek, Nana pun bersiap tidur.  Besok dia akan mulai melaksanakan idenya itu. Kali ini dia pasti bisa mendapat nilai baik dan bisa membuat ibunya bangga.

            Keesokan harinya, Nana pun semangat sekali untuk berangkat dan menyambut ujian kenaikan kelas.

            “Wah, putri ibu semangat sekali. Sudah siap mengerjakan ujian?”  tanya sang ibu dengan tersenyum.

            “Iya dong, Bu. Nana kan sudah belajar semalam.” Nana tersenyum.  Semalam dia memang belajar juga sekaligus membuat sontekan.

            “Bagus, ibu yakin kamu pasti bisa mengerjakan semua ujian dengan baik. Yul, sekarang sarapan dulu.”

            Nana mengangguk saja mengikuti perintah ibunya.  Setelah selesai Nana segera pamit dan mencium punggung tangan ibunya.

            “Assalamu’alaikum, Bu. Nana berangkat dulu.”

            “Wa’alaikum salam. Selamat mengerjakan ujian dengan penuh kejujuran.”

            Nana mengangguk dan kemudian mengayuh sepedanya untuk sampai sekolah. 

            Di sekolah tepat pukul 07.00 ujian dimulai.  Soal ujian pun dibagikan. Nana menerimanya dengan riang. Tapi saat mulai membaca soal, perasaan Nana menjadi tidak karuan. Ada ketakutan dan kebingungan. Apalagi mengingat pesan ibunya sebelum berangkat sekolah.

“Menyontek tidak, ya? Nana berucapa dalam hati berkali-kali.

“Bagaiamana jika nilaku jelek lagi?”  Nana sungguh bingung. Dia memaikan penanya dan menggigiti bibir, setiap kali merasakan gugup seperti itu.

            Namun pada akhirnya Nana mengerjakan semua soal hari itu semampunya tanpa membuka sama sekali kertas sontekan yang sudah dibuat semalam.  Dia masih ingat apa saja yang sudah dia catat semalam.

            Malam harinya, Nana kembali belajar dan membuat kertas untuk sontekan untuk persiapan. Tapi pada esok harinya, Nana kembali  tidak berani melakukan aksi menyontek. Setiap kali ingin membuka kertas itu, keringat dingin membahasi tangannya. Jantungnya pun jadi berdetak lebih cepat dari biasanya. 

“Bagaimana nanti kalau ketahuan guru?”

“Aku pasti akan dihukum dan ibu akan marah melihatku melakukan perbuatan yang tidak baik.”Nana kembali berucap dalam hati.

 Kejadian itu terus terjadi berulang sampai ujian selesai. Pada akhirnya Nana sama sekali tidak menyontek.  Semua dia kerjakan dengan hafalan yang dia ingat ketika menulis di kertas sontekannya.

Tidak terasa pengambilan rapor untuk kenaikan kelas pun sudah tiba. Nana semakin cemas dan deg-deg-an.  “Bagaimana kalau nilaiku jelek lagi?” Nana berucap dalam hati. Gadis kecil itu menggenngam roknya dengan kuat juga menggigit bibir.

Setelah  menunggu panggilan sesuai absen, akhirnya  nama Nana Kumala Sari yang dipanggil.  Nana semakin cemas dan tegang. Namun sang ibu malah  tersenyum sambil memberikan nilai rapor itu pada Nana.

“Selamat Sayang, nilai kamu mengalami kenaikan yang  luar biasa.  Ibu dan Bu Indah  bangga sama kamu.”

Nana tidak percaya. Dia segera mengambil rapor yang dibawa ibunya. Dan benar saja, nilainya banyak yang naik dan dia bahkan meraih peringkat.  Ternyata benar, belajar sungguh-sungguh akan membawa hasil yang memuaskan. Tapi tetap saja Nana merasa sedih dan tidak tenang.

“Kenapa, Sayang? Kamu tidak suka dengan nilai kamu? Tanya ibunya halus. Nana menggeleng lalu menunduk dan menceritakan semua rencana yang sempat akan dilakukannya dengan penuh kejujuran.  Nana sangat malu dengan rencana jeleknya.


Srobyong, 17 Juni 2016 

*Penulis tinggal di desa Srobyong-Mlonggo-Jepara.



6 comments:

  1. Wiihhh pesan moralnya dapet bnget ini mbK. Selamat ya mbak Ratna.... karya smean kereeennn (y)

    ReplyDelete
  2. Bagus mbak? Minta bocoran cara ngirim cernak ke joglosemar kak,:) trmsuk kpn ngirimnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba kirim cernak Mbak Nurah ke alamat ini mingguanjoglosemar@gmail.. Untuk masalah kapan mengirimnya itu kebijakan Mbak sendiri.

      Delete
  3. Ceritanya bagus, Mbak Ratna.
    Hanya kalau boleh memberi masukan, kalau ucapan dalam hati, gumam dalam hati, atau suara hati, tidak perlu tanda petik dua.
    Misalnya : kenapa dia tidak suka padaku, ya? tanya Riri dalam hati.

    Terus semangat menulis, Mbak Ratna.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas. :)
      Boleh banget Mas. Selalu siap menerima saran buat perbaikan ke depannya.

      Insya Allah selalu semangat menulis Mas Bambang :)

      Delete