Wednesday, 25 May 2016

[Resensi] Kenangan yang Ingin Dilupakan dan Distopia 2050

Judul               : Hujan
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Januari 2016
Halaman          : 320 hlm
ISBN               : 978-602-03-2478-4
Peresensi         :[Ratnani Latifah, Alumni Unversitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara]

Masa lalu kadang memang menyakitkan. Tapi apakah benar dengan menghapus ingatan masa lalu itu benar sebuah jalan yang baik dan  sebuah kebahagiaan bisa tercapai? Novel ini menceritakan tentang Lail dan Esok. Tentang persahabatan, cinta, hujan juga kenangan yang ingin segera dihapus, agar bisa melupakan semua kenangan yang pernah terjadi di rentang tahun 2042-2050.

Sebelum gempa yang terjadi pada tanggal 21 Mei 2042, dua anak manusia itu  tidak saling kenal. Namun, ketika bencana besar itu terjadi keduanya terjebak pada keadaan untuk bersama dan mencoba bertahan hidup. 

Kejadian itu akan selalu diingat dan dikenang. Karena selain membuat mereka kehilangan keluarga terdekat mereka, hari itu juga kali pertama mereka bertemu. Hanya saja Esok lebih beruntung ibunya masih selamat meski memang tidak lagi sempurna.  Saat itulah mereka kemudian mejadi dekat dan berteman. Mereka sering menghabiskan waktu bersama.  Bahkan para penghuni tenda pengungsian akan hafal, di mana ada Esok berarti ada Lail.

Namun satu tahun sejak terjadinya bencana, Lail dan Esok harus berpisah. Lail akan tinggal di panti sosial—tempat khusus untuk anak-anak yang tidak lagi memiliki orangtua. Sedang Esok ternyata diadopsi oleh keluarga yang cukup mampu dan tidak memiliki masalah dengan keadaan ibu Esok. (hal. 74)

Waktu pun berjalan cepat. Meski mereka tidak lagi tinggal bersama, mereka masih melakukan komunikasi dan bertemu sesekali, menyesuaikan waktu yang dimiliki Esok. Mengingat Esok adalah anak jenius yang dalam usia mudah sudah menjadi  salah satu ilmuwan terkenal di kota.  Siapa sangka perlahan, dari persahabatan itu ternyata menimbulkan perasaan cinta yang tidak bisa dicegah.
Hanya saja Lail merasa cinta itu terasa sulit dijangkau. Mengingat Esok memiliki sudara angkat yang lebih baik dirinya—Claudia. Pada saat wisuda Esok berlangsung, Lail semakin menyadari sesuatu. Bahwa Esok tidak pernah menganggapnya istimewa lebih dari seorang sahabat. Karena terlihat di sana Esok lebih akrab dengan Claudia. (hal. 245)

Lalu sebuah masalah lain muncul, hingga membuat Lail memutuskan ingin menghapus semua ingatannya.  Karena pada masa itu memang ada sebuah alat canggih yang bisa digunakan untuk menghapus kenangan buruk yang tak lagi ingin diingat.

Berbeda dengan genre  novel-novel sebelumnya, kali ini Tere Liye menawarkan novel bergenre dystopia. Sebuah genre yang menggambarkan sebuah negara dibawah kepemimpinan yang otoriter dan menekan. Seolah kehidupan yang ada selalu dibayang-bayangi teror yang menakutkan.

Tere Liye menggambarkan bagaiman suasana bumi di tahun 2050 dengan segala kecanggihan teknologi dan informasi yang mudah diakses.  Namun tekanan berbagai masalah yang melanda yang ada di bumi juga membuat penduduk khawatir dan ketakutan.  Seperti masalah iklim di bumi yang mulai tidak terkendali. Turunnya salju di daerah tropis dan berbagai masalah lainnya.  

Lepas dari itu, penulis  tetap menghadirkan  kisah cinta yang manis yang diramu dengan apik. Melibatkan hubungan antara Lail dan Esok. Penulis yang memang sudah menelurkan banyak novel best seller ini, memang selalu hadir dengan cerita-cerita yang memukau dengan gaya segar.

Memakai gaya bahasa yang renyah dan alur maju mundur yang terkondisi dengan baik, membuat novel ini sangat asyik untuk dinikmati. Belum lagi, banyak kejutan-kejutan kecil yang membuat pembaca ingin menuntaskan novel ini.

Ditambah lagi, banyak hal yang bisa diambil manfaat dari kisah ini. Seperti seberapa hebat pengetahuan tidak akan mungkin bisa melebihi kekuatan Tuhan. Mengajari  untuk selalu bersyukur dan ikhlas. “Orang  kuat itu bukan karena dia memang kuat, melainkan karena dia bisa lapang melepaskan....” (hal. 288)

Juga menjadi pribadi yang mau menerima setiap kejadian sebagai pembelajaran. “Mereka meminta agar semua kenangan yang dimiliki dihapus. Tetapi, sesunggguhnya, bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.” (hal. 308)


Srobyong, 18 Mei 2016 

Dimuat di Radar Sampit. Minggu 22 Mei 2016


6 comments:

  1. wih, sampai dimuat di koran! :D
    kece banget reviewnya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, masih harus banyak belajar lagi ^_^

      Delete
  2. sebel deh tere liye ini produktif bgt, sampai ga kekejar sm saya baca buku2nya hihi...
    yg ini menarik ya temanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya aku pun sama banyak yang belum kebeli, dia sangat produktif dan cerita-ceritanya juga bagus, selalu menyimpan sesuatu yang berkesan. Dan novel ini juga menarik. Terima kasih sudah mampir di sini. ^_^

      Delete
  3. ahhhh mbak Ratna... aku pngen punya buku itu
    smpe saat ini blum ksampean
    *curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk nabung biar segera dapat. Aku doain biar cepet dapat buku ini Rohma ^_^

      Delete