Sunday, 1 May 2016

Menapaki Gong Perdamaian Dunia



Jejak perjalanan ini sejatinya sudah dua bulan yang lalu—tepatnya 28 Februari 2016. Dan baru ingin menulisnya sekarang. ^_^ hahhh ketahuan kalau suka malas buat nge-blog. But, daripada tidak sama sekali. Mungkin setelah ini akan ada postingan lain, tentang beberapa tempat yang dulu sempat kusamangi, yang memang belum berwujud cerita, karena dulu belum aktif nge-blog. Ich, nggak ada yang nanya hehh.  Sudahlah, abaikan curhat nggak jelas itu.

Bermula dari misi gagal mengambil buku pesanan Hujan-nya Tere Liye, membuatku malas pulang.  Sudah terlanjur keluar juga, pikirku dalam hati.  Ya sudah meski agak mendung, dan memang masih berpotensi bakal hujan, aku nekat saja. [baca memaksa] adik yang selalu siap jadi rider buat Mbaknya ini buat meluncur ke TKP.

“Ayuk, ke Plajan saja. Gong Perdamaian Dunia.” Aku menepuk bahunya.

Dan perjalanan pun dimulai. Tak memakan waktu lama, akhirnya kami sampai di sana. Sesuai dugaanku, gerimis sudah mulai menyapa, ketika kami sampai. 

Sesampainya di sana, aku langsung disambut dengan pemandangan hijau yang entah kenapa selalu membuatku betap berlama-lama menatapnya. Karena kata Nabi Muhammad sendiri, hijau-hijaun itu memang obat mata.  J  Dan lagi aku sangat suka dengan dekorasi penataannya yang seperti taman.



Puas sejenak meliat pemandangan di sana. Aku melihat-lihat dokumentasi foto-foto di sana. Ternyata gong perdamaian dunia itu tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lainnya. Seperti Gneva—Swiss, Shancong—China.

Selain ada tempat foto-foto dokumentasi yang membuat kita bisa melihat berbagai kejadian yang dulu sempat terekam.



Ada juga  kendi pansacila, sumur perdamaian, hanya saja sumur perdamainnya tak ke foto :( 




Ada tanah 202 negara yang dimasukkan dalam toples dengan diberi masing-masing bendera negara.  Nah, fotonya ada di bangunan di belakang kami yang narsis, hehh. 




Ada Gong Perdamaian Dunia, Gong Perdamaian Nusantara dengan pesan “Sarana Persatuan dan Pemersatu bangsa."




dan Gong Perdamaian Asian Afrika, yang terdiri dari berbagai bendera negara yang dulu ikut konfersensi  sia-Afrika 1955




dan ada juga semacam  bukti peresmian Gong Perdamaian Dunia oleh Gubernur Maluku, tahun 2012.



Gong Perdamaian Dunia ini sudah berumur sekita 450 tahun, lho. Simbol sebagai perdamaian dunia, agar tidak ada lagi perang terorisme dan konflik saran. Gong Perdamaian dunia terletak di desa Plajan, kecamatan Pakis Aji Jepara. Ada juga di beberapa kota lain, seperti Bali, Ambon, Palu dan lain-lain.

Setelah puas menikmati keindahan dan biasa buat jejek pernah mengunjungi Gong Perdamaian Dunia, kami pun undur diri. Pengennya lanjut ke wisata lain di sekitar Plajan, seperti Akar Seribu atau Air terjun Jurang Nganten. Tapi ternyata Allah belum mengijabahi. Hujan terus deras hingga kami memutuskan pulang saja.  Kami tidak mungkin ke Akar Seribu mengingat jalannya akan sangat berbahaya jika hujan datang.


Kalau mau mampir ke sini, uang masuknya sangat terjangkau. Just 3000 bisa puas menikmati sejarah dan keindahan yang dihadirkan. J

No comments:

Post a Comment