Sunday, 29 May 2016

[Cerpen] Beras Subsidi

Dimuat di Koran Pantura, Edisi; Senin 16 Mei 2016

*Kazuhana El Ratna Mida
            Aku benci beras subsidi. Makanya segera kusuruh Marti memberikan beras subsidi yang didapat beberapa jam lalu kepada ternaknya. Sungguh tak pernah terbesit dalam otak udik yang kumiliki. Ternyata mereka orang yang berdiri di singgasana, ciptaan para rakyat jelata sangat tak menghargai keberadaan kami yang duduk leseh di mana-mana, demi sesuap nasi.
            “Kenapa, Ras?” tanya Marti bingung.
            Yah, aku tahu dia ragu. Menatapku agak lama dengan gumpalan air yang hampir tumpah. Aku hanya menggeleng sambil menatap pada ayam-ayam milik Marti.
            Dia pasti berpikir, setidaknya  hal yang dilakukannya  bisa sedikit berguna tak terbuang sia-sia. Dia memang seseorang yang sangat menghargai sesuatu. Walau sejelek apa pun pemberian orang lain, dia berusaha menghormati. Meski sejatinya hal itu sama halnya sebuah penghinaan. Bagaimana tidak, jika yang diberikan padanya itu sama halnya makanan binatang ternak tak enak di lidah manusia? Dan ini memang terjadi di daerahku juga tempat Marti berpijak—Mlonggo. Aku melihatnya. Tapi bagaimana dengan daerah lain tentu aku tidak tahu. Aku mengangkat bahu. Mungkin berbeda? Entahlah.
            “Sudahlah, jangan khawatir. Saat ini keadaan memang sungguh sulit.” Dia menatapku dengan senyum hangat seperti biasa.
            Aku ingin membantah tapi bibir ini terasa kelu. Tartangkup rapat tidak bisa berucap.
            “Kau tahu, sekarang aku tak ada uang untuk membeli keperluan sehari-hari. Bahkan satu kilogram nasi. Jadi terpaksa beras subsidi ini akan kunikmati.”
            Ya, Allah. Betapa suramnya hidup yang dimiliki Marti. Wanita setengah baya itu, meski menghadapi sulitnya hidup tetap berjiwa tegar. Aku berkutat dengan hati.
            Aku kagum padanya, demi memenuhi kebutuhan  putrinya yang masih kecil dan bersekolah itu, dia rela kerja apa saja. Meski dia harus banting tulang, tapi  jarang kudengar dia mengeluh ini-itu. Dia selalu mensyukuri nikmat yang telah Allah beri. Seperti hari ini ketika dia mendapat bantuan  beras untuk para warga tak mampu di daerah ini.  Bahkan ketika dia memutuskan menampungku yang tidak memiliki tujuan.
Yang tak kumengerti dari cara penguasa bumi, kenapa jika ingin membantu, malah beras jelek yang diberikan? Bukan yang terbaik agar rakyat bisa ikut merasakan enaknya nasi paling depan? Pertanyaan itu terus bersarang di kepalaku.
            “Tak usah dipikirkan, aku masak dulu, ya, Ras. Nanti keburu Nita pulang dan merasa lapar.”
            Aku mengangguk pasrah. Aku sudah menasihatinya. Tapi dia tetap bersikukuh. Lalu aku bisa apa? Aku akhirnya hanya bisa membantu dia sebisanya. Lalu berharap  putrinya memiliki hati seluas jagad raya seperti ibunya.
            “Assalamu’alaikum.” Kudengar suara khas Nita.
            Langkah kakinya terdengar jelas di telinga.
            “Ibu, aku lapar. Ada lauk apa?” Gadis yang masih duduk di kelas lima dasar itu segera menuju dapur sederhana ibunya.
            “Ini ada tempe goreng dan jangan tewel kemarin. Ibu sudah memanaskan lagi, kok.”
Nita menatap agak lama, sebelum akhirnya dia mengambil piring untuk makan.
            “Jangan melihat beras dan lauknya apa, ya. Yang terpenting kita masih diberi kesempatan untuk makan,” ucap Marti lembut.  “Di luar sana mungkin ada banyak orang yang kelaparan,” nasihatnya pada sang anak. Nita pun mengangguk saja. Sungguh kasihan dia.
            Jujur aku sejatinya sangat ingin menangis keras. Berteriak pada jagad raya agar mereka mendengarkaan segala keresahan yang kurasakan. Aku ingin berbagi sedikit ketidakpuasan yang menggelayuti raga.  Aku ingin protes pada sang raja, menuntut keadilan. Aku ingin mendengar pendapatnya tentang laju bantuan yang tak selalu sempurna sampai tujuan. Apapun bentuknya.
            Kenapa hal itu selalu terjadi dan dibiarkan saja? Sama halnya tentang bantuan beras untuk para warga. Yang aku tahu beras itu sejatinya tak layak makan bagi manusia. Beras itu bukan beras baru, tapi beras lama yang sengaja ditimbun untuk diberikan secara cuma-cuma. Ah, tidak, kadang ada yang diminta beberapa uang juga. Aku sungguh miris. Katanya membantu kok caranya seperti ini. Kalau menurutku lebih baik tidak sekalian saja. Kasihan para warga yang harus menikmati  nasi dari beras rasanya tidak karuan itu. Dan kupikir percuma saja. Yang ada beras itu akhirnya terbuang percuma dan menangis di mana-mana.
            “Ras, kenapa  terlihat sedih?” tanyanya lembut padaku. Marti mendekat. Mengelus lembut. Ah, dia selalu saja baik.
“Kita tidak perlu sedih dengan keadaan inu. Yah, memang beginilah nasib rakyat jelata.” Dia tersenyum. Aku meradang. Tidak puas dengan sikap pasrah dari Marti. Harusnya dia melakukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan mengubah jalan hidup dari lingkungan keras ini. Tiba-tiba terbesit ide di kepalaku.
            “Sudahlah, kau tidak perlu pusing memikirkan kejadian ini. Walau susah kita harus kuat. Aku mau kerja dulu. Titip rumah, ya,” pamit Marti. Aku mengiyakan, menatap Marti yang kini sudah hilang dari nerta yang kupunya.
            Hati-hati, Marti. Semoga kamu mendapat rizki barakah, doaku sendiri dalam hati.
~*~
            Setelah kepergian Marti, ide yang menari-nari di kepala ingin segera aku realisasikan.  Yah, aku harus melakukan sesuatu. Kalau Marti tidak mau, kenapa tidak aku saja yang melakukan? Pikirku sendiri. Setidaknya aku harus mencaritahu alasan kenapa cara ini dilakukan oleh para adidaya. Dan memerjuangkan kehidupan yang lebih baik.
            Lalu kukumpulkan teman-teman. Aku ingin mengajak mereka menuntut keadilan. Aku tahu di sini yang salah bukanlah para rakyat jelata yang menerima bantuan, tapi orang-orang atas yang tak menghormati orang bawah.
            Hidup seoalah bagai bumi dan langit. Di saat mereka makan enak, berfoya-foya. Rakyatnya harus menderita. Selain bantuan yang tak layak, harga kebutuhan lain juga melonjak. Lalu bagaimana para warga kecil melanjutkan kehidupan?
            Mereka terseoak-seoak. Belum lagi meski upah kerja pun tak ada kenaikan, ketika bahan pangan naik. Ini namanya pincang dalam hukum ekonomi.
            “Jadi, kamu serius mau melakukan demontrasi?” Tanya seoarang teman yang kuundang.
            “Yah, tentu saja. Apa kamu tega melihat ketidak berdayaan yang tengah terjadi?”
            Temanku mengangguk membenarkan ucapanku. Dia pun memiliki rasa yang sama saat melihat ketidakberdayaan orang-orang.
            “Baiklah aku setuju.”
            Serentak kami pun bergegas menuju istana untuk mengutarakan keresahan yang menggelayuti. Bismillah, semoga usaha kita membuahkan hasil. Aku berdoa sendiri dalam perjalanan menuju istana.
            Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga. Ah, betapa megahnya ini. Berbanding terbalik dengan rumah yang kami tempati. Kami pun memanggil-manggil sang tuan untuk ke luar. Meminta dia mendengarkan barang sebentar suara hati dari kami yang kerdil.
            “Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi sana!” Usir salah satu punggawa ketika melihat kami berjejer rapi di depan gerbang.
            “Wahai, pengawal. Izinkan kami bertemu Sang Tuan. Ada yang harus kami bicarakan.”
            “Siapa kau berani memerintahku sembarangan.” Dia tertawa terbahak.
            Aku menghela napas. Ya, Allah baru menjadi punggawa saja sudah sombong luar biasa. Dia menatap hina seolah dia sudah yang paling tinggi dalam tatanah hidup dalam negeri.
            “Kenapa masih di sini? Ayo pergi!” Usirnya lagi.
            “Tidak kami akan tetap menunggu di sini.”
            Tekad kami sudah bulat. Apalagi sudah sampai, kami tak akan gentar dengan gertakan itu.
           Tapi berjam-jam kami menunggu sang Tuan tak juga muncul untuk mendengarkan keluhan yang kami rasakan.
            “Bagaimana ini?”
            “Kita tunggu sebentar lagi.”
            Tepat aku berkata itu, kulihat gerbang dibuka, segera kami masuk dengan harapan membuncah. Semoga ada perubahan ketika  kami meminta keadilan.
            Ternyata tak semua harapan bisa terealisasikan walau kita sudah berusaha secara maksimal. Aku malah ditertawakan dianggap pahlawan kesiangan. Apa-apaan itu? Padahal aku hanya ingin meluruskan kejahatan yang mereka lakukan. Mengakali rakyat yang membayarnya. Memang bisa apa dia ketika tak ada  rakyat? Bukankah dia tak bisa jadi raja? Dasar manusia serakah.  
Kehidupan bagi rakyat kecil selalu dipermainkan bak sebuah dadu dilempar sana-sini. Tak bisa melakukan apapun bahkan protes akan keadilan untuk diri sendiri.
            Yang di atas sama sekali tak punya hati nurani. Mengedepankan ego untuk memperkaya diri dengan menyelengkan banyak dana. Tapi yang lebih tak mengerti si raja seolah menutup mata membiarkan semua terjadi. Lupakah dia dengan janji-janji manis ketika orasi? Tak malukah dia karena telah membohongi warga?
            Aku terkulai lemas di pojok dapur Marti. Kenyataan ini terasa pahit bagiku. Aku menangis mengingat segala ketidakadilan yang menerpa. Andai aku tak ditimbun dan diberikan tepat waktu. Aku yakin, aku masih layak untuk disebut beras bisa dinikmati.
            Srobyong, 2015
*Jalan Pasar Mlonggo, Kompleks Mushala Al-Falah Srobyong Mlonggo Jepara

Ternyata dimuat juga di  Tabloid Banger yang masih satu naungan 
dengan Koran Pantura. Edisi Januari-Maret 2016 


6 comments:

  1. Replies
    1. Iya ini dari sudut pandang beras, Mas. Aku mencoba bercerita dengan menghidupkan tokoh beras.

      Delete
  2. Dan akhirnya saya baru ngeh klo nama Ras itu Beras. Sudut pandang yng diambil bagus mbak. Temanya hangat dan ssuai realita. Tatanan alurnya pun kerenn lahh.. hhee
    Tpi bnyak typonya mbak.e
    Xixiixixi yg pnting kereeeennnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca Rohma ^_^

      Delete
  3. Uweee, makin cakep penanya Mbak Ratna. Super, deh. (Y)

    Soal beras, ini memang bikin miris. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak, ii sejatinya malah cerpen lama lalu aku rombak dan kirim ^_^

      Iya beras bikin miris :(

      Delete