Tuesday, 31 May 2016

Berkah di Balik Memiliki Hobi Membaca

Beberapa koleksi tumpukan buku di rumah
“Hidup tanpa buku seperti ruang gelap tak berlampu” 
~Titon Rahmawan~  [1]

Jika ditanya kenikmatan apa yang paling saya gemari? Tanpa pikir panjang maka saya akan menjawab  membaca. Yah, membaca adalah  kegiatan paling asyik dan nikmat.  Tanpa ke-mana-mana kita bisa berselancar ke negeri manapun yang kita inginkan.  Dan dengan membaca sejuta pengetahuan bisa kita genggam. Bukankah sudah menjadi rahasia umum, bahwa dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia? Rasanya sangat sayang jika tidak memiliki  kegemaran yang satu ini.

Membaca itu benar-benar asupan gizi yang baik otak.  Membaca bisa mengurangi tingkat stres. Dan saya rasa ini sangat benar.  Ketika saya merasa sumpek atau sedang butuh ketenangan, membaca menjadi obat mujarab untuk menghilangkan kesumpekan itu.  Itulah kenapa buku selalu saya anggap sebagai teman juga guru terbaik yang pernah ada. Sebagaimana yang dipaparkan Charles William Eliot, “Buku adalah teman yang paling tenang dan konstan; mereka adalah konselor paling mudah dan bijaksana, serta guru yang paling bijak.” [2] 

Dan karena alasan itu pula saya selalu antusias jika sesuatu yang berhubungan dengan buku. Saya akan selalu rela mengeluarkan uang lebih jika itu untuk membeli buku. Tidak apalah jika tak membeli sepatu baru dulu yang penting buku baru walaupun dengan jumlah terbatas juga. Lalu ketika ada pameran buku dengan semangat saya akan mendatangi. Melihat buku itu seperti melihat timbunan harta karun yang harus segera didapatkan.

Seperti ketika melihat postingan lomba di blog Mbak @anneadzkia21, saya langsung suka dan ingin mengikuti lomba dengan tema menarik ini—aku dan buku. Rasanya cocok banget dengan saya yang memang penikmat buku. Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognyaAnne Adzkia juga.

Buku dengan sejuta ilmu buka dengan sejuta kenikmatan lain yang mungkin luput dari perhatian orang.  Kenapa saya berkata seperti itu? Karena dari hobi membaca dan suka berjibaku dengan buku, saya mendapatkan sesuatu yang lebih. Sebuah momen di mana saya sangat senang dan tidak ingin berpaling dari buku.

Bagaimana tidak? Saya yang sangat suka membaca membuat saya ingin mempromosikan buku-buku tersebut pada khalayak umum. Tentu saja dengan harapan orang-orang  akan tertarik dan ikut membeli dan membaca. Alasan itulah yang kemudian membuat saya mulai meresensi. Sebuah momen yang kemudian menjadi hal yang paling berkesan sejak saya suka membaca dan berjibaku dengan buku.  Alasan kenapa meresensi menjadi momen yang sangat berkesan semua akan saya jelaskan dalam pembahasan di bawah ini.

Manfaat di balik hobi membaca menurut versi saya

1.          Mendapat  fee dari pemuatan naskah di media

Ketika naskah saya dimuat di sebuah media, saya mendapat fee yang lumayan untuk digunakan jajan buku lagi.  Bukankah itu mengasyikkan?  Dari buku menjadi buku lagi. :) 

2.         Diajak kerjasama dengan penerbit dalam mengadakan giveaway—sebagai host.

Sejak memiliki kebiasaan meresensi setelah membaca buku, saya juga semakin rajin mengisi blog dengan hasil resensi berbagai jenis genre buku. Baik itu buku lama atau buku baru. Baik yang dimuat di media atau tidak. Nah pada, suatu hari ada pencarian untuk kerjasama menjadi host untuk giveway sebuah penerbit. Saya pun mencoba ikut peruntungan dan alhamdulillah bisa terpilih. Meski jujur saya saya baru dipercaya menjadi host dua kali. Tapi itu pengalaman berharga karena hobi membaca buku.  

Pernah Menjadi Host  GA dari Dua Buku Ini 

3.    Kerjasama dengan penulis dalam promosi buku

Beberapa kali saya berkesempatan membantu penulis dalam promosi buku mereka. Salah satunya dengan program baca bareng dalam jejaring sosial twitter. Saya mengulas tentang isi buku baik dari segi kelebihan dan kekurangan.  Beberapa yang lainnya  dengan meresensi buku baik lewat media blog atau media koran.

Beberapa Buku dari Penulis Langsung 

Begitulah kira-kira momen berkesan saya dengan buku.  Rasanya menjadikan buku sebagai teman bukanlah hal yang salah.  Buku memberi banyak sekali manfaat. J


Srobyong, 31 Mei 2016 

[Resensi] Mengenal Kerajinan Tenun Alor sebagai Kearifan Leluhur

Judul               : Swarna Alor
Penulis             : Dyah Prameswarie
Penerbit           : Metamind, Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, Mei 2015
Halaman          : vi + 282 hlm.
ISBN               : 978-602-72097-4
Peresensi         : Ratnani Latifah (Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara)

Swarna Alor,  bisa dikatakan sebagai  novel  budaya yang cukup kental. Sehingga pantas menjadi salah satu juara harapan dari lomba ‘Seberapa Indonesiakah Dirimu?’, yang diadakan Penerbit Tiga Serangkai.

Mengenalkan  tentang  budaya kerajinan tenun Alor dengan memakai pewarna alami, sebagai kearifan leluhur yang hingga kini masih dilestarikan. Sehingga tenun-tenun yang dihasilkan seolah sangat indah, alami, membaur dengan lingkungan bawah laut dan menyimpan energi alam. Mengingat saat ini, para anak bangsa masih belum banyak  yang menyadari tentang keindahan tenun Alor itu dan alasan melakukan pewarnaan secara alami.

Novel ini menceritakan tentang dua gadis remaja—Lilo yang ingin menjadi seorang desainer dan Mbarep yang ingin menjadi seorang model. Mereka menjadi peserta magang di majalah Cantik, yang kemudian mengantarkan mereka ke Kampung Hula, Desa Alor Besar, Nusa Tenggara Barat.

Namun bukannya senang, mereka malah merasa berada di Alor itu merupakan pilihan yang salah. (hal.  6) Tidak ada hubungannya dunia desainer dan modeling dengan desa terpencil itu. Belum lagi, ketika di Alor, Lilo diajak Mama Sariat memburu teripang dan buah tongke, yang menurut Lilo termasuk perbuatan merusak lingkungan.  Dan Mbarep tidak diberi kesempatan ikut pemotretan di bawah laut karena dianggap amatiran. (hal. 38)

Lilo dan Mbarep pun mencoba protes dengan pemilihan lokasi yang menurut mereka aneh. Sayangnya protes  mereka tidak dianggap, dan malah memperkeruh keadaan.  Jika Mbarep tetap berusaha ikhlas dan mengambil sisi positif,  tidak dengan Lilo. Dia  masih tidak setuju dengan pemilihan tempat  magang dan masalah pemburuan teripang yang dilakukan Mama Sariat. Lilo menyakini tindakan itu salah dan harus diluruskan. Lilo kemudian menghubungi temannya, Samara—ketua Green World, agar bisa menindak lanjuti perbuatan Mama Sariat yang menurutnya merusak alam.

Kemudian masalah pun timbul. Pak Libana, suami Mama Sariat diculik Samara.  Dan  acara Swarna Festival yang rencananya akan dilakukan untuk memperkenalkan tenun Alor ke masyarakat  terancam gagal. Karena acara itu harus melibatkan Pak Libana. (hal. 140)  Padahal dalam acara itulah, nantinya mimpi mereka akan terwujud. Desain baju Lilo akan dipamerkan dengan Mbarep sebagai modelnya.  

Lilo sungguh merasa bingung. Setelah membaca sebuah artikel, dia baru menyadari bahwa apa yang dipikirkannya selama ini salah. Sejatinya, kenapa tenun diwarnai secara alami adalah karena warna-warni alami kain tenun Alor itu memiliki hubungan magis dengan alam sekitar yang dibangun leluhur dan terus dipertahankan. (hal. 142)

Kegiatan memburu teripang dan buah tongke  yang dilakukan Mama Sariat adalah untuk pewarnaan kain tenun dan sangat jauh dari niat merusak lingkungan. Mama Sariat dan Pak Libana bahkan memilih bahan alami agar tidak menimbulkan limbah. (hal. 147)

Karena jika Mama Sariat memakai pewarna kimia, sisa pewarnan harus dibuang dan bisa merusak lingkungan.  Berbeda jika menggunakan teripang. Air rebusan dari teripang  yang merupakan limbah akan digunakan untuk pewarna kain tenun. Sedang teripangnya sendiri akan dikirim  ke seorang pengumpul  untuk dibawa ke Surabaya.  

Apa yang dilakukan Mama Sariat adalah upaya untuk melestarikan kearifan leluhur.  “Kain-kain itu tidak  sekadar benang yang ditenun. Tapi sebuah  peninggalan leluhur. Memang dulu beberapa perajian pernah memakai pewarna kimia, tapi hasilnya tidak sebagus memakai pewarna alami. Dengan memakai pewarna alami, akan membuat benang dan  warna tahan lama.” (hal. 176-177) 

Merasa bersalah pada semua orang, Lilo mencoba mencari jejak Pak Libana.  Pencarian Lilo akhirnya berhasil, meski dengan perjuangan keras. Dan akhirnya Swarna Festifal berhasil di gelar.  Kejadian itu menyadarkan Lilo dan Mbarep bahwa dalam menilai sesuatu tidak hanya dilihat dari luarnya saja. Dan menyadari bahwa pengetahuan mereka tentang budaya Indonesia masih sangat minim.  Mereka pun jadi sangat mengagumi  Mama Sariat dan para perajin tenun yang sangat gigih mempertahankan warisan leluhur. (hal. 199)  

Novel ini sangat sarat makna dan dipaparkan dengan bahasa yang renyah. Mengingatkan betapa pentingnya anak bangsa itu  mengenal kebudayaan Indonesia yang beragam. Salah satunya kerajian tenun Alor. Bagaimana cara pembuatan kain tenun, motif-motifnya dan alasan di balik pewarnaannya yang lebih memilih menggunakan cara alami. Meski ada beberapa kesalahan dalam penulisannya, tetapi tidak mengurangi kenikmatan saat membaca.

Srobyong, 18 Mei 2016 

Naskah resensi ini merupakan naskah asli sebelum diedit oleh pihak redaksi Koran Jakarta. Serta ada editan judul dengan tambahan kata ‘sebagai.’ Hasil editannya bisa dilihat di web Koran Jakarta atau pada gambar di bawah ini. :) 

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 26 Mei 2016 




Monday, 30 May 2016

[Resensi] Akibat Lalai Terhadap Nazar

 
Judul Buku                  : Insya Allah, Sah!
Penulis                         : Achi TM
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Halaman                      : 328 hal
Cetakan                       : Pertama, April 2015
ISBN                           : 978-602-03-1465-5
Peresensi                     : Ratnani Latifah* 

“Nazar alias janji kepada manusia saja harus ditepati, apalagi nazar kepada Allah. Wajib hukumnya menepati nazar kepada Allah. Apalagi jika nazar itu tidak melanggar perintah Allah.” (hal. 220)

Silvi adalah seorang desainer dan juga pemilik Siviana Sexy Boutique yang memiliki omset miliaran. Pada suatu ketika  saat dia ingin menemui pacanya—Dion yang seorang direktur dan executive produser. Namun, dia malah terjebak di sebuah lift dan bertemu sosok laki-laki yang sangat menyebalkan bernama Raka. Kekacauan yang terjadi itu mengantarkan Silvi pada suatu kejadian yang tidak disangka-sangka. Dia bernazar jika  bisa keluar dari lift, maka dia akan berjilbab dan berbaju muslimah selamanya. (hal. 32)

Namun setelah bisa keluar dari lift dan kembali menjalani aktivitas sehari-harinya, Silvi belum juga melakukan nazar yang  perah diucapkannya. Dia terlalu sibuk dengan berbagai pesanan baju-baju seksi yang diminta pelanggan. Ditambah lagi dia tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Dion.

Segala persiapan pun dilakukan Silvi. Tapi sejak dia sibuk mempersiapkan pernikahannya, kesialan demi kesialan malah terus menghampirinya. Pertama, Silvi sangat sebal karena Dion tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan mereka karena Dion terlalu sibuk dengan jadwal pekerjaannya. (hal.89) Ditambah lagi tunangannya itu malah harus tour ke Medan. Silvi jadi harus mempersiapkan semuanya sendirian. Satu kekesalan belum hilang, Silvi harus dihadapkan pada sebuah penipuan 25 juta pun melayang (hal. 92)

Karena kepergian Dion tidak bisa terbantahkan, Silvi akhirnya harus rela menyiapkan pernikahannya dengan bantuan Raka, laki-laki yang menurut Silvi menyabalkan. Namun, dia tidak bisa apa-apa karena Dion-lah yang sudah mengatur semuanya. Dion berpikir bahwa Raka yang alim itu pasti tidak akan macam-macam dengan dirinya. Dion sangat mempercayai karyawannya itu. (hal. 103) Silvi pun hanya bisa pasrah dengan kehadian Raka yang mulai memenuhi hari-harinya. Dan dia jadi lebih sering mendengar petuah-petuah keagaaman  dari Raka.

Meski Raka selalu membantunya, ternyata ketidakberuntungan tetap saja datang. Silvi menjadi korban penipuan lagi saat memesan udangan pernikahan dan satu juta kembali melayang. (hal. 136)  Lalu sebuah kabar yang dapat dari ibunya langsung membuat Silvi lemas. “Penghulu di kecamatan sibuk pada tanggal delapan November. Ada satu penghulu yang bisa menikahkan kamu, tapi pada tanggal sembilan November jam tujuh pagi.” (hal. 208) Kepala Silvi rasanya mau pecah, dia tidak mungkin melakukan resepsi pernikahan dulu baru akad nikah.  Dan kejadian yang lebih parah adalah rambut kesayangannya terbakar. (hal. 226)

Kejadian itu membuat Silvi sadar, peringatan Raka terntang nazar yang pernah diucapkan dulu terjadi juga. Kejadian demi kejadian mungkin adalah peringatan dari Allah  padanya. Silvi pun memutuskan berjilbab. Dan setelah berjilbab, kemudahan demi kemudahan  dia dapatkan dalam mempersiapan pernikahan. Namun, yang jadi masalah, ketika Dion mengetahui perubahan Silvi, laki-laki itu mengancam akan memutuskan pernikahan mereka.

Novel religi yang dikemas apik dan sarat makna serta memilki cover yang menarik. Diceritakan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna dan menarik. Meski endingnya mudah ditebak,  namun Achi TM mampu mengajak pembacanya tetap menyelesaikan naskah hingga babak akhir. Karena dari setiap bab kita akan diajak menebak-nebak apa yang akan dilakukan Silvi yang masih bingung dengan pilihan yang diambil. Memilih antara mempertahankan keyakinan atau orang yang dicintai. Dalam novel ini diajarkan agar setiap orang  itu, mau menjaga lisan atau ucapan. Karena sebuah ucapan itu bisa saja menjadi bencana yang tidak terduga jika tidak bisa menjaganya. Serta mengajarkan bagaimana menjaga hati agar selalu istiqomah. Dan masih banyak lagi pesan tersirat yang bisa diambil.


Beberapa kesalahan penulisan yang ada dalam novel ini, tidak mengurangi keasyikan dalam membaca. Novel yang katanya akan difilmkan ini sangat recomended untuk dibaca. Banyak quote bagus yang bertebaran di novel ini, salah satunya. “Memulai itu memang sulit, tapi jika dilakukan karena Allah, insyaAllah pasti akan dimudahkan.” (hal. 232)

*Alumni Unisnu Jepara, penikmat baca dan penyuka literasi, berdomisili di Jepara

Dimuat di Koran Pantura Rabu 25 Mei 2016

Sunday, 29 May 2016

[Cerpen] Beras Subsidi

Dimuat di Koran Pantura, Edisi; Senin 16 Mei 2016

*Kazuhana El Ratna Mida
            Aku benci beras subsidi. Makanya segera kusuruh Marti memberikan beras subsidi yang didapat beberapa jam lalu kepada ternaknya. Sungguh tak pernah terbesit dalam otak udik yang kumiliki. Ternyata mereka orang yang berdiri di singgasana, ciptaan para rakyat jelata sangat tak menghargai keberadaan kami yang duduk leseh di mana-mana, demi sesuap nasi.
            “Kenapa, Ras?” tanya Marti bingung.
            Yah, aku tahu dia ragu. Menatapku agak lama dengan gumpalan air yang hampir tumpah. Aku hanya menggeleng sambil menatap pada ayam-ayam milik Marti.
            Dia pasti berpikir, setidaknya  hal yang dilakukannya  bisa sedikit berguna tak terbuang sia-sia. Dia memang seseorang yang sangat menghargai sesuatu. Walau sejelek apa pun pemberian orang lain, dia berusaha menghormati. Meski sejatinya hal itu sama halnya sebuah penghinaan. Bagaimana tidak, jika yang diberikan padanya itu sama halnya makanan binatang ternak tak enak di lidah manusia? Dan ini memang terjadi di daerahku juga tempat Marti berpijak—Mlonggo. Aku melihatnya. Tapi bagaimana dengan daerah lain tentu aku tidak tahu. Aku mengangkat bahu. Mungkin berbeda? Entahlah.
            “Sudahlah, jangan khawatir. Saat ini keadaan memang sungguh sulit.” Dia menatapku dengan senyum hangat seperti biasa.
            Aku ingin membantah tapi bibir ini terasa kelu. Tartangkup rapat tidak bisa berucap.
            “Kau tahu, sekarang aku tak ada uang untuk membeli keperluan sehari-hari. Bahkan satu kilogram nasi. Jadi terpaksa beras subsidi ini akan kunikmati.”
            Ya, Allah. Betapa suramnya hidup yang dimiliki Marti. Wanita setengah baya itu, meski menghadapi sulitnya hidup tetap berjiwa tegar. Aku berkutat dengan hati.
            Aku kagum padanya, demi memenuhi kebutuhan  putrinya yang masih kecil dan bersekolah itu, dia rela kerja apa saja. Meski dia harus banting tulang, tapi  jarang kudengar dia mengeluh ini-itu. Dia selalu mensyukuri nikmat yang telah Allah beri. Seperti hari ini ketika dia mendapat bantuan  beras untuk para warga tak mampu di daerah ini.  Bahkan ketika dia memutuskan menampungku yang tidak memiliki tujuan.
Yang tak kumengerti dari cara penguasa bumi, kenapa jika ingin membantu, malah beras jelek yang diberikan? Bukan yang terbaik agar rakyat bisa ikut merasakan enaknya nasi paling depan? Pertanyaan itu terus bersarang di kepalaku.
            “Tak usah dipikirkan, aku masak dulu, ya, Ras. Nanti keburu Nita pulang dan merasa lapar.”
            Aku mengangguk pasrah. Aku sudah menasihatinya. Tapi dia tetap bersikukuh. Lalu aku bisa apa? Aku akhirnya hanya bisa membantu dia sebisanya. Lalu berharap  putrinya memiliki hati seluas jagad raya seperti ibunya.
            “Assalamu’alaikum.” Kudengar suara khas Nita.
            Langkah kakinya terdengar jelas di telinga.
            “Ibu, aku lapar. Ada lauk apa?” Gadis yang masih duduk di kelas lima dasar itu segera menuju dapur sederhana ibunya.
            “Ini ada tempe goreng dan jangan tewel kemarin. Ibu sudah memanaskan lagi, kok.”
Nita menatap agak lama, sebelum akhirnya dia mengambil piring untuk makan.
            “Jangan melihat beras dan lauknya apa, ya. Yang terpenting kita masih diberi kesempatan untuk makan,” ucap Marti lembut.  “Di luar sana mungkin ada banyak orang yang kelaparan,” nasihatnya pada sang anak. Nita pun mengangguk saja. Sungguh kasihan dia.
            Jujur aku sejatinya sangat ingin menangis keras. Berteriak pada jagad raya agar mereka mendengarkaan segala keresahan yang kurasakan. Aku ingin berbagi sedikit ketidakpuasan yang menggelayuti raga.  Aku ingin protes pada sang raja, menuntut keadilan. Aku ingin mendengar pendapatnya tentang laju bantuan yang tak selalu sempurna sampai tujuan. Apapun bentuknya.
            Kenapa hal itu selalu terjadi dan dibiarkan saja? Sama halnya tentang bantuan beras untuk para warga. Yang aku tahu beras itu sejatinya tak layak makan bagi manusia. Beras itu bukan beras baru, tapi beras lama yang sengaja ditimbun untuk diberikan secara cuma-cuma. Ah, tidak, kadang ada yang diminta beberapa uang juga. Aku sungguh miris. Katanya membantu kok caranya seperti ini. Kalau menurutku lebih baik tidak sekalian saja. Kasihan para warga yang harus menikmati  nasi dari beras rasanya tidak karuan itu. Dan kupikir percuma saja. Yang ada beras itu akhirnya terbuang percuma dan menangis di mana-mana.
            “Ras, kenapa  terlihat sedih?” tanyanya lembut padaku. Marti mendekat. Mengelus lembut. Ah, dia selalu saja baik.
“Kita tidak perlu sedih dengan keadaan inu. Yah, memang beginilah nasib rakyat jelata.” Dia tersenyum. Aku meradang. Tidak puas dengan sikap pasrah dari Marti. Harusnya dia melakukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan mengubah jalan hidup dari lingkungan keras ini. Tiba-tiba terbesit ide di kepalaku.
            “Sudahlah, kau tidak perlu pusing memikirkan kejadian ini. Walau susah kita harus kuat. Aku mau kerja dulu. Titip rumah, ya,” pamit Marti. Aku mengiyakan, menatap Marti yang kini sudah hilang dari nerta yang kupunya.
            Hati-hati, Marti. Semoga kamu mendapat rizki barakah, doaku sendiri dalam hati.
~*~
            Setelah kepergian Marti, ide yang menari-nari di kepala ingin segera aku realisasikan.  Yah, aku harus melakukan sesuatu. Kalau Marti tidak mau, kenapa tidak aku saja yang melakukan? Pikirku sendiri. Setidaknya aku harus mencaritahu alasan kenapa cara ini dilakukan oleh para adidaya. Dan memerjuangkan kehidupan yang lebih baik.
            Lalu kukumpulkan teman-teman. Aku ingin mengajak mereka menuntut keadilan. Aku tahu di sini yang salah bukanlah para rakyat jelata yang menerima bantuan, tapi orang-orang atas yang tak menghormati orang bawah.
            Hidup seoalah bagai bumi dan langit. Di saat mereka makan enak, berfoya-foya. Rakyatnya harus menderita. Selain bantuan yang tak layak, harga kebutuhan lain juga melonjak. Lalu bagaimana para warga kecil melanjutkan kehidupan?
            Mereka terseoak-seoak. Belum lagi meski upah kerja pun tak ada kenaikan, ketika bahan pangan naik. Ini namanya pincang dalam hukum ekonomi.
            “Jadi, kamu serius mau melakukan demontrasi?” Tanya seoarang teman yang kuundang.
            “Yah, tentu saja. Apa kamu tega melihat ketidak berdayaan yang tengah terjadi?”
            Temanku mengangguk membenarkan ucapanku. Dia pun memiliki rasa yang sama saat melihat ketidakberdayaan orang-orang.
            “Baiklah aku setuju.”
            Serentak kami pun bergegas menuju istana untuk mengutarakan keresahan yang menggelayuti. Bismillah, semoga usaha kita membuahkan hasil. Aku berdoa sendiri dalam perjalanan menuju istana.
            Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga. Ah, betapa megahnya ini. Berbanding terbalik dengan rumah yang kami tempati. Kami pun memanggil-manggil sang tuan untuk ke luar. Meminta dia mendengarkan barang sebentar suara hati dari kami yang kerdil.
            “Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi sana!” Usir salah satu punggawa ketika melihat kami berjejer rapi di depan gerbang.
            “Wahai, pengawal. Izinkan kami bertemu Sang Tuan. Ada yang harus kami bicarakan.”
            “Siapa kau berani memerintahku sembarangan.” Dia tertawa terbahak.
            Aku menghela napas. Ya, Allah baru menjadi punggawa saja sudah sombong luar biasa. Dia menatap hina seolah dia sudah yang paling tinggi dalam tatanah hidup dalam negeri.
            “Kenapa masih di sini? Ayo pergi!” Usirnya lagi.
            “Tidak kami akan tetap menunggu di sini.”
            Tekad kami sudah bulat. Apalagi sudah sampai, kami tak akan gentar dengan gertakan itu.
           Tapi berjam-jam kami menunggu sang Tuan tak juga muncul untuk mendengarkan keluhan yang kami rasakan.
            “Bagaimana ini?”
            “Kita tunggu sebentar lagi.”
            Tepat aku berkata itu, kulihat gerbang dibuka, segera kami masuk dengan harapan membuncah. Semoga ada perubahan ketika  kami meminta keadilan.
            Ternyata tak semua harapan bisa terealisasikan walau kita sudah berusaha secara maksimal. Aku malah ditertawakan dianggap pahlawan kesiangan. Apa-apaan itu? Padahal aku hanya ingin meluruskan kejahatan yang mereka lakukan. Mengakali rakyat yang membayarnya. Memang bisa apa dia ketika tak ada  rakyat? Bukankah dia tak bisa jadi raja? Dasar manusia serakah.  
Kehidupan bagi rakyat kecil selalu dipermainkan bak sebuah dadu dilempar sana-sini. Tak bisa melakukan apapun bahkan protes akan keadilan untuk diri sendiri.
            Yang di atas sama sekali tak punya hati nurani. Mengedepankan ego untuk memperkaya diri dengan menyelengkan banyak dana. Tapi yang lebih tak mengerti si raja seolah menutup mata membiarkan semua terjadi. Lupakah dia dengan janji-janji manis ketika orasi? Tak malukah dia karena telah membohongi warga?
            Aku terkulai lemas di pojok dapur Marti. Kenyataan ini terasa pahit bagiku. Aku menangis mengingat segala ketidakadilan yang menerpa. Andai aku tak ditimbun dan diberikan tepat waktu. Aku yakin, aku masih layak untuk disebut beras bisa dinikmati.
            Srobyong, 2015
*Jalan Pasar Mlonggo, Kompleks Mushala Al-Falah Srobyong Mlonggo Jepara

Ternyata dimuat juga di  Tabloid Banger yang masih satu naungan 
dengan Koran Pantura. Edisi Januari-Maret 2016 


Saturday, 28 May 2016

[Resensi] Ketika Secercah Cahaya Menyapa Sang fotografer

Judul buku                  : Merindu Cahaya de Amstel
Penulis                         : Arumi E
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                       : 1, September 2015
Halaman                      : 272 hlm
ISBN                           : 978-602-03-2010-6

Jika kesadaran yang datang pada seseorang  bisa diatur kapan akan menyapa. Mungkin, sebuah penyesalan tidak akan pernah datang. Tapi sebuah kehidupan memang tidak mungkin berjalan sesuai keinginan satu orang. Ada Tuhan yang selalu mengatur jalan untuk hamba-hamba-Nya. Lalu apa yang akan terjadi jika kesadaran datang terlambat?

Nicolaas Van Djik adalah seorang penyuka Street photography. Karena menurutnya, di jalan, terkadang dia akan menemukan sesuatu yang tidak terduga menjadi sebuah gambar yang menarik setelah terekam dalam kameranya. Dan sore itu ada  satu gambar yang menurut Nico sangat menarik. Dia mendapat gambar gadis berkerudung  secara tidak sengaja. Gambar dengan semburat cahaya yang mengelilingi tubuh gadis itu. Cahaya yang mengingatkannya tentang tokoh-tokoh suci. (hal. 6)

Penemuan foto itu membuatnya penasaran dan kembali mencari gadis itu, yang kemudian diketahui bernama Khadijah atau Marien Veenhoveen. (hal.20) Sosok yang kemudian mengingatkan Nico pada ibunya, yang sudah meninggalkannya sejak kecil. Membuatnya terluka karena merasa ditelantarkan, tanpa alasan yang masuk akal. Ibunya baru menyadari bahwa seseorang yang berbeda agama itu tidak boleh menikah. (hal.23) Sehingga ibunya memilih bercerai dan  kembali ke Indonesia dan meninggalkan dia dan ayahnya. Hal yang kemudian membuat Nico merasa alergi dengan Islam dan tidak percaya Tuhan.

Tapi melihat  Khadija saat ini, membuat Nico tertegun. Dia gadis Belanda. Lalu apa yang membuatnya tertarik dengan Islam? Bahkan cara  berpakaiannya. Tertutup lalu memakai hijab. Sama dengan ibunya. Nico  sungguh tidak habis pikir kenapa Khadijah memilih jalan berbeda dengan kebanyakan gadis di Belanda. Kenapa dia tertarik Islam sampai rela meyakininya.” (hal. 24) Bahkan dengan segala batas-batasan pergaulan yang sempat Khadijah beritahukan padanya. “Aku tidak boleh pergi hanya berduaan dengan lelaki yang bukan mahram.” (hal. 57)

Nico pun semakin kagum dengan keteguhan Khadija. Hingga membuat dia semakin tergelitik ingin mengetahui tentang agama yang dianut ibunya—Islam. Karena gadis itu pula yang mengantarkannya pada pencarian ibu bersama seorang teman yang pernah Khadija kenalkan—Mala yang kebetulan gadis keturunan Indonesia yang berasal dari Yogyakarta.  Namun ternyata dalam pencarian itu tidak seindah yang Nico harapankan. Ketika dia ingin berdamai dengan kenangannya, Tuhan seolah belum mengizinkan. Nico menggugat. Meluapkan kekesalannya pada Khadija yang mengajarinya tentang sebuah harapan. Dengan sabar Khadija mencoba menghiburnya. Dia tidak ingin Nico menyalahkan Tuhan. Keteguhan Khadija pun semakin mengusik rasa penasarannya. Ditambah lagi sepupu Khadija pun pada akhirnya ikut menjadi mualaf. Ada apa di balik Islam, sehingga mampu membuat seseorang berubah.  Bagaimana kelanjutan perjalanan Nico dalam menuntaskan rasa penasarannya tentang Islam, apakah dia akan menerima secercah cahaya yang menyapa atau menolakanya?

Novel bertemakan religi yang manis. Ada cinta, persahabatan dan impian yang digambarkan di sini. Pengambaran setting juga dipaparkan dengan baik, sehingga pembaca seperti digiring ke Belanda. Memakai gaya bercerita yang  renyah dan tidak menggurui. Seperti yang digambarkan pada sosok Khadijah, dia tidak pernah memaksa temannya Mala untuk tampil sepertinya dirinya, meskipun Mala sejak awal beragama Islam. Khadijah membiarkan Mala memilih jalannya sendiri. Berkembang dengan perjalalan hidup yang dilalui. Begitupun kepada sepupunya dan Nico. Masalah keyakinan itu tidak boleh dipaksa.

Dalam novel ini pun banyak pesan yang bisa dimbil.  Di antaranya, Saling menghargai pilihan yang ada. “Aku tidak akan memaksamu menjalani hidup seperti aku. Karena yang akan menjalani hidupmu adalah kamu sendiri. Kamu yang paling tahu seperti apa cara hidup yang paling nyaman untukmu.” (hal. 99)

Bahwa masa lalu tidak harus dijaikan penghambat untuk memperbaiki diri. Dan untuk memperbaiki diri pun juga memerlukan proses dan tidak instan. Sama halnya dengan penjarian jati diri; tentang keyakinan  yang tidak bisa didapat semudah membalik telapak tangan. “Tidak usah terburu-buru dan tidak perlu memaksakaan diri. Soal keyakinan adalah soal hati. Biarkan hatimu mencari sendiri apa yang paling nyamaan untuk kamu jalani.” (hal. 239-240). Hanya saja cerita ini agak lamban, namun tidak mengurangi keasyikan membaca. Banyak pesan-pesan membangun. Recomended. 


Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi dari Jepara.

Dimuat di Koran Pantura. Senin, 16 Mei 2016



Thursday, 26 May 2016

Kisah tentang Pemuatan Naskah dan Hadiah Giveaway



Belakangan ini, entah kenapa aku banyak mendapat pertanyaan seperti ini.

1. “Apa sih tipsnya biar mudah tembus media? Soalnya sering sekali baik naskah cerpen atau resensi Mbak dimuat.”

Padahal aslinya masih banyak yang lebih sering dimuat, lho. ^_^ 

2. “Mbak, bagaimana sih, kok bisa menang kuis terus?” 

Tahu nggak masih banyak juga para pemuru GA yang lebih sering beruntung daripada aku. ^_^

Untuk jawaban pertama.

Pertanyaan ini cukup membuat bingung. Padahal jujur, aku baru serius menekuni bidang literasi lagi awal Maret 2014, setelah dulu terlalu fokus dengan kuliah sambil kerja. Bermula dari ikut event-event, baik secara indei atau mayor. Sampai akhirnya di akhir bulan 2014 mencoba peruntungan mengirim ke media.

Tapi tentu semua tak langsung cling, naskahku dimuat. Naskahku sering mental dan bahkan sempat pengen menyerah. Tapi masak iya baru segini harus menyerah? Tanggung sudah kepalang basah. Akhirnya bermodal nekat sambil terus belajar. Aku mulai berselancar. Mencari referensi naskah-naskah yang langganan dimuat di media. Apa keistimewaannya, kenapa sampai disukai redaktur? Dari membaca itu aku belajar. Menyesuaikan kriteria yang disukai redaktur.

Aku akan membaca banyak naskah yang dimuat media yang ingin aku tuju. Berkali-kali sampai memahami dengan benar naskah yang disukai.

Dan alhamdulillah akhir 2015, bulan September itulah kali pertama naskah cerpenku dimuat.
Yah, soal resensi jujur itu juga tantangan baru. Karena sebelumnya aku lebih fokus pada menulis cerpen. Tapi melihat beberapa tumpukan buku dan sempat mendapat tantangan dari seorang teman, aku mulai tertarik belajar meresensi.

Langsug bagus? Tentu tidak. Masih sangat kacau. Novel yang pertama aku resensi itu Cheeky Romance, baru kemudian Bumi Kuntilanak. Lalu berlanjut ke buku-buku lain hingga kemudian baru berani mengirim resensi dari novel Ilana Tan. Ini juga kali pertama dimuat di bulan September 2015.

Satu yang aku pegang ketika ingin mengirim naskah baik untuk cerpen atau pun resensi adalah, belajar dan membaca. Yah, sebelum aku memantapkan niat mengirim, aku akan membaca beberapa naskah yang sering dimuat untk tahu selera redaksi. Ini sangat penting dicatat. Serta syarat-syarat yang harus dipenuhi. Tenang saja saat ini banyak sekali media yang membagikan syarat pengirman naskah. Kalau mau mencari sebentar, sekali klik di Mbah google banyak sekali info yang bisa kita dapat. Jangan malas untuk mencari informasi.

Karena aku memang semula bermodal dari searching untuk tahu berbagai alamat media dan tatacara pengiriman. Nggak enak dong tiba-tiba nodong sama senior buat ngasih semua alamat media, Istilahnya minta disuapi. Cari tahu dulu kalau kepepet dan sangat butuh baru minta tolong. Dan dalam meminta tolong juga harus sopan dengan etika yang baik.

Setelah itu baru kirim, berdoa dan lupakan dengan menulis lagi. Tidak lupa ketika mengirim naskah ke redaktur, sertakan pengantar, ini juga harus sopan. Soalnya ini pun menjadi poin penting.

Untuk jawaban kedua.

Ini apalagi. Entah bagaimana menjelaskannya. Dulu, aku pun sangat jarang menang dalam Giveaway dan suka gemes sendiri. Kok sulit banget sih menang.

Tapi perlahan, aku memahami ketika mengikuti kuis, maka aku akan memerhatikan seluruh persyaratan yang diajukan. Dan aku akan mengkuti semuanya. Dan jika belum beruntung tidak langsung menyerah. Mencoba lagi. Karena kuis itu sejatinya adu keberutungan.

Jika dalam kuis disuruh menjawab pertanyan aku akan menjawab dengan semenarik mungkin kalau bia berbeda, biar dilirik jurinya.

Tapi jika tetap tak beruntung di kuis satu mungkin di kuis yang lain. Positif thingking aja. Setiap orang punya kesempatan menang masing-masing. Yang penting tak mudah menyerah, berusaha dan berdoa.

Mungkin begitulah sedikit yang bisa aku bagikan mengenai kenapa bisa sering menang kuis. Pokoknya ikutin apa persyaratan jawab semenarik mungkin, kalau disuruh bikin quote buat sesuatu yang unik dan berkelas. Setelah itu tentu pasrah pada kuasa Allah.

Banyak kuis yang bertebaran, jadi kita bisa menebar keberuntungan. ^_^

Srobyong, 26 Mei 2016