Friday, 1 April 2016

[Cerpen] Marni

[Dimuat di Tanjungpinang Pos. Edisi; Minggu, 27 Maret 2016]



            Dulu Surti mengira kalau gosip yang beredar itu hanyalah bualan orang-orang yang benci dengan Marni atau malah iri. Mengingat sejak Marni datang ke kota tempat tinggalnya, perempuan itu langsung sukses dalam prestasi kerjanya.  Mengatakan bahwa Marni memiliki hobi memakan daging temannya sendiri.

Tapi, siang itu Surti melihatnya secara langsung. Marni, perempuan cantik  itu,  ternyata memang memiliki hobi memakan bangkai temannya sendiri. Mulutnya tak pernah berhenti memamah dengan senyum mengembang tanpa rasa bersalah. Selama ini, Surti memang memang tidak terlalu akrab dengan Marni, meski berada satu kantor juga lewatan rumah.

~*~

Yah, Surti  ingat dengan jelas. Setelah pulang kerja, Surti melihat Marni makan bakso di warung Mang Ujang. Dengan santai Marni mulai memakan daging Laksmi yang katanya sahabatnya. Asih yang kebetulan di sana,  hanya menatap Marni dan tertawa getir, begitupun dirinya. Tangannya itu mengelus dada berkali-kali.  Sedang  tawa Marni terlihat pongah tanpa merasa bersalah.

Lalu keesokan harinya, Surti tanpa sengaja kembali bertemu dengan Marni. Di sebuah kafe kecil tidak jauh dari tempat mereka bekerja. Marni nampak  bersama teman-teman kantor lainnya. Duduk tanpa permisi sehingga teman-temannya tak enak jika harus berpindah. Sebenarnya sejak teman kantor tahu, kalau Marni itu hobi memakan daging temannya, otomtis banyak yang mulai risih dan tidak ingin menjadi korban selanjutnya.

 Surti melihatnya dengan jelas. Karena mereka bertolak belakang dalam menempati posisi duduk. Dan  Marni kembali memakan daging temannya. Kali ini sasarannya bukan Laksmi. Bukan. Marni dengan cekatan memakan daging Asih yang kemarin yang baru ditemuinya. Sungguh keterlaluan Marni. Setiap hari mulutnya itu ternyata tidak lepas dari mengunyah daging-daging milik kawannya.  Sedang teman yang ada di sekelilingnya hanya bisa menelan ludah.

Sikap Marni yang seperti itu tentu saja membuat banyak orang khawatir, pun Surti. Semakin hari, pola tingkah Marni semakin menjadi-jadi. Di mana pun dan kapan pun. Marni  tanpa segan akan memakan daging temannya sendiri. Baik itu ketika di rumah, tempat kerja, warteg atau pun kafe. Marni sama sekali tidak merasa bersalah dengan sikapnya itu. berkali-kali Marni diingatkan, agar meninggalkan kebiasaan itu., tapi   jawabannya  malah selalu tajam—menusuk. Makanya banyak teman di kantor yang mulai lelah untuk mengingatkannya. Karena salah-salah mereka sendiri yang akan jadi korban Marni.

~*~

 “Mar, sebaiknya kamu tidak bersikap seperti itu lagi,” suatu kali Surti mencoba ikut menasihati, sebagai sesama teman di kantor. Yah, mumpung mereka sedang berada di kafe siang ini. Saling berhadapan, karena memang hanya tempat kosong di depan Surti yang bisa diduduki. Semua penuh.  Siapa tahu dia mau mendengarkan.  Tapi yang dapat kemudian malah caci maki. Marni tidak berubah.

“Ah, dasar kau ini, Sur. Sok alim banget. Memang kau tak pernah melakukan hal yang sama seperti aku?” Marni berkacak pinggang. Menatap Surti  dengan mata nyalang.  Tak peduli banyak pasang mata yang memerhatikannya.

Surti menggigit bibir. Wanita itu sungguh menyebalkan. Rasanya Surti ingin menampar mulutnya itu. Mulut yang penuh bangkai. Tapi tentu saja Surti tidak bisa melakukan itu. dia  ingat kata ibunya dalam  menghadapi orang seperti itu dia  harus selalu sabar. Menasihati dengan perlahan, tidak boleh gegabah.  

“Apa? Kau berani padaku?” tangannya itu sudah diacungkan ke atas, ketika menyadari Surti masih menatapnya.

“Minggir ... minggir!” Marni menyenggol lengan Surti  dan berlalu pergi dan tak menghabiskan makananya.  “Apa yang aku lakukan itu bukan urusanmu,” sungutnya lagi sebelum hilang di balik pintu.

Setelah kepergiannya Surti hanya bisa menarik napas panjang. Dan mengelus dada berkali-kali. Matanya menatap punggung Marni  hilang di telan jalan. Surti yakin, Marni  pasti akan memakan daging lagi.  Entah di  mana.

Hanya saja tiga hari sejak kejadian itu ..., Surti tidak lagi melihat Marni. Dia seperti hilang dari peredaran.  Tak  ada lagi  Marni yang memakan daging seperti biasa. Marni  juga tak terlihat masuk kerja atau sekadar nongkrong di kafe seperti yang sering dilakukannya. 

Orang-orang pun  terlihat bersyukur dengan hilangnya Marni. Karena sudah pasti tak akan lagi ada korban yang menjadi incarannya. Mereka sudah muak melihat tingkah Marni.

“Orang seperti itu memang sudah seharunya hilang. Dia tak diinginkan dibumi.”

“Ya, selama ini aku selalu tidak tenang. Jangan-jangan aku juga menjadi korban.”

“Sudah biarkan saja, mungkin Marti mendapat tempat yang lebih baik dalam mencari mangsa.”

Surti menarik napas. Dia jadi teringat akan sebuah pepatah, “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.” Yah, setiap orang akan diingat dengan perilaku yang selama ini ditanam. Andai Marti orang yang baik budi, pasti banyak orang yang mengenang kebaikan dan merindukan sosok itu. Hanya saja saat ini posisinya tak begitu.  Marni selama ini memiliki citra jelek, hingga membuat orang lebih banyak benci dan tak peduli.

“Tapi apa tidak sebaiknya kita mendatangi rumahnya? Mungkin dia tengah sakit hingga tak bisa ke mana-mana,” Surti mencoba meminta simpati dari temannya.

“Dia kan tinggal sendirian. Kalau ada apa-apa tidak ada yang bisa diminta tolong.”

Tapi sayangnya, tak ada teman  yang simpati. Mereka sudah bosan dengan tingkah Marti. Jadi apapun yang terjadi dengan perempuan itu memang sudah menjadi nasibnya.

~*~
Dan di suatu malam yang pekat. Ketika matahari telah menggelung diri dan tinggal gelap yang menyergap. Tiba-tiba terdengar isak tangis yang menyayat hati.  Tak ada suara yang keluar dari mulut yang mencoba mengumpat. Hanya suara “A ... a ... a ... a ...” yang keluar dari tenggorokan. Perempuan itu terlihat menahan sakit yang teramat. Tubuhnya lemah dan berhawa panas. Tubuhnya mengejang.

Marni terbangun dengan napas tersengal-sengal. Tiga hari terakhir ini, dia selalu dihantui mimpi aneh. Dalam mimpi itu, Marni melihat daging lezat yang dihidangkan padanya. Hanya saja wujud daging itu menyerupai tubuh Laksmi, Asih dan silih berganti dengan teman-teman yang dulu sering dimamah dengan balutan kata cerca dan kebencian.

“Bukankah selama ini kau memang selalu memakan mereka lewat ucapamu? Jadi makanlah daging mereka sekarang.” Suara itu menggema di kepala Marni. Membuat perempuan itu ketakutan dan berlari. Marni terbangun dengan tubuh panas dingin, keringat mengucur. Napasnya naik turun. Marni menggigit bibir ketakutan.

Seketika dia ingat tentang percakapannya dengan Surti beberapa hari lalu. Ketika dia malah mencaci maki temannya itu. “Mar, kau harus meminta maaf,” Surti menarik napas. “Ibuku pernah berkata  ..., siapa yang makan daging saudaranya di dunia maka dihidangkan padanya pada hari qiyamat, dan dipersilahkan : Makanlah bangkainya, sebagai mana dahulu kamu memakannya diwaktu ia masih hidup.” [1]

Ket :
[1] Hadist yang diriwayatkan Abus Syaikh, diambil dari kitab Irsyadul Ibdab.


Srobyong, 22 Maret 2016 

8 comments:

  1. wahhh aku suka topik, tema, serta alur cerita ini mbak
    tapi ada typo sedikit mbak.
    di bagian paragraf awal2 ada double kata "memang" sama penggunaan Marni jadi Marti hhee
    sukses terus buat samean mba Ratna hee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhehh masih ketinggalan, ya ^_^
      Terima kasih rohma, sudah mampir ^_^ Aamin, sukses buat kamu juga

      Delete
  2. Mantap. Seru ini mbak. Temponya cepat dan rapat. Sukaaa.

    ReplyDelete
  3. Seruuu...

    Tuh kan Marni jadi kekenyangan deh di akhir hidupnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhheh iya Mbak, sampai mau muntah hehheh, makasih sudah mampir ^_^

      Delete