Saturday, 26 March 2016

[Review] Belajar Arti Pernikahan Lewat Novel




Judul               : Not A Perfect Wedding
Penulis             : Asri Tahir
Editor              : Afrianty P Pardede
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetakan           : Maret, 2015
Halaman          : 312 halaman
ISBN               : 978-602-02-5897-3

Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Karena dari pernikahan akan menyatukan dua hati yang awalnya berbeda latar belakang keluarga, bahkan sifat yang dimiliki. Dan ketika  ijab qabul sudah diikrarkan, maka pasangan itu sudah menjadi satu. Akan menjalani hidup dengan  saling mencintai, memahami dan mengayomi. Yah, itu jika dalam pernikahan memang dilandasi cinta antara dua belah pihak, tapi ketika pernikahan itu hanya sebuah keterpaksaan—tuntutan,  akankah pernikahan itu akan menjadi sesuatu yang sakral dan berbuah kehagiaan?

Novel ini menceritakan tentang Raina, wanita berusia 25 tahun. Dia sudah tidak sabar dengan pernikahan sempurna yang sudah direncakan dengan kekasihnya—Raka. Pria itu pun sungguh tidak sabar menunggu hari bahagia itu. Membayangkan akan menghabiskan waktu dengan orang yang paling dicintai, tentu saja itu sebuah kebahagiaan tersendiri. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Raina bukannya meninkah dengan Rara, tapi dengan orang yang baru dikenalnya—Pram—kakak Raka. Dia adalah pengantin pengganti karena sehari sebelum pernikahan antara Raina dan Raka, mempelai pria  meninggal.

Raina sungguh syok dengan keadaan ini. Dia marah pada juga pada keluarganya. Bagaimana mungkin mereka membiarkan dia menikah dengan orang asing? Selain menyimpan kemarahan, Raina juga terjebak pada kesedihan yang tak berujung. Dia menyiksa diri karena harus kehilangan orang yang sangat dicintainya. Bahkan dia melakukan aksi nekat bunuh diri dan meminta Tapi perlahan Raina menyadari bahwa sesungguhnya bukan hanya dia yang bersedih dengan kepergihan Raka.

Perlahan Raina sudah menerima kehadiran Pram dalam hidupnya. Selama ini Prama memang memperlakukannya dengan sangat baik. Pria itu ada saat Raina dalam keadaan terpuruk. Bahkan ketika berkali-kali Raina meminta pria itu menceraikannya. Pria itu tetap memilih bertahan melanjutkan pernikahan yang sejatinya permintaan dari Raka. Raina mengalah dan menyetujui ajakan Pram untuk mencoba menjalankan apa yang sudah terjadi. Meskipun memang belum ada cinta di antara Raina dan Pram. Itu memang kenyataan.  Tapi ketika hal yang mulanya asing jika terus ada di sekelilingnya, hal itu pun lama-kalamaan sudah menjadi kebiasaan. Raina sudah mulai mempercayai Pram. Tapi ketika kepercayaan itu sudah mulai terbangun, seseorang dari masa lalu Pram muncul. Clara-sahabat yang mencintai Pram juga Sashi—wanita yang selama ini dicintai Pram.  Bagaimana akhir pernikahan Pram dan Raina?

Novel yang diceritakan dengan gaya bahasa yang asyik untuk dinikmati. Mengajarkan bahwa setelah kesedihan akan ada kebahagiaan. Bahwa setiap orang tidak harus terjebak pada masa lalu.  “Jangan coba memaksa untuk melupakannya. Biarkanlah semua berlalu dengan beriringan waktu.” (hal. 114)

Suka dengan alurnya yang cepat dan tidak bertele-tele, sehingga tanpa disadari kita sudah melewati bab per bab dengan mulus tanpa kebosanan. Konflik psikologi dari para tokoh sangat menarik untuk diikuti. Meski sejatinya ending bisa ditebak, tapi penulis mampu  menyihir pembaca untuk terus melanjutkan novel ini hingga tuntas. Apalagi dengan hadirnya tokoh-tokoh yang cukup berkesan. Pram dengan sikap dewasanya, namun juga sikap pengecut yang kadang masih terjabak pada masa lalu yang membuat gregetan. Tapi tetap saja tokoh itu punya magnet membuat wanita tetap memujanya. Ada juga tokoh Pasha dan Arman, kakak Raina yang sangat melindungi adiknya.

Sepertinya asyik memiliki dua kakak laki-laki yang perhatian seperti itu. Lalu bisa jadi ketika membaca novel ini, kita akan dibuat sebal dengan tokoh Raina yang terkesan sangat manja dan egois dan selalu berpikir dari sudut pandannya sendiri.  Ada juga Clara yang sempat membuat sebal karena sikap-nya dan Sashi yang agak mencurigakan tapi ternyata tak sepici yang saya pikirkan.

Hal yang menarik dari novel ini adalah prolognya yang singkat tapi menggelitik. Membuat orang yang ketika membaca langsung tertarik melanjutkan bacaan. Salut dengan penulis yang mampu membuat pembaca jatuh cinta pada kali pertama membaca prolog.  Saya juga suka pemilihan pov-nya. Di mana ketika penulis memakai pov 3 pembaca lebih bisa melihat para tokoh secara objektif.
Hanya saja saya masih menemukan beberapa kesalahan kepenulisa. Lalu saya  merasa setting belum terlalu detail pada beberapa adegan. Juga tentang kehidupan Pram sendiri. Bagaimana pergaulan dan kehidupannya di London? Hubungannya dengan Clara dan Sashi. Porsi mereka hanya sedikit. Seperti pemanis yang muncul sekejap dan menghilang.  Meski memang, kehadiran mereka cukup menggoyahkan hubungan rumah tangga Pram dan Raina.

Tapi lepas dari kekurangannya novel ini sangat asyik untuk dinikmati. Membaca bagaimana hubungan antara Pram dan Raina, seperti menonton sebuah drama. Seru. Apalagi dari novel ini saya belajar, bahwa cinta itu memang bisa datang karena sebuah kebiasaan. Dan yang penting tentangan pandangan pernikahan dalam novel ini, “pernikahan bukan tentang cara kamu bersikap kepadaku, Pram. Tapi tentang sebuah pondasi yang kuat untuk menjalaninya” Sebuah cinta. Sebuah kejujuran. Sebuah kepercayaan. (hal. 123)

Dan saya juga suka quote ini, “Menghilangkan rasa sakit itu bukan dengan menciptakan rasa takut yang baru. Yang kita perlukan adalah menghadapinya.” (hal. 178) Quote ini mengajarkan untuk selalu memandang ke depan dan tidak terpaku pada masa lalu. Recomended untuk dibaca. 

4 comments:

  1. Aku kurang suka novel-novelnya elex mak, entah kenapa.. Weheeheh. Biasanya aku baca terbitan gramed yg amore..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu soal selera mungkin. ^_^ Aku sih baca novel apa saja yang penting menarik dan bisa buat belajar :) Nggak mandang penerbitnya hehhh

      Delete
  2. wah, seru nih kayaknya. saya pecinta novel drama cinta.. cari ah

    ReplyDelete