Tuesday, 1 March 2016

[Cerpen] Kotak Penadah Mata


Dimuat di Malang Post, Edisi; Minggu 28 Februari 2016


Kazuhana El Ratna Mida *)

            Kardi menatap lekat kotak persegi yang ada di depannya. Kotak yang sengaja dia beli beberapa hari lalu untuk menyempurnakan ide yang dimiliki, tepatnya mungkin keputusan yang diambilnya. Kardi tak merasa ragu. Toh, dengan melakukan ini, dia bisa menjadi lebih baik dalam menjaga diri—pandangan dan menghapus keburukan yang selama ini telah dilakukannya.

Kardi menarik napas. Memegang kotak, lalu membuka perlahan.  Di sana ada sebuah pisau kecil yang sengaja dibelinya. Dia sengaja memilih yang paling tajam, agar ketika dia mengambil matanya, proses pengambilannya bisa dilakukan dengan cepat. Tanpa ada rasa sakit yang menusuk-nusuk. Kardi pun mulai mengarahkan pisau itu ke wajahnya. Lalu perlahan dia mengambil bola matanya dengan sehati-hati mungkin. Setelah satu bola mata kiri berhasil diambil, segera Kardi memasukkannya ke dalam kotak penadah mata yang ada di depannya. Senyum tersungging di bibir Kardi.
~*~

            Kenapa Kardi sampai melakukan itu? Kejadian-kejadian di masalalu akan menjawab rasa penasaran itu. Seminggu yang lalu ..., Kardi tengah asyik menikmati kopi di warung Mbok Min dekat Rumah Ungu. Menghabiskan waktu berjam-jam di sana sebelum akhirnya berangkat kerja, bukan lagi hal tabu dilakukan Kardi. Tidak hanya Kardi saja, banyak orang yang juga memiliki hobi yang sama dengannya. Karena dari sana mereka bisa melihat banyak wanita yang berpakaian tapi telanjang.

            “Matamu bisa copot, Di, kalau melotot terus!” Ismail menyenggol Kardi. Membuat laki-laki itu tertawa lebar. Tak masalah kalau copot demi melihat pemandangan itu. Siapa pun pasti tidak akan menyianyiakannya. Kecuali orang tertentu mungkin. Yang menjaga pandangan.  Lagipula salah para wanita itu sendiri, kenapa mereka memilih tampilan seperti itu? Membuat siapa pun yang melihat jadi berdesir. Termasuk Kardi. Bagaimanapun dia laki-laki normal.

            “Tapi di tempat kerjamu juga banyak, kan?” Ismail meledek.

            Lagi-lagi Kardi tertawa. Banyak tentu saja. Tapi selagi bisa menikmati gratis kenapa tidak? Kardi terkekeh dengan pikirannya.

~*~

            Setelah meletakkan satu bola mata kirinya, dan memasukkan dalam kotak penadah,  Kardi membersihkan sedikit bercak darah pada tangannya. Tadi ada sayatan kecil yang tak sengaja mengenai hidungnya. Tapi Kardi lega satu masalah  telah teratasi, tinggal mengambil bola mata kanannya agar semua tuntas. Perlahan Kardi kembali mengambil pisau kecilnya. Menuntaskan pekerjaan. Dengan gesit Kardi mengambil. Menyisir matanya dengan hati-hati lalu bersiap mengambil bola mata itu.

            Dalam keadaan itu tiba-tiba, Kardi teringat apa yang selalu dia lihat setiap  malam dalam remang-remang waktu.

            Setiap hari Kardi memang pergi ke rumah cantik—tempat kerjanya. Di sana banyak orang-orang yang melakukan adegan panas tanpa rasa malu. Sebagai bartender pemandangan itu sudah menjadi makanan sehari-hari.  Pekerjaan yang dilakoni Kardi memang penuh resiko. Resiko tidak bisa mengendalikan diri dengan berbagai pemandangan yang mematikan itu.

            Tak hanya di sana. Di rumah pun kadang Kardi bisa melihatnya. Lewat tayangan-tayangan televisi atau secara online. Setiap detik setiap jam, Kardi selalu meracuni matanya dengan pandangan-pandangan itu. Hingga kadang meracuni otaknya untuk melihat lebih.

            Kalau sudah seperti itu, Kardi kadang bernafsu juga untuk melakukan kegilaan. Ingin mengambil satu dari sekian wanita untuk menemani tidur. Hingga dia bisa mengelus setiap jengkal tubuh wanita yang diumbar slalu.

            Tapi tentu saja Kardi tidak bisa melakukannya ..., dia tak bunya banyak uang untuk menyewa satu kupu-kupu malan. Akhirnya, dia menghabiskan waktu dengan melihat blue film sekadar melepaskan rasa penasaran dengan menikmati setiap adegan-adegan dengan menelan ludah. Setidaknya itu cukup menghibur. Atau dengan melihat majalah-majalah porno yang saat ini juga banyak beredar yang dijadikan koleksinya.

            Sungguh, Kardi seolah diperbudak matanya untuk melihat hal-hal yang gila. Yang membuat nafsunya mendidih. Pantas saja pemerkosaan merajalela. Laki-laki itu tidak akan memulai jika tidak ada mangsa yang mencoba memancingnya. Seperti kucing yang tak akan menolak jika melihat ikan.

Padahal Kardi ingat, dulu ..., dulu sekali ketika ibunya masih hidup ..., ibunya  selalu berpesan untuk menjaga mata. Kardi ingat ibunya pernah bilang. “Jika memandang tanpa sengaja itu adalah anugerah, namun pada kedipan seterusnya adalah nafsu, berbuah dosa.”  Saat itu tentu Kardi tidak paham maksud ibunya. Kenapa melihat saja dilarang?

            Tapi sekarang ..., setelah mengalami belbagai kejadian-kejadian di depan mata, Kardi mengerti. Bahkan sangat mengerti. Karena itu dia memutuskan untuk mengambil bola mata. Kardi tersenyum mengingat hal itu. Lalu tangannya kembali mengurusi bola mata yang hampir selesai diambilnya.

            Kardi menarik napas panjang. Ini adalah keputusan terbaik yang harus dilakukannya. Kalau dia tetap mempertahankan mata yang dimiliki, takutnya dia akan tergelincir. Kardi tak mau itu. Dia selalu ingat pesan ibunya, bahwa sebisa mungkin dia harus menjaga diri, menghormati wanita. Jangan mengikuti hawa nafsu dan keinginan sesaat. Karena bisa jadi hal itu bisa membunuhnya. Jujur saja Kardi memang menikmati bisa melihat pemandangan gratis yang selama ini mewarnai hari-harinya, namun entah kenapa setiap mengingat pesan dari sang ibu ada perasaan bersalah. Mengingat ibunya yang juga seorang wanita, Kardi jadi mengkeret. Bukan sama saja dia melecehkan ibunya jika menjahati wanita? Itulah kenapa setiap kali Kardi ingin meluapkan keinginan syahwatnya untuk memesan wanita biar memuaskan birahinya, hati kecilnya selalu berontak.

            “Kau tak mau mencobanya?” Ismail menyenggol lengannya. “Lihatlah, kau terlihat seperti cacing kepanasan. Ingin menikmati tapi berjuang menahan diri.”

            “Aku tidak bisa, Mail.”

            “Kau takut? Tak punya uang?” Ismail meledek. Teman Kardi itu, sudah tidak bisa menahan diri.  Setiap hari matanya dijejali tubuh-tubuh yang hampir telanjang itu, membuatnya tak mampu bertahan. 

            “Ah, cemen kau, Di!” Ismail mencibir.

            “Warno yang pediam saja sudah berkali-kali melakukannya.” Ismali berbisik.

            “Aku bertemu saat dia tengah memesan.” Ismail terkekeh. “Dua hari lalu.”

            Kardi hampir tersedak dengan kopinya. Warno yang terlihat alim dan menjaga pandangan akhirnya tak tahan? Dia sungguh tidak menyangka.

            “Ah, Pak Sunar guru ngaji di musala juga main mata.” Ismail tertawa mengejek. “Katanya mau nikah lagi dengan perawan yang jadi santrinya.”

            Kardi terdiam. Mencerna ucapan Ismail. Pak Sunar yang seorang ustad juga terkena dampak? Pasti warga akan geger. Kardi sungguh tidak  habis pikir. Benarlah kata pepatah;  karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena tak bisa menjaga pandangan—mata, sosok yang mulanya alim dan memiliki wibawa bisa tercoreng dicemooh karenanya. Ah, sungguh melihat hal itu membuat Kardi takut. Merinding dan sesak napas.

~*~

            Mengingat semua kejadian itu kembali membuat Kardi tersenyum, juga semakin mantap untuk segera melenyapkan bola matanya. Agar dia tidak lagi diperbudak nafsu karena melihat pemandangan-pemandangan tak senonoh yang akan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Tidak lagi.

            Lebih baik dia dalam kegelapan biar tenang daripada bisa melihat namun banyak sekali kemungkaran yang dilihat namun tak bisa melakukan apa-apa. Kardi jadi teringat sesuatu. Tentang kisah- lain yang pernah dilihat namun, dia tak bisa melakukan apa-apa. Hanya melihat saja.

            Saat itu Kardi baru pulang dari kerja. Tapi sebuah keributan membuatnya berhenti. Ada teriakan kesakitan di sana. Kardi segera memeriksanya. Dia berdiri terpaku. Bingung tak tahu harus bagaimana. Menolong dia bisa susah tak menolong hatinya tidak tenang. Serba salah. Kardi hanya bisa mengarang dalam hati.

            Yah, bagaimana dia bisa menolong ketika yang melakukan penggeroyokan itu adalah bos mafia yang memiliki kekuasaan penuh tidak bisa dilawan di daerah tempat tinggal Kardi. Siapapun yang berani melawan pasti akan mendapat ganjaran. Ikut dipukuli atau malah didepak dari peredaran. Mati. Kardi masih waras untuk bertindak gila. Ketika seorang yang tak memiliki kekuasaan maka dia hanya bisa menonton. Seperti yang dilakukannya saat itu. Tersiksa tentu saja, tapi tak bia berbuat apa-apa. Kardi hanya bisa menolong setelah bos mafia dan anak buahnya itu sudah pergi meninggalkan korbannya tergeletak tak berdaya.

            Melihat kenyataan ini, Kardi pun jadi berpikir; bahwa lebih baik dia tidak melihat apapun—hidup dalam kegelapan, dari pada melihat bumi yang terang tapi banyak keburukan yang ditangkap mata. Sungguh Kardi sekarang menyadari segala kesalahannya. Dia sudah lelah dan ingin menjaga pandangan matanya. Dia tidak mau lagi melihat hal-hal yang menimbulkan syahwat dan membuatnya memiliki panjang angan.

            Karena itu inilah keputusan yang terbaik. Akhirnya Kardi selesai mengambil bola mata bagian kanannya. Dia memasukkannya ke kotak itu, tempat yang sama tadi dia menyimpan mata kirinya. Kardi langsung mengunci dan membuang kuncinya. Kemudian memasukkannya dalam lemari. Senyum tersungging di wajahnya. Keinginannya sudah terkabul. Kardi tidak bisa membayangkan bagaimana komentar Ismail ketika melihanta besok.  Kardi tak mau memikirkannya sekarang. Saat ini Kardi hanya ingin bersyukur karena Allah sudah menyadarkan kesalahannya. Berkat mengikuti nasihat ibunya, dan tak mau menyentuh minuman haram, jalan cahaya masih mau berpihak padanya. Untuk menebus kesalahannya saat ini Kardi ingin menghabiskan waktunya untuk membaca. Baik Al-Quran atau buku-buku keagamaan yang akan memberi pencerahan. Kardi ingat dia meletakkan Al-Qurannya di dekat kotak tadi. Segera dia meraba dan menemukan apa yang dicarinya. Kardi mengambil dan membukanya dengan semangat, namun dia baru sadar saat ini dia sudah tidak mungkin bisa membaca. Dia telah buta. Gelap tak ada cahaya.

Srobyong, 21 November 2015


*Kazuhana El Ratna Mida, nama pena dari Ratnani Latifah. Tinggal di desa Srobyong-Mlonggo-Jepara. 

11 comments:

  1. aku baca ini hampir mirip cerpen yang dimuat di kompas yang judulnya perempuan-perempuan yang menjahit bibirnya sendiri, mbak

    tapi ini bisa dan jauh lebih baik mbak :D
    sukses terus mbk Ratna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir, Rohma. ^_^ iya cerpen itu sangat menarik dan dalem ^_^

      Delete
  2. Keren mbak. Agak ngeri juga kalau kejadian bener

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Nurus, sudah berkenan mampir. ^_^

      Delete
  3. Ngeriiii. Kardi yang malang. Huhu
    Seperti biasa, ada unsur religinya.

    Dari segi typo, hihi, ini udah lebih baik dari cerpen yang lalu. Sukses terus, Mbak. Semoga ke depan makin oke. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhe, itu entah kenapa susah ngilangin unsur religinya, hehh selalu kebawa. terima kasih sudah mampir ya Mbak leli ^_^

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Always like ... ^_^ Selalu suka baca tulisan Mbak Ratna. Flashback ke sebuah FTV yang pernah kutonton saat SMA. Seorang wanita mencongkel kedua matanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, jadi terhura. Makasih sudah mampir Liza :)

      Delete
  6. Dalam sekali maknanya...betapa kita sering membutakan mata hati tanpa cahaya Illahi....very nice story mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Dwi sudah mau mampir membaca dan sudah suka. ^_^

      Delete