Thursday, 31 March 2016

[Cerpen] Handphone yang Membawa Lacur

[Dimuat di Koran Pantura. Edisi; Kamis, 24 Maret 2016]

*Kazuhana El Ratna Mida


Dulu aku dan kamu adalah teman. Yah, dulu sebelum kamu berubah, tentunya. Ketika kamu belum bertemu teman baru yang menurutmu lebih hebat dari aku. Aku tidak menyangka kamu akan semudah itu berpaling. Melupakanku yang sudah sejak dulu menemanimu. Dalam suka dan duka.

Hari itu kamu begitu senang. Tawamu tersungging dengan lebar. Aku pun ikut senang melihat kebahagiaan yang kamu dapat. Tapi ..., sejak itu pula kamu mulai jarang menyapaku. Kamu menjauh, Fah. Lirih aku bergumam. Tentu saja kamu tidak peduli karena teman baru itu kini telah menemanimu. Mengubah keseharian bahkan hidupmu. Dan aku mengerti arti kesepian.

Setiap saat kamu akan menghabiskan waktu dengan temanmu itu. Di manapun. Seolah tanpa dia kamu tidak bisa bernapas. Wajahmu akan keruh ketika tidak melihat temanmu itu ada di sisimu. Kamu akan uring-uringan sendiri. Ah, sepertinya kamu memang sudah terjerat. Aku menelan getir.

~*~

“Ibu ...! Handphone aku di mana ? Kok aku cari tidak ada, sih.” Wajahmu keruh.

“Lho, bukannya selalu kamu bawa, Fah?” Ibumu datang menatap bingung.

“Iya, biasanya juga begitu, Bu. Tapi sekarang kok tidak ada. Aduh bagaimana ini? Padahal aku sedang membutuhkannya.” Kamu memegang kepala. Menggigit bibir terlihat kesal dan khawatir. Lalu menghentakkan kaki. Aku hanya bisa geleng-geleng melihat ulahmu. Mengelus dada.

Kamu baru tersenyum senang ketika handphone-mu itu berhasil ditemukan. Kamu mengecupnya dengan girang. “Syukurlah.” Gerak bibirmu mengatakan itu. Sebentar kemudian kamu sudah bercengkrama dengan temanmu itu. Lama ..., sampai tidak memedulikan azan yang telah berkumandang. Kamu tetap cekikikan di dunia yang kamu ciptakan.

“Ya Allah, Fah. Shalat dulu!” teriak ibumu membuatku bangkit. Meninggalkan keasyikan sebentar dan mematuhi perintah ibumu. Yah, meski dengan sediki bersungut. Karena itu berarti ibumu telah menganggu waktu yang kamu sebut berharga.

“Kamu ini kenapa sih, Fah. Sejak memiliki handphone malah mulai berubah. Jadi malas shalat juga mengaji.” Ibumu masuk ke kamarmu.

Tapi kamu berkilah. Memberi alasan sedang banyak tugas sehingga kamu membutuhkannya untuk mencari infomasi. “Buat belajar, Bu.” Rasanya aku ingin tertawa mendengar alasanmu. Padahal aku tahu pasti bukan itu yang membuatmu berlama-lama dengan gadget itu. Bukan.  Kamu hanya memilih pemainan atau asyik untuk bbm dan wa bersama temannmu yang lain atau berselancar di dunia maya. Sayangnya lagi aku tahu kamu tidak memilih kemanfaatannya malah sebaliknya. Aku mendesah. Kecewa.

Berhasil memohongi ibumu, kamu segera kembali berkutat dengan temanmu itu. Duduk bersila dan cengegesan. Kamu melupakan janji pada ibumu untuk tetap mengaji sebelum belajar. Aku hanya bisa mengelus dada melihat ulahmu itu. Miris dan tidak habis pikir saja.  Kamu sudah tidak seperti Ifah yang dulu aku kenal. Ifah yang rajin shalat dan mengaji. Patuh pada orangtua jarang membantah. Tapi sejak gadget itu menempel di tanganmu, benda itu membawa dampak buruk padamu. Kamu menjadi pemalas. Hanya menghabiskan waktu dengan gadget, tidak lagi mau membantu pekerjaan rumah. Kamu telah dimakan waktu dan beradaban baru. Yah, semua gara-gara gadget barumu itu.

Kejadian yang lebih parah adalah ketika pagi ini datang. Aku sontak kaget melihatmu yang meradang. Wajahmu tertekuk dan matamu merah menyala. Berteriak pada ibumu dan marah. Kamu membantah dan membentak ibumu. Astagfirullah hal adzim. Kamu tidak terima ketika gadgetmu disita ibumu karena gara-gara benda itu nilaimu bukannya naik, tapi malah merosot tajam. Sikapmu menjadi arogan dan pemarah. Membiarkan waktu terbuang sia-sia.

Oh, Ifah apa kamu telah lupa dengan diskusi yang dulu selalu kita lakukan? Ketika belum ada gadget itu pastinya. Aku ingat kamu akan semangat untuk berbagi pertanyaan denganku. Membahahas sikap anak-anak pada orangtua, khususnya ibu. Surga ditelapak kaki ibu. Jangan bilang kamu lupa, Fah? Teriakku dalam hati. Kamu dan aku juga berdiskusi  bagaimana bergaul sesuai dengan syariat. Bahkan ketika kamu jatuh cinta pun mau berbagi denganku. Dan aku akan senang hati menasihatimu supaya memilih jalan yang baik. Karena aku sayang kamu, Fah. Aku tidak ingin kamu celaka.  Tapi lihatlah kini. Sepertinya pengetahuanmu tentang sopan santun telah terkikis karena keegoisanmu yang menjulang tinggi. Karena peradaban baru yang mulai merasuki.

“Terserah ibu saja. Ifah benci ibu.” Kamu menangis tergugu di kamar. menelungkupkan diri di atas kasur. Aku menebak kamu tengah kecewa dengan keputusan itu. Ah, marah lebih tepatnya. Padahal kupikir ibumu ada benarnya. Mencoba menyadarkanmu agar tidak berlebihan. Tapi sepertinya kamu belum menyadari.

Kamu pun memilih mengurung diri. Mogok makan dan melakukan aktivitas apapun. Ibumu tentu jadi bingung sendiri melihat ulahmu. Aku pikir ibumu merasa kehilangan dirimu yang dulu. Seperti aku.  Kamu yang dulu tidak pernah berbuah ulah dan takdzim. Ah, di manakah sosok Ifah yang itu. Ifah, ya itu kamu. Gadis yang memiliki suara merdu ketika melafalkan ayat-ayat suci-Nya. Apa kamu lupa? Bagaimana gadget itu bisa kamu miliki? Kamu memenanggkan lomba Qiro’ bukan? Dan kamu juara satu. Mengantarkankamu mendapat apa yang saat itu memang sangat kamu idamkan. Handphone terbaru dengan fitur lengkap, seperti kebanyakan orang. Yah, dulu kamu memang sangat ingin itu, tapi tak mampu membelinya sendiri, mengingat orangtuamu bukan orang berada. Untuk makan saja susah.  Ibumu bekerja sendiri setelah ayahmu tiada. Yah, begitulah.

Kamu tahu betapa bangganya aku kala itu. Temanku menjadi juara dan ibumu pasti juga. Tapi ..., lihatlah sekarang kemenangan itu malah membuatmu jadi seperti ini. Andai kamu tidak menang dan mendapat hadiah itu .... Aku berimajinasi. Membayangkan kamu akan tetap memilih bersamaku setiap waktu. Yah, itu seandainya saja. Nyatanya itu tidak mungkin.

            Lalu pandanganku tertumpu pada ibumu yang baru saja masuk ke kamar. mendekatimu. Duduk di sisi ranjangmu. Mengelus lembut rambut panjang yang tergerai hingga pundakmu. Sudah hari ketiga kamu mengurung diri. Tidak mau menjawab apapun ketika ibumu mengajak berbincang. Kamu menjadi keras kepala. Kamu benar-benar membenci ibumu? Oh Ifah jangan lakukan itu. Aku merapalkan doa dalam hati. 

            “Maafkan ibu, Fah. Ibu hanya ingin kamu tidak terjebak dengan benda itu. Boleh kamu bermain  dengannya dan bersenang-senang di dunia maya yang sering kamu ceritakan pada ibu.” Ibumu menarik napas dan menatapmu. Pedih.

            “Tapi jangan pernah kamu lupakan kebiasaanmu dulu. Kulihat kamu mulai malas dan lebih asyik dengan gadgetmu itu. Cobalah membagi waktu, Fah.” Ibumu mengelus rambutmu.

            “Ibu rindu tilawahmu setiap waktu yang bisa menjadi cahaya surga di rumah kecil ini.” Ibumu bangkit, tidak lupa meletakkan gadget yang tiga hari ini disimpan.

            “Sekarang ayo makan, nanti kamu sakit.” Itulah yang terakhir ibumu katakan sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu. Kamu bangkit menatap benda kecil yang berwana silver itu. Kudengar banyak notification masuk di sana. Namun kamu sepertinya tidak terlalu peduli. Kamu malah memegang dadamu yang kupikir terasa sesak. Entahlah aku hanya menebak. Tapi kulihat matamu mulai berair. Kamu menangis menatap aku yang teronggok di meja belajarmu. Berdebu.

Srobyong, 30 September 2015.

 *Nama pena dari Ratnani Latifah. Tinggal di desa Srobyong-Mlonggo-Jepara. 

6 comments:

  1. Ini khasnya mbak Ratna, selalu ada unsur religinya. Typo-nya minim. Goodjob, Mbak. Duh, soal gadget lagi. Berasa ditempeleng. Haha

    Konfliknya kurang naik. Dikiiit lagi. *kayak udah jago aja ngolah konflik #plak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhehh iya, ini religi nggak mau hilang. Entahlah suka saja.hehh, Hheh mungking ini, masih susah ngolah konflik aku ini. Hheh,

      Makasih yak sudah mampir

      Delete
  2. Sentilan banget itu mbak ceritanya (y) siipp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang nulis juga kesentil nih, hehh. Makasih rohma sudah mampir ^_^

      Delete
  3. Bagus cerpennya. Kekinian banget soal gadget hehe. Jd kena tampar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada Mbak Leyla, terima kasih sudah mampir. Iya nih gadeget selain banyak manfaat madharatnya juga banyak termasuk yang nulis ini yang masih suka lena :( kena tampar sendiri

      Delete