Thursday, 31 March 2016

[Review] Sekelumit Kisah Tentang Masa Lalu dan Cara Menyelesaikannya


Judul               : Yesterday in Bandung
Penulis             : Rinrin Indriani, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, NR Ristianti
Editor              : Pradita Seti Rahayu
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, Januari 2016
ISBN               :  978-602-02-7861-2

Blurb
Yesterday, all my troubles seemed so far away (yesterday, the beatles)

Seperti lima nada membentuk satu harmoni lagu, mereka  memiliki masalah dan masa lalu yang bersinggungan.
Shaki, gadis Palembang dengan masalah korupsi sang ayah.
Zain, pemuda desa yang gila harta dan terjebak pergaulan hitam.
Tania, gadis riang yang masa lalunya kelam.
Dandi, pemuda  tampan yang lari dari bayang-bayang masa lalu.
Aline, pemilik kos yang menyimpan banyak misteri.

Hidup di tempat tinggal yang sama membuat mereka menyadari bahwa semua punya cerita di hari kemarin, untuk dibagi hari ini.
~*~

Setiap orang pasti memiliki masalah dan masa lalu.  Maka biarlah masalah dan masalalu itu luruh. Tidak  menjadi budak, mengingkat hingga harus selamanya terpuruk dan ketakutan.  Karena waktu itu bergerak maju. Jadikan masalalu sebagai guru yang menuntutn untuk bergerak menyongsong masa depan baru. Bukankah itu lebih menyenangkan?

Yesteday in Bandung bermula dari  outline terbaik workshop “Berbagi Cinta Lewat Kata”.  Menceritakan tentang lima tokoh yang terjebak pada masalah juga masalalu yang menjadi bayang-bayang.

Shaki adalah gadis awal Palembang yang memilih kuliah di Bandung dengan membawa sebuah rahasia. Di depan banyak orang dia mungkin terlihat bahagia dengan kepolosan yang dimiliki. Dia juga sangat loyal pada teman-temannya. Uang baginya bukan masalah, karena dengan senang hati sang ibu akan memberinya jika dia meminta. Tapi di sanalah-masalah. Karena uang itu. dia menyimpan luka. Uang memang tidak pernah bisa membeli kebahagiaan. (hal. 56) Sebuah luka yang membuatnya kerap menangis diam-diam dan mengidap histeria. (hal. 84) Menjadikan  gadis itu lemah.

Zain adalah seorang anak dari keluarga tidak mampu. Dia kuliah ke Bandung dengan membawa segudang mimpi. Berharap ketika dia nanti bisa sukses maka hal itu bisa merubah kehidupan keluarganya.  Gua harus harus berhasil dan sukses dengan cara apa pun meski mulai dari nol. (hal. 25). Tekad itulah yang kemudian malah merubahnya menjado sosok Zain yang berbeda.  

Tania, dia gadis periang. Selalu rame jika bersamanya. Namun di balik sikapnya itu ..., ternyata ada luka yang tengah dia coba sembunyikan dari orang lain. Gadis itu sangat antipati pada makhluk bernama cowok, apalagi mendengar kata pacar. Kata ‘pacar’itu tabu baginya. (hal. 44) Karena itu  jika  dengan Zain, mereka seperti kucing dan anjing.  Terkecuali Ferdian—sahabatnya sejak SMP, hanya cowok itu yang selalu menemaninya.

Dandi, cowok pendiam yang memilih bekerja daripada melanjutkan kuliah. Dia tak banyak omong dan lebih suka memendam masalahnya sendiri. Termasuk alasan di balik pilihannya itu.  Semua karena masa lalu kelam yang telah merubahnya menjadi seperti itu.

Aline, pemilik kos-kosan yang cantik, pintar dan mandiri.  Sama halnya dengan empat orang itu, Aline juga menyimpan sebuah masalahnya sendiri, yang membuatnya memilih hidup yang saat ini tengah dijalaninya. Menyendiri, memilih menutup pintu hatinya.

Mereka dipertemukan dalam satu tempat—kos-kosan milik Aline. Di sanalah kisah mereka dimulai. Pertemuan itu membuat mereka seperti keluarga. Meski mereka belum berani membagi rahasia masing.

Kebersamaan itu tenyata menimbulkan kisah lainnya juga Shaki  mengagumi Zain, cowok yang berkali-kali menghiburnya ketika sedih. Sayangnya Zain sejak awal sudah membidik seseorang. Dan tanpa mereka ketahui, Dandi mengamati kisah itu dan hanya bisa merasa getir.  Untungnya ada Tania yang mengerti kondisi Dandi dan mencoba membantu. Sayangnya, Tania sendiri pun dalam masalah ketika seseorang dalam masa lalunya tiba-tiba muncul. Keadaan menjadi kacau balau. Belum lagi tiba-tiba Zain  menghilang, Shaki yang mencoba bunuh diri.

Novel dengan pemasalahan yang cukup kompleks. Diceritakan dengan gaya bahasa renyah. Asyik untuk dinikmati. Beberapa kejutan yang disuguhkan dalam novel ini menjadi poin tambah tersendiri. Juga salut dengan gaya multipov dalam novel kolab ini.

Hanya saja, dalam porsi Dandi eksplorasinya sangat sedikit. Padahal karakter cowok ini cukup menarik  Dan soal gaya bahasa Zain yang memakai ‘Gua’. Mengingat dikatakan dia anak desa dan diceritakan memakai gua kok tidak cocok, malah terkesan anak metropolitan.  Ada beberapa ketidaksinkronan. Misalnya tentang pov dari gua, tapi  tiba-tiba memakai nama tokoh, seolah pov 3 (hal. 18).  Beberapa typo cukup bertebaran , juga tentang pemborosan kata aku.  

Tapi lepas dari itu semua, novel kolab ini memiliki keunikan tersendiri sehingga patut dibaca. Tentang masa lalu yang tak seharusnya menjadi momok, tapi buat sebuah pelajaran hidup untuk terus berjuang menyongsong masa depan.  Serta memiliki twist ending yang cukup keren.  


Aku sudah bisa menertawai masa lalu dan mengambil pelajaran berharga. Dengan pengalaman itu,  aku bisa berbagi dan menularkan semangat positif. (hal. 252) 

[Cerpen] Handphone yang Membawa Lacur

[Dimuat di Koran Pantura. Edisi; Kamis, 24 Maret 2016]

*Kazuhana El Ratna Mida


Dulu aku dan kamu adalah teman. Yah, dulu sebelum kamu berubah, tentunya. Ketika kamu belum bertemu teman baru yang menurutmu lebih hebat dari aku. Aku tidak menyangka kamu akan semudah itu berpaling. Melupakanku yang sudah sejak dulu menemanimu. Dalam suka dan duka.

Hari itu kamu begitu senang. Tawamu tersungging dengan lebar. Aku pun ikut senang melihat kebahagiaan yang kamu dapat. Tapi ..., sejak itu pula kamu mulai jarang menyapaku. Kamu menjauh, Fah. Lirih aku bergumam. Tentu saja kamu tidak peduli karena teman baru itu kini telah menemanimu. Mengubah keseharian bahkan hidupmu. Dan aku mengerti arti kesepian.

Setiap saat kamu akan menghabiskan waktu dengan temanmu itu. Di manapun. Seolah tanpa dia kamu tidak bisa bernapas. Wajahmu akan keruh ketika tidak melihat temanmu itu ada di sisimu. Kamu akan uring-uringan sendiri. Ah, sepertinya kamu memang sudah terjerat. Aku menelan getir.

~*~

“Ibu ...! Handphone aku di mana ? Kok aku cari tidak ada, sih.” Wajahmu keruh.

“Lho, bukannya selalu kamu bawa, Fah?” Ibumu datang menatap bingung.

“Iya, biasanya juga begitu, Bu. Tapi sekarang kok tidak ada. Aduh bagaimana ini? Padahal aku sedang membutuhkannya.” Kamu memegang kepala. Menggigit bibir terlihat kesal dan khawatir. Lalu menghentakkan kaki. Aku hanya bisa geleng-geleng melihat ulahmu. Mengelus dada.

Kamu baru tersenyum senang ketika handphone-mu itu berhasil ditemukan. Kamu mengecupnya dengan girang. “Syukurlah.” Gerak bibirmu mengatakan itu. Sebentar kemudian kamu sudah bercengkrama dengan temanmu itu. Lama ..., sampai tidak memedulikan azan yang telah berkumandang. Kamu tetap cekikikan di dunia yang kamu ciptakan.

“Ya Allah, Fah. Shalat dulu!” teriak ibumu membuatku bangkit. Meninggalkan keasyikan sebentar dan mematuhi perintah ibumu. Yah, meski dengan sediki bersungut. Karena itu berarti ibumu telah menganggu waktu yang kamu sebut berharga.

“Kamu ini kenapa sih, Fah. Sejak memiliki handphone malah mulai berubah. Jadi malas shalat juga mengaji.” Ibumu masuk ke kamarmu.

Tapi kamu berkilah. Memberi alasan sedang banyak tugas sehingga kamu membutuhkannya untuk mencari infomasi. “Buat belajar, Bu.” Rasanya aku ingin tertawa mendengar alasanmu. Padahal aku tahu pasti bukan itu yang membuatmu berlama-lama dengan gadget itu. Bukan.  Kamu hanya memilih pemainan atau asyik untuk bbm dan wa bersama temannmu yang lain atau berselancar di dunia maya. Sayangnya lagi aku tahu kamu tidak memilih kemanfaatannya malah sebaliknya. Aku mendesah. Kecewa.

Berhasil memohongi ibumu, kamu segera kembali berkutat dengan temanmu itu. Duduk bersila dan cengegesan. Kamu melupakan janji pada ibumu untuk tetap mengaji sebelum belajar. Aku hanya bisa mengelus dada melihat ulahmu itu. Miris dan tidak habis pikir saja.  Kamu sudah tidak seperti Ifah yang dulu aku kenal. Ifah yang rajin shalat dan mengaji. Patuh pada orangtua jarang membantah. Tapi sejak gadget itu menempel di tanganmu, benda itu membawa dampak buruk padamu. Kamu menjadi pemalas. Hanya menghabiskan waktu dengan gadget, tidak lagi mau membantu pekerjaan rumah. Kamu telah dimakan waktu dan beradaban baru. Yah, semua gara-gara gadget barumu itu.

Kejadian yang lebih parah adalah ketika pagi ini datang. Aku sontak kaget melihatmu yang meradang. Wajahmu tertekuk dan matamu merah menyala. Berteriak pada ibumu dan marah. Kamu membantah dan membentak ibumu. Astagfirullah hal adzim. Kamu tidak terima ketika gadgetmu disita ibumu karena gara-gara benda itu nilaimu bukannya naik, tapi malah merosot tajam. Sikapmu menjadi arogan dan pemarah. Membiarkan waktu terbuang sia-sia.

Oh, Ifah apa kamu telah lupa dengan diskusi yang dulu selalu kita lakukan? Ketika belum ada gadget itu pastinya. Aku ingat kamu akan semangat untuk berbagi pertanyaan denganku. Membahahas sikap anak-anak pada orangtua, khususnya ibu. Surga ditelapak kaki ibu. Jangan bilang kamu lupa, Fah? Teriakku dalam hati. Kamu dan aku juga berdiskusi  bagaimana bergaul sesuai dengan syariat. Bahkan ketika kamu jatuh cinta pun mau berbagi denganku. Dan aku akan senang hati menasihatimu supaya memilih jalan yang baik. Karena aku sayang kamu, Fah. Aku tidak ingin kamu celaka.  Tapi lihatlah kini. Sepertinya pengetahuanmu tentang sopan santun telah terkikis karena keegoisanmu yang menjulang tinggi. Karena peradaban baru yang mulai merasuki.

“Terserah ibu saja. Ifah benci ibu.” Kamu menangis tergugu di kamar. menelungkupkan diri di atas kasur. Aku menebak kamu tengah kecewa dengan keputusan itu. Ah, marah lebih tepatnya. Padahal kupikir ibumu ada benarnya. Mencoba menyadarkanmu agar tidak berlebihan. Tapi sepertinya kamu belum menyadari.

Kamu pun memilih mengurung diri. Mogok makan dan melakukan aktivitas apapun. Ibumu tentu jadi bingung sendiri melihat ulahmu. Aku pikir ibumu merasa kehilangan dirimu yang dulu. Seperti aku.  Kamu yang dulu tidak pernah berbuah ulah dan takdzim. Ah, di manakah sosok Ifah yang itu. Ifah, ya itu kamu. Gadis yang memiliki suara merdu ketika melafalkan ayat-ayat suci-Nya. Apa kamu lupa? Bagaimana gadget itu bisa kamu miliki? Kamu memenanggkan lomba Qiro’ bukan? Dan kamu juara satu. Mengantarkankamu mendapat apa yang saat itu memang sangat kamu idamkan. Handphone terbaru dengan fitur lengkap, seperti kebanyakan orang. Yah, dulu kamu memang sangat ingin itu, tapi tak mampu membelinya sendiri, mengingat orangtuamu bukan orang berada. Untuk makan saja susah.  Ibumu bekerja sendiri setelah ayahmu tiada. Yah, begitulah.

Kamu tahu betapa bangganya aku kala itu. Temanku menjadi juara dan ibumu pasti juga. Tapi ..., lihatlah sekarang kemenangan itu malah membuatmu jadi seperti ini. Andai kamu tidak menang dan mendapat hadiah itu .... Aku berimajinasi. Membayangkan kamu akan tetap memilih bersamaku setiap waktu. Yah, itu seandainya saja. Nyatanya itu tidak mungkin.

            Lalu pandanganku tertumpu pada ibumu yang baru saja masuk ke kamar. mendekatimu. Duduk di sisi ranjangmu. Mengelus lembut rambut panjang yang tergerai hingga pundakmu. Sudah hari ketiga kamu mengurung diri. Tidak mau menjawab apapun ketika ibumu mengajak berbincang. Kamu menjadi keras kepala. Kamu benar-benar membenci ibumu? Oh Ifah jangan lakukan itu. Aku merapalkan doa dalam hati. 

            “Maafkan ibu, Fah. Ibu hanya ingin kamu tidak terjebak dengan benda itu. Boleh kamu bermain  dengannya dan bersenang-senang di dunia maya yang sering kamu ceritakan pada ibu.” Ibumu menarik napas dan menatapmu. Pedih.

            “Tapi jangan pernah kamu lupakan kebiasaanmu dulu. Kulihat kamu mulai malas dan lebih asyik dengan gadgetmu itu. Cobalah membagi waktu, Fah.” Ibumu mengelus rambutmu.

            “Ibu rindu tilawahmu setiap waktu yang bisa menjadi cahaya surga di rumah kecil ini.” Ibumu bangkit, tidak lupa meletakkan gadget yang tiga hari ini disimpan.

            “Sekarang ayo makan, nanti kamu sakit.” Itulah yang terakhir ibumu katakan sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu. Kamu bangkit menatap benda kecil yang berwana silver itu. Kudengar banyak notification masuk di sana. Namun kamu sepertinya tidak terlalu peduli. Kamu malah memegang dadamu yang kupikir terasa sesak. Entahlah aku hanya menebak. Tapi kulihat matamu mulai berair. Kamu menangis menatap aku yang teronggok di meja belajarmu. Berdebu.

Srobyong, 30 September 2015.

 *Nama pena dari Ratnani Latifah. Tinggal di desa Srobyong-Mlonggo-Jepara. 

Saturday, 26 March 2016

[Review] Belajar Arti Pernikahan Lewat Novel




Judul               : Not A Perfect Wedding
Penulis             : Asri Tahir
Editor              : Afrianty P Pardede
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Cetakan           : Maret, 2015
Halaman          : 312 halaman
ISBN               : 978-602-02-5897-3

Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Karena dari pernikahan akan menyatukan dua hati yang awalnya berbeda latar belakang keluarga, bahkan sifat yang dimiliki. Dan ketika  ijab qabul sudah diikrarkan, maka pasangan itu sudah menjadi satu. Akan menjalani hidup dengan  saling mencintai, memahami dan mengayomi. Yah, itu jika dalam pernikahan memang dilandasi cinta antara dua belah pihak, tapi ketika pernikahan itu hanya sebuah keterpaksaan—tuntutan,  akankah pernikahan itu akan menjadi sesuatu yang sakral dan berbuah kehagiaan?

Novel ini menceritakan tentang Raina, wanita berusia 25 tahun. Dia sudah tidak sabar dengan pernikahan sempurna yang sudah direncakan dengan kekasihnya—Raka. Pria itu pun sungguh tidak sabar menunggu hari bahagia itu. Membayangkan akan menghabiskan waktu dengan orang yang paling dicintai, tentu saja itu sebuah kebahagiaan tersendiri. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Raina bukannya meninkah dengan Rara, tapi dengan orang yang baru dikenalnya—Pram—kakak Raka. Dia adalah pengantin pengganti karena sehari sebelum pernikahan antara Raina dan Raka, mempelai pria  meninggal.

Raina sungguh syok dengan keadaan ini. Dia marah pada juga pada keluarganya. Bagaimana mungkin mereka membiarkan dia menikah dengan orang asing? Selain menyimpan kemarahan, Raina juga terjebak pada kesedihan yang tak berujung. Dia menyiksa diri karena harus kehilangan orang yang sangat dicintainya. Bahkan dia melakukan aksi nekat bunuh diri dan meminta Tapi perlahan Raina menyadari bahwa sesungguhnya bukan hanya dia yang bersedih dengan kepergihan Raka.

Perlahan Raina sudah menerima kehadiran Pram dalam hidupnya. Selama ini Prama memang memperlakukannya dengan sangat baik. Pria itu ada saat Raina dalam keadaan terpuruk. Bahkan ketika berkali-kali Raina meminta pria itu menceraikannya. Pria itu tetap memilih bertahan melanjutkan pernikahan yang sejatinya permintaan dari Raka. Raina mengalah dan menyetujui ajakan Pram untuk mencoba menjalankan apa yang sudah terjadi. Meskipun memang belum ada cinta di antara Raina dan Pram. Itu memang kenyataan.  Tapi ketika hal yang mulanya asing jika terus ada di sekelilingnya, hal itu pun lama-kalamaan sudah menjadi kebiasaan. Raina sudah mulai mempercayai Pram. Tapi ketika kepercayaan itu sudah mulai terbangun, seseorang dari masa lalu Pram muncul. Clara-sahabat yang mencintai Pram juga Sashi—wanita yang selama ini dicintai Pram.  Bagaimana akhir pernikahan Pram dan Raina?

Novel yang diceritakan dengan gaya bahasa yang asyik untuk dinikmati. Mengajarkan bahwa setelah kesedihan akan ada kebahagiaan. Bahwa setiap orang tidak harus terjebak pada masa lalu.  “Jangan coba memaksa untuk melupakannya. Biarkanlah semua berlalu dengan beriringan waktu.” (hal. 114)

Suka dengan alurnya yang cepat dan tidak bertele-tele, sehingga tanpa disadari kita sudah melewati bab per bab dengan mulus tanpa kebosanan. Konflik psikologi dari para tokoh sangat menarik untuk diikuti. Meski sejatinya ending bisa ditebak, tapi penulis mampu  menyihir pembaca untuk terus melanjutkan novel ini hingga tuntas. Apalagi dengan hadirnya tokoh-tokoh yang cukup berkesan. Pram dengan sikap dewasanya, namun juga sikap pengecut yang kadang masih terjabak pada masa lalu yang membuat gregetan. Tapi tetap saja tokoh itu punya magnet membuat wanita tetap memujanya. Ada juga tokoh Pasha dan Arman, kakak Raina yang sangat melindungi adiknya.

Sepertinya asyik memiliki dua kakak laki-laki yang perhatian seperti itu. Lalu bisa jadi ketika membaca novel ini, kita akan dibuat sebal dengan tokoh Raina yang terkesan sangat manja dan egois dan selalu berpikir dari sudut pandannya sendiri.  Ada juga Clara yang sempat membuat sebal karena sikap-nya dan Sashi yang agak mencurigakan tapi ternyata tak sepici yang saya pikirkan.

Hal yang menarik dari novel ini adalah prolognya yang singkat tapi menggelitik. Membuat orang yang ketika membaca langsung tertarik melanjutkan bacaan. Salut dengan penulis yang mampu membuat pembaca jatuh cinta pada kali pertama membaca prolog.  Saya juga suka pemilihan pov-nya. Di mana ketika penulis memakai pov 3 pembaca lebih bisa melihat para tokoh secara objektif.
Hanya saja saya masih menemukan beberapa kesalahan kepenulisa. Lalu saya  merasa setting belum terlalu detail pada beberapa adegan. Juga tentang kehidupan Pram sendiri. Bagaimana pergaulan dan kehidupannya di London? Hubungannya dengan Clara dan Sashi. Porsi mereka hanya sedikit. Seperti pemanis yang muncul sekejap dan menghilang.  Meski memang, kehadiran mereka cukup menggoyahkan hubungan rumah tangga Pram dan Raina.

Tapi lepas dari kekurangannya novel ini sangat asyik untuk dinikmati. Membaca bagaimana hubungan antara Pram dan Raina, seperti menonton sebuah drama. Seru. Apalagi dari novel ini saya belajar, bahwa cinta itu memang bisa datang karena sebuah kebiasaan. Dan yang penting tentangan pandangan pernikahan dalam novel ini, “pernikahan bukan tentang cara kamu bersikap kepadaku, Pram. Tapi tentang sebuah pondasi yang kuat untuk menjalaninya” Sebuah cinta. Sebuah kejujuran. Sebuah kepercayaan. (hal. 123)

Dan saya juga suka quote ini, “Menghilangkan rasa sakit itu bukan dengan menciptakan rasa takut yang baru. Yang kita perlukan adalah menghadapinya.” (hal. 178) Quote ini mengajarkan untuk selalu memandang ke depan dan tidak terpaku pada masa lalu. Recomended untuk dibaca. 

Friday, 25 March 2016

[BlogTour + Giveaway] Come Back To Me


Dan akhirnya sampai juga pada puncaknya.

~GIVEAWAY TIME~
Ada satu novel Come Back To Me buat yang beruntung J lho. Caranya mudah banget
Simak langsung, ya!

1.      Memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2.      Harus follow twitter @Twigora, @Arini_ni

3.      Follow  akun twitter @ratnaShinju2chi dan blog ini. Baik lewat G + atau e-mail ataupun via GFC (Google Friend Connect)

4.      Share info GA ini dengan memention @ratnaShinju2chi, @Twigora, @Arini_ni dengan hastag #ComeBackToMe

5.      Kasih komentar di Interview dan Review blog tour come back to me.

6.      Dan jawab pertanyaan berikut ini  dengan menyertakan, nama, akun twitter , domisili dan link share.

Apa yang kamu pikirkan tentang pekerjaan tukang kayu?

Giveaway berlangsung dari tanggal 25-31 Maret 2016. Pengumuman akan dilakukan tanggal 1 April 2016.

Semoga beruntung  J  ^^



[BlogTour] Review Come Back To Me — Arini Putri


Antara Mimpi, Cinta dan Penantian

Judul Buku                  : Come Back To Me
Pengarang                   : Arini Putri
Harga Jual                   : Rp 77.000
Isbn/Ean                      : 978-602-70362-5-3
Bulan/Tahun Terbit     : Januari 2016-03-25
Panjang x Lebar          : 13 x 19 cm
Jumlah Halaman          : 386 hlm
Genre                          : Contemporary Romance
Kategori                      : Novel 

Blurb:
SENNA
“Mataku tak bisa melihatnya, tapi aku merasa mengenal Ced lebih dari siapa pun. Dari tangan kasarnya, aku tahu dia adalah pekerja keras. Dari suaranya, aku bisa tahu betapa renyah tawanya. Dan tak peduli sesingkat apa pun kami bersama, kenangannya selalu bertahan lebih lama di dalam benakku.”

CED
“Mata almond Senna tak pernah terlihat sama. Terkadang gelap, terkadang mengeluarkan binar yang luar biasa indahnya. Lambat laun membuatku jadi egois, berharap sepasang mata miliknya itu bercahaya karenaku saja.”

*
Ced ternyata baru menyadari, hatinya sejak lama sudah jadi milik gadis itu,
seperti halnya hati Senna sudah dimiliki oleh laki-laki itu.
Namun ketika akhirnya menyadari cintanya pada Senna, Ced malah dihadapkan pada dilema yang teramat sulit untuk dihindari: antara harus memilih kebahagiaannya sendiri atau kebahagiaan gadis itu.
~*~
“Kadang ada yang lebih berharga dari impian kita. Kebahagiaan orang itu, lebih berharga dari ambisi kita.” (hal. 294)

Ced adalah pemuda yang memiliki ketertarikan terhadap furnitur. Sayangnya ketertarikannya itu tidak mendapat dukungan dari  sang ayah. Tapi Ced tidak peduli, demi mengerja mimpinya itu dia rela melepas kemewahan dan fasilitas dan keluarganya yang berada. Ced menghabiskan seluruh tabungannya  dan  membangun carpentry studio bersama, Malik—sahabatnya, Tanu,  Paman Widi—guru sekaligus orang yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. Berharap suatu hari mereka bisa membangun toko furnitur besar.  (hal. 5)

Ini carpentry studio versi aku

Ced tahu mengejar mimpinya itu tidak mudah, tapi dia juga tidak mau selamanya dijadikan boneka oleh sang ayah. Sejak kecil hidupnya dikontrol,  tidak bisa bebeas bergerak. Karena itu dia ingin membuktikan pada ayahnya bahwa dia bisa mewujudkan mimpinya sendiri.

Menilik masa lalu Ced yang semang selalu diatur membuatnya tumbuh menjadi sosok yang cukup tertutup dan  kurang bersosialisasi. Bahkan Ced pun kurang sinar matahari, bahkan mendapat julukan vampire karena memiliki selalu terlihat pucat.  Selama ini Ced memang selalu menghabiskan kesehariannya dengan balok-balok kayu dan peralatan pertukangan.

Imajinasiku tentang sosok Ced  itu Kim Woo Bin

Tapi kehidupannya berubah ketika pada suatu waktu dia menangkap sebuah gambar gadis cantik di kameranya. Gadis yang membuatnya merasa bersalah karena pernah mengatakan kata-kata tidak sopan. (hal. 30)

Senna, itulah gadis yang tertangkap kamera Ced. Gadis bermata almond. Gadis itu memang tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan  manik mata indah juga senyum yang menyenangkan. Hanya saja kecelakan yang pernah terjadi pada usianya yang kesepuluh, telah membuat Senna harus rela kehilangan matanya. Tak ada lagi cahaya dalam hidupnya. Tapi didikan keras dari sang ayah membuatnya tumbuh menjadi gadis tegar.  Senna menjadi pemasok cookies di kafe Bittersweet.
Imajinasku tentang sosok Senna itu Park Shin Hye

   dan kafe bitteesweet

Dari rasa bersalah itu, lah yang kemudian menuntun Ced untuk mengenal Senna. Membuat dia menjadi sosok yang dirinya sendiri tidak tahu kenapa. Melihat gadis itu membuatnya terpaku seperti orang bodoh. “Ini gila. Baru kali ini dirinya membeku dan tak sanggup berkata apa-apa karena seorang gadis. Rasanya begitu aneh dan Ced juga tidak mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.” (hal. 44)

Ced benar-benar berubah setelah itu. Jika dulu dia suka mengurung diri di studionya, sekarang dia suka berlama-lama keluar. Khususnya di hari jumat. Bertepatan dengan  waktu Senna berkunjung ke Bittersweet. Dia dengan sabar akan mengikuti gadis itu hingga sampai di rumah memastikan Senna pulang dengan selamat.  Senna sendiri tidak pernah tahu jika selama ini ada seseorang yang selalu memerhatikannya dari jauh. Sampai pada suatu ketika insiden hujan-lah yang membuatnya mengenal Ced. Dan itulah awal pertemana mereka.

Ced merasa nyaman berada di samping Senna yang memiliki aura kebahagiaan yang tak pernah didapatkannya. Gadis itu sungguh berbeda dengan orang-orang yang selama ini dia kenal. Begitupun dengan Senna, dia senang bisa mengenal Ced yang baik hati juga pekerja keras.  Satu lagi, Ced tidak pernah menyinggung akan kebutaannya.

Kebersamaan itu tanpa mereka sadar tentu saja menumbuhkan perasaan lain di antara mereka. Hanya saja Senna terlalu takut. Dia menyadari siapa dirinya. Dan dia tidak mau serakah dengan mengharap cinta mengingat keadaannya sekarang. Begitupun Ced, dia memang sangat menyukai Senna, tapi sejak melihat ketakutan Senna ketika dia menunjukkan perasan sukanya, membuat Ced berpikir ulang. Jika dengan menjadi teman dia tetap bisa berdekatan dengan gadis itu. Maka dia akan rela melakukannya.

Tapi ternyata tak semudah itu. Sebuah masalah timbul pada carpentry studio, gadis yang disukai--Senna, juga tentang ayahnya. Ced berada dalam kebimbangan haruskan dia bertahan demi mimpinya atau kebahagiaan Senna.  
~*~

Ini novel Arini Putri yang pertama kali aku baca. Tapi aku suka dengan gaya bahasa berceritanya yang renyah dan asyik untuk diikuti. Pelan tapi membuat perasaan tidak menentu, karena menunggu  kejutan-kejutan apa yang dibuat dalam pergantian bab. Penjabaran settingnya juga cukup detail dan membuat hanyut dalam cerita itu. Arini sukses membuat emosiku tertaduk-aduk ketika membaca novel ini. Menggemaskan.

Novel ini sejatinya simpel. Penulis fokus pada tokoh Ced dan Senna. Menggambarkan dengan detail karakter tokoh hingga mudah dibayangkan bagaimana sosok Senna dan Ced.  Namun begitu tokoh-tokoh yang lain seperti, Tanu, Malik, Karin dan Pak Widi juga memiliki peran penting yang membuat cerita semakin berwarna. Sebenarnya aku ingin ada kejutan tersendiri tentang sosok Malik dan Karin. Hheh. Entah kenapa setiap ada Karin, seolah Malik seolah mendorong  Ced untuk selalu bersikap baik. Mungkin karena sesuatu. [Imajinasi sendiri] J Abaikan.

Keunikan dalam novel ini adalah pilihan profesi yang dipilih. Karena memang sangat jarang dari novel-novel romence yang kubaca, menjadikan tokoh utamanya bermimpi menjadi  seorang tukang kayu. But, aku salut penulis mampu menjelaskan detail tentang profesi tukang kayu.sehingga terkesan benar-benar nyata. Juga tentag filosofi kayu itu sendiri. Begitupun dengan pekerjaan Senna sebagai cookies. Sebenarnya biasa saja, tapi karena Senna adalah tuna nertra maka itu menjadi berbeda dan pasti penuh tantangan.

Tema tukang kayu dalam novel ini seolah menyindir tentang pekerjaan tukang kayu yang kadang suka dipandang sebelah mata yang termaktub dalam percakapan ini.

“Kamu yakin bisa terus hidup dari kayu-kayu ini?”

“Ced, ayah enggak besarin kamu kamu buat jadi  tukang kayu. Ayah enggak didik kamu buat megang palu, motong kayu, pakai kaus lusuh kayak gitu, kamu yakin itu mimpi atau kebodohan?” (hal. 147-148)

“Ingat Ced, Ayah enggak akan ngebiarin anak Ayah menjadi tukang kayu lusuh ... di tempat kumuh kayak gini.” (hal. 148)

Padahal, tukang kayu itu pekerjaan halal dan memiliki banyak manfaat. Coba kita berpikir sebentar, jika tidak ada tukang kayu, memang siapa yang akan membuat kursi, meja juga almari dan teman-teman lainnya itu? Maka tak seharusnya orang itu meremehkan pekerjan orang lain.

Masih ditemukan beberapa keselaan dalam penulisan dalam buku ini. Seperti penulisan kita yang menurutku seharunya ditulis kami, karena menyesuaikan artinya. (hal. 9). Lalu penulisan terbalik, di mana harusnya itu ditulis Ced, tapi malah ditulis Malik—seru Malik, berusaha membujuk Malik.  (hal. 21) Kurang tanda titik (hal. 94)

Alur dalam novel ini juga cukup lambat. Aku selalu menunggu-nunggu, kapan masalah terberat dalam novel ini? Kapan klimak cerinta, tapi ternyata aku harus sabar dan berhati-hati untuk mencapai puncaknya.

Tapi lepas dari kekurangannya ..., Come Bacak To Me adalah novel Contemporary Romenance yang recomended untuk dibaca. Tentang keluarga, cinta dan mimpi. Serta kesabaran.  Membaca novel ini  akan membuat kita  gemas dan jatuh cinta dengan tokoh-tokohnya serta cerita itu sendiri.

Novel ini mengajarkan sesuatu yang berharga. Berani mengejar mimpi serta menerima takdir Tuhan dengan lapang. Serta mengingatkan, bahwa sebagai sesama manusia kita tidak boleh menghakimi orang lain berdasarkan propesi yang ditekuni. Juga beberapa pesan yang termatub  dalam quote yang manis.

“Daripada nunggu orang lain minta maaf, lebih baik kita yang  ngucapin itu dulu. Minta maaf itu enggak dosa, kok. Enggak memalukan juga.” (hal. 114)

“Buat bahagia itu nggak susah, kok. Dalam keadaan apapun seharusnya kita bisa bahagia, karena bahagia itu pilihan. Kunci terbesarnya, menikmati apa yang kita punya dan enggak serakah.” (hal. 115)

Photo Challenge

Wah, ternyata sudah sampai tahap ini. Jujur dari semua step yang harus aku lakukan dalam blog tour ini, photo challenge adalah yang paling susah. Karena aku selalu kesulitan pasang muka sedih kalau foto. Soalnya lebih suka foto tebar senyum gitu.

Nah sudah kelas, tinggal nunggu Giveawaynya, akan ada satu novel buat kamu. Tetap pantengin aja, ya

Eh tadi, kan aku dah ngasih gambaran ala aku yang emang demen Korea tentang sosok Senna dan Ced, kalau menurut kamu mereka mirip siapa, sih? Nggak harus artis korea, kok bias artis mana saja. Hehh. Kan bebas berimajinasi, gambar sendiri juga boleh J


[BlogTour] Come Back To Me Interview With Arini Putri


Selamat datang di blog sederhanaku. J Jika kemarin-kemarin aku mungkin hanya posting review buku atau curhatan tentang kisah aku dan buku. Kali ini aku membawa misi lain, lho. J Misi yang insya Allah akan  membuat teman-teman merasa senang. J. Karena kali ini aku datang dengan mengadakan BlogTour #ComeBackToMe karya Kak Arini Putri.

Yup, alhamdulillah aku mendapat kesempatan dari Penerbit Twigora untuk menjadi salah satu host  Blog Tour #ComeBackToMe. Terharu banget.  Ada 1 exlempar novel ini buat yang beruntung nanti. J
Sebelum kenalan dengan novel Come Back To Me, lebi baik kita kenalan dulu sama penulisnya. Kebetulan dalam blog tour kali ini aku  berkesempatan  mewawancarai penulis keren ini. Yuk, cap cus kenalan sama Kak Arini Putri.

Aku            : Apa yang melatar belakangi pembuatan novel ini, Kak? Ide kasarnya dari mana dan  kenapa memilih judul Come Back To Me? Mungkin ada filosofi khusus? 
Kak  Arini : Novel ini mulai ditulis setelah aku mendapat tawaran dari Abang Christian Simamora. Selain itu aku memang tertarik untuk menulis tentang gadis tuna netra. Untuk judul, aku diskusikan bersama Abang. Judul Come Back to Me sendiri muncul dari Abang dan aku merasa pas dengan judul itu. Judul itu aku rasa menggambarkan perasaan Ced dan Senna yang saling merindukan kehadiran satu sama lain.
Aku            : Apa sih motivasi Kak Arini  menjadi penulis?
Kak Arini : Awalnya, aku sendiri juga enggak tahu apa tujuanku menulis novel. Aku pikir, aku menulis cuma karena aku suka dan aku senang melihat reaksi orang-orang setelah membaca karyaku. Tapi seiring waktu, apa yang aku harapkan mulai semakin jelas. Dengan menjadi penulis, aku ingin berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisanku and I want to give them comfort.
Aku            : Menurut Kak Arini bagaimana membuat setting  dalam novel yang baik agar tidak terkesan tempelan?
Kak Arini : Hehe sebenarnya aku merasa belum pantas menjawab pertanyaan ini, karena aku sendiri merasa masih lemah di setting. Tapi sejauh ini panutanku adalah pelajari setting sedetail mungkin, supaya nantinya kamu bisa membangun suasana adegan dengan baik dan menyatu dengan setting. Dan walaupun kita punya banyak pengetahuan tentang setting, masukkan deskripsi setting seperlunya saja, sesuai kebutuhan cerita. Jangan berlebihan karena akan terkesan membosankan dan mirip buku panduan traveling hehehe.
Aku        : Bagi tips dong Kak, bagaimana cara membagi waktu antara menulis dan kesibukan di dunia nyata.  Biasanya kakak menulis itu memiliki jadwal sendiri atau menulis langsung ketika ada ide? 
Kak Arini : Sediakan jadwal untuk menulis. Walaupun cuma sebentar, enggak masalah, yang penting setiap hari ada waktu untuk menulis. Aku biasanya menulis malam hari, karena itu waktu yang paling minim gangguan dari orang-orang rumah. Kalau tiba-tiba terlintas ide, biasanya aku catat dulu garis besarnya.
Aku       : Dari beberapa novel yang sudah Kak Arini terbitkan, novel mana yang paling berkesan dan kenapa? 
Kak Arini : Uhm…mungkin…Goodbye Happiness? Sepertinya aku punya ikatan yang sangat kuat   dengan Skan. Kadang aku kesal sendiri dengan Skan, tapi di sisi lain aku mungkin yang paling sayang sama dia, selain Tink. Dan rasanya sampai saat ini aku masih sering merindukan Skan. Buat aku, walaupun ke depannya akan banyak tokoh-tokoh utama pria yang aku ciptakan, Skan selalu punya tempat di hatiku. ^^ Tapi Ced juga saingan berat buat Skan. Hehehe.

Nah ini ini  hasil wawancara singkat sama Kak Arini. Bagiamana proses kreatif dari pembuatan novel ini. Kalau masih penasaran lebih detail dengan sosok penulis ini ..., aku bocorin deh biodata lengkapnya.

Biodata Kak Arini Putri



ARINI PUTRI
Lahir di Surabaya, 22 Juli 1991. Lulusan Psikologi Universitas Gadjah Mada. Pengagum J.K. Rowling, Lemony Snicket, dan mulai menikmati karya Banana Yoshimoto. Seperti Senna, Arini menikmati baking yang baginya therapeutic.  Punya ketertarikan yang aneh pada lagu lawas Korea. Diam-diam berharap bisa bernyanyi semerdu Kim Taeyeon dan Lea Salonga. Saat ini, masih sibuk menulis novel dan mempelajari bahasa Korea.

Twitter : @arin_ni
Blog : ariniputri.wordpress.com

Nah sudah kenalan kan sama kakak kece ini. Setelah ini tunggu postingan review buku ini. So, jangan ke mana-mana. Tetap ikutin rangkaian blog tour ini, ya J

Kamu juga bisa pantengin BlogTour ini di blog lainnya, lho.  Ini, nih link alamat blog yang bisa kamu pantengin :) 

21 Maret
Mellisa Assa
 (masih berlangsung)


22 Maret
Athaya Irf
(masih berlangsung)

23 Maret
Martina Sugondo
(masih berlangsung)

24 Maret
Anastasia Cynthia Tanawi
(masih berlangsung)

25 Maret
Ratnani Latifah
(Yogi ) 

26 Maret
Asri Rahayu MS

27 Maret
Intan Novriza Kamala Sari

28 Maret
Sri Sulistyowati

29 Maret
LUCKTY GIYAN SUKARNO

30 Maret
Dedul Faithful