Monday, 4 January 2016

[Cerpen] Luka di Sekujur Tubuh Marni


[Dimuat di Radar Banyuwangi [Jawa Pos Group], Edisi; Minggu 3 Januari 2015]

*Kazuhana El Ratna Mida

“Apa ini?!” Pekiknya. Wajah wanita itu menegang. Dia mengerat bibir mendelik dengan napas tertahan. “Sakit,” lirih dia berucap.   Berjuta sakit  kini seolah menjajah tubuhnya. Mencabik, mencakar hingga tubuh itu penuh goresan. Anehnya tubuh wanita itu tak mengeluarkan darah. Hanya saja bekas luka yang ada tidak bisa hilang.
~*~
            Namanya Marni. Wanita itu sudah satu minggu mengurung diri di rumah. Satu minggu pula, dia terus saja merintih kesakitan karena merasa dicakar-cakar di seluruh tubuhnya. Bekasnya pun memang ada. Di seluruh tubuh. Pun tak ketinggalan wajahnya. Sayangnya, Marni tidak tahu siapa yang telah melakukan semua ini. Tidak ada siapapun di kamarnya. Tapi dia selalu merasa dicakar-cakar setiap gerak langkahnya. Setiap hari.

“Bagaimana ini, Bu?” wajah Marni pias. Takut dan bingung. Kalau seperti ini terus bagaimana dia bisa melakukan kegiatan sehari-harinya? Bagaimana dia bisa masuk kerja? Bertemu Karjo, kekasihnya. Lalu  Parjo, Sri atau Imah—teman yang paling dekat dengan dirinya.

“Nanti ibu coba tanya pada orang pintar, ya.” Wanita berusia 40 tahunan itu menenangkan Marni. 

“Sudah mandi dulu sana.”

Marni masih tidak bergerak. Dia menelan ludah. Tentu dia sangat ingin mandi. Tapi ..., setiap kali terpecik air, tubuhnya bukan merasa segar tapi seperti melepuh. Panas dan membuatnya meringis kesakitan. Yah, setiap terkena air badannya seperti digigit semut, hingga rasa perih masuk hingga ke dalam tubuh.

“Kenapa?” menyadari Marni tak juga beranjak dari tempatnya.

Marni menggeleng. Dia bangkit, membiarkan tubuhnya terjamah air hingga rasanya mau mati. Seluruh tubuhnya nyeri dan panas serta mencabik-cabik. Marni sungguh bingung dengan perubahan dirinya yang begitu mendadak ini. Selama ini dia baik-baik saja. Jarang dia terkena sakit. Karena itu dia memiliki predikat pegawai paling rajin di toko tempatnya bekerja, karena jarang izin. Marni wanita dengan tubuh tinggi, berkulit putih dengan wajah ayu yang selalu disukai. Rambutnya yang hitam tergerai, dengan sikapnya yang supel membuat dia memiliki  banyak teman. Dia tidak pernah mencari masalah. Tapi ..., kenapa tiba-tiba dirinya seperti ini? Marni sungguh tidak habis pikir. Setelah Mandi dan menahan sakit yang tadi  menjajah, Marni duduk dihadapan ibunya. Memenuhi panggilan sang ibu yang katanya ingin menanyakan sesuatu.

“Kamu tidak melakukan kesalahan, bukan?” Marni menatap ibunya tidak paham. Keningnya berkerut. Tapi sebentar kemudian dia menyadari ke arah mana tujuan pertanyaan sang ibu. Marni membekap mulut.

“Apa maksud ibu membuat kesalahan? Marni tidak pernah melakukannya.”

Hampir semua warga tahu, Marni memang tergolong wanita yang cukup diminati para lelaki. Kagum bahkan menyukai Marni secara diam-diam. Tapi ..., bagi Marni Karno adalah satu-satunya lelaki yang dicintainya. Yah, hanya lelaki itu. Sosok betubuh tinggi tegap, dengan mata elang dan senyum memikat. Marni sangat menyukainya. Bahkan dia akan rela jika disuruh melakukan apa saja. Siapa yang peduli, yang penting dia ingin membahagiakan lelaki itu. Lelaki yang memiliki hobi berburu.

“Mar, kau tahu kan? Banyak kejadian tentang balas dendam jika cinta ditolak. Meminta bantuan dukun.” Ibunya berucap pelan.

Tiba-tiba Marni teringat dengan Parjo. Yah, lelaki itu ..., dia teman yang cukup dekat dengan Marni. Lelaki yang selalu memberi perhatian lebih meski tahu Marni tengah menjalin hubungan dengan Karno. Ah, tapi tidak mungkin dia melakukan hal sekeji itu bukan? Marni bergidik memikirkan itu. Lagipula Parjo orangnya sangat taat dan terlihat tulus berteman dengannya.  Rajin mengaji dan shalat. Katanya orang-orang seperti itu tidak mungkin menjual iman demi balas dendam. Tapi bukankah setan bisa dengan mudah menjajah pikiran orang yang tengah kalap? Marni menggelengkan kepala. “Itu tidak mungkin!” pekiknya.

Yo wes, ibu tak pergi dulu. Mau tanya sama orang pintar.” Marni hanya menatap kepergian ibunya dalam diam. Lalu rasa sakit kembali menjalar setelah satu jam pesakitan itu berhenti. Marni meringkuk, menggigit bibir menahan sakit yang mulai menggilas tubuhnya.

~*~
Berita Marni sakit sudah menyebar kepelosok desa. Yah, semua orang sepertinya penasaran karena seminggu ini, wanita itu tidak nampak batang hidungnya. Saat teman-teman atau tetangganya menengok, Marni tidak mau menemui. Bahkan jika itu Sri, Imah dan Parjo yang merupakan teman dekatnya. Hanya sang ibu yang menemani berbincang-bincang. Marni malu. Bagaimana dia bisa muncul dengan keadaannya yang sekarang? Tubuh dengan luka cakar di seluruh tubuhnya hingga merusah wajah ayunya itu. Karena hal itu pula Marni malu menemui siapapun. Termasuk Karjo, lelaki yang sangat dirindukannya.

“Marni itu sakit apa, sih. Ditengok kok tidak mau ditemui. Malah mengurung diri.”  Sri mengomel setelah pulang dari rumah Marni.

“Entahlah, mungkin dia kena sakit aneh.” Imah menataap Sri dengan saksama. “Apa maksudmu?”

“Hai, kau tahukan? Jarak rumahku dan Marni? Seolah tidak ada sekat. Nah, setiap malam aku sering mendengar dia mengerang kesakitan. Berteriak keras sekali.”

“Mungkinkah ...?” Sri dan  Imah saling menatap.

“Aku pernah melihatnya melakukan itu.” Sri menggingit bibir. “Yah, aku juga pernah melihatnya.” Imah mendesah. “Ah tapi, entahlah aku bingung.”

“Apa yang membuat kalian bingung?” Parjo menatap  Sri dan Imah dengan kerut di keningnya.

“Apa kau melihatnya juga?” Parjo menatap dua temannya itu, lalu mengangguk perlahan. Dia sendiri kaget ketika melihat kenyataan itu. Bagaimana mungkin Marni bisa melakukan hal sekeji itu?

“Tapi, kita sudah mengingatkannya bukan?”  Imah berusara yang ditaanggapi dengan anggukan.

Marni masih meringkuk sambil menahan tangis. Sakit itu semakin parah. Seolah dia dikuliti bahkan dicincang. Marni menatap dirinya yang sudah tidak karuan. Bekas luka itu membekas di seluruh tubuh. Marni semakin merasa takut untuk pergi ke mana-mana. Dia malu.  Apa yang akan dikatakan orang-orang jika melihat dirinya seperti ini?

“Mar, kau baik-baik saja?” Marni tergelak. Suara itu ..., yang selalu dia rindukan.

“Kau masih tidak mau menemuiku?” Marni menggigit bibir. Ah, bagaimana bisa dia bertemu orang yang paling disukainya dengan keadaan seperti ini? Tapi dia sangat rindu. Sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu.

“Tenanglah, aku tidak akan takut ketika melihatmu. Ibumu sudah menceritakan semua.” Lega rasanya Marni mendengar ucapan Karjo. Hatinya berbunga-bunga. Padahal dia sudah amat takut ketika penyakit ini tiba-tiba menyerangkan. Marni takut gara-gara penyakit ini Karjo akan meninggalkannya.

“Aku boleh masuk?”

“Em.” Marni membukakan pintu, Karjo berdiri tepat di depannya. Menatap dengan pandangan yang sulit diartikan, dan bergegas pergi.  Lalu keesokan harinya berita itu tersebar. Dari mulut satu ke mulut yang lainnya. Berbondong-bondong warga datang untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Ada yang miris dan simpati. Ada juga yang mencela. Marni sudah tidak ambil pusing. Memang apa yang bisa dilakukannya? Dia hanya bisaa pasrah. Bahkan ketika tubuhnya itu semakin lemah karena terus merasakan sakit yang tiada henti. Dan ketika sang ibu menanyakan pada orang pintar ..., hal yang menimpa Marni bukanlah karena santet atau tenun. Bukan itu. Penyakit itu adalah sebab kesalahan yang telah Marni lakukan.

“Jadi maksudmu karena itu Marni sakit?” Sri bertanya pada Imah.

 “Bukankah kau juga melihat saat Marni dan Karjo menyiksa dan membunuh binatang itu—kucing hutan? Lalu mereka memakannya.” Sri dan Imah begidik ngeri.

“Yah, mungkin saja. Kata Parjo dalam sebuah kisah pernah menceritakan, bahwa ada seorang wanita yang disiksa dengan berat karena telah menyakiti seeokor kucing. Aku juga pernah mendengar kisah itu dari kakekku dulu.” Imah menjelaskan. “Mungkin ini yang namanya peringatan. Allah mengganjarnya sebelum kematian datang.” Suara Imah lemah.

“Bukankah Tuhan berhak memberi azab hamba-Nya? Tak peduli apakah harus menunggu ketika sudah di alam kubur atau masih di bumi. Semua Tuhan yang menentukan. Karena Dia Sang Maha Adidaya, sutradara terhebat.”


Srobyong, 28 Oktober 2015

*Penulis Antologi Bersama "Ramadhan in Love" 

10 comments:

  1. Cubit-cubit-cubiiit. Kamu bisa memadukan pesan religi ke dalam cerita dalam porsi sedikit, tapi pesan yang jleeeb. Aku suka cara menggiring rasa penasaranmu pada pembaca tentang keaneha Marni. Beberapa typo asih kutemui Peri---perih, kepelosok---ke pelosok, merusah---merusak, sudaaah---dobel (a), bisaa---dobel (a) juga. Ini tantangan kucing hutan itu, kan? manis banget. Imajinasi yang semakin asyik dinikmati. Barokalloh, ya ...

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Terima kasih Mbak Kay, sudah berkenan mampir. Iya masih sering typo di mana-mana harus lebih jeli. ^_^
    ide ini keinget dari hikayat-hikayat yang pernah aku baca mbak, tentang orang-orang yang diazab ketika menyiksa kucing. yah walaupun
    kucing hutan, tetap saja dia binatang yg harus dilindungi bukn disiksa semaunya. Semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  3. Ceritanya ngalir kayak air. hehee
    suka endingnya, deep bangett

    ReplyDelete
  4. Ah menyenangkan bacanya, lebih nyenengin lagi bisa dimuat di koran hehehe. Sukses yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih sudah mampir di blog sederhana ini. Sukses buat sampeyan juga ^^

      Delete
  5. Sugoii... tulisan ini beneran keren mbk. Alurnya mengalir. Awalnya dibikin penasaran. Hingga akhirnya bisa sgra disimpulkan. Ehh pas ending dugaanku kliru. Behhhh
    Keren keren dan kerennn ini tulisannya mbk Ratna.....

    Meski typo sma double huruf brtbaran. Tidakk mngurangi kcintaan sma tulisannnya smean ini mbkk hhhheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Rohma, sepertinya typo selalu jadi teman setia, hadeh :3

      Delete