Tuesday, 3 November 2015

[Cerpen] Titisan Genderuwo

[Dimuat di Radar Banyuwangi, Jawa Pos Group. Edisi, Minggu 1 November 2015]

*Kazuhana El Ratna Mida

            Siapakah Faisal? Itulah yang selalu menjadi pertanyaanku. Dia berbeda dari kebanyakan anak-anak di sini. Tubuhya berbulu lebat dengan wajah yang agak menyeramkan. Ada bintik-bintik merah membuat siapa saja yang memandang merasa ingin muntah. Bisa dibilang, hampir seluruh penampilannya membuat orang merasa jijik. Tak satu pun warga yang mau dekat-dekat dengannya.

            Lebih aneh lagi, Maria mengatakan bahwa Faisal itu anaknya. Betapa aku kaget mendengar penuturan gadis manis itu. Gadis yang terkenal paling cantik di sekolahan dulu.

~*~

            Faisal langsung menjadi gunjingan panas di desa. Gunjingan yang memekakkan telinga. Konon kabarnya dia  disebut-sebutkan sebagai titisan genderuwo—hantu yang berperawakan tinggi besar dengan bulu-bulu hitam panjang yang menjuntai. Kadangkala matanya merah menyala. Sungguh menyeramkan jika harus melihatnya.

            “Maria itu! Bagaimana bisa dia membawa anak genderuwo? Apa yang dipikirkannya? Apakah dia sudah gila?” cemooh warga yang tengah berkumpul di rumah Bu Mira—istri perangkat desa juga ibuku.

            “Iya, tuh. Mungkin dia sudah gila,” seloroh ibu-ibu lainnya.

            Sedang aku hanya bisa diam menyimak omongan mereka. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Menghujat atau membiarkan apa yang sudah terlanjur ada.

            “Eh Lis, kamu, kan temannya sejak sekolah dulu. Apakah dia pernah menceritakan sesuatu?”

           Semua kini menatap ke arahku. “Maaf, aku tidak tahu.” Kutinggalkan ruang itu dan mengurung diri di kamar. Memikirkan tentang Maria selalu membuatku penasaran.

            Yah, sejak kecil kami tumbuh bersama. Selalu menjadi teman sekelas juga saling berkejaran untuk  meraih juara. Kami juga sering bermain bersama, meski banyak yang tidak setuju. Entah apa alasannya. Padahal, dia siswi paling cantik juga pintar, tapi anehnya tak banyak teman yang mau ada di sisinya.

            Kadang aku juga mendapat teguran ayah dan ibu, tapi dengan usaha keras kuyakinkan mereka bahwa Maria itu baik dan pantas kujadikan teman.

            “Yo wes, Nduk. Semoga dia tak membawa dampak buruk padamu,” ibu mengalah setelah menasihatiku panjang kali lebar.

            Aku pun tersenyum senang. Kebersamaanku dengan Maria semakin dekat saja. ke mana-mana kami selalu bersama. Bahkan setelah lulus SMA kami memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama, meski pada akhirnya Maria tak menyelesaikan kuliah. Dia tidak sanggup membayar kuliah. Dan sejak itu dia hilang tak ada kabar.

~*~

            Mentari sudah menerpa wajah, kulangkahkan kaki menuju rumah Maria. Kulihat dia tengah duduk sambil menemani Faisal bermain.

            “Apa kau tidak mau cerita?” tanyaku setelah duduk di sampingnya. Maria tersenyum dan menatapku.

            “Mau cerita apa? Faisal ini memang anakku, Lis,” ucapnya dengan santai.

            “Tapi ...,” aku tak melanjutkan apa yang sudah mau kulontarkan.

            “Percayalah. Dia bukan seperti yang dikatakan warga. Dia anakku,” ucap Maria tegas.

            “Kamu percaya padaku, kan?” Maria menatapku.

            Aku menghela napas. Entah bagaimana harus menjawab. Antara percaya dan tak percaya. Tapi, aku  masih ingat dengan jelas. Janji yang pernah aku buat dengan Maria untuk terus percaya padanya. Percaya ketika  semua orang memojokkan.

            “Lis!” tepukan hangat membuyarkan lamunanku.

            “Kamu harus percaya. Karena hanya kamu yang aku punya.” Dia mengajak Faisal untuk masuk ke rumah. Sedang aku masih terpaku.

            “Lalu siapa ayahnya dan di mana dia sekarang, Mar?” tanyaku penasaran.

            “Bukankah dia harusnya ikut merawat anak ini?” Mataku menatap Faisal yang sedang asyik bermain sendiri.

            Maria hanya tersenyum dan menggenggam erat tangaku.

~*~

Waktu terus berjalan. Gosip tentang Faisal belum juga reda. Malah semakin ramai dibicarakan.

            “Kita harus mengusirnya bersama anak titisan genderuwo yang menakutkan itu.”

            “Sejak dia kembali, desa menjadi tidak tentram lagi.”

            Berbagai komentar menjejali pikiranku. Warga terlihat sangat marah, mereka merasa ketakutan jika tebakan yang dimiliki selama ini benar. Mereka tak suka ada manusia yang berhubungan dengan hantu, apalagi sampai punya titisan. Ini namanya menyalahi aturan. Seberapa pun aku membela, mereka tidak percaya.

            “Kita tidak bisa membiarkan Maria tinggal di sini, jika terus merawat anak itu. Desa kita nanti bisa kena bencana, karena menyalahi aturan agama,” ucap ibu-ibu yang melapor pada ibuku.

            “Dia harus diusir!” teriak warga sudah tidak mau lagi mendengar penjelasanku.

            Mereka berbondong-bondong ke rumah Maria yang terletak di ujung desa. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Tanyaku sendiri.

            “Bunuh saja! Bakar rumahnya! Usir dari sini!” teriakan warga menggelegar. Dengan tergopoh-gopoh Maria muncul. Dia mempertanyakan ada apa para warga berkumpul di rumahnya.

            “Apa salah saya?” tanyanya dengan wajah sedih.

            “Sungguh dia bukan anak genderuwo. Dia anakku,” kini isakannya telah terdengar.

            “Kami tidak percaya. Mana mungkin anak manusia wujudnya sungguh mengerikan.”

            “Kamu bahkan tidak dapat menunjukkan siapa ayah dari Faisal.”

            Maria menghela napas panjang. Seolah merasa percuma harus menjelaskan tentang jati diri Faisal yang sebenarnya. “Dia memang anakku. Dia lahir dari rahimku,” ucap Maria. Matanya menatap warga dengan penuh kemarahan. Baru bertam kali aku melihatnya semarah itu. Warga memang sudah keterlaluan. Sejak dulu dia selalu disalahkan dan dikucilkan. Aku mendesah.

            Mereka masuk dengan kasar, menyeret Faisal yang tadinya tidur dengan nyaman. Aku terperanjat melihat kebrutalan warga yang begitu berambisi menyingkirkan Maria dan Fasial.

            “Apa yang kalian lakukan? Lepaskan anakku!” teriak Maria. Dia berusaha merebut Fasial yang sedang dibawa warga.

            “Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. Jangan sakiti dia, sakiti saja aku.” Tangis Maria makin pecah.

            Dia memeluk erat Faisal yang sudah berhasil dia rebut secara paksa.

            “Dasar wanita keras kepala.”

            Bug!

            Sebuah pukulan mendarat di tubuh Maria. Segera aku melindungi Maria dari amukan warga.
            Para warga langsung menatapku tajam. Mereka seolah protes kenapa sedari dulu aku selalu membela Maria. Yah, andai dulu tak menolong Maria mungkin dia sudah mati dikeroyok massa bersama ibunya.

            Entahlah, warga terlihat marah ketika melihat Ibu Maria bisa sukses dalam sekejap mata. Mereka iri hingga menyebarkan isu yang mengiris hati. Menyebut Ibu Maria sebagai dukun yang bersekutu dengan setan. Padahal semua yang dicapai adalah dari usaha keras berdoa pada Tuhan dan rajin bekerja.
            Tak berhasil mengusir Maria, mereka pun bubar. Tinggal aku dan Maria yang saling berpelukan. Mana bisa aku meninggalkannya sendirian. Meski aku tahu ketika sampai rumah, ayah dan ibu akan marah.

            Sejak Maria kembali ke desa, ibu sudah mewanti-wantiku untuk tidak dekat-dekat dengannya. Dua tahun dia hilang tak ada kabar, ketika kembali malah membawa anak yang tak tahu darimana asalnya. Ditambah bentuknya yang sungguh mencurigakan, mirip genderuwo yang banyak dibicarakan.

            “Terima kasih, Lis. Kamu masih percaya padaku,” ucap Maria tulus. Aku hanya mengiyakan saja.

~*~

            Dua minggu berlalu, warga sudah tidak lagi mempersalahkan Maria dan Faisal. Alasannya tak kupahami dengan pasti. Maklum setelah kejadian pengusiran saat itu, aku ada urusan ke luar desa. Hingga tak bertemu dengan Maria dalam beberapa waktu. Tapi ketika aku mencoba bertanya, mereka hanya diam tak mau membicarakan.

            Karena tak ada yang mau menjelaskan, aku pun mencari tahu sendiri. Apalagi ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Maria. Aku berencana ke rumah Maria setelah selesai salat Isya’.

            Namun, ketika langkah ini hampir menjangkau teras rumah, kaki ini keram seketika. Jadi, apa yang dikatakan seseorang yang pernah tinggal dengan Maria saat dia tiba-tiba hilang itu benar?

Aku menelan ludah. Merasa bodoh. Apa yang tak seharunya tak kulihat dan kudengar. Aku bergidik ngeri. Kulihat Maria tersenyum menyambut  sosok hitam tinggi besar, berbulu lebat, memasuki rumahnya. “Aku sudah melayanimu. Kau harus membalaskan kematian ibu dan mengembalikan kekayaanku.”


Srobyong, 26 Maret 2015

* Cerpenis Almunus Unisnu Jepara

2 comments:

  1. Kirain endingnya anak yang kena penyakit apa gitu. Wah, sukses terus, ya? Ini yang tantangan Jeumpa bukan?

    ReplyDelete
  2. Makasih Mbak, kay. Sukses buat sampeyan juga ^_^. Soal ending, ini tentang mitos ada anak genderuwo., memang ada atau tidak. Seperti mitos Ratu tirta samudera gitu. memang mengambil anak-anak atau tidak. Jadi tak buat kayak gini. Ini Cerpen lama Mbak, Pernah tak ikutkan event dan gagal, lalu tak perbaiki. Bukan tantangan dari Jeumpa. yang dari tantangan belum berkabar ^_^. Mungkin butuh perbaikan lagi.

    ReplyDelete