Tuesday, 24 November 2015

[Cerpen] Pengadilan Massa

[Dimuat di Radar Banyuwangi, Jawa Pos Group, Edisi Minggu 22 November 2015]



Kau tahu, kenapa kami memilih melakukannya? Memukul, menendang, menghujat bahkan mencemoohnya dengan sejuta kata kasar. Ah, kau pasti tidak tahu. Kami sangat yakin. Kau hanya tahu hal-hal istimewa dari sudut pandangmu. Tapi, kau tetap  harus tahu, sesungguhnya kami sudah hilangan kepercayaan akan keadilan di sini. Jadi inilah jalan terakhir yang kami pilih. Agar kau tahu. Agar dunia tahu.
~*~

Johan dan Ali menghela napas. Menatap lelaki setengah baya yang saat ini ingin menghujat. Mereka tahu lelaki itu sangat marah melihat kejadian yang ada. Berani-beraninya, mereka melakukan tindakan gegabah membuat kacau keadaan yang ada.

“Apa yang kalian pikirkan? Dia bisa meninggal seketika,” ucapnya dengan galak.

“Yah, kami tahu. Andai Bapak tidak datang, mungkin kami telah menjadi pembunuh.” Johan berucap tanpa rasa takut yang menyelimuti.

Pak Kardi—lelaki setengah baya itu menatap mereka tajam. Menggiring, menuju tempat pengap yang memuakkan. Yah, inilah nasib Johan dan Ali, ketika berani melakukan konspirasi; kerjasama menghakimi  secara massa. Tapi, mereka tidak menyesal, malah merasa bangga karena memiliki keberanian untuk menunjukkan suara hati yang selama ini terpendam. Sayangnya mereka tetap gagal.

“Lihatlah! Ini hasil sikap kalian yang sewenang-wenang, menghukum tanpa adanya aturan,” ucap Pak Kardi dengan masam.

“Makanya, jangan asal kroyok, sembarangan orang,” lanjutnya dan berlalu pergi.

“Jadi maksudnya, selain dengan kliennya, kita bisa bebas melakukan pengadilan massa? Bebas menghukum siapa saja yang kita suka?” Johan menatap Ali.

“Mungkin,” ucap Ali lalu tertawa mengejek.

~*~

Sekitar jam setengah delapan malam, setelah waktu Isya’. Saat itu Johan dan Ali sedang asyik mengobrol. Menikmati malam saling menceritakan pengalaman yang terjadi siang hari yang cukup melelahkan. 

Berbicara ke sana ke mari, sesekali tertawa lepas menghilangkan sedikit beban. Beban tentang rusaknya moral penduduk di muka bumi yang hampir menjangkit semua belahan  dunia. Serta maraknya kejahatan terutama kasus seorang anak gedongan yang suka berulah. Kabarnya dia sudah pernah membunuh seseorang dan kerap melakukan pelecehan seksual. Tapi yah, karena banyak uang dia bisa bebas dan berkeliaran. Berbeda dengan rakyat kecil karena kesalahan seujung kuku langsung dilibas dengan banyak tuntutan tak wajar. Bahkan yang tak bersalah pun bisa kena imbasnya. Difitnah dijebloskan ke jeruji besi.

Dunia ini semakin rusak dan tidak memiliki pegangan yang kokoh untuk dijadikan sandaran. Entah pada siapa mereka harus percaya. Semakin lama, kepercayaan yang mereka tanam semakin hilang dengan berjalannya arus waktu yang ada. Aparat yang harusnya melindungi rakyat malah bersembunyi di ketiak kuasa uang. Tidak ada yang bisa diandalkan. 

Kacau, dunia terasa aneh, penuh kejanggalan dan ketidakadilan. Bumi dan langit semakin terlihat jelas dalam kenyataan. Keegoisan pun semakin merajalela. Keharmonisan yang tercipta semakin lama mengkikis orang-orang yang ada.

Nah, saat sedang asyik bercengkrama itu, suara jeritan terdengar di telinga Johan dan Ali. Mereka pun saling memandang, lalu mengangguk dan segera berlari ke sumber asal suara. Sepi, tidak ada siapa pun. Johan menengok ke kanan dan ke kiri. Pun dengan Ali. Tapi hasilnya nihil. Padahal mereka yakin, asal suara itu dari sini.

“Lepaskan, aku mohon.” Sebuah suara terdengar memasuki gendang telinga Johan. Ketakutan. 

“Dari sana!” Ali  menunjukkan sebuah rumah tua yang lama tidak terpakai.

“Tolong!”

Mereka pun bergegas ke sana. Mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Teriakan seseoang itu semakin jelas terdengar.

“Ayo, masuk!”

Mereka melangkah, lalu memeriksa keadaan yang ada. Berjalan mengendap-endap menuju suara yang tadi didengar. 

Suara itu terdengar ketakutan. Seolah bertanda ingin lari menjauh dari tempat ini dengan segera. Tapi kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Mereka masih menebak-nebak.

Lalu sebuah teriakan membuat Johan dan Ali, langsung berlari. Mereka  melihat seseorang yang rambutnya awut-awutan dan menangis karena ketakutan. Sedang baju itu compang camping karena hampir dirusak tangan setan.

Mereka tercengang. Siapa sangka, mereka melihat kejadian ini. Tanpa  komando, mereka langsung menyuruh wanita itu menyingkir dari keributan ini. Sedang mereka memukul, menendang, bahkan mencaci, itulah yang selanjutnya terjadi. Yang langsung dibalas dengan berteriak juga. Makian, bahkan menyumpahi Johan dan Ali akan segera masuk penjara. Akan mendapat ganjaran yang setimpal.

Namun, karena rasa marah yang sudah sampai puncak Johan dan Ali tidak memedulikan ancamannya. Biar saja mereka masuk penjara. Mereka hanya berhasrat untuk melenyapkan orang itu dengan segera. Perbuatannya sungguh mencoreng kepercayaan yang mereka berikan padanya. Memalukan. 

Bagaimana mungkin dia melakukan hal sekeji itu? Dia hampir mencelakai Asiah gadis lugu yang dijadikan pembantu. Gadis  yang tidak tahu bahwa dia telah masuk dalam lubang macan yang sungguh menakutkan. Untunglah mereka datang tepat waktu. Kalau terlambat sedikit saja, Asiah akan habis dicabik-cabik layaknya binatang. Rusak dan tidak lagi punya harga yang mahal.

“Siapa kalian? Jangan campuri urusanku! Dia pembantuku, sudah sewajarnya melayani majikannya.”Dia tersenyum sombong.

Bug! Johan menendangnya. Panas rasanya mendengar setiap kata yang diucapkannya. Memang Asiah hanya pembantu, tapi apakah dia tidak layak dikatan sebagai manusia? Kenapa malah disamakan dengan binatang yang bebas diapakan saja. Sungguh miris hati mereka menyaksikan kenyataan ini.

Bug! Sekali lagi, kali ini Ali yang memberikan pukulan kuat yang membuat wajahnya babak belur. Darah segar mengalir dari mulutnya. Terlihat dia sangat kesakitan juga kelelahan. Mereka  memanfaatkan waktu itu untuk terus menyerangnya.  Namun, saat mereka sudah hampir membunuhnya, suara sirine polisi datang. Mereka menangkap Johan dan Ali. Lalu  menolong dia yang terkapar.

Asiah, entah bagaimana nasibnya. Mereka tadi telah menyuruhnya pergi dahulu agar menenangkan diri dari kejadian itu. Mungkin dia telah kembali ke rumah orang yang mereka pukuli. Mengambil barang lalu pergi. Kasihan Asiah, sebulan lalu, dia pernah bertemu dengan Johan dan Ali, lalu bercerita tentang kehidupan yang dijalani. Dia ke kota katanya untuk memperbaiki nasib yang dimiliki. 

“Aku senang, Mas. Akhirnya mendapat pekerjaan di sini,” ucapnya suatu hari.

Sayangnya Johan dan Ali tidak tahu pada tahu siapa Asiah bekerja saat itu. Gadis itu tidak banyak cerita soal majikannya hanya bersyukur sudah bisa bekerja. Andai sebelumnya tahu, mereka akan melarang Asiah bekerja di sana. Demi keselamatannya. Majikan Asiah itu sungguh berbahaya. Dia  memiliki banyak catatan hitam yang diketahui warga namun ditutup aparat karena kekuasaan. Ah, entahlah.

            Seperti kata lelaki itu,  Johan dan Ali kini berdiri di sini—di penjara yang pernah dikatannya. Uang memang sangat berkuasa. Tidak memedulikan keadilan yang penting ada uang untuk menutup mulut yang ada.

            Dia datang dengan wajah lebam di mana-mana, sambil menatap benci, dia menyuruh Pak Kardi memasukkan mereka segera.

            “Lihat, bukan! Kalian tidak ada apa-apanya. Kalian hanyalah seujung kuku.” Dia tertawa terbahak.

Johan ikut tertawa. “Kau juga hanya seujung kuku di mata Tuhan,” lirih  Ali berucap.

Itulah nasib mereka pada akhirnya. Orang yang mereka pukuli  menang dan  mereka kalah. Mau bagaimana lagi, mereka tidak ada memiliki kekuatan  untuk melawan kuasanya. Uang mereka  hanya cukup untuk makan sehari-hari, berbeda dengan dia yang dengan gampang mengmbil dari bank yang bisa beranak pinak sendiri.

Mereka  ditertawakan, karena kebodohan yang telah terjadi. 

“Dasar? Makanya pikir dulu, kalau mau hakim sendiri. Lihatlah akibatnya seperti ini,” Pak Kardi ikut mengejek. 

Kau sama saja dengan dia. Hanya tunduk pada indahnya limpahan uang yang kau terima. Kau akan bersikap ramah dan membantu jika ada uang di muka. Namun, kau akan bersikap berbeda ketika yang datang adalah para orang tak berada. Kau akan malas membantu malah menyuruhnya menyerah.Johan mengomentari dalam hati. Tentang lemahnya hukum yang ada di negeri ini.

Ada apa ini? Kenapa semua ini terjadi? Di manakah sebenarnya ada keadilan yang tidak dibeli.Ali pun bertanya-tanya dalam hati. 

Sayangnya mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk menegakkan keadilan di negara ini. Sampai dua minggu kemudian ada sebuah berita yang mengguncang. Pengadilan massa menjawab keresahan Johan dan Ali, menunjukkan tegaknya keadilan dengan cara lain.

~*~

Ternyata lelaki itu tidak jera setelah kejadian itu. Dia kembali membuat ulah yang sama. Membawa wanita lain yang dipilihnya. Setelah puas menyalurkan nafsu bejat dan membunuh si wanita, dia berniat pergi. Tapi, ternyata sekumpulan warga telah mencegatnya. Mereka lebih banyak. Bahkan mereka juga lengkap dengan senjata yang menemani. 

Dia menatap takut, dan berjalan mundur. Ancaman yang dikatakannya tidak menciutkan nyali warga yang telah menggunung. Kesabaran yang mereka simpan sudah tidak lagi bisa dibendung. Mentang-mentang memiliki backing yang bisa digunakan sewaktu-waktu, dia bebas melakukan apa yang dia mau.

“Bunuh saja! Biar tahu rasa. Dasar tidak bermoral!” teriak warga.

Mereka memukul, menendang, seperti yang telah Johan dan Ali lakukan dulu. Mereka mencaci lebih kasar dari yang mereka katakan. Kemarahan yang memuncak memang bisa membuat siapa saja lupa daratan. 

Dia meminta ampun, namun tidak dihiraukan warga yang telah semakin gelap mata. Mereka berpikir dia harus dibunuh saja. Kalau dibiarkan hidup dia bisa mengambil banyak mangsa lagi. Lalu ....
Jreb!

Darah segar kelar dari tubuh yang tidak berdaya itu. Dia tak lahi bernapas karena pengadilan massa yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan jahat yang telah dilakukan selama ini. Tabir yang selama ini ditutupi terbuka nyata karena tercium media massa. 

BERITA KORAN PAGI INI. “Semua kejahatannya sudah terungkap. Anak seorang pejabat dengan inisial AN, ditemukan telah meregang nyawa karena pengadilan massa yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuannya. Adanya backing kuat yang melindungi membuatnya berbuat sesuka hati; pembunuhan dan pelecehan seksual.”

Srobyong,   2015



Kazuhana El Ratna Mida, nama pena dari Ratnani Latifah. Tinggal di desa Srobyong-Mlonggo-Jepara. Cerpennya pernah dimuat di Radar Banyuwangi (Jawa Pos Grup), Minggu Pagi. Resensinya dimuat di Radar Sampit. Beberapa karyanya sudah dibukukan dalam antologi bersama. Antara lain  Ramadhan in Love—Indiva, kumpulan puisi Luka-Luka Bangsa—PMU, Lot & Purple Hole—Elex Media Kompuntindo.Alumni Unisnu Jepara. Bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura

5 comments:

  1. wehhh mantap ini teknik penulisannya mbak.e
    tema cerpennya juga begitu sesuai dengan keadaann negeri ini hhheee
    typonya dikit.e mbak.. kayak lahi: lagi, hhhe
    mbak yang kta "hilangan" di awal paragraf itu kayak kurang pas ato gimana ya hhhe
    menurutku alangkan enaknya kan "kehilangan" gitu hhhee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih masukannya Rohma, aku catat buat perbaikan kedepannya ^^

      Delete
  2. Oh iya, Mbak. Kalau ngirim ke Radar Banyuwangi, emailnya apa ya, Mbak? Mohon informasinya... n_n

    ReplyDelete
  3. Oh iya, Mbak. Kalau ngirim ke Radar Banyuwangi, emailnya apa ya, Mbak? Mohon informasinya... n_n

    ReplyDelete
  4. Kirim saja ke budayaradarbwi@gmail.com Discha

    ReplyDelete