Monday, 30 November 2015

[Review] Mengungkap Misteri Patung Garam



Judul               : Misteri Patung Garam
Penulis             : Ruwi Meita
Penerbit           : GagasMedia
Tahun terbit     : Maret, 2015
Cetakan           : Pertama
Halaman          : vi + 278 hlm.
Harga              : Rp. 49.000,-
ISBN               : 979-780-786-x


Siapa sangka garam yang biasanya digunakan untuk bumbu dapur penyedap rasa, sekarang malah  dijadikan senjata untuk membunuh. Masalahnya tidak hanya satu korban yang ditemukan dalam keadaan menjadi patung. Entah ada motif apa dan kenapa bisa garam yang dipilih sebagai alat pembunuhan itu.

Novel ini dibuka dengan ditemukannya Wina—seorang pianist dalam keadaan meninggal dunia (halaman 8). Tubuhnya dilumuri garam—tepatnya mirip sebuah patung garam. Pembunuhan yang sangat artistik. Lalu ditemukan sebuah kode aneh bertuliskan IΔIƩ. Entah apa maksud dari kode itu.
Kiri Lamari adalah seorang inspektur yang diberi wewenang  menangi misteri ini bersama Isnpektur Saut. Mengingat prestastinya yang dulu telah berhasil memecahkan misteri pembunuhan segita biru. Saat Kiri Melihat mayat korban, dia melihat sesuatu mata yang mengingatkan pada ibunya hingga menyulut dendam di hatinya.

Bersama Saut, Kiri mulai menyelidiki kasus itu. Memecahkan potongan-potongan misteri di balik kematian Wina dan dirasakan janggal. Saking semangatnya mengungkapkan kasus itu, Kiri sampai lupa bahwa dia harus menghubungi Kenes—pacarnya begitu tiba di Surabaya.

Kiri memang sangat ambisus soal pekerjaan, apalagi sejak dia menjadi polisi dia mengerti bahwa ibunya tidaklah meninggal karena kecelakaan—sebuah masa lalu yang masih menghantuinya. Kiri semakin terjebak dengan pekerjaan ketika kasus pertama belum terselesaikan kini mayat patung garam kembali ditemukan. (halaman 81) Korban kali ini bernama Leyla seorang pelukis yang lebih suka menyendiri dalam ruang studionya. Di sana juga ditemukan kode yang sama dalam pembunuhaan Wina.

IDIS itulah kata yang dimaksud dari kode itu yang disinyalir memiliki hubungan dengan garam. Kiri harus berterima kassih dengan Kenes yang telah membantunya menguak kode ini. Tapi, tentu dia tidak akan melibatkan kekasihnya lebih dalam di kasus ini. Meski Kiri tahu, Kenes memiliki jiwa petualang yang tinggi. Bahkan mereka akhirnya menjadi pacar karena sama-sama terlibat di kasus segitiga biru.

Apalagi pembunuh kali ini terlihat sangat berbahaya dan psikopat. Kiri berambisis harus segera menyelesaikaan kasus ini dengan segera agar tidak ada lagi korban yang jatuh. Tapi, langkah Kiri masih kalah cepat dengan si pembunuh. Ketika sedikit cela sudah Kiri temukan, korban ketiga kembali ditemukan. (halaman 155) Kiri meradang.  Misteri ini harus segera dipecahkan. Dia tidak ingin membiarkan pembunuh psikopat itu terus berkeliaran. Apalagi dia menyadari bahwa Kenes-lah yang kini menjadi incaran.

Novel detektif mendebarkan. Membuat pembaca ikut menebak-nebak siapa pembunuh yang sebenarnya. Kisah ditutup dengan twits ending yang membuat terkejut dan hanya bisa mengernyitkan kening. Memiliki sisi ilmu pengetahuaan misalnya tentang kegunaan lain dari garam yang ternyata tidak hanya digunakan untuk bumbu dapur. Ada pesan yang tersirat juga di sini, bahwa keluarga adalaah pondasi utama seorang anak. Apa yang dilakukan orangtua itu mempengaruhi batin si anak.

Dapatkan buku ini   di toko buku  online BUKUPEDIA cek infonya di sini  Misteri Patung Garam

Saturday, 28 November 2015

[Review] Menyikapi Cinta Terlarang



Judul buku                  : A Girl Who Loves A Ghost
Penulis                         : Alexia Chen
Penerbit                       : Javanica (PT. Kaurama Buana Antara)
Cetakan                       : 1, November 2014
Halaman                      : 551 hlm
ISBN                           : 978-602-70105-4-3

Slogan cinta tidak mengenal usia mungkin sudah sering didengar. Tapi bagaimana dengan cinta tidak mengenal  dunia, di mana tempat  yang dipijak tidak berada di dunia yang sama.

Novel ini menceritakan tentang  Aleeta Jones, gadis blesteran Indonesia-Amerika yang merasa tersingkir karena status percampuran darahnya. Dia merasa terasing dan dianggap alien. Hanya satu teman dekat yang dimilikinya, Senna. Tapi dia tetap menjalani hidupnya dengan tenang sampai pada suatu hari kabar kematian Nakano Yuto membuat hidup Aleeta berubah. (hal. 15)

Aleeta tidak percaya bahwa apa yang dikatakan ibunya benar. Bahwa dia memiliki kemapuan seperti buyutnya yang seorang cenayang. Dia bisa melihat hantu. Merasakan aura mistis yang membuatnya kadang ketakutan sendiri. Dia melihat Nakano Yuto, korban pembunuhan yang meminta bantuannya. Mengungkap pelaku pembunuhan dan menemukan adiknya.

Nakano Yuto adalah seorang keturunan Jepang yang sukses. Diusianya yang masih mudah dia sudah menjadi seorang direktur perusahaan  ekspor-impor di Bandung. Dia memiliki wajah yang tampan, sedikit arogan yang pastinya bisa membuat banyak wanita tergila-gila. Namun pada kenyataannya dia telah dirampok dan dibunuh. Padahal masih banyak hal yang harus dikerjakan. Mencari adiknya yang hilang juga menyerahkan data untuk menyelamatkan sang ayah. Untungnya dia bertemu dengan Aleeta, seseorang yang bisa melihat bahkan mendengarnya.

Mereka pun akhirnya saling bekerjasama. Pertama sesuai petunjuk Yuto, Aleeta mendatangi rumah besar Nakano. Lalu pergi ke kantor Yuto. Mengambil sebuah berkas sesuai petunjuk Yuto yang pada akhirnya membahayakan hidup Aleeta. Seseorang ingin membunuhnya. (hal. 241) Selain nyawanya, ternyata adik Aleeta pun ikut terkena imbas karena menolong Yuto. Rumah mereka dibobol.

Namun, kebersamaan yang berjalan seiring waktu, ternyata menimbulkan rasa yang lain. Sebuah perasaan yang seharunya tidak boleh dimiliki. Tapi ..., apa mau dikata rasa itu tumbuh dengan sendirinya. Membuat Aleeta bingung sendiri. Dia sangat sadar akan perbedaan mereka. Tapi cinta itu tetepa tumbuh kembang tidak bisa dihentikan. Aleeta mencinta Yuto. Begitupun sebaliknya. (hal. 392) Yuto tahu persaan ini salah. Tapi tetap saja dia tidak bisa menghentikannya. Mereka hanya menyesali kenapa pertemuaan yang terjadi di antara mereka baru terjadi ketika maut telah menjemput. Aleeta sungguh mencintai Yuto dan berharap bisa bersama, meski itu harus menentang nasihat dari buyutnya. Bagaimana kelanjutan kisah mereka bisa langsung membaca dalam buku ini.

Novel romace, tapi ada juga sisi misteri dan thrillernya bahkan kelucuan. Diceritakan dengan apik memakai gaya bahasa yang mudah dicerna. Pemilihan Pov-nya pun memiliki keunikan tersendiri. Memakai sudut pandang Aleeta Jones dan sesekali Yuto. Hanya saja settingnya tidak terlalu hidup. Dan terasa  masih kurang karena tidak dijelaskan dengan detail tentang Hiro. Tiba-tiba dia yang menghilang dan mendadak ditemukan ketika masalah selasai. Padahal sempat terpikir  Hiro nanti akan membantu dalam penyelesaiannya. Tapi tidak mengurangi cerita seru saat membaca.

Ada beberpa pesan yang bisa diambil dari buku ini. Bahwa, hidup dan mati sudah pasti akan menimpa setiap manusia, tidak bisa protes akan takdir yang diberikan oleh Tuhan. Begitupun masalah persahabatan dan cinta. Takdirlah yang akan mempertemukan mereka. “Biarlah takdir yang memilih untukmu.” Hal (39) Tapi bagaimana jika takdir cinta mempertemukan dia insan yang sudah berbeda alam? Seperti yanag dialami Aleeta dan Yuto. Di sini bisa diambil pelajaran, bahwa seberapa besar rasa suka itu, cinta terlarang tidaklah baik untuk dipertanhankan. Karena akan memberi efek saling menyakiti untuk diri sendiri juga orang lain. recomended untuk dibaca.

Thursday, 26 November 2015

[Artikel] Fadhilah Membaca Surat Yaa Siin



Membicarakan surat Yaa Siin, kita pasti sudah sangat hafal dengan nama surat ini. Surat yang senantiasa menjadi dzikir sebagian besar kaum Muslimin, khususnya setiap malam Jum’at. Surat yang terletak di akhir juz dua puluh dua dan awal juz dua puluh tiga dengan delapan puluh tiga ayat ini memiliki banyak fadhilah yang seyogyanya kita ketahui. Setelah mengetahui, rasa cinta pun akan makin tinggi dan bertambah rajin saat membacanya, berlanjut dengan menghafal, menadabburi, dan mendakwahkannya.
Berikut ini lima fadhilah yang akan diunduh bagi siapa yang membaca surat Yaa Siin:

Bagaikan Khatam al-Qur’an Dua Kali

Abu Said Radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Siapa yang membaca surat Yaa Siin satu kali, maka bagaikan khatam al-Qur’an dua kali.”

Diampuni Dosa-dosanya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang membaca surat Yaa Siin dengan tulus ikhlas karena Allah Ta’ala, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu. Maka bacakanlah pada orang-orang yang akan mati (atau orang yang telah mati).”(Hadits riwayat al-Baihaqi)

Jika Dibaca Di Malam Hari

“Barang siapa yang membaca surat Yaa Siin di waktu malam, maka pagi-paginya telah diampunkan dosa baginya.” (Hadits riwayat Abu Na’im)

Ampunan Dosa Setiap Malam

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa yang membaca surat Yaa Siin tiap malam, maka diampunkan dosa baginya.” (Hadits riwayat al-Baihaqi)
Beliau juga berkata, “Barang siapa yang membaca surat Yaa Siin dalam sehari semalam karena mengharap ridha Allah Ta’ala, maka akan diampunkan dosa baginya.”

Tercapai Hajatnya (Keinginannya)

Atha’ bin Abi Rabah berkata, “Barang siapa yang membaca surat Yaa Siin pada siang hari, akan tercapai hajatnya.” (Hadits riwayat ad-Darimi)
Inilah beberapa fadhilah membaca surat Yaa Siin. Semoga bisa mendorong kita lebih bersemangat untuk menjadikan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dzikir. Sebab seutama-utamanya dzikir adalah membaca al-Qur’an.
Setelahnya, alokasikan waktu untuk menghafal al-Qur’an secara umum, dan bisa dimulai dari surat-surat yang mudah dihafal. Kemudian membaca tafsirnya, melakukan tadabbur maknanya, sehingga mudah dipahami dan dijadikan panduan untuk menjalani hidup yang sementara ini. Semoga Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya bersebab al-Qur’an yang senantiasa kita akrabi. [Kazuhana El Ratna Mida/Bersamadakwah]
Editor: Pirman Bahagia





[Review] Keutamaan Bersyukur Ketika Diuji



Judul Buku                  : Bersyukur Saat Diuji
Penulis                         : Pirman
Penerbit                       : Citra Risalah
Cetakan                       :  Pertama, 2015
Halaman                      : viii + 188 halaman
ISBN                           : 978-602-7727-66-3

Bersyukur ketika mendapat ujian adalah hal yang kadang sangat sulit untuk dilakukan. Sebagaimana yang sering terjadi, ketika mendapat cobaan orang-orang lebih suka mengeluh. Padahal ada maksud baik kenapa setiap orang mendapat ujian.

Selama manusia masih hidup, maka ujian akan selalu ada. Tidak mengenal waktu, usia, serta jabatan yang dimiliki. (hal 2) Dalam setiap ujian yang diberikan Allah pada manusia, pasti memiliki hikmah yang bisa didapatkan.(hal 4) Seperti mendekatkan diri pada Allah, bekal kesuksesan, bukti cinta dari-Nya, juga bisa untuk meningkatkan kualitas diri.

 Ujian itu adalah keniscayaan (hal 15). Seyogyanya harus selalu dihadapi dengan sabar dan jangan sampai terpuruk terlalu lama. Walaupun, kadang tidak bisa menampik rasa  kecewa. Tapi jangan membiarkan hati kosong terhadap harapan pada Allah. Mengingat selalu, bahwa Allah itu Maha Tahu dan Maha Mendengar.

Ujian sendiri dibagi menjadi ujian yang tidak kasat mata dan kasat mata. Yang tidak kasat mata itu seperti; ujian hati ; Riya, sombong, dengki dan dendam. Dan yang kasat mata, seperti fisik yang terlihat dan akal pikiran. Semua itu bisa menjadi ujian yang menghancurkan diri manusia, jika tidak dijaga dengan baik.

Bahkan ilmu pengetahuan pun bisa menjadi ujian. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, kadang orang yang berilmu pengetahuan tinggi bisa salah, jalan jika tidak menggunakan ilmu yang dimiliki dengan jalan yang benar. Hal itu bisa diketahui melalui kisah-kisah yang telah lalu yang sudah tertulis dalam kitab Allah.

Selain tentang ujian hati dan fisik, sebenarnya hal-hal  yang berada di sekeliling manusia sendiri pun, bisa menjadi ujian. Orangtua misalnya. Mereka menjadi ujian karena kedurhakaannya pada Allah. Kadang ujian juga berasal dari suami, istri, anak dan harta benda.        
                                                
Semua itu bisa menjadi ujian yang menghancurkan manusia, jika tidak dijaga dengan baik. Semua memiliki porsi sendiri-sendiri. Sejak awal manusia harus memahami tentang tabir nasib dan takdir.                                                     
“Semua yang terjadi di alam raya ini adalah atas kehendak Allah swt. Dialah Khalik Yang Maha Metakdirkan. Semua ada dalam genggamann dan kuasa-Nya. Mulai dari yang terbesar hingga yang paling kecil. Mulai yang rumit hingga yang paling remeh.” (hal 129)

Semua yang terjadi di bumi ini sejatinya sudah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh. Allah sudah menjelaskan melalui kitab-Nya. Bahwa segala ujian bisa dilalui jika manusia itu mau bersabar dan shalat. Karena dengan sabar dan shalat akan membantu menjaga hati untuk selalu berpasrah pada Allah. Setelah mau bersabar maka yang perlu dilakukan selanjutkan saat menghadapi ujian adalah membingkainya dengan syukur dan ikhlas.


Buku yang rekomenden untuk dibaca. Buku ini tidak hanya memuat bagaimana cara bersyukur ketika mendapat ujian. Namun, juga akan membuka tabir bagaimana melihat sebuah ujian dari sisi lain yang jarang terpikirkan oleh kebanyakan manusia. Ada juga kisah-kisah menggugah yang bisa dijadikan teladan untuk perbaikan diri. Tidak hanya cerita dari para Nabi juga sahabat. Ada pula cerita yang dialami oleh orang-orang yang memiliki kesabaran lebih yang selalu bersyukur dalam berbagai keadaan. 

[Review Buku] Ketika Teror Kematian Menunggu


Judul               : Days of Terror
Penulis             : Ruwi Meita
Penerbit           : Bukune
Cetakan           : 1 April 2015
Halaman          : vi + 134 hlm
Harga              : Rp. 34.000
ISBN               : 602-220-155-1


Hanya karena sebuah kalender, hidup seseorang berubah. Hanya karena rasa penasaran dan keingintahuan, kematian telah menunggu. Sebuah kesalahan karena mengambil sebuah barang tanpa tahu manfaat  dan mencoba sesuatu tanpa tahu akibatnya, sekarang menimbulkan penyesalan dan ketakutan.

Ori seorang siswi SMU yang selalu mendapat kesialan. Dia juga punya sifat pelupa dan ceroboh. Dan entah kenapa kesialan yang dialami Ori selalu berhubungan dengan air. Sampai-sampai temannya—Fla meganjurkan dirinya untuk memakai jas hujan saja. Habis setiap ketemu Ori gadis itu selalu saja basah. Tadi pagi saja dia terkena siraman bekas cucian tukang mie ayam.  Sampai suatu ketika kehidupan Ori berubah.

Ori kaget melihat sesuatu yang ada di meja belajarnya. Bentuknya seperti kelender meja. Lalu ada sebuah pena yang berada satu tempat dengan kalender itu. Juga batu pipih berwarna merah.  Dan ketika melihat lebih saksama Ori melihat tulisan almanak di sana. Ori ingin melihat lebih dekat tapi panggilan ibunya membuat dia harus urungkan niat. Tapi karena baju yang harusnya dicuci tertinggal, Ori kembali ke kamar, di sana dia kembali melihat kalender itu, dan menyadari warna batunya telah berubah. (halaman 14)

Tidak hanya itu Ori juga menemukan sesuatu yang luar biasa. Sebuah tulisan yang kemudian dibacanya dengan pelan-pelan. “Kau sang penjelajah waktu. Hanya kau sang empunya masa. Bukalah lembaran kayau. Lantunkan sebuah mantera. Waktu maju maju waktu mundur. Pada suatu ketika waktu beku. Semua bisa terjadi  saat kau... auww!” (halaman 22) Bersamaan Ori membaca tulisan itu tiba-tiba kucingnya yang bernama Boni mencakar tangannya hingga dia tidak tahu lanjutannya.  Bulu kucing itu tegak mengelilingi alamanak itu. Aneh sekali.

Dan sejak itu Kehidupan Ori berubah. Kesialan yang kadang menerpanya berubah menjadi keberutungan yang tidak terduga. Semua berkat alamanak itu. Ori bisa menjelajahi waktu ke manapun yang dia mau. Ori bahkan bisa menghindari bencana air yang biasanya selalu mengusiknya. (halaman 44). Dan pelajaran biologi dadakan yang diadakan dimana teman-temannya mendapat nilai maksimal 6, Ori mendapat nilai sempurna—9,8. (halaman 46)

Tapi di saat kehidupan menyenangkan itu memihak Ori. Kejadian lain yang menakutkan mulai menghantui Ori. Gadis SMA Itu seperti mengalami teror menakutkan yang mengikutinya hingga ke sekolah. Ori selalu dihantui wajah separuh nenek-nenek yang mengintainya. Matanya menatap Ori dengan tajam. Separuh badan nenek itu tembus tembok. (halaman 49) Lalu tidur pun tidak nyenyak karena sering mimpi buruk. (halaman  59)

Belum lagi tentang bayangan yang sering menghantui Ori. Ketika dia bercermin dia melihat sosok tua renta yang membuatnya bergidik ngeri. Tapi dari kejadian itu Ori menyadari sesuatu yang membuatnya memutuskan untuk berpetualangan dengan waktu untuk mencari kebenaran. Dan kebenaran itu sungguh membuat Ori terperanjat.  Ori harus menebus keserakahannya kini harus diganti dengan nyawa.  Entah mungkin ada cara lainnya atau memang hanya itu cara yang bisa ditempuh.

Novel misteri yang cukup menegangkan dan membuat penasaran sejak awal. Ketegangannya membuat penasaran.  Tapi tidak hanya misteri saja tanpa ada amanah yang tersirat.  Dalam novel ini mengajarkan tentang mensyukuri nikmat. Jangan mengubah takdir sesuai kehendak Tuhan. Karena pasti akan ada balasannya. Ada juga pesan yang tersirat bahwa jangan mudah mencoba sesuatu jika tidak mengetahui kegunaan benda itu. Lalu sindiran dalam novel yang begitu menyentil. “Ori, kamu sial karena tidak hati-hati,” (halaman 18) menunjukkan bahwa kesialan bukan karena kutukan atau apapun tapi lebih pada sikap yang dimiliki seseorang. Jika tidak ceroboh pasti bisa terhindar.
Ada juga beberapa kesalahan tulis dalam tanda baca. Tapi tentu tidak menutup kenikmatan untuk membacanyaa hingga selesai. Recomended untuk yang suka misteri. Karena sejak awal pembaca diajak menebak-nebak. Kalau masalah horor belum sampai membuat merinding. Dan ringan karena buku ini tidak terlalu tebal.

Tuesday, 24 November 2015

[Cerpen] Pengadilan Massa

[Dimuat di Radar Banyuwangi, Jawa Pos Group, Edisi Minggu 22 November 2015]



Kau tahu, kenapa kami memilih melakukannya? Memukul, menendang, menghujat bahkan mencemoohnya dengan sejuta kata kasar. Ah, kau pasti tidak tahu. Kami sangat yakin. Kau hanya tahu hal-hal istimewa dari sudut pandangmu. Tapi, kau tetap  harus tahu, sesungguhnya kami sudah hilangan kepercayaan akan keadilan di sini. Jadi inilah jalan terakhir yang kami pilih. Agar kau tahu. Agar dunia tahu.
~*~

Johan dan Ali menghela napas. Menatap lelaki setengah baya yang saat ini ingin menghujat. Mereka tahu lelaki itu sangat marah melihat kejadian yang ada. Berani-beraninya, mereka melakukan tindakan gegabah membuat kacau keadaan yang ada.

“Apa yang kalian pikirkan? Dia bisa meninggal seketika,” ucapnya dengan galak.

“Yah, kami tahu. Andai Bapak tidak datang, mungkin kami telah menjadi pembunuh.” Johan berucap tanpa rasa takut yang menyelimuti.

Pak Kardi—lelaki setengah baya itu menatap mereka tajam. Menggiring, menuju tempat pengap yang memuakkan. Yah, inilah nasib Johan dan Ali, ketika berani melakukan konspirasi; kerjasama menghakimi  secara massa. Tapi, mereka tidak menyesal, malah merasa bangga karena memiliki keberanian untuk menunjukkan suara hati yang selama ini terpendam. Sayangnya mereka tetap gagal.

“Lihatlah! Ini hasil sikap kalian yang sewenang-wenang, menghukum tanpa adanya aturan,” ucap Pak Kardi dengan masam.

“Makanya, jangan asal kroyok, sembarangan orang,” lanjutnya dan berlalu pergi.

“Jadi maksudnya, selain dengan kliennya, kita bisa bebas melakukan pengadilan massa? Bebas menghukum siapa saja yang kita suka?” Johan menatap Ali.

“Mungkin,” ucap Ali lalu tertawa mengejek.

~*~

Sekitar jam setengah delapan malam, setelah waktu Isya’. Saat itu Johan dan Ali sedang asyik mengobrol. Menikmati malam saling menceritakan pengalaman yang terjadi siang hari yang cukup melelahkan. 

Berbicara ke sana ke mari, sesekali tertawa lepas menghilangkan sedikit beban. Beban tentang rusaknya moral penduduk di muka bumi yang hampir menjangkit semua belahan  dunia. Serta maraknya kejahatan terutama kasus seorang anak gedongan yang suka berulah. Kabarnya dia sudah pernah membunuh seseorang dan kerap melakukan pelecehan seksual. Tapi yah, karena banyak uang dia bisa bebas dan berkeliaran. Berbeda dengan rakyat kecil karena kesalahan seujung kuku langsung dilibas dengan banyak tuntutan tak wajar. Bahkan yang tak bersalah pun bisa kena imbasnya. Difitnah dijebloskan ke jeruji besi.

Dunia ini semakin rusak dan tidak memiliki pegangan yang kokoh untuk dijadikan sandaran. Entah pada siapa mereka harus percaya. Semakin lama, kepercayaan yang mereka tanam semakin hilang dengan berjalannya arus waktu yang ada. Aparat yang harusnya melindungi rakyat malah bersembunyi di ketiak kuasa uang. Tidak ada yang bisa diandalkan. 

Kacau, dunia terasa aneh, penuh kejanggalan dan ketidakadilan. Bumi dan langit semakin terlihat jelas dalam kenyataan. Keegoisan pun semakin merajalela. Keharmonisan yang tercipta semakin lama mengkikis orang-orang yang ada.

Nah, saat sedang asyik bercengkrama itu, suara jeritan terdengar di telinga Johan dan Ali. Mereka pun saling memandang, lalu mengangguk dan segera berlari ke sumber asal suara. Sepi, tidak ada siapa pun. Johan menengok ke kanan dan ke kiri. Pun dengan Ali. Tapi hasilnya nihil. Padahal mereka yakin, asal suara itu dari sini.

“Lepaskan, aku mohon.” Sebuah suara terdengar memasuki gendang telinga Johan. Ketakutan. 

“Dari sana!” Ali  menunjukkan sebuah rumah tua yang lama tidak terpakai.

“Tolong!”

Mereka pun bergegas ke sana. Mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Teriakan seseoang itu semakin jelas terdengar.

“Ayo, masuk!”

Mereka melangkah, lalu memeriksa keadaan yang ada. Berjalan mengendap-endap menuju suara yang tadi didengar. 

Suara itu terdengar ketakutan. Seolah bertanda ingin lari menjauh dari tempat ini dengan segera. Tapi kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Mereka masih menebak-nebak.

Lalu sebuah teriakan membuat Johan dan Ali, langsung berlari. Mereka  melihat seseorang yang rambutnya awut-awutan dan menangis karena ketakutan. Sedang baju itu compang camping karena hampir dirusak tangan setan.

Mereka tercengang. Siapa sangka, mereka melihat kejadian ini. Tanpa  komando, mereka langsung menyuruh wanita itu menyingkir dari keributan ini. Sedang mereka memukul, menendang, bahkan mencaci, itulah yang selanjutnya terjadi. Yang langsung dibalas dengan berteriak juga. Makian, bahkan menyumpahi Johan dan Ali akan segera masuk penjara. Akan mendapat ganjaran yang setimpal.

Namun, karena rasa marah yang sudah sampai puncak Johan dan Ali tidak memedulikan ancamannya. Biar saja mereka masuk penjara. Mereka hanya berhasrat untuk melenyapkan orang itu dengan segera. Perbuatannya sungguh mencoreng kepercayaan yang mereka berikan padanya. Memalukan. 

Bagaimana mungkin dia melakukan hal sekeji itu? Dia hampir mencelakai Asiah gadis lugu yang dijadikan pembantu. Gadis  yang tidak tahu bahwa dia telah masuk dalam lubang macan yang sungguh menakutkan. Untunglah mereka datang tepat waktu. Kalau terlambat sedikit saja, Asiah akan habis dicabik-cabik layaknya binatang. Rusak dan tidak lagi punya harga yang mahal.

“Siapa kalian? Jangan campuri urusanku! Dia pembantuku, sudah sewajarnya melayani majikannya.”Dia tersenyum sombong.

Bug! Johan menendangnya. Panas rasanya mendengar setiap kata yang diucapkannya. Memang Asiah hanya pembantu, tapi apakah dia tidak layak dikatan sebagai manusia? Kenapa malah disamakan dengan binatang yang bebas diapakan saja. Sungguh miris hati mereka menyaksikan kenyataan ini.

Bug! Sekali lagi, kali ini Ali yang memberikan pukulan kuat yang membuat wajahnya babak belur. Darah segar mengalir dari mulutnya. Terlihat dia sangat kesakitan juga kelelahan. Mereka  memanfaatkan waktu itu untuk terus menyerangnya.  Namun, saat mereka sudah hampir membunuhnya, suara sirine polisi datang. Mereka menangkap Johan dan Ali. Lalu  menolong dia yang terkapar.

Asiah, entah bagaimana nasibnya. Mereka tadi telah menyuruhnya pergi dahulu agar menenangkan diri dari kejadian itu. Mungkin dia telah kembali ke rumah orang yang mereka pukuli. Mengambil barang lalu pergi. Kasihan Asiah, sebulan lalu, dia pernah bertemu dengan Johan dan Ali, lalu bercerita tentang kehidupan yang dijalani. Dia ke kota katanya untuk memperbaiki nasib yang dimiliki. 

“Aku senang, Mas. Akhirnya mendapat pekerjaan di sini,” ucapnya suatu hari.

Sayangnya Johan dan Ali tidak tahu pada tahu siapa Asiah bekerja saat itu. Gadis itu tidak banyak cerita soal majikannya hanya bersyukur sudah bisa bekerja. Andai sebelumnya tahu, mereka akan melarang Asiah bekerja di sana. Demi keselamatannya. Majikan Asiah itu sungguh berbahaya. Dia  memiliki banyak catatan hitam yang diketahui warga namun ditutup aparat karena kekuasaan. Ah, entahlah.

            Seperti kata lelaki itu,  Johan dan Ali kini berdiri di sini—di penjara yang pernah dikatannya. Uang memang sangat berkuasa. Tidak memedulikan keadilan yang penting ada uang untuk menutup mulut yang ada.

            Dia datang dengan wajah lebam di mana-mana, sambil menatap benci, dia menyuruh Pak Kardi memasukkan mereka segera.

            “Lihat, bukan! Kalian tidak ada apa-apanya. Kalian hanyalah seujung kuku.” Dia tertawa terbahak.

Johan ikut tertawa. “Kau juga hanya seujung kuku di mata Tuhan,” lirih  Ali berucap.

Itulah nasib mereka pada akhirnya. Orang yang mereka pukuli  menang dan  mereka kalah. Mau bagaimana lagi, mereka tidak ada memiliki kekuatan  untuk melawan kuasanya. Uang mereka  hanya cukup untuk makan sehari-hari, berbeda dengan dia yang dengan gampang mengmbil dari bank yang bisa beranak pinak sendiri.

Mereka  ditertawakan, karena kebodohan yang telah terjadi. 

“Dasar? Makanya pikir dulu, kalau mau hakim sendiri. Lihatlah akibatnya seperti ini,” Pak Kardi ikut mengejek. 

Kau sama saja dengan dia. Hanya tunduk pada indahnya limpahan uang yang kau terima. Kau akan bersikap ramah dan membantu jika ada uang di muka. Namun, kau akan bersikap berbeda ketika yang datang adalah para orang tak berada. Kau akan malas membantu malah menyuruhnya menyerah.Johan mengomentari dalam hati. Tentang lemahnya hukum yang ada di negeri ini.

Ada apa ini? Kenapa semua ini terjadi? Di manakah sebenarnya ada keadilan yang tidak dibeli.Ali pun bertanya-tanya dalam hati. 

Sayangnya mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk menegakkan keadilan di negara ini. Sampai dua minggu kemudian ada sebuah berita yang mengguncang. Pengadilan massa menjawab keresahan Johan dan Ali, menunjukkan tegaknya keadilan dengan cara lain.

~*~

Ternyata lelaki itu tidak jera setelah kejadian itu. Dia kembali membuat ulah yang sama. Membawa wanita lain yang dipilihnya. Setelah puas menyalurkan nafsu bejat dan membunuh si wanita, dia berniat pergi. Tapi, ternyata sekumpulan warga telah mencegatnya. Mereka lebih banyak. Bahkan mereka juga lengkap dengan senjata yang menemani. 

Dia menatap takut, dan berjalan mundur. Ancaman yang dikatakannya tidak menciutkan nyali warga yang telah menggunung. Kesabaran yang mereka simpan sudah tidak lagi bisa dibendung. Mentang-mentang memiliki backing yang bisa digunakan sewaktu-waktu, dia bebas melakukan apa yang dia mau.

“Bunuh saja! Biar tahu rasa. Dasar tidak bermoral!” teriak warga.

Mereka memukul, menendang, seperti yang telah Johan dan Ali lakukan dulu. Mereka mencaci lebih kasar dari yang mereka katakan. Kemarahan yang memuncak memang bisa membuat siapa saja lupa daratan. 

Dia meminta ampun, namun tidak dihiraukan warga yang telah semakin gelap mata. Mereka berpikir dia harus dibunuh saja. Kalau dibiarkan hidup dia bisa mengambil banyak mangsa lagi. Lalu ....
Jreb!

Darah segar kelar dari tubuh yang tidak berdaya itu. Dia tak lahi bernapas karena pengadilan massa yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan jahat yang telah dilakukan selama ini. Tabir yang selama ini ditutupi terbuka nyata karena tercium media massa. 

BERITA KORAN PAGI INI. “Semua kejahatannya sudah terungkap. Anak seorang pejabat dengan inisial AN, ditemukan telah meregang nyawa karena pengadilan massa yang sudah tidak tahan lagi dengan kelakuannya. Adanya backing kuat yang melindungi membuatnya berbuat sesuka hati; pembunuhan dan pelecehan seksual.”

Srobyong,   2015



Kazuhana El Ratna Mida, nama pena dari Ratnani Latifah. Tinggal di desa Srobyong-Mlonggo-Jepara. Cerpennya pernah dimuat di Radar Banyuwangi (Jawa Pos Grup), Minggu Pagi. Resensinya dimuat di Radar Sampit. Beberapa karyanya sudah dibukukan dalam antologi bersama. Antara lain  Ramadhan in Love—Indiva, kumpulan puisi Luka-Luka Bangsa—PMU, Lot & Purple Hole—Elex Media Kompuntindo.Alumni Unisnu Jepara. Bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura

Tuesday, 17 November 2015

[Cerpen] Seraut Hati




Aku memanggilnya Lelaki Pelangi. Aku mengenal dia tanpa sengaja di sebuah Negeri Seribu Batu. Kala itu, aku berada di subuh yang paling sunyi. Aku baru selesai mengambil air wudlu ketika mata kami saling bertemu. Yah, detik itu, jantung ini tidak bisa diajak kompromi. Aku pasti gila dengan perasaan ini. Menyukai seseorang yang harusnya tidak boleh kusukai.

~&~

Malam sunyi, aku ke luar dari bilik kamar. Berjalan cepat untuk mengambil air wudhu. Dadaku sontak kaget ketika langkah kaki akan pergi, ada seseorang berdiri di depanku. Sama sepertiku, orang itu pun kaget bukan kepalang. Sepertinya alam bawa sadar telah membuat dia akan salah masuk di tempat wudhu wanita. Dia bergegas  meminta maaf, undur diri. Dan aku bergegas menundukkan kepala. Tapi, entah kenapa setelah itu ..., aku tidak bisa melupakannya.

Aku jadi tidak konsen dalam pekerjaan juga belajar. Dalam tidur malam dia menjadi mimpi terindah yang membuatku senang bukan kepalang.

“Ya Allah bantulah hambamu ini.” Aku merapalkan tangan.

Ah, sungguh perasaan ini mengusik sekali ketenangan yang selama ini kumiliki. Padahal sejak awal aku datang ke sini, harapan yang kuinginkan hanya satu. Membanggakan Ibu sang pemilik cinta. Aku di sini karena beliau. Menjadi anak sholehah yang selalu didamba. Meski aku harus bekerja keras untuk mewujudkan mimpi itu.  Aku menghela napas bergegas meninggalkan ruang perpustakaan. Aku sudah terlalu lama terpekur di sana. Membayangkan senyumnya yang dimiliki yang kucoba hapus berkali-kali. Lalu memikirkan ibu dan amanah yang diembankan dulu.

“Assalamu’alaikum.” Suara itu membuatku terhenyak. Aku yang tadi menunduk kini menatap asal suara. Jantungku langsung berpacu. Mata abu-abunya membuatku grogi.

“Wa-alai-kum-sa-lam.” Aku menjawab dengan gagap. Kaget.

“Maaf soal yang kemarin, aku sungguh tidak sengaja.” Dia tersenyum. Aku membantin, dia mengenalku?

“Namamu Ifa bukan?” dia kembali membuatku kaget. Bahkan dia tahu namaku.

“Hampir semua orang di pesantren ini tahu kamu, Fah. Bahkan orangtuaku.” Dia tersenyum. Aku menelan ludah.

Begitukah? Kenapa aku sangat terkenal? Dia bilang orangtuanya mengenalku? Aku semakin tidak mengerti.

“Jangan bengong saja. Jadi bagaimana?”

“Hah?” aku ternganga.

“Kok, Hah? Aku dimaafkan, bukan?” Dia tersenyum. Dan jantungku kembali berdetak. Bodoh.

“Ah ..., iya. Tentu saja. Saya permisi dulu.” Aku bergegas pergi.  Tidak memedulikan dia yang sepertinya memanggil namaku. Tapi kenapa dia memanggilku? Entahlah. Mungkinkah aku salah dengar? Suara hatiku berkecamuk.

Aku menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. Mencoba mengontrol jantung yang sedari tadi berdetak tidak karuan. Bergegas aku masuk ke kamar dan berganti pakaian dan mulai mengerjakan tugas yang kuemban.

Dan betapa kagetnya aku ketika menatap dia, yang ada berjajar dengan sosok yang selama ini aku hormati karena kebaikan yang selama ini diberikan padaku. Rumah, pekerjaan hingga pendidikan.
Dia tersenyum padaku. Aku menunduk malu. Kebenaran kenapa dia tahu siapa aku pun terungkap. Dan aku pun tahu dia-lah yang selama ini Kiai dan Bu Nyai ceritakan padaku.

~*~

Pagi yang sunyi. Aku teramat lelah. Perjalan jauh sungguh membuatku payah. Yah, kembali dari negeri suci. Di sana aku belajar dan tak ketinggalan untuk melukis ka’bah, sebagai bonusnya. Sudah belajar hampir empat tahun di sana, kenapa tidak sekalian haji saja? Itu yang kulakukan. Tidak kusangka, karena kelelahan yang teramat itu, aku membuat kesalahan terindah. Aku bertemu dengan pemilik senyum sang bidadari yang membuat molekul hatiku bereaksi tanpa aba-aba. 

Dia terlihat sangat pemalu. Dengan gerak cepat dia menghindar, hingga akhirnya aku tahu, ternyata dia ada di sisiku. Ah, sungguh aku tidak menyangka. Aku pun tidak bisa menahan diri. Aku menemuinya. Ingin meminta maaf dan sekaligus mencoba mengenalnya lebih jauh.

Dan seperti kesan kali pertama jumpa. Dia salah tingkah. Menunduk malu, dan aku menertawaknnya dalam diam. Apalagi ketika dia melihatku bersama orang yang paling dia hormati. Dia menunduk malu. Dan gilanya, aku menyukai segala tingkah konyolnya. Senyum malu-malu juga kegagetannya. Dan yang paling aku suka, aku menemukan harta karunnya.

~*~

Aku menatap langit-lagit kamar. Menatap serpihan rindu yang kini menjangkitku. Ah, ini tidak boleh. Dia adalah lelaki pelangi, dan aku bukan siapa-siapa. Tidak pantas aku menyukainya. Ini salah. Bagaimana kalau Kiai dan Bu Nyai tahu? Mereka pasti akan kecewa. Sejak aku nyantri di sini dan menjadi abdi dalem, Bu Nyai memang sering menceritakan putra ketiga beliau yang belajar di Arab. Beliau sangat membanggakannya. Bu Nyai sering bilang, beliau ingin putranya ketiga ini mau dijodohkan dengan seorang putri dari kenalan Pak Kiai.

“Doakan, ya, Fah. Semoga harapan ibu menjadi nyata.” Dan aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.

“Aamiin, insya Allah bisa, Bu.”  Bu Nyai tersenyum semringah.

Aku menghela napas, potongan percakapan yang dulu kembali terngiang. Dan kemarin, Bu Nyai kembali membicarakan itu padaku. Meminta pendapat tentang putri Kiai siapa yang paling cocok untuk dia. Aku menggigit bibir.  Ini seperti cebol ingin mengambil bintang. Lelaki pelangi itu tidak mungkin kuraih. Dia seperti potret sejuta  mimpi yang hanya bisa kupandang dari jauh.  Yah, seperti pelangi yang selalu indah ketika kemunculannya di langit biru. Kemunculan yang jarang namun selalu dirindukan. Meski sejuta cinta kumiliki, itu tidak ada artinya. Aku harus tetap menghapus rasa itu dan berserah pada-Nya.

Dia terlalu indah untukku yang tak memiliki sinar. Redup. Lagi-lagi aku menghela napas. Aku harus melupakannya dengan segera. Mungkin pulang dulu ke desa untuk menenangkan pikiran barang sebentar.

“Yah, aku harus melakukannya.” Aku bangkit dan bersiap menemui Bu Nyai. Malam ini aku akan pergi.

~*~

She like a rose. Mungkin sebutan itu cocok untuknya. Dia tidak seperti kebanyakan bunga yang dengan mudah mengumbar kecantikannya pada sembarang orang. Dia membentengi diri dengan durinya. Menjaga kehormatan dengan segala daya upaya. Aku  sangat mengaguminya. Kupikir aku sudah yakin dengan jawaban yang akan kuberikan pada ibu.

Aku bangkit dari tempat duduk, menatap sejenak buku bersampul cokelat yang kemarin aku temukan. Tentang coretan hujan di atas kertas. Tarian surat cinta terakhir yang nampak terpotong karena aku menemukannya sebelum surat itu terselesaikan. Aku tersenyum penuh arti. Berjalan dengan ringan untuk soan pada abah dan umi. Mengutarakan niat untuk meminang pemilik senyum sang bidadari.  

Srobyong, 4 September 2015


Sebuah naskah  yang saya ikutkan dalam Event Title happy one yang diadakan Muhammad Agus Riwayanto yang bekerja sama dengan Penerbit LovRinz, di mana saya mengambil judul-judul buku yang pernah diterbitkan di Penerbit LovRinz. Dan alhamdulillah bisa menang. ^^