Thursday, 22 October 2015

[Cerpen] Muharam


[Dimuat di Radar Banyuwangi, Jawa Pos Group. Edisi, Minggu 18 Oktober 2015]

*Kazuhana El Ratna Mida

Mata tajam itu terus menatap. Penuh kesal. Sesekali menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Bocah cilek dikandani wongtuo kok gak nurut. Cerutunya mengepulkan asap.

Pokokke bapak orak setuju. Tatapannya berkilat. Eleng, Mid. Pamali gegawean sasi suro.

Khamid hanya diam bergelut dengan  hatinya. Dia harus mencari cara yang baik untuk menjelaskan perihal mitos dan bidah yang seharusnya tidak diimani itu. Agar tidak menyinggung bapaknya. Muharam itu bulan berkah.

~*~

            Khamid menghela napas. Tidak habis pikir saja. Entah kenapa hal-hal yang berbau mistis dan konyol itu disangkut pautkan dengan bulan Muharam—kalau orang Jawa menyebutnya Suro. Diidentikkan dengan bulan yang penuh bencana, kesialan dan musibah. Sehingga warga harus mengantisipasinya dengan ruwatan—pembersihan. Harus mencuci gaman misalnya. Atau tolak balak. Yah, kalau tolak balak dengan cara sesuai syariat sih tidak masalah. Tapi, kenyataan yang ada ke-bid’ah-an yang lebih meraja. Bahkan mendekati syirik. Ah, apakah itu boleh?

            Belum lagi masalah kesialan tentang acara walimah yang dilarang di bulan Muharam—khususnya daerah Jepara. Pamali katanya. Kalau tetap nekat juga, bisa jadi biduk rumah tangganya tidak akan tentram. Atau ..., salah satu bahkan dua mempelai meninggal dunia. Konyol sekali. Itulah yang ada di kepala Khamid. Kenapa harus menyalahkan bulan Muharam? Bencana atau musibah ada itu ya karena memang sudah ketentuan Allah. Bukan karena waktu apalagi disangkutkan bulan yang membawa kesialan.

            Muharam itu bulan berkah. Itulah yang diyakini Khamid. Sebagaimana yang diterangkan gurunya ketika nyantri.

            “Satu tahun itu ada 12 bulan. Ada empat bulan mulia dalam penanggalan hijriah. Yaitu; Zul Qa’dah, Dzul Hijjan, Muharram dan Rajab. Kita harus mengisi bulan-bulan itu dengan memperbanyak amalan ibadah. Seperti puasa  sedekah dan menyantuni anak yatim.”

            “Sudah, Mid. Anut bapakmu ae. Jangan mencari perkara.” Bu Pingit—ibu Khamid menepuk pundak putra keduanya. Membuyarkan segala lamunan yang sedari tadi menjajah.

            “Tapi, Bu—,” Khamid tidak meneruskan ucapannya. Pandangannya tertubruk raut wajah sang ibu yang begitu cemas.

            “Mid, tunggulah sampai bulan sapar. Bisakan?” Bu Pingit menatap Khamid dengan lekat. “Kamu ini tiba-tiba ingin menikah. Apa kamu—,” Nyi Pingit lidahnya terasa kelu.

            “Astagfirullah hal adzim, Bu. Khamid masih punya iman. Apa gunanya mondok kalau akhlak tetap seperti hewan.”

            “Yo wes, nunggu sampai sapar tidak jadi masalah, kan? Kenapa harus buru-buru ingin menikah di bulan suro ini. Seperti tidak ada bulan yang lain.”

            “Khamid hanya ingin menjalankan sunnah Nabi, Bu. Kalau sudah mampu kenapa harus ditunda-tunda?”

            Brak!

            Meja dipukul dengan keras, membuat Khamid dan Bu Pingit kaget dan menatap asal suara. Pak Karno—bapaknya Khamid menatap bulat-bulat pada putranya itu. sedari tadi dinasihati ternyata tidak mempan juga.

            “Koe iki arep dadi opo to, Mid. Dikandani wongtua kok gak gelem gugu. Gunane kue mondok iku opo?” Pak Karno membetulkan letak kacamatanya. Khamid hanya diam sambil menunduk.

            Khamid memilih mengalah. Meninggalkan bapaknya. Dia butuh ketenangan, begitupun sang bapak. Kalau dia ikut ngotot maka yang ada hanyalah debat kusir yang tidak akan ada jalan keluar. Khamid memegang keningnya beberapa kali. Berpikir. Mencari solusi yang terbaik. Dia harus memberikan pengertian agar bapaknya yang memang masih memegang teguh adat jawa itu tidak tersinggung.

~*~

            Bukan tanpa alasan kenapa tiba-tiba Khamid ingin segera melamar Ningsih—gadis lembut yang dikenalnya ketika mondok dulu.  Dia tidak mau perasaannya itu berbuah fitnah jika tidak segera menghalalkannya dalam ikatan pernikahan. Lagipula, kata Nabi Muhammad kalau memang sudah mampu maka bersegerahlah untuk menjalankan sunnah itu. Apalagi dia pun sudah bisa dibilang mapan untuk masalah keuangan. Profesinya sebagai guru cukuplah untuk biaya pernikahan. Kenapa niat sucinya harus terhalang karena mitos yang tidak sahih itu?

            Khamid tidak habis pikir. Namun pada kenyataan yang ada kuatnya adat jawa yang dipegang sang bapak  memang menjadi ganjalan untuk menuju surga karena Allah. Dan dia harus menjelaskan duduk perkara agar bapaknya mengerti. Bahwa menikah di bulan Muharam bukanlah kesialan atau bencana. Tapi anugerah. Karena bulan itu sejatinya bulan pilihan yang istimewa.

            “Kamu itu sungguh keras kepala, Mid.” Pak Karno mengepulkan asap dari mulut. Menatap Khamid yang sepertinya belum menyerah soal permintaannya untuk melamarkan Ningsih.

            “Kowe ngerti rak ...,” Pak Karno kembali menghisap cerutu itu. Masih menatap lekat.

            Khamid hanya mendengarkan dengan diam. Dia harus sabar. Yah, lagi-lagi cerita dongeng tentang masalah bulan Muharram akan kembali didengar. Kali ini bapaknya menceritakan tentang Isah—tetangga yang akhirnya meninggal ketika  dinikahahkan di bulan Muharram. Lalu sang ibu ikut menceritakan tentang Kang Soleh yang rumah tangganya tidak tentram karena dulu juga tidak mau menuruti nasihat orangtua. Percekcokan sering terdengar dan kabar terakhir katanya Kang Soleh selingkuh dan istrinya meminta cerai.

            “Kamu ingin mengulang kejadian yang sama? Menjadi anak durhaka?”

            “Bukan begitu, Pak, Bu. Kalau menurut Khamid semua itu bukan karena bulan Muharam, tapi memang sudah takdir dari Allah. Kebetulan saja terjadi di bulan itu.” Khamid menjelaskan dengan lembut. Khamid menghela napas. “Bukannya mau mengurui, Pak.” Kini dia menatap ibu dan bapaknya bergantian. “Khamid hanya takut pada Allah dan berserah pada-Nya,” lanjutnya.

            “Kalau dalam kitab-kitab yang dulu Khamid pelajari tidak pernah menyebutkan larangan untuk menikah di bulan Muharam atau keharusan memandikan gaman.” Khamid menarik napas sambil melirik bapaknya yang terlihat berang. “Di Al-Quran juga tidak menjelaskan masalah itu. Nabi pun tidak pernah mencontohkan. Hal ini malah menjadi bi’dah yang tidak baik.”

            “Kepercayaan tinggi dari warga sendirilah yang sejatinya membuat segala kejadian seperti yang diberitakan. Semua hanya sugesti.” Khamid menarik napas. “Selama ini Bapak yang mengajari Khamid belajar mengaji, mengkaji berbagai ilmu. Bukankah dulu Bapak pernah bilang, kita boleh melakukan ritual sebagaimana adat jawa yang ada, tapi jangan sampai mengimaninya dan berbuah syirik.”

            Pak Karno menatap putranya. Lekat. Lalu menarik napas panjang. Putranya ini semakin pintar dalam bermain kata. Memahami berbagai ilmu dan budaya dalam sudut pandang yang berbeda. Dadanya bergemuruh. Matanya berkaca-kaca. Bu Pingit pun merasakan hal sama. Apa yang dikatakaan putranya memang benar. Mereka saya yang terlalu ngotot dengan adat budaya yang sudah menjalar sejak zaman dulu.

            “Yo wes. Kalau itu memang keputusanmu bapak maupun ibu sudah tidak bisa menghalangi niatmu. Bapak manut. Semoga segala urusan dimudahkan oleh Allah.” Khamid bernapas lega tidak lupa mengamini doa bapaknya.

~*~

            Suara adzan Magrib menggema dan panggilan Ningsih membuyarkaan Khamid dari kisah masa lalu. Kejadian satu tahun silam. Kini Muharam  telah menyapa lagi. Dia masih bersama Ningsih ditambah Nilam gadis kecilnya. Hanya Allah-lah yang patut dipercaya, bukan berbagai mitos yang meraja, hingga takut mengambil langkah.


Srobyong, 8 Oktober 2015

*Alumnus Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Unisnu Jepara

5 comments:

  1. Ceritanya juga tidak jauh beda dengan di desaku, mbak...
    masih kental dengan hal tersebut. :3

    ReplyDelete
  2. mbakk, jalan-jalan ke blog ku juga ya...
    *Promosi... hee

    ReplyDelete
  3. Iya, kebanyak masalah suro memang banyak mitosnya. Iya, insya Allah Rohma. Makasih yang sudah berkanan mampir ^^

    ReplyDelete
  4. Semua hari adalah baik.

    Eh, emang ga boleh ya nikah bln muharam?
    Hihiiii...
    Aku baru tau

    ReplyDelete
  5. Iya Mbak setiap hari itu baik. Sebuah kepercayaan di daerah saya Mba Anggarni, bahwa suro itu ada mitos larangan melakukan gawe (nikah) karena ditakutkan pernikahan tidak berkah. bisa cekcok rumah tangga atau salah atau meninggal. Wallu a'lam. Tapi emang di bulan suro jarang yang gawe, entr lanjut pas sapar baru mulai ada ngatenan banyak hehhh.

    ReplyDelete