Sunday, 27 September 2015

Pelangi di Masa Kecil

Sumber : Google



Masa kecil itu seperti warna pada pelangi. Bermacam-macam dan memiliki kesan mendalam. Masa kecil identik dengan sikap nakal dan suka bermain. Ah, pokoknya begitulah. Dan aku pun mengalaminya. Menjadi anak-anak yang suka melakukan banyak hal sesuka hati.

Foto masa kecil waktu Tk. Dah hampir punah. 


Asal tahu saja .... Sejak kecil aku sudah memiliki dunia sendiri. Dunia imaji yang kuciptakan sendiri. Ah, aku sering tersenyum jika mengingatnya. Tapi sebentar ..., itu aku simpan dulu, ya. Sebelum kuceritakan semua.

Pertama aku ingin membahas hobi bermainku yang super duper tidak ketulungan. Hehh. Habis semua permainan selalu aku coba. Dimulai dari main dakon, ular naga, main rinso—itu lho lompat tali yang dimulai dari tumit hingga kepala. dan juga deng—ini masih dalam area lompat tali. Aku tunjukin gambarnya saja deh. Susah jelasinnya. Dan pada permainan ini aku termasu jagonya. Kenapa? Karena aku tinggi dan bertubuh kecil jadi paling ringan kalau disuruh lompat sana lompat sini.



Selain mencoba permainan itu aku juga gemar main petak umpet, dan kasti. Nah pada permainan kasti ini lho, kaca rumah hampir pecah gara-gara ulahku dan teman-teman. Duh, jeongmal miane—sungguh kami minta maaf. Itu tidak disengaja. ^^ [Pasang senyum tanpa dosa]

Masih ingat jegglong? Nah itu juga sering aku mainkan.  Main wong-wongan dan main kartu [plek] juga jadi hobi. Aku jago banget. Koleksiku sampai satu tas karena selalu menang. Hehhh.


Selain permainan yang memang bisa dimaikan anak laki-laki dan perempuan, aku juga sering ikut permainan yang biasanya hanya dimainkan anak laki-lagi. Misal berdil-bedilan. Atau main ketapel aku kerap memainkannya. Lalu suka memanjat pohon dan  genteng (kalau ini sepertinya kadang masih aku lakukan sampai sekarang) hehhh. Ngaku.

Aku biasanya suka naik pohon jambu air di rumah nenek sama rambutan. Asyik deh bisa bergelantungan sambil menikmati buah di pohonnya langsung. Aku memang tidak bisa diam hingga karena keaktivan itu aku jatuh dan sempat patah tulang. Tapi tentu tidak kapok. Hehh.

Kenapa aku bisa tomboy? Mungkin karena aku lebih sering bermain sama anak laki-laki .Maklum aku tumbuh bersama dengan tiga sepupu kesemuanya laki-laki. Hanya aku yang perempuan. Tapi peduli apa yang penting senang. Kalau pas hanya aku perempuan tentu aku mengikuti permaian sepupuku itu. Tapi jika ada anak perempuan dari tetangga yang ikut main baru deh main yang asyik untuk dinikmati bersama.

Lepas dari permainan yang dilakukan bersama-sama, kadang aku suka main sendiri. Berbicara sendiri seolah aku adalah tokoh utama dari sebuah cerita. Dan tadi sempat aku singgung di atas. Aku punya imaji yang mana jika aku ditanya kembali apa itu maksud 'benayang?' Dan siapa 'Mak De Rapiah Awalini?' Aku hanya bisa mengulum senyum. Bingung jawabnya. Ye ..., itukan cuma imajinasiku yang liar. Hehhh.

Dan kebiasaan suka berimaji tenyata masih tumbuh hingga sekarang. Aku gemar banget mengkhayal untuk menulis cerpen. hheh. Nah ini numpang narisi aku yang sekarang. ^^



Sudah tidak tomboy, sih. Tapi masih suka cuek. Heheh.  

Pelangi cerita masa kecil ini selamanya akan terukir dalam kenangan. Membuat tersenyum dan geleng-geleng kepala jika mengingatnya. 






11 comments:

  1. Hehehe ternyata feeling saya benar...
    Mbak Ratna itu agak tomboy dikit ketika baca tulisan mbak sebelumnya..

    Sy juga kadang suka ngomong sendiri jd pelaku utama ketika main boneka boneka sm baju popi dr kertas...hihi
    Masa yg manis untuk dilagukan dlm aksara

    Sukses yaa mbak smga terpilih jd juara..m

    ReplyDelete
  2. Hehh, iya memang agak sedikit tomboy dan cuek apa pemalu. heh (abaikan)

    hehh iya main sendirian ngomong sendirian disangka gila mungkin hheh.

    makasih ya Mbak sudah berkenan mampir ^^

    Aamiin. ayuk ikutan juga GA ini ^^

    ReplyDelete
  3. Masih mending tomboy doang, kalo saya sempat jadi preman sekolah juga pas SD. Hihi

    ReplyDelete
  4. Waduh, ati ati mbak kalo naik genteng. nanti jatuh... hehehe

    ReplyDelete
  5. Enak, lho Mas Adi kalau naik genteng. semilir apalagi ada buah rambutan kelengkeg pas lagi berbuah banyak hehhh ^^

    ReplyDelete
  6. Hheh Mbak Anggarani, kadang-kadang Mbak buat ambil rambutan. eh hehhh ^^ dari pada manjta pohonnya kan mudah ambil tangga panjat genteng hhehhh

    ReplyDelete
  7. On BW ... (riuhnya Blogspotnya ... :) )

    Saya mah belum naik genteng euy. Cuma nyampe niti tembok.
    Mampir ke rumahku yuuk, Mba Ratna, ;)

    ReplyDelete
  8. HEhhe, Ada Mbak Dinu (padahal nama aslinya Dini) hehh. Abaikan. Wah, ayok pengen kapan ya bisa kopdaran. Naik genteng itu hal yang paling tidak bisa ditinggalkan Mbak. Bahkan sampai sekarang kalau ada kesempatan suka main di genteng. enak tenang. Hhheh. Apalgi ini mau musim rambutan. metiknya lewat genteng hhhh ^^

    ReplyDelete
  9. Wah sama neh suka berimajinasi saat kecil hehe. Itu permainnan aku banget deh.

    Izin menghitung katanya. Terima kasih sudah ikutan

    ReplyDelete