Sunday, 27 September 2015

[Cerpen] Senyum Buat Sri

[Dimuat di Minggu Pagi KR, Edisi; Jumat, 25 September 2015]

Di sini ditulisnya pake nama asli Ratnani Latifah*bukan nama pena Kazuhana El Ratna Mida  ^^ Ya udah deh nggak apa-apa. Mungkin redaksi punya kebijakan sendiri. Langsung ke inti cerita aja deh. Hheh. Abaikan curhat yang di atas. Ini naskah aslinya :) 
Sejak dulu Sri selalu menunggu. Mendapat seulas senyum tulus yang berasa sangat mahal untuk dimiliki. Yah, untuk mendapatkan itu sepertinya Sri harus berusah kuat bahkan banting tulang. Atau ..., mungkin hanya bisa terwujud ketika adanya sebuah keajaiban? Entahlah, kenapa begitu sulit senyum tulus itu tersungging untuk Sri. Padahal dia sama seperti makhluk hidup lainnya. Tapi entah kenapa dia diperlakukan berbeda.
Sri menghela napas, menatap nanar para staf yang bekerja di rumah sakit. Sejak dulu, Sri selalu berharap akan mendapat perlakuan yang sama di sini.  Mendapat sapaan ramah dari para resepsionis ketika datang berobat atau pada para staf dalam loket pembayaran yang bekerja di sini. Namun, sulit baginya untuk mendapat sambutan ramah itu. Mereka lebih sering menatapnya dengan tatapan tidak terlalu suka dan tidak peduli. Entah salah apa dia dulu pada mereka, hingga diperlakukan seperti itu.
Sri berusaha sabar dan tetap mencoba bertahan. Mau bagaimana lagi hanya di sini rumah sakit terdekat di desanya. Di sini dia bisa sering merawat ibu di sela kerja paruh waktu yang ditekuni. Meski harus makan hati, dia rela asal ibu bisa di rawat di sini.

Ibu Sri memang sudah sering ke rumah sakit karena gagal ginjal yang dideritanya. Dulu, mereka hanya berobat jalan saja. Tapi bertambahnya usia membuat Ibu Sri harus dirawat inap di sini. Semua cara sudah Sri tempuh untuk kesembuhan ibunya. Tapi apa daya kuasa Tuhan tidak dapat ditentangnya. Ibuku yang malang,  jangan khawatir aku akan selalu ada menemani, ucap Sri dalam hati.

Rumah sakit masih lenggang, Sri pergi ke tempat pembayaran untuk mengurusi administrasi pengobatan ibunya.

“Maaf Mbak, biaya cuci darah dan obat untuk Bu Indah kamar nomor 3 ruang bugenvile berapa?” Sri bertanya dengan ramah.

“Mau dilunasi ya, Mbak?” dia bertanya balik pada Sri.

“Maaf—,” Sri menggantung ucapannya, “saya hanya ingin membayar sedikit dulu, nanti sisa kekurangannya akan segera aku lunasi,” jawab Sri agak malu. Ya, maklumlah dia bukan dari keluarga berada yang dengan mudah menyetak uang. Sri harus kerja keras membanting tulang dulu. Untungnya dia hanya membayar biaya cuci darah serta obat ibunya, karena untuk masalah rawat inap, dia memakai kartu bantuan sebagai warga tidak mampu.  Yah, itu sedikit meringankan bebannya. Tapi beban hati tetaplah paling berat karena perbedaan pelayanan karena berbeda derajat. Sri menghela napas panjang, setiap kali mengingat kenyataan itu.

“Ini sudah seminggu sejak Ibu Indah di rawat di sini, kenapa tidak segera dilunasi, Mbak? Kami sudah memberi dispensasi lho, ini bukan tempat hutang Mbak,” ucapannya menohok hati Sri.

Astagfirullah hal adzim. Sri berucap lirih. Mencoba menata hati yang selalu di caci. Sungguh menjadi seorang yang tidak berada itu menyakitakan jika di hina seperti ini.

“Iya, insya Allah besok setelah gajian akan segera saya lunasi, jadi totalnya berapa, Mbak? 

Sri berjalan gontai, entahlah mengatahui total kekurangan yang masih harus dia tanggung. Tapi tidak ada waktu untuk meratapi diri, dia harus  segera pergi. Dia  harus kembali bekerja untuk mendapatkan biaya itu.

Sri melangkah meninggalkan rumah sakit yang semakin ramai dengan pengunjung yang datang. Bersama langkah kaki, dia mencoba melupakan pahit rasa yang menggelayuti. Inilah nasib seorang miskin yang selalu dianggap remeh oleh sebagian orang. Tidak seperti mereka para orang berada yang ketika datang disambut ramah, diberikan ruang paling mewah.

~*~

Di toko kecil ini, Sri bekerja. Mengabdikan diri untuk mendapat sesuap nasi, dan biaya hidup dan perawatan ibunya. Sejak ayahnya meninggal dan ibunya sering sakit, Sri mulai bekerja. Uang  pensiun ayahnya sudah dia pergunakan untuk pengobatan ibunya.

“Sri, kenapa wajahmu murung begitu?” Siska menggoda Sri dengan menjawil hidungnya. Sri hanya diam dan menggeleng.

“Memikirkan perawatan ibumu?”  Siska bertanya lagi.

“Iya Sis, banyak yang harus aku lakukan untuk perawatan ibu,” Sri akhirnya membuka suara.

“Semangat kamu pasti bisa, kamu seorang anak yang berbakti aku salut padamu.” Siska mengacungkan ibu jarinya. Sri hanya tersenyum.

Setelah selesai bekerja, segera Sri kembali ke rumah sakit untuk menami ibunya. Sebelum ke kamar  di mana ibu di rawat, Sri kembali ke loket pembayaran untuk mengurus biaya perawatan sang ibu dan pergi ke apotek. Syukur Alhamdulillah, tadi Siska dan bosnya memberi sedikit bantuan untuk dirinya. Sehingga dia bisa melunasi kekurangan biaya yang mesti ditanggung. Sebenarnya dua hari lalu, dia mencoba menghubungi pamannya—adik dari ibunya yang tinggal di luar kota. Satu-satunya saudara ibunya. Sri ingin meminta tolong tentang masalah biaya perawatan tapi karena tidak bisa dihubungi, Sri akhirnya hanya bisa mengirim pesan yang belum ada kabar hingga sekarang.

“Ada apa lagi, Mbak?” pertanyaannya yang diajukan sungguh menusuk hati Sri. Dia menilai Sri sebagai seorang yang bermasalah. Namun, Sri tetap mencoba bersabar.

“Ini Mbak, mau melunasi kekurangan administrasi.” Sri mengeluarkan uang yang sedari dia simpan. Dengan begini, ibunya akan segera mendapat perawatan, batin Sri.

Mbak  yang bernama Nila itu terdiam, dan langsung mengambil uang yang baru saja Sri sodorkan. Sekarang tinggal ke apotek untuk menebus obat buat ibunya. Sri berjalan ringan, sudah melupakan kekesalan karena selalu diremehkan. Saat ini yang terpenting adalah obat untuk ibunya yang sudah bisa dia beli.

“Bagaimana keadaan Ibu?” Sri sudah duduk di samping ranjangnya.

“Sri, ibu baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana? Jaga kesehatan kamu, Nduk.” Ibu menatap Sri penuh perhatian.

“Iya, insya Allah Bu, Sri baik kok, eh ini buat Ibu, pas bukan obat Ibu sudah habis.” Sri tersenyum riang. Sang ibu langsung memeluk putrinya dengan haru.

“Oh, iya, Sri, kamu sudah bertemu pamanmu? Tadi dia mengunjungi ibu. Katanya kamu mengirim pesan padanya.”  Sri menggeleng.

“Tadi katanya dia ingin bertemu dengan kamu, Sri.” Ibu Sri memberitahu.

~*~

Pagi sudah menjelang. Sri memutuskan jalan-jalan sebentar sebelum menemani ibunya untuk cuci darah yang akan dilakukan hari ini. Sri sengaja pamit kerja sehari ini. Karena rutinitas cuci darah yang harus dilakukan ibunya. Yah, itu dilakukan setiap bulan sekali, maka Sri berusaha keras untuk melunasi tunggakan agar ibunya bisa segera cuci darah. Jadi dia harus terus menabung mempersiapkan semua biaya yang dibutuhkan. Peyakit ibu ini memang sudah kronis dan belum ada jalan keluar. Mungkin satu-satunya adalah transplantasi ginjal dan itu makan banyak biaya.

Sri  duduk santai di kursi depan dekat tempat resepsionis berada. Mencoba berpikir solusi apa yang harus dia lakukan. Tapi,  di sana Sri  malah  melihat dengan jelas, sikap dari para staf rumah sakit yang selalu membeda-bedakan calon pasiennya. Seperti yang mereka lakukan padanya.  Sri menatap miris.

Pun dengan pemandangan yang dia lihat pagi ini. Wanita setengah baya itu diperlakukan sama dengan dirinya. Di pandang sebelah mata, karena berasal dari keluarga kurang mampu yang menggunakan kartu bantuan. Duh Gusti, inikah tempat yang katanya untuk kesejahteraan kesehatan rakyat? Lalu kenapa mereka banyak ketimpangan yang harus dirasakan warga? Apakah kesehatan hanya penting orang yang berada? Dan kami hanya duduk diam menunggu ajal datang? Berbagai pertanyaan berkecamuk di hati Sri.

Sri sungguh tidak habis pikir. Padahal mereka hanya perlu tersenyum ramah, tanpa harus menyakiti dengan ucapannya yang menusuk hati.  Apakah  rasa empati mereka telah mati? Hingga dengan sewenang hati menghakimi kami? Semoga tidak semua rumah sakit seperti ini. Dan kuharap suatu  saat pegawai itu sadar diri dan menjadi lebih baik hati. Doa Sri masih dalam hati.

Sri menghela napas dan bangkit dari duduknya. Mungkin satu bulan lagi dia akan bertemu dengan mbak-mbak yang akan bersikap sinis, memasang wajah tidak suka padanya.

Sri meninggalkan ruang itu dan menelusuri koridor rumah sakit untuk bertemu ibunya, untuk menemani sang ibu cuci darah. Semoga ibunya cepat sembuh. Biarlah harapan ini dia simpan dalam kalbu, menunggu keajaiban menyapa dunia baru. Tentang sebuah senyuman yang dia tunggu.

“Sri!” sebuah panggilan membuat menghentikan langkah. Dia menoleh menatap pamannya yang tengah berbicara dengan beberapa staf rumah sakit. Pamannya melambai menuruh Sri mendekat.

“Kenapa kamu tidak segera menelepon paman kalau keadaan ibumu seperti ini? Kamu mau membuat adiknya ini menjadi durhaka dengan tidak memberikan pertolongan pada kakaknya? Padahal karena ibumu, pamanmu ini bisa menjadi dokter, Sri.” Paman Sri geleng-geleng kepala.

Sri hanya menunduk, dia tak ingin merepotkan pamannya yang sibuk dengan persiapan menyambut bayi pertamanya. Itu juga akan memakan biaya bukan? Namun, karena pamannya, hari itu Sri mendapat senyuman dari staf resepsionis juga Mbak Nila yang tak sengaja berada di sana dan  mendengar percakapan mereka.

Sebuah senyuman yang Sri tahu dengan pasti maknanya. Ketika mereka baru mengetahui bahwa Dokter Ahmad adalah pamannya Sri. Seorang dokter yang dulu pernah bekerja di sini, sebelum pindah ke kota.


Srobyong, 16 September 2015.

Ratnani Latifah, jalan Pasar Mlonggo Kompleks Musala Al-Falah Srobyong RT 04 RW 02 Mlonggo Jepara 59452

Atau bisa membaca versi Koran Minggu Pagi di, http://id.klipingsastra.com/2015/09/senyum-buat-sri.html

16 comments:

  1. Keren banget, Dik. Sukses selalu, ya ... BTW, aku juga lebih Chick kalau kamu pakai Ratnani Latifah. Oops. Jangan marah, ya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Kayla ^^. Eh gitu ya. pendapat ditampung. Lebih simpleya, Mbak. ^^ Kalau ganti nama nggak apa-apa, yaa hehh kadung keseringan pake iitu soalnya ^_^

      Delete
  2. Barakallah, Mbak Ratnani Latifah. Ingin belajar darimu, ih. ^_^
    Setuju sama pendapat Mbak Kayla. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, makasih Mbak Karunia ^^. Belajar bareng yuk. Eh pada suka nama asliku jadi terharu hehh ^_^ maaff lebay kumat

      Delete
  3. Pesan ceritanya kena mba, setuju juga sih sama mba Kayla, hihii 😀

    ReplyDelete
  4. Ahaaii..m
    Untuk kripik manisnya aku kasih bnyak mbak.
    Isinya bagus. Sarat makna bngt. Seperti keadaan realita yg sesungguhnya..
    Selamat ya mbak.eee heee

    Dan untuk kripik pedasnya..
    Tadi ada kata ganti *aku* saat sri nanya ke ptugas yg nmanya nila. Padhal di awal pembicraan pakai kta ganti *saya* mbakm heee

    5 typo mbk.
    Trus 2 kata yg mnurutku kurang pas mbkk
    Kata *sedari* yg lbih pas jika dtambah *tadi*
    Kata *bulan* jika ditambah *se-*

    Overall. Aku suka mbk.
    Dan alurnya mbk Ratna tetap puuhh mantap dahh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehhh jos (Y) Rohma detail pake banget ^^ suka-suka. entar kalau nulis lagi kude meleh buat teliti

      Delete
    2. Xixixixi
      Maaf mbk nya kadar kripik pedasnya lbih bnyak dikit. Heee

      Semngat trrus mbk.e XD

      Delete
  5. Terus ... terusss makin jaya Non. (Maya Madu)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulilah. ^^ ayo Mbak Maya juga pasti bisa

      Delete
    2. Alhamdulillah, makasih Mbak Maya. Ayo sampeyan juga pasti bisa ^^

      Delete
  6. Terus ... terusss makin jaya Non. (Maya Madu)

    ReplyDelete