Friday, 19 January 2018

[Resensi] Risiko dari Sebuah Pilihan

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 7 Januari 2018 


Judul               : Luka yang Kau Tinggal Senja Tadi
Penulis             : Susan Arisanti
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 336 halaman
ISBN               : 978-602-6716-04-0
Peresensi         : Ratnani Latifah


Setiap pilihan sudah pasti memiliki dampak dan risiko. Entah itu baik atau buruk. Di sanalah kita harus siap menerima segela risiko dari apa yang telah kita pilih. Novel ini dengan paparan yang cukup menarik menawarkan sebuah kisah yang tidak hanya membahas cinta, tapi juga tentang keimanan, masalah keluarga, masa lalu, serta dendam.

Mengisahkan tentang Nawaila yang tiba-tiba diminta ayahnya untuk tinggal di pesantren. Menurut sang ayah, hal itu dilakukan untuk membangun pondasi kuat keimanan bagi putrinya. “Papa ingin yang terbaik untuk kalian. Memberikan  fondasi iman yang kokoh. Sebab, iman itu seperti bangunan di mana fondasinya harus kuat. Sebagus apa pun bangunan di mana fondasinya rapuh, maka dia tidak akan bisa dijadikan sebagai tempat tinggal.” (hal 22).

Meski awalnya menolak gagasan itu, pada akhirnya Nawaila tetap pergi ke pesantren. Dia pikir mungkin pilihan itu akan membantunya move on dari mantan kekasinya Harris, yang ternyata selama ini, mau menjalin hubungan dengan dirinya untuk sebuah taruhan. Harga diri Nawaila sungguh terluka.

Namun siapa sangka ketika dia sudah di pesantren, Harris juga ada di sana dengan status yang membuat Nawaila tidak percaya. Nawaila sunggh tidak tahu bahwa Harris adalah putra dari pemilik pesantren yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Nizam (hal 28).  Dan tidak hanya Harris, Kintan—sahabat Harris yang menyebalkan, yang membuat Nawaila jadi bahan taruhan juga ada di sana.
Pada titik inilah, Nawaila kemudian memasuki dunia baru yang tidak pernah dia bayangkan. Dimulai dari hubungannya dengan Harris yang ternyata tidak sesederhana yang dia pikir. Hingga berbagai kejadian yang sempat membuat Nawaila berada dalam bahaya.  Dia hampir tertembak juga terjebak dalam kebarakan.

Di lain sisi Harris yang terlihat selalu tenang itu,  ternyata juga memiliki masalah tidak kalah rumit.  Dia tidak pernah menduga, pilihan yang dia pilih telah menjebakknya dalam buah simalakama.  Masa lalu keluarga yang dia miliki juga sebuah hasutan dari seseorang telah membuat Harris melakukan hal-hal yang tidak terduga.

Pada awalnya dia mendekati Nawaila hanyalah sebagai jalan pemulus untuk memudahkannya dalam membalas dendam pada ayah Nawaila. Tapi siapa sangka dia malah jatuh cinta pada gadis energik itu.  Di sinilah semua dilema dimulai. Apakah dia akan terus meneruskan misinya atau memilih berhenti.
Bersamaan dengan itu, Nawaila yang sejak awal memang sudah menyukai Harris, sangat terpukul dengan kenyataan itu. Dia marah dan merasa dikhianati. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta pada laki-laki yang siap membuat keluarganya celaka?

Novel ini cukup menghibur ketika membacanya. Membuat kita penasaran bagaimana akhir hubungan Nawaila dan Harris yang ternyata tidak sesederhana kelihatannya. Belum lagi keberadaan Karin yang begitu memuja Harris bahwa bersedia menjadi yang kedua.  Yang saya salutkan dari penulis adalah kepiawainnya dalam menyembunyikan setiap klue di balik setiap misteri yang ada. Maka bersiaplah ketika membaca novel ini, untuk menebak-nebak bagaimana akhir ceritanya.

Hanya saja pada beberapa bagian novel ini, ada  yang tidak konsisten (hal 100). Jadi sempat membuat bingung saat membaca.  Selain itu masih ada beberapa kesalahan tulis yang saya temukan.  Dan menyinggung tentang dunia pesantren, jujur saya tidak merasakan aura dunia pesantren dalam novel secara kental. Meski banyak petuah-petuah yang disisipkan penulis yang memang Islam banget, hal itu hanya seperti pemanis tanpa menunjukkan jati diri kehidupan pesantren sepenuhnya.

Namun lepas dari kekurangannya, novel ini banyak memberi pelajaran hidup yang menginspirasi. Banyak hal yang bisa kita pelajari saat membaca novel ini. Bahwa keegoisan hanya akan menyakiti diri sendiri dan orang lain (hal 245). Dan pada akhirnya, pendendam itu akan menyalahkan orang lain dan menjadikan orang lain menderita (hal 256).

Kita juga diingatkan untuk selalu menjaga lisan dan tidak menjelek-jelekkan orang lain. “Orang-orang yang dijelekkan belum tentu memiliki kualitas yang buruk, bisa jadi kitalah yang bermutu rendahan.” (hal 180). Serta selalu menahan amarah. “Orang Islam yang kuat itu adalah yang bisa menahan amarahnya.”  (hal 181).

Srobyong, 16 Desember 2017

Thursday, 18 January 2018

[Resensi] Perseteruan Prabhangkara dengan Mahapatih Gajah Mada

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 5 Januari 2018 


Judul               : Sungging
Penulis             : Alan TH
Penerbit           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : ix + 626 halaman
ISBN               : 978-602-424-414-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Tahta memang membuka jalan kebesaran bangsa, tapi dia juga bisa mengundang pengkhianatan paling keji.” (hal 185).

Mengambil latar sejarah tentang peralihan dari keruntuhan  kerajaan Singhasari dan berdirinya kerajaan Majapahit, novel Sungging menghadirkan sebuah kisah yang tidak biasa. Dalam buku ini penulis mencoba menceritakan tentang peran seorang prabhangkara (seniman—perupa) sekaligus pendekar yang bernama Sungging.

Sejak kecil Sungging tinggal bersama kakek—yang tidak dia ketahui namanya,  yang merupakan seorang pelarian yang diburu kerajaan Mapahit.  Suatu hari, ketika dirasa Sungging sudah mampu,  sang kakek memerintahkannya untuk melakukan pengembaraan sendiri selama dua ribu hari.  Kakeknya berharap dalam kurun waktu itu bisa mendidik Sungging untuk mengenal kehidupan masyarakat umum khususnya  yang tidak dia dapat ketika tinggal di hutan.  

Perjalanan itu akhirnya membuat Sungging tanpa sengaja bertemu dengan Rsi Sanghika—abdi setia kerajaan Singhasri dalam masa kepemimpinan Sri Kartanegara. Namun yang mengejutkan bagi Sungging adalah, kenyataan bahwa Rsi Sanghika ternyata juga diburu oleh perkumpulan dari Majapahit—Kasajaten Kalamura perkumpulan rahasia yang dipimpin Gajah Mada—yang selama ini juga memburu kakeknya (hal 29).  

Rsi Sanghika dicurigai memiliki Kitab Begawan Kstaria yang pernah ditulis Sri Kartanegara.   Di mana kitab itu harus dimusnahkan beserta orang-orang yang pernah membaca dan mempelajari isinya. Agar tidak ada lagi lawan tangguh yang bisa mengalahkannya dalam jagat persilatan, juga membungkam jejak sejarah tentang riwayat dirinya sendiri yang merupakan putra Gajah Pangon—salah satu satria setia Raden Nararya, serta agar dia tetap bisa mengontrol Majapahit.

“Bukankah keserakahan adalah biang dari segala perang? Dulu, sekarang, juga nanti! Di sini, negeri leluhurmu atau di mana saja!” (hal 378).

Bersama Rsi Sanghika, Sungging kemudian melakukan perjalanan menuju Majapahit untuk menemui   Gajah Mada. Selama perjalanan itu Rsi Sanghika memaparkan sejarah kejayaan kerajaan Singhasari di masa Sri Kartanegara hingga masa runtuh dan berdiri kerajaan Majapahit—hingga saat itu dipimpin oleh Ratu Tribuwana.  Di mana dari sejarah panjang itu, akhirnya Sungging tahu bahwa dia masih memiliki darah keturunan  Negeri Atap Langit—sekarang Cina—dari salah satu jendrela besar yang sangat kuat—Jenderal Kau Hsing.

Kenyataan itu sekaligus membuka tabir tentang kekejaman perang. Dimulai dari pemberontakan Jayakatwang—bupati Gelang-gelang, persekutuan antara Raden Nararya—yang nantinya berubah menjadi Raden Wijaya dengan pasukan Khubila Khan dari Mongol dan penghianatan Raden Nararya terhadap Mongol.

Selain itu Sungging juga akhirnya tahu bahwa selama ini, kakeknya telah mengajarkan laku ilmu dari Kitab Begawan Ksatria. Hal inilah yang membuat Rsi Sanghika mewanti-wanti Sungging agar tidak memperlihatkan jurus silatnya secara sembarangan. Karena jika sampai diketahui, maka dia pun bisa dalam bahaya dan menjadi buruan dari Majapahit. Namun sayangnya, Sungging melupakan pesan gurunya. Dia pernah memperlihatkan jurus silatnya tanpa sengaja.

Pada titik ini, akhirnya Rsi Sanghika dan Sungging tidak bisa menghindari pertempuran. Ketika Rsi Sanghika mulai melawan Gajah Mada, Sungging sendiri harus berhadapan dengan orang-orang yang telah membunuh kakeknya. “Kuasa tak lebih dari sumber kesengsaraan dan petaka.” (hal 418).

Pertempuran itu juga menjadi titik awal perpisahan Sungging dan Rsi Sanghika. Serta  awal perjalanan  Sungging secara mandiri dalam usahanya menjatuhkan Gajah Mada, agar tidak lagi bertindak semana-mena atas nama agama dan tahta Majapahit (hal 552).  Namun berhasilkan Sungging  mengalahkan Gajah Mada? Dan bagaimana nasib Rsi Sanghika?

Sebagai novel pertama dari dwilog yang direncakan penulis tentang kisah Sungging ini, novel ini patut diperhitungkan untuk dibaca. Cara pemaparan penulis dalam menjabarkan antara sejarah dan sastra sangat menarik. Penuh intrik pengkhianatan, korup dan penindasan. Di sini kita bisa diajak menyelami makna kesetiaan juga arti penting memiliki kekuasaan. Bahwa seseorang yang memiliki kekuasaan tidak semestinya menjadi penindas,  peperangan selalu menimbulkan kesengsaraan.

Dan kita juga diingatkan pentingnya memiliki wawasan agar tidak mudah terjebak pada kebohongan. “Wawasan berguna agar kita bisa menempatkan segala perkara dengan benar. Ingatan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bisa meneruskan kebaikan yang sudah ada.” (hal 393).

Srobyong, 16 Desember 2017 

Thursday, 11 January 2018

[Review Buku] Pentingnya Kejujuran dalam Menjalin Hubungan.

Sumber Pixiz 


Judul               :  Love on Probation
Penulis             : Christina Juzwar
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Halaman          : 328 hlm
ISBN               : 978-602-03-2721-1

Tentang rentan waktu 30 hari dan pentingnya membangun kejujuran dalam membangun hubungan. Kita tidak pernah tahu kejadian apa yang akan menyambut di depan mata. Karena itu, berusaha sekuat tenanga meraih harapan itu lebih baik, sebelum kesempatan itu hilang.  Dan kita juga tidak akan tahu, bahwa kebohongan tidak mungkin tercium suatu saat jika waktunya tiba. Betapa penting usur kejujuran diterapkan dalam hubungan agar tidak ada kesalahpahaman yang membuat sebuah hubungan menjadi runyam.

Novel ini merupakan  lanjutan cerpen ‘Stuck With You’ dalam kumpulan cerpen ‘Autumn Once More’.  Novel romance metropop  yang manis dan sangat menghibur. Penulis mampu menghidupkan ruh para tokoh, membuat membaca seolah masuk dalam kisah yang dipaparkan.

Kisah dibukan dengan kemarahan Lita yang sudah dipuncak. Ares sendiri yang mengajaknya kencan. Namun pria itu tidak muncul. Tidak ada SMS, BBM, WhatsApp atau pun telepon. Kabar baru ada setelah tiga jam menunggu dengan segala kedongkolan. Dan ketika Lita bertanya alasannya, pria itu malah membentak, membuat Lita sakit hati—Ares tidak jujur (hal 10). Sejak itu, Lita tidak ingin berurusan dengan Ares. Dia kecewa dan marah.

Ares sendiri memiliki alasan kenapa dia harus melakukan hal itu. Sebuah kesalahan yang cukup membuat kesan juga menyesal. Dan sekarang dia sedang berusaha memperbaikinya. Yaitu menujukkan ketulusan pada Lita. Bahwa apa yang terjadi di hari kencan itu adalah ketidaksengajaan.  Ares berusaha meminta maaf, meski Lita selalu menanggapinya dengan dingin dan marah-marah. Ares berharap Lita memberinya kesempatan untuk melakukan second date. Tapi tentu saja Lita dengan cepat menolak.

Namun melihat kegigihan Ares, lambat laun membuat Lita mengalah. Dia menerima ajakan date yang sempat tertunda.  Tapi untuk menyerahkan hati seutuhnya, entah kenapa Lita belum terlalu yakin. Apalagi kehidupan Ares terlihat banyak menyimpan rahasia.   Meski begitu, Ares tetap bertahan. Dia meminta kesempatan pada Lita untuk saling mengenal selama 30 hari.

“Karena itu aku meminta kamu waktu, Lit. Dan kesempatan. Saling mengenal satu sama lain lebih dekat. Aku ingin meyakinkan kamu bahwa aku serius. And, hopefully, bisa menyakinkan dirimu sendiri tentang aku. Kalau dalam tiga puluh hari kamu nggak sreg,  you can leave. Aku nggak akan mencegahmu.” (hal 128).

Meski awalnya Lita sempat tidak setuju, pada akhirnya dia mencoba sedikit memberi kesempatan pada Ares selama tiga puluh hari. Perlahan Lita mulai mengenal sisi lain dari Ares.  Dia juga akhirnya mengerti kenapa Ares tidak datang pada kencannya dulu. Hanya saja itu tidak cukup membuat Lita yakin terhadap perasaannya.  Berbagai pertimbangan membuatnya ragu.  Dan karena alasan itulah yang masih membuat Lita menyimpan sebuah rahasia dan tidak jujur kepada Ares tentang masa lalunya yang kelam.

Namun sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Rahasia kelam Lita yang terukir dalam bekas luka di punggungnya, akhirnya terungkap juga.  Hal ini cukup membuat Ares marah. “Our  relationship is not going to work if you keeping a secret like this.” (hal 307).

Memakai gaya bahasa yang mengalir, renyah dan memikat, membuat novel ini sangat asyik untuk dinikmati.   Ditambah lagi covernya yang manis semakin membuat novel ini menarik. Alurnya meski bisa ditebak sejak awal, entah kenapa tidak membuat bosan untuk membaca hingga akhir. Penulis dengan lihai membuat pembaca penasaran dan menggiringnya untuk menemukan puzzle-puzzle yang tersimpan rapi.

Membaca novel ini mengajarkan tentang makna ketulisan cinta,  pentingnya menjaga komunikasi, kejujuran dan  kepercayaan.   Selain itu juga mengajarkan pada kita untuk tidak memelihara pikiran buruk. Karena efek dari negatif thinking pada akhirnya akan kembali pada diri sendiri.  Be positif thingking. “Hidup  nggak mulus-mulus amat. Pasti akan ketemu masalah. Tapi nggak mungkin nggak ada penyelesaian.” (hal 136).  Bahwa dalam hidup itu tidak ada yang berjalan mulus selalu ada ujian namun akan selalu ada penyelesaian.  Recomended dibaca.

Srobyong, 14 November 2016



Wednesday, 10 January 2018

[Review Buku] Indahnya Saling Memaafkan

Sumber Pizix 

Judul               : Rule of Thirds
Penulis             : Suarcani
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Desember 2016
Tebal               : 279 halaman
ISBN               : 978-602-03-3475-2

 “Memaafkan  orang lain itu sama artinya kamu memaafkan diri sendiri. Tidakkah kamu sadar,  dengan memendam kemarahan seperti ini pun kamu sebenarnya sudah berbuat salah?” (hal 182).

Memaaafkan kadang memang sulit. Apalagi jika orang itu telah menorehkan banyak luka pada hidup kita. Namun akankan selamanya kita memendam kemarahan? Padahal Tuhan selalu mengingatkan untuk menjadi pribadi yang saling memaafkan. Karena dengan begitu, hati menjadi tenang dan pastinya kita tidak memutus tali silaturrahmi. Karena Tuhan tidak suka terhadap hamba-hamba-Nya yang memutus tali keluarga dan persaudaraan.

Novel ini berkisah tentang  Ladys dan Dias yang sama-sama memiliki luka. Mereka disakiti oleh orang-orang yang paling mereka sayangi. Sehingga tanpa mereka sadari  kebencian terus mendekam dalam diri mereka.  Baik Ladys maupun Dias sama-sama mepupuknya dengan subur, sehingga ketika dalam suatu kesempatan mereka saling bertatap muka, keduanya bingung bagaimana dalam mengambil sikap—memilih memaafkan atau merawat amarah.

Ladys, akhirnya kembali ke Bali demi mengejar cinta Esa. Padahal sudah tiga belas tahun dia tinggal di Seoul bersama papanya, demi merawat luka dan amarah karena perbuatan jahat ibunya.  Karena Bali adalah tempat penuh memori yang membuatnya sedih dan ketakutan. Tapi ketika  Ladys mengenal Esa, dia berharap kenangan buruk itu akan sirna. Bahkan dia rela meninggalkan kariernya sebagai fotografer fashion.

Tapi ternyata harapan Ladys tidak seindah yang ada di dalam bayangannya. Ketika dia akhirnya tiba di Bali, dia mendapati kenyataan bahwa kekasihnya—Esa ternyata telah berselingkuh—bahkan sudah hampir menikah (hal 35).  Ternyata Bali tidak pernah berubah, tempat itu kembali menyisakan luka dan amarah pada Ladys. Seperti sang ibu yang juga tega mengkhianati papanya demi laki-laki lain.
Di sinilah Ladys akhirnya mengenal Dias. Laki-laki yang juga menyimpan banyak amarah karena masalah keluarganya. Ayahnya suka mabuk-mabukkan dan ibunya meninggalkan mereka, lalu menikah lagi.  Belum lagi kenyataan bahwa kekasihnya—Prajna juga sudah berkali-kali mengkhianti kepercayaannya.

Pertemua dua anak manusia yang sama-sama mengalami luka ini, akhirnya mengatarkan pada kisah-kisah tidak terduga. Ladys yang awalnya tidak terlalu suka dengan Dias yang sangat dingin dan terkesan sombong, malah kemudian bersimpati pada Dias. Apalagi Dias ternyata sangat berbakat dalam masalah fotografi. Padahal sebelumnya, Ladys sempat meremehkan keahliannya. Namun siapa sangka ternyata Dias malah berhasil menjadi juara dalam suatu lomba fotografi. Ladys pun akhirnya mengakui kemampuan Dias dan minta diajari bagaimana mengambil foto sebagaimana yang dilakukan Dias.

Dan seringnya bersama Ladys, lambat laut membuat Dias semakin mengenal Ladys yang ternyata memiliki cerita hidup tidak jauh dari dirinya. Hal ini-lah yang membuat Dias akhirnya berani jujur dan saling berkisah tentang kehidupan keluarga dan masalah cinta mereka.

Bahkan keduanya sama-sama berusaha mencari tahu bagaimana keadaan orang-orang di masa lalu yang telah menebarkan luka.  Meski mereka tidak yakin ... sanggupkah mereka bertemu kembali dan membuka pintu maaf jika  mereka meminta pengampunan?

“Semakin lama kamu memendam amarah, semakin kamu menunda datangnya bahagia. Tidak ada yang lebih melegakan ketimbang bisa memaafkan orang lain.” (hal 184).

Bisa dibilang novel ini mengangkat tema yang cukup umum—masa lalu dan luka yang dibaluk kisah cinta dan masalah keluarga. Namun penulis mengeksekusinya dengan apik, sehingga membuat novel ini terasa hidup. Bagaimana Ladys dan Dias yang sama-sama berusaha melepas masa lalu, namun ternyata hal itu tidak semudah yang mereka pikir, ketika keikhlasan tidak bersemayam di hati mereka.
Dan cerita semakin menarik ketika ada cinta yang tumbuh berkembang. Meski di sini saya harus dibuat gemas dengan Ladys yang benar-benar kesulitan move on dari Esa, serta Dias yang terlalu baik hingga selalu mengalah. Dan yang lebih gemas adalah mereka tidak menyadari rasa lain yang  mulai tumbuh subur.

Beruntung kisah dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat, sehingga kisahnya tetap asyik untuk diikuti. Penulis dengan  lihai mengaduk-aduk emosi dengan kisah yang ditawarkan. Dan meski mengambil tema sederhana yang sudah saya katakan sebelumnya, namun tema tersebut tetap memiliki nilai jual yang mempu memikat pembaca. Belum lagi cover novel yang menurut saya meski terlihat sederhana namun ada sisi elegan. Sejak melihat covernya saya sudah sangat penasaran dengan novel ini.

Keunggulan lainnya adalah penjabaran setting yang jauh dari kesan tempelan. Saya merasa penggambaran Bali cukup membuat saya merasakan suasana di sana. Dan  pengambilan pov—sudut pandang pertama masing-masing tokoh, membuat kita tahu bagaimana watak Ladys dan Dias. Namun pemilihan pov  juga menjadi kekurangan dalam novel ini. Di mana tidak ada batas mulai dan akhir dari pembagian pov, yang membuat bingung.  Padahal jika ada batas peralihan pov masing-masing tokoh, pasti akan membuat pembaca lebih nyaman. Namun lepas dari kekurangannya ... novel ini menarik untuk dibaca. Apalagi bagi yang suka fotografi, di sini banyak ilmu yang bisa dipetik pembelajaran.  


Srobyong, 26 Juni 2017 

[Resensi] Berani Hidup Lebih Kreatif

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 31 Desember 2017 


Judul               : Big Magic: Perburuan Menemukan Kehidupan Kreatif
Penulis             : Elizabeth Gilbert
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : Pertama, Juli 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-0851-84-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


Ini naskah asli ketika mengirim, yang akhirnya dipotong sama redaksi Tribun Jateng :) 

Apa itu kehidupan kreatif dan perlukan kita memburunya? Hidup kreatif berarti kita berani menjalani hidup dengan lebih mengandalkan keingintahuan daripada rasa takut.  Dan kita sangat perlu untuk memburunya. Karena dengan berani hidup kreatif kita telah menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menikmati hidup yang luar biasa.

Buku karya Elizabeth Gilberth ini dengan gaya bahasa yang unik dan tidak bisanya, mecoba mengajak kita untuk mengenal lebih jauh masalah kehidupan kreatif—yang tidak melulu pada masalah seni—tapi lebih pada keberanian untuk meraih mimpi atau cita-cita. Bahwa dengan hidup kreatif kita telah menciptakan ruang yang akan mengantarkan kita pada kehidupan yang menarik dan penuh kejutan—Big Magic.

Dalam buku ini Elizabeth membagi enam bagian penting yang perlu kita ketahui jika ingin memburu hidup kreatif. Yaitu keberanian, keajaiban, izin, kegigihan, kepercayaan dan keilahian.   Di mana keberanian bisa dibilang sebagai langkah awal yang sangat penting ketika kita ingin memburu kehidupan kreatif. Ketika keberanian hilang, kreativitas akan hilang bersamanya (hal 30).

Liza memaparkan bahwa sebelum dia menemukan hidup kreativitasnya, dia dulu adalah sosok penakut dalam banyak hal. Selain itu dia juga orang peka dan mudah trauma sehingga boleh dibilang liza adalah anak cengeng. Namun lambat-laun dia menyadari ketakutan hanya membuatnya merasa lelah dan kalah. Oleh karena itu Liza bertekad degan penuh keberanian untuk berubah dan memerangi ketakutanya. Setelah dia mulai memerangi rasa ketakutannya, maka perlahan dia pun mulai menemukan keajaiban. Lambat laut ketakutan itu pun mulai memudar.

Bersamaan dengan itu keajaiban pun mulai menghampiri Liza. Dari gadis penakut, dia menjadi sosok pemberani dengan memilih terjun dalam dunia literasi yang bisa dibilang tidak memiliki masa depan yang menjanjikan, jika apa yang ditulis tidak menjadi maha karya atau terjual dengan laris.  Meski tahu risiko yang akan dia tempuh, Liza tetap teguh dengan pendiriannya.

Dia meyakini  dengan mencipatakan hidup kreatif yang dia suka maka hal itu akan membuatnya bahagia. “Aku akan meluangkan waktu sebanyak mungkin menciptakan hal-hal yang membahagiaan selama hidupku karena itulah yang membuatku merasa hidup dan alasanku hidup.” (hal 101).

Liza memandang dalam pilihan hidupnya, dia tidak membutuhkan izin siapa pun untuk melakukan apa saja yang dia suka—termasuk hidup kreatif. Dalam pandangannya setiap orang berhak berkreasi dan menentukan jalan yang akan dipilih. “Kau harus bersedia mengambil risiko jika kau ingin menjalani hidup kreatif.” (hal  114).

Keputusan ini-lah yang kemudian menuntun Liza menjadi seseorang yang sangat gigih. Karena hanya dengan kegigihan seseorang bisa meraih kesuksesan dan hidup kreatif. Ketika dia memutuskan menjadi penulis, maka sejak itu dia pun mulai membuat tulisan yang kemudian dia kirim ke berbagai majalah dan penerbit. Meski saat itu belum ada tulisannya yang lolos. Namunbegitu, Liza tidak menyerah. Dia mencoba lagi dan lagi, hingga akhirnya ada tulisannya yang berhasil terbit, dan mengantarkannya menjadi salah satu penulis yang diminati.

“Imbalan datang dari kebahagiaan menyelesaikan karya sendiri, dan dari kesadaran diri bahwa aku telah memilih jalan untuk berkarya dan aku tulus melwatinya.” (hal 121).

Satu hal yang pasti dalam usaha hidup kreatif, Liza memaparkan bahwa kita harus menjauhi segala keluh kesah yang membuat mental kita lemah. Karena mengeluh akan membuat kita kehilangan inspirasi yang sudah ada bahkan mengacaukan apa yang sudah kita kerjakan. Oleh karena itu ketika menjalani hidup kreatif, maka kita harus menikmati kreativitas itu sendiri. Menyukai apa yang kita kerjakan. Kita juga harus percaya bahwa kita mampu melakukan banyak hal besar untuk menemukan kreativitas.

Buku ini dengan detail membongkar masalah kreativitas dengan cara unik dan menarik.  Kita diajak menyelami makna hidup kreatif dari sudut pandang dan pengalaman langsung penulis yang sangat menginspirasi.

“Wujudkanlah apa pun yang kau inginkan wujudkan dan perlihatkan kepada orang lain.” (hal 127).

Srobyong, 17 Desember 2017