Saturday, 16 December 2017

[Resensi] Ketika Keimanan dan Prinsip Harus Diuji


Dimuat di Jateng Pos, Minggu 26 November 2017 



Judul               : Janadriyah; Sebuah Perjalanan
Penulis             : Achi TM & Febrian Rahmatulloh
Penerbit           : Emir, Imprint Penerbit Erlangga
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 504 halaman
ISBN               : 978-602-0935-73-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Hiduplah seperti air, halangan apa pun yang menghalangi tujuannya akan dilewati dengan baik. Air mengalir hingga ke lautan. Tapi berjuanglah seperti ikan, ia hidup melawan arus sungi. Jangan seperti batang kayu yang hanyut, tak punya tujuan, hanya ikut ke mana air pergi. Hiduplah seperti gunung. Kokoh berdiri sendiri, mandiri.”  (hal 15). 

Novel yang diangkat dari kisah nyata penulisnya sendiri—Febrian Rahmatulloh ini sangat menarik dan menginspirasi. Memaparkan bagaimana perjuangan Rahmat sejak dia menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama hingga masa kuliah.  Di mana dalam perjalanannya itu semua tidak selalu berjalan mulus. Kadang ada batu terjal yang menghadang, menjadi penguat dan pembelajaran untuk Rahmat.

Misalnya saja ketika Rahmat duduk di bangkus SMP dan SMA. Di sana dia bertemu dengan teman-teman yang tidak terduga. Pesan-pesan yang diberikana abahnya luntur begitu saja, ikut tergerus dengan kebiasan kawan-kawannya. Seperti merokok bahkaan pacaran. Namun   beruntung Rahmat memiliki seorang abah yang bijak. Ketika Rahmat berada di pinggir jurang, sang abah dengan sigap langsung menarik tangannya.

“Masa Remaja, memang penuh dengan gejolak. Abah memahami hal itu, tapi pemuda yang paling baik adalah pemuda yang mampu menahan hawa nafsunya dari perbuatan sia-sia dan maksiat. Hati-hati dengan semua godaan masa muda. Bahagia bukanlah melanggar perintah-Nya. Bahagia adalah bertakwa.” (hal 110).

Pesan itulah yang akhirnya Rahmat pegang teguh. Dia tidak mau mengecewakannya abah dan emaknya. Oleh karena itu dia mulai serius belajar. Dia juga mulai memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah. “Dalam hidup ini kita  pasti pernah tersesat, Pak. Hanya saja, apakah kita mau bertanya jalan yang benar atau senang dengan kesesatan kita.” (hal 385).

Namun dalam usahanya itu tiba-tiba virus cinta kembali menyapa Rahmat. Di sinilah keimannya kembali dicoba. Apakah dia akan mengikuti hawa nafsunya dengan menjalain hubungan pacaran atau memilih langsung melangkah pada biduk rumah tangga. Padahal saat itu Rahmat belum mapan.  Belum lagi ada Daru—mantan pacar Rahmat semasa SMA yang tiba-tiba datang dan memohon untuk memulai hubungan dari awal.

“Semua orang pernah meletakan cinta pada hati yang salah. Tapi bukan berarti cinta tidak punya kesempatan untuk putar balik ... tanya pada Sang Membolak-balikkan hati ... di manakah hati yang tepat untuk mencintainya.” Begitulah kira-kira yang akhirnya diberikan Rahmat pada Daru.   Apalagi sejak Rahmat memutuskan akan  menikah.

Dan masalah lain juga mulai timbul ketika Rahmat  memilih berjuang mengambil kesempatan bekerja di Janadiyah. Di sana bersama istrinya Mai—panggilan saya Rahmat pada istrinya—mereka ditimpa cobaan bertubi-tubi.  Rahmat ditipu oleh Dessy. Mai mengalami kontraksi, dan Rahmat diperintahkan untuk memanipulasi data perusahaan agar dia bisa bertahan di kantor, bahkan mendapat uang lebih—yang bisa digunakan untuk biaya tambahan persalinan Mai. Iman dan prinsip Rahmat menjadi taruhan di sini.

Novel ini dipaparkan dengan alur maju mundur yang cantik. Setiap lembar kisahnya membuat kita terus tergelitik untuk melanjutkan bacaan sampai akhir.  Belum lagi pemakaian gaya bahasa dari dua penulis ini sangat renyah dan menarik. Membuat tidak bosan dalam menikmati kisahnya. Hanya saja dalam buku ini masih saya temukan beberapa kesalahan tulis dan beberapa bagian yang terasa agak lambat.  Lalu tentag dialek bahasa daerah yang mungkin akan lebih cantik jika diberi terjemahannya.

Namun lepas dari kekurangannya, buku ini sangat menarik. Sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Karena dalam buku ini banyak pesan-pesan kehidupan yang patut kita teladani.  Kita diajari untuk tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita. Kita juga diingatkan untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Selain itu dari buku ini kita juga bisa belajar tentang bagaimana caranya memeluk kegagalan dan selalu berusaha menjadi seorang yang sabar. “Memancing itu berarti belajar sabar, strategi, dan kebesaran hati. (hal 151).

Srobyong, 30 September 2017 

[Resensi] Lika-liku Kehidupan Seorang Pedagang Darah

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 15 Desember 2017 


Judul               : Kisah Seorang Pedagang Darah
Penulis             : Yu Hua
Penerjemah      : Agustinus Wibowo
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 288 halaman
ISBN               : 978-602-03-3919-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Jadi orang kudu banyak-banyak berbuat baik, jangan berbuat jahat. Kalau berbuat jahat, terus tidak cepat-cepat diperbaiki, jadinya bisa kena hukuman dari langit. Langit itu kalau sudah hukum orang sedikitpun tak pakai belas kasihan, hukum terus sampai mati.” (hal 164).

Novel ini ditulis oleh Yu Hua, penulis asal Cina yang sudah tidak diragukan lagi kelihaiannya dalam menulis. Dalam bidang literasi ini dia sudah mengantongi banyak prestasi yang luar biasa. Buku-buku  menjadi karya laris internasional serta telah diterjemahkan ke dalam  bahasa lebih dari 15 bahasa.  Dan buku ini  sendiri mendapat banyak pujian. Serta sudah difilm-kan  dalam versi Korea tahun 2015 dengan judul sama “The Chronicle of A Blood Merchant” dengan pemain, aktris Korea sebagai Xu Yulan dan Ha Jung Woo sebaga Xu Sanguan.

Kisahnya sendiri berputar pada sosok Xu Sanguan, seorang pengantar kepompong  di pabrik sutra.  Pada awalnya dia menikmati pekerjaan yang sudah dilakoninya, meski hanya memperoleh gaji sedikit. Namun suatu hari karena ingin menikah dengan seorang gadis cantik bernama Xu Yulan, dia nekat menjual darah.

Akhirnya pernikahan itu pun terwujud. Namun yang mengejutkan adalah, setelah mereka dikaruniani tiga anak—Yile, Erle dan Sanle, Xu Sanguan mendapati kenyataan bahwa putra kesayangannya, Yile bukanlah anak bioligisnya. Konon katanya Yile adalah anak hasil perselingkuhan antara Xu Yulan dengan He Xiaoyong—tetangga dan merupakan mantan kekasih Xu Yulan (hal 44).

Konflik antara Xu Sanguan pun tidak dapat dihindari. Dan sejak itu dia juga tidak mau lagi mengakui Yile sebagai anaknya, meski mereka tetap tinggal bersama. Xu Sanguan mulai memperlakukan Yile dengan cara yang berbeda.  Dan istrinya dihujat sebagai pelacur. Hidup Xu Sanguan benar-benar kacau. 

Bersamaan dengan itu,  revolusi politik meledak di tempat  tinggal mereka. Hal ini-lah yang membuat banyak masyarakat hidup dalam kubangan kemiskinan. Termasuk keluarga Xu Sanguan. Agar bisa makan, mereka harus sangat hemat. Oleh karena itu, demi keluarganya dia kembali menjual darah. Dia tidak ingin keluarga kekurangan pangan.

Dan keadaan yang semakin runyam ketika tiba-tiba Yile  terkena radang hati dan harus dibawa ke rumah sakit Shanghai. Yang jadi pertanyaan apakah Xu Sanguan akan menjual dari demi anak yang bukan putra kandungnya? Dan bagaimana akhir kisah lika-liku kehidupan Xu Sanguan yang kerap kali menjual darah hingga tubuhnya lemas dan sekarat?

Novel ini tidak hanya tentang masalah kebiasaan jual-beli darah. Namun juga tentang keluarga dan berbagai permasalahan hidup yang pastinya bisa dijadikan renungan bagi pembaca. Di mana kita dikenalkan dengan sosok Xu Sanguan, seorang ayah yang sangat teguh dan rela berkorban demi keluarga.  Dia rela menjual darahnya berkali-kali meski itu beresiko kematian akan segera menjemputnya.

Di sini kita dikenalkan dengan adat tradisi jual-beli darah, yang mana ada dua pandangan berbeda perilah adat tersebut. Sebagian orang menganggap jual-beli darah adalah suatu kehormatan. Namun di sisi lain, ada sebagian orang yang menganggap jual-beli darah, adalah tindakan berbahaya karena dianggap sebagai jalan menjual nyawa—mengingat jika terus-menerus menjual darah, keadaan tubuh akan lemah dan berujung kematian.

Tidak ketinggalan, sebagaimana ciri tulisan Yu Hua, dia menampilkan kekerasan hidup pada masa revolusi. Sebuah kisah yang cukup menggugah dan penuh dengan nilai-nilai kehidupan. Membaca novel ini, kita akan diajak merasakan kisah para tokoh yang penuh luapan rasa. Kadang ada kesedihan, kemarahan, kemuakan namun juga ada sisi lucu dan kebahagian.  Apalagi jika melihat sikap Xu Yulan pun ketiga anaknya.

Hanya saja saat membaca novel ini, kita harus benar-benar sabar. Karena bisa dibilang alur-nya terasa cukup lambat. Lepas dari kekurangannya, buku ini cukup menghibur. Di sini kita belajar, bahwa kasih sayang seorang ayah pada anak tidaklah ada batasnya. Kita juga diajarkan untuk menjadi pribadi yang  pemaaf dan suka menolong. “Kadang kita perlu,  berpikir demi orang lain. Tidak peduli bagaimanapun dulu kelakuan mereka terhadap mereka,  tidak usahlah dipikirkan lagi.” (hal 172).

Tidak ketinggalan, kita diingatkan untuk selalu menepati jani. “Janji tentu harus ditepati, tidak boleh goyah oleh apa pun juga.” (hal 179).  

Thursday, 14 December 2017

[Resensi] Catatan Perjuangan Dakwah di Amerika

Dimuat di Radar Mojokerto, 26 November 2017 


Judul               : Kuketuk Langit dari Kota Judi Menjejak Amerika
Penulis             : Peggy Melati Sukma & Imam Shamsi Ali
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
 Tebal              : 336 halaman
ISBN               : 978-602-385-318-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


Siapa yang tidak mengenal Peggy Melati Sukma?  Dia adalah mantan artis Indonesia  yang cukup terkenal dan sukses belasan tahun silam.  Selain menjadi artis, Peggy juga dikenal dengan  aktivitas sosialnya. Dia pernah menjadi duta Indonesia untuk berbicara di PBB guna membahas UU Perlindungan Perempuan di New York. Selain itu dia juga pernah menjadi wakil Indonesia untuk mengikuti “World  Art Performance” di Pakistan. Dia juga ditunjuk sebagai Duta Pendidikan Kesetaraan. Namun kehidupannya berubah setelah memutuskan berhijrah sebagai muslimah  yang kaffah.

Buku ini dengan gaya bahasa yang menarik memaparkan tentang kehidupan Peggy setelah dia memutuskan berhijrah.  Dia memahami bahwa orang yang berhijrah adalah yang selalu meninggalkan segala yang dilarang Allah.  Oleh karena itu dia mulai merubah cara bergaul dan cara mencari nafkah. Yang berarti dia kehilangan kontrak kerja, kehilangan karier, kehilangan usaha dan proyek-proyeknya dan lain sebagainya.  Selain itu dia juga berhenti dari pergaulan bebas dan melepas diri dari alkohol. (hal 42-43). 

Peggy benar-benar totalitas ketika sudah memutuskan memperbaiki jalan hidupnya. Dia ingin fokus berusaha membenahi diri dan hidup di dihadapan Allah.  Namun siapa sangka, jika di kemudian hari Peggy malah ikut berkontribusi dalam penyebaran Islam. Dia menjadi sosok inspiratif yang berjuang dalam lingkungan dakwah Islam. Dalam kurun waktu tiga tahun semenjak menapaki jalan hijrah, Peggy sudah melakukan dakwa kelilingi Indonesia dan Dunia sampai mencapai 20 negara (hal 50).

Dan salah satu negara yang disambangi Peggy sebagai tempat dakwahnya adalah Amerika.   Kita pasti ingat, dalam tragedi 11 September 2001, banyak negara Barat termasuk Amerika yang terjangkit Islamphobia.  Hal ini pada akhirnya mengakibatkan kerenggangan dalam hubungan Islam dan Amerika.  Bahkan sempat terdengar kabar kalau Presiden Amerika, Donald Trump membuat kebijakan perihal aturan yang melarang pendatang dari tujuh negara mayoritas Islam. Ketujuh negara itu adalah Iran, Irak, Suriah, Somalia, Yaman, Libia dan Sudan.

Melihat kenyataan itu, tentu saja Peggy sangat sedih. Karena sesungguhnya Islam adalah agama yang sangat mencintai kedamaian. Teroris itu tidak ada hubungannya dengan agama. Kekerasan bisa terjadi di mana dan oleh siapa saja. Bersama Imam Shamsi Ali, Peggy melakukan dakwah. Namun perlu diingat, dakwah Islam di sini bukan berarti kita ingin mengislamkan orang di luar Islam.

Misi keislaman ialah, kita berdiri sebagai seoorang Islam yang mengacu pada aturan Allah (hal 107). Dakwah ini maknanya menyampaikan tentang kebaikan, ketentuan, perintah, larangan, tuntunan, memperjuangkannya agar jadi sistem hidup. Dan tidak kalah penting Imam Shamsi Ali dan Peggy mencoba meluruskan salah paham atau salah persepsi tentang Islam di mata Amerika. 

Salah satu kegiatan dakwah yang dilakukan Peggy berlangsung di ruang besar di Konsulat Jenderal Republika Indonesia. Di sana dia menyampaikan materi sesi inspirasi Islami terkait hijrah selama 3 jam, yang alhamdulillah mendapat respon positif dari jamaah.  Begitu pula saat Peggy memberikan materi di Atlanta—ibu kota negara bagian Georgia, Amerika. Serta memberikan dakwah Islam di Las Vegas yang kerap disebut sebagai kota Judi.

Namun tidak selamanya perjalanan dakwah yang dilakukan Peggy berjalan lancar. Saat dia datang di sebuah forum yang membicarkan bagaimana membuat dunia menjadi tempat hidup yang lebih baik,  apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Saat salah seorang Muslim mau berbicara, audience di tengah-tengah dan kanan-kiri berteriak, “Go a way from us. Leave us, don’t kill us, you kill our family, you kill our children, we want to live our life.” (hal 202).

Di sini Peggy sadar Islamphobia ternyata masih ada. Dan inilah tantangan kaum Muslim dalam berdakwah untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang seperti itu.  Kesedihan Peggy sedikit terobati dengan keberhasilan forum dakwah yang bertujuan membangun jembatan-jembatan kebersamaan, bukan untuk membangun tembok-tembok penghalang antara sesama manusia dengan latar belakang berbeda (hal 204).  Sebuah buku yang mengisnpirasi dan patut kita baca untuk perenungan diri.

Srobyong, 12 Agustus 2017 

Tuesday, 12 December 2017

[Resensi] Membongkar Ketimpangan Realita Hidup Lewat Cerita

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 November 2017 


Judul               : Cemong
Penulis             : Ida Fitri
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 184 halaman
ISBN               : 978-602-61246-2-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Meski kita kerap kali membaca berbagai cerpen dengan tema-tema yang hampir serupa, namun pada kenyataannya kita tidak pernah bosan dengan sajian cerpen yang hadir setiap pekan di berbagai media. Kita tetap haus dengan kisah-kisah menarik yang disajikan dari berbagai latar dan pendidikan penulis. Karena setiap penulis memiliki sisi unik tersendiri dalam mengemas sebuah cerita. Hal itulah yang membuat perbukuan kumpulan cerpen tetap  tumbuh dan berkembang.

Berbagai penerbit masih menerbitkan kumpulan cerpen yang kebanyakannya pun sudah pernah tersiar di berbagai media. Dan realitas di pasar buku-buku tersebut tetap diterima para pembaca dengan baik. Misalnya saja “Cemong” karya Ida Fitri, penulis asal Aceh, yang diterbitkan di Basabasi.  Terdiri dari 22 cerpen, buku ini mencoba membongkar  ketimpangan yang kerap kali terjadi dalam realitas masyarakat kita.

Misalnya saja cerpen berjudul “Lelakiku  Tertawaan Gunung”. Di mana cerpen ini mengisahkan tentang Cut Meulu yang tidak pernah berhenti menunggu dan setia kepada sang suami—Yid Ahmad yang mengabdi sebagai guru di kaki gunung. Detik demi detik waktu dia gunakan untuk menyiapkan makanan kesukaan sang suami. Dia memasak sayur Plik U—sayuran yang terbuat dari kelapa busuk yang diambil minyaaknya dan dikeringkan, di mana proses pembuatannya hampir memakan waktu seminggu (hal 21).

Selain itu Cut Meulu juga harus menyiapkan ikan asin, salah satu menu favorit lain suaminya. Mungkin saja sewaktu-waktu suaminya akan pulang dan ingin makan. Namun malangnya setiap kali selesai memasak, dia menyadari suaminya tidak  kunjung kembali. Hingga akhirnya masakan itu berakhir untuk dibagi-bagikan kepada tetangga.

Kejadian itu terus terjadi hingga akhirnya membuat Cut Meulu pasrah. Dia meyakini cinta pasti akan menemukan jalannya. Namun di suatu siang yang panas, dia mendapati sebuah kabar yang sungguh menyayat hatinya. Dikhianati dan diduakan? Itukah balasan dari kesetiannya?

Cerpen ini ditutup dengan ending yang tidak terduga, tanpa meninggalkan kesan kesedihan yang menyakitkan bagi tokoh juga pembaca sendiri..   Kisah ini seolah menjawab realitas yang memang kerap terjadi dalam masyarakat. Di mana seorang pria  tidak bisa lepas dari perempuan dan kesepian. Hal itulah yang pada akhirnya memicu terjadinya perselingkuhan, ketika jarak menjadi pemisah sepasang suami-istri.

Selain itu ada pula cerpen berjudul “Kota Tanpa Kenangan”. Bercerita tentang sebuah daerah yang tiba-tiba jadi asing bagi semua orang. Sam memutuskan mengunjungi tanah kelahirannya—Jentaka.  Dia sudah tidak sabar bercumbu dengan masa lalu. Menikmati keindahan desa, bertemu teman dan sauadara. Nanun ketika dia akhirnya sampai di tempat itu, Sam hanya melihat kesedihan yang membingungkan (hal 27).

Sam mendapati kabar yang menyatakan kalau warga mulai hilang ingat. Itulah yang melatar belakangi berbagai pemandangan yang membuaat Sam bingung. Seperti saat melihat seorang ibu yang meninggalkan anaknya.  Dan anehnya perlahan-lahan memori yang dia miliki pun mulai menghilang. Dia lupa alasan pergi ke Jentaka.

Dalam cerpen ini, kita diperlihatkan tentang realitas hidup, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan uang banyak, selalu menghalalkan segala cara untuk melindungi diri dari perbuatan jahat yang dia miliki.  Baik itu dengan menyuap atau memakai perantara orang pintar.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Kematian Seekor Tikus”. Cerpen ini adalah contoh nyata bagaimana pola hukum di Indonesia berjalan. Bagaimana hukum yang berusaha menutupi kejahatan karena bantuan orang dalam yang memiliki pangkat kuat. Namun uniknya cerpen ini, penulis memberikan kejutan menarik di akhir cerita.

Selain beberapa cerpen itu, masih ada pula cerpen lain yang juga sangat menarik. Seperti Seraut Wajah Berbingkai Pohon, Mamawa Ya Tambora, Bukan Sulaiman, Buntalan Mikail, Kanibal Linge dan banyak lagi. Dipaparakan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan tidak berat, membuat buku ini sangat asyik untuk dinikmati.  Keunggulan lainnya adalah  bagaimana penulis memilih judul-judul yang menarik dan pembukaan alenia yang membuat kita penasaran untuk menuntaskan kisah sampai akhir.

Hanya saja dalam buku ini ada ketidakkonsistenan dalam memberikan catatan kaki di akhir setiap cerpen.  Begitupula dalam pemberian catatan kaki tentang bahasa daerah yang menurut saya kurang jelas dalam penulisannya. Namun lepas dari kekurangannya, rasa lokalitas dalam buku ini menjadi nilai tambah yang menarik.

Srobyong, 28 Oktober 2017 

Saturday, 9 December 2017

[Resensi] Cita-Cita, Cinta dan Restu Orangtua

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 19 November 2017 

Judul               : Alang
Penulis             : Desi Puspita Sari
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
Tebal               : iv + 235 hlm
ISBN               : 978-602-9474-09-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Kau hanya perlu bersungguh-sungguh. Bukan untuk membuktikan  pada orangtua atau pada siapa pun. Tapi buktikan pada dirimu sendiri, bahwa kau bisa.” (hal 205).

Novel ini mengisahkan tentang perjuangan dalam meraih mimpi. Apa yang terjadi ketika mimpi itu ditentang—tak diresutui orangtua dan disepelekan. Pilihan apa yang akan dilakukan ketika harus memilih maju demi cita-cita atau mengalah demi bakti kepada orangtua.  Membaca  novel ini kita disadarkan, bahwa untuk menjadi dewasa ada hal-hal yang harus diputuskan dan menanggung resiko yang telah dipilih.

April percaya bahwa bakat itu ada. Tapi tidak semua keberhasilan terwujud karena bakat. April lebih percaya kalau pandai dan sukses itu diraih karena tekun dan bekerja keras, ketimbang melulu menggantungkan diri pada bakat (hal 40). Inilah paham yang dipegang erat oleh April. Karena itu dia berusaha keras dalam mewujudkan mimpinya sebagai seorang penyair. Meski itu harus melawan keinginan orangtua yang selalu menyepelekan mimpinya.

“Menjadi penulis tidak akan pernah membuatmu kaya. Kau akan hidup terlunta-lunta.” (hal 147).
Begitu juga dengan Alang.  Sejak duduk dibangku sekolah dasar, dia sudah sangat menyukai musik.  Diam-diam dia belajar bermain gitar dari guru seninya—Pak Gunawan. Dan agar dia bisa memiliki gitar, Alang bekerja keras sambil bekerja. Hanya saja ayah Alang sama sekali tidak menyukai cita-cita anaknya. Karena di desa mereka pun sudah ada teladan kalau seni itu hanya omong kosong. Tidak ada masa depan bagi penggiat seni.

“Hidup di dunia nyata mengajarkan bahwa yang dibutuhkan dalam hidup ini sesungguhnya hanya duit! Dan duit tidak bisa kau dapat dengan bergelut di bidang seni. Seni itu omong kosong. Seni itu tak bisa menghidupi yang ada malah membuatmu mati lebih dini.” (hal 26).

Kesamaan nasib, membuat April dan Alang menjadi dekat. Hubungan yang semula hanya sebatas sahabat, lambat laun berubah menjadi sesuatu yang spesial.  Setelah meenyelesaikan SMA, Alang mengambil peruntungan untuk melanjutkan sekolah musik di Jakarta. Apalagi dia berkesempatan mendapatkan beasiswa.  

Sedangkan April melanjutkan  kuliah di kedokteran. Hanya saja rasa cintanya pada seni, membuat April tidak terlalu serius belajar. Di sinilah masalah timbul. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk nongkrong bersama teman-teman seniman. April juga mengajak serta Alang, yang demi rasa sayang akhirnya ikut terbawa pada arus itu. Alang ikut meninggalkan bangku kuliah demi bisa bersama dengan April.  Mereka saling berjanji untuk merengkuh impian bersama-sama.

Hanya saja  itu kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Kenakalan April diketahui orangtuanya sehingga April dijemput orangtua untuk kembali ke Madiun. Pada kenyataanya April merasa tidak bisa apa-apa tanpa dukungan materi dari orangtuanya. Di sinilah titik paling rendah bagi Alang. Dia merasa pengorbanannya pada April sia-sia. Dia sudah melepas kuliah demi gadis itu.  Tapi pada kenyataannya ... janji-janji yang mereka buat tidak satu pun menjadi kenyataan.

Di sinilah dia memahami, “Mimpi itu hanya untuk seorang pemenang, bukan  pecundang. Pemenang itu artinya dia yang tidak mogol atau berhenti di tengah jalan—pada apa pun pilihannya. Pemenang itu juga tidak cengeng. Meski cita-cita dan cintanya kandas, ia akan segera bangkit dan pulih.” (hal 195).  
Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat, membuat novel ini asyik untuk dinikmati.  Apalagi teman yang dianggkat itu cukup dekat dengan dunia literasi serta isu-isu yang kerap menyelimuti. Bahwa seni bukanlah sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Meski pada beberapa bagian ada yang terasa lompat-lompat. Namun lepas dari kekurangannya novel ini cukup menghibur. Banyak pesan tersirat yang bisa dijadikan pembelajaran. Seperti sikap tidak mudah menyerah, kekuatan sabar, mau berusaha serta tidak takut dalam mengambil pilihan.

“Kesuksesan itu bukan jalan singkat. Kecuali kamu adalah anak seorang yang sangat kaya, selebihnya kamu harus jatuh bangun berdarah-darah menempuh jalan seni yang terjal.” (hal 217).

Srobyong, 19 Maret 2017