Wednesday, 23 August 2017

[Resensi] Pelajaran Diplomasi dari Presiden Sukarno

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 20 Agustus 2017 


Judul               : Dunia dalam Genggaman Bung Karno
Penulis             : Sigit Aris Prasetyo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               : xii + 356 halaman
ISBN               : 978-602-7926-33-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Aluma Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


Naskah ini merupakan naskah asli resensi sebelum ada editing dari redaksi untuk menyesuaikan space koran. :) 

Siapa yang tidak mengenal Sukarno?  Namanya telah menjadi legenda yang tidak lekang oleh zaman.   Tidak hanya di Indonesia, nama Sukarno sudah dikenal di seluruh posok negara di dunia.  Dia merupakan presiden pertama di Indonesia, yang memiliki banyak sumbangsih dalam usaha meraih kemerdekaan juga memajukan kesejahteraan Indonesia.  Sebagaimana diketahui Sukarno adalah seorang pemimpin yang berprisip. Dia juga seorang yang ahli bernegosiasi,  orator dan konseptor ulung.  Selain itu dia merupakan praktisi diplomasi Indonesia yang paling cerdas dalam sejarah Indonesia.

Buku ini dengan gaya bahasa yang renyah dan mudah dipahami, memaparkan tentang sepak terjang Bung Karno dalam berdiplomasi.  Bagaimana dia bisa menjalin hubungan dengan para pemimpin dunia, juga membangun kedekatan personal bahkan bersahabat dengan para pemimpin dunia, tanpa memedulikan perbedaan agama, ideologi, ras, dan budaya.  Sukarno pernah berkata, “Aku menyukai orang Timur, aku menyukai orang Barat ....” (hal 3).

Dalam berdiplomasi Sukarno selalu high profile, tegas namun cantik. Di mana itu berarti,  dia selalu teguh dengan prinsipnya.  Selalu percaya diri dan anti  minder, juga tidak bisa didekte oleh pemimpin negara manapun. Namun begitu dia tidak bersikap kaku, Bung Karno malah bersikap lues dan bersahabat. Hal inilah yang pada akhirnya membuat Sukarno selalu disegani.  Apalagi Sukarno juga sangat menjunjung tinggi persahabatan. Bahkan Sihanouk—presiden kamboja, pernah berkata, “Sukarno adalah orang yang sangat menghargai persahabatan yang tulus.” (hal 109).

Di antara sepak terjang Bung Karno dalam berdimplomasi, contohnya bisa kita lihat dalam usaha Bung Karno  mempertahankan Irian Barat sebagai satu kesatuan Indonesia. Saat itu Indonesia memang sedang bersitegang dengan Belanda, perihal wilayah Irian Barat.  Maka Bung Karno pun membujuk Presiden Amerika, J.F Keneddy agar berpihak kepada Indonesia. Dia tahu dengan dukungan Amerika hal itu akan memudahannya dalam mempertahankan wilayah Irian Barat dari Belanda. Dan akhirnya diplomasi Bung Karno berhasil. J.F Keneddy mengirim seorang diplomat  senior untuk membantu permasalahan itu, yang mana akhirnya terjadi kesepatakan damai sesuai usulan proposal Bunker tanggal 12 Juli 1962.  Indonesia setuju prinsip “self-determination” dan Belanda setuju mengembalikan Irian Barat ke Indonesia (hal 15).

Tahun 1957 Sukarno berhasil membuat kesepakatan dengan Nikita Krushchev—pernada menteri Uni Soviet untuk memulai memberikan bantuan ekonomi termasuk perlengkapan militer yang dibutuhkan Indonesia.  Dan satu tahun sesudahnya, Krushchev juga terus membela Indonesia dalam menghadapi AS yang membantu pemberontakan PRRI di Sumatera (hal 37).

Lalu Sukarno juga berhasil melakukan kerjasama dengan Chou Enlai—Perdana Menteri Tingkok. Mereka saling mendukung dalam berbagai isu dan perkembangan politik internasional. Dan saat berlangsungnya konfrontasi Indonesia dengan Federasi Malaysia, Chou Enlai juga mendukung habis-habisan Indonesia. Chou mengecam pendirian negara Ferderasi Malaysia oleh Ingris dan menganggapnya sebagai bentuk lain kolonilisme. Selain dukungan politik, Chou juga menawarkan dukungan militer  (hal 141).

Bersama Diosdago Macapagal—presiden Filifina, Sukarno saling mendukung saat memanasnya politik terkait konfrontasi Malaysia. Dukungan itu diumumkan Macapagal secara resmi pada tahun 1963. Dukungan itu tidak hanya sekadar retorika politik namun juga militer (hal 160).

Sebuh buku yang patut kita baca untuk menambah pengetahuan dalam mengenal sejarah Indonesia.  Mengenal lebih dekat sosok Bung Karno yang begitu luar biasa dan memiliki banyak jasa dalam perjuangan kemajuan Indonesia. Selain itu buku ini juga memberi inspirasi untuk mewujudkan ketertiban dunia dengan duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain.

Srobyong,  11 Agustus 2017 

Monday, 21 August 2017

[Resensi] Kisah Poliandri Drupadi dengan Pandawa

Dimuat di Radar Madura, Minggu 20 Agustus 2017


Judul               : Drupadi
Penulis             : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Januari 2017
Tebal               : vi + 150 halaman
ISBN               : 978-602-03-3687-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Siapa yang tidak mengenal kisah pewayangan Mahabarata? Sebuah kisah monumental yang selalu di kenang di sepanjang zaman. Bahkan hingga kini. Dan membicarakan Mahabarata, pasti kita langsung teringat dengan sosok pandawa yang merupakan tokoh sentral dalam kisah ini. Namun pernahkah  terpikir bahwa di balik kegagahan para satria itu, ada sosok Drupadi yang memiliki peran besar hingga membuat para pandawa memiliki kekuatan dan tekad yang kuat?

Menilik dari betapa kisah pewayangan ini masih selalu digemari, Seno Gumira Ajidarma, salah satu penulis besar di Indonesia ini, menceritakan kembali kisah yang selalu diminati pasar ini. Seno sendiri memang memiliki keterarikan tersendiri dalam kisah wayang. Di mana dia pernah menulis cerita wayang Rama-Sinta, yang dimuat bersambung di Koran Tempo tahun 2001, yang kemudian terbit sebagai Kitab Omong Kosong (2004) dan mendapat Khatulistiwa Award 2005. 

Dikisahkan Drupadi adalah putri Prabu Drupada dari kerajaan Panchala. Dia terlahir dengan kecerdasan dan kecantikan seperti bidadari. Hanya saja untuk masalah hati, entah kenapa dia harus menerima beban berat yang memilukan. Ayahnya membuat sayembara untuk mencari ksatria  yang bisa dinikahkan dengan dirinya. Padahal bagi Drupadi sendiri, dia sudah memiliki sosok yang selalu diharapkannya untuk memperistrinya.

Dan Drupadi semakin merasa sedih, ketika melihat para ksatria yang ikut sayembara adalah para raja yang terkenal jahat dan kejam. Mungkinkah tidak ada raja-raja termasyhur kebaikannya yang tertarik padanya? (hal 8). Hanya saja, Drupadi tahu bahwa kabar yang tersiar, para pandawa telah tewas dalam peristiwa Bale Sigala-gala.

Betapa sedihnya Drupadi jika akhirnya dia jatuh pada kasatria yang jahat. Sampai kemudian ada seorang brahmana muda yang mengikuti sayembara. Di mana Drupadi meyakini wajah brahmana itu mengingaatkan pada sosok yang selama ini dia cintai.  Dia pun langsung setuju menikah dengan brahmana yang sejatinya memang sudah memenangkan sayembara. Meski masih banyak ksatria lain yang tidak terima dengan kemenangan itu.  Sampai sang brahmana itu membuka jubahnya. Maka gemparlah keadaan di sana.

Berbeda dengan Drupadi yang sangat yakin brahmana atau Arjuna memang ditakdirkan untuk dirinya. Hanya saja betapa kagetnya Drupadi ketika Arjuna malah menyerakan dirinya kepada Yudistira, dengan alasan dia tidak bisa menikah terlebih dahulu dari sang kakak (hal 25).  Lebih mengejutkan Bima memberi saran untuk menikahi Drupadi bersama-sama.

Di sinilah pergolakan batin Drupadi terjadi. “Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tapi Drupadi sadar dia sama sekali tidak memiliki pilihan—karena dia tengah berada di tempat orang yang memiliki hak sepenuhnya atas dirinya. Maka Drupadi pun tidak bisa mengindari takdirnya untuk berpoliandri. Dia menikahi para pandawa (hal 30).

Tentu saja menjadi seorang wanita yang beristri lima, itu tidak mudah. Apalagi pada lubuk hatinya yang paling dalam, hanya ada nama Arjuna yang sangat dicintainya. Betapa Drupadi harus siap dengan segala konsekuensi pilihannya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika dijadikan taruhan dari perjudian anatara Yudistira dan Sengkuni. Di mana Yudistira memang terkenal sangat bodoh dalam masalah perjudian. Sehingga Drupadi harus menerima perlakuan buruk dari  Duryadhana, Dursasana dan para Kurawa.

“Suami-suamiku, apakah memang menjadi keutamaan ksatria untuk membiarkan istrinya terhina?” (hal 61).  Maka sejak saat itu Drupadi pun bersumpah dia tidak akan menyanggul rambutnya sampai bisa memandikan rambutnya dengan darah Dursasana.  Dendam itu membawa Drupadi pada jalan tidak terduga. Karena sebagai seorang pelaku poliandri masih bannyak jalan terjal yang menantinya. Tapi pada satu sisi, dendamnya itu juga membawa pengaruh dalam sikap para pandawa.

Membaca novel ini, membuka banyak gerbang tentang kisah yang memikat juga pembelajaran yang berharga, bahwa dendam itu sungguh mengerikan.  “Maka hidup di dunia  ini bukan hanya soal kita menjadi baik atau buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu.” (hal 107).

Di sisi lain kisah Drupadi ini juga mengingatkan tentang kenyataan bahwa sering kali keberadaan wanita itu sering disepelekan dan tidak dihargai. Perempuan harus selalu menurut dan tidak memiliki hak suara untuk memilih. Tapi juga menunjukkan perempuan  adalah sosok yang kuat,  memiliki daya juang dan pengabdian yang tinggi kepada para pasangan.

Srobyong, 2 April 2017

[Resensi] Jarak Antara Benci dan Cinta

Dimuat di Singgalang, Minggu 20 Agustus 2017 


Judul               : Autumn Kiss
Penulis             : Christina Juzwar
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Januari 2017
Tebal               : 288 halaman
ISBN               : 978-602-03-35-35-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Unversitas Islam Nadlatu Ulama, Jepara.

Siapa yang tidak mengenal tentang nasihat agar selalu menjaga kadar cinta atau benci secara wajar? Di mana maknanya, kita tidak boleh memiliki kebencian yang berlebihan. Karena sekat antara benci dan cinta itu sangat tipis.  Begitu pula sebaliknya, cinta yang berlebihan bisa berubah menjadi benci. 

Novel ini berkisah tentang Bianca yang sudah berusaha move on dari masa lalu. Dia memulai kembali kehidupannya setelah bercerai deengan Levy Welsh. Bahkan dia kini sudah memiliki kekasih baru dan mulai memikirkan untuk melangkah pada jenjang yang lebih serius. Sampai sebuah kejadian membuat dunia Bianca jungkir balik.

Pada suatu hari yang tidak terduga, Bianca mendapat kabar kalau sahabat baiknya Zie, meninggal dunia (hal 13).  Kabar itu tentu saja membuat Bianca sangat terpukul. Apalagi dia tahu masih ada Grace, putri Zie yang belum cukup mendapat kasih sayang dari seorang ibu. Dan tanpa berpikir panjang, Bianca pun langsung terbang ke New Zealand—sebuah tempat yang menyimpan banyak memori bagi Bianca. Kebahagiaan juga kepedihan yang pada akhirnya dia kubur.  Tapi siapa yang peduli jika di sana ada seseorang yang butuh kehadirannya? Dia harus mengantarkan kepergian Zie.

Namun sebelum Bianca sampai di rumah Zie, Sebuah kejutan datang. Dia tidak menyangka setelah sekian lama tidak bertemu dengan Levy, manta suaminya. Dia harus bertemu dalam keadaan yang tidak terduga.  Meski sejatinya Bianca tahu hal itu akan terjadi. Karena bagaimana pun  Levy adalah sabahat  Lee—suami Zie. Jadi sudah pasti dia akan berada di sana.

Dan di sinilah konflik antara Bianca dan Levy dimulai. Rumah duka itu menjadi sebuah tempat bagi dua hati yang pernah saling mencinta, tapi juga menyisakan kebencian dalam di hati Bianca. Jika Levy berusaha bersikap ramah terhadap Bianca, maka tidak bagi Bianca. Sebisa mungkin dia ingin menjauah dari laki-laki itu. Dia terlalu sakit jika harus kembali berhadapan dengan pria itu. sampai sebuah kejadian tidak terduga membuat Bianca bingung dan dilema.

Yang lebih mengejutkan lagi, Levy mengaku masih mencintai Bianca dan ingin memulai hubungan baru. Levy juga mengaku kalau dirinya sudah berubah.

“Dan aku memikirkan ini sejak kita berpisah. Kamu pikir kenapa aku berjuang melawan ketergantunganku? Kamu pikir kenapa aku masih mau menyimpan kalung tunanganmu? Kamu pikir kenapa aku ingin settel dan berusaha dengan keringat dan darahku? Aku ingin menunjukkan kepadmu bahwa aku orang yang baru. Aku bukan orang yang berbeda, tapi aku menjadi orang yang lebih baik.” (hal 163).

Novel ini dipaparkan dengan  lugas dan asyik. Di sini penulis mengungkap tentang pahit manis dalam sebuah pernikahan. “Pernikahan itu seperti menaiki rollercoaster seumur hidup. Hanya ada dua pilihan yang bisa dipilih. Menutup mata atau mengangkat tangan menikmatinya.” (hal 218). Juga bagaimana cara yang baik dalam menyikapi semua masalah dan berdamai dengan masa lalu.

“Bukan masalah mudah atau tidak, tetapi berani atau tidak. Kamu terlalu terpaku pada masa lalu sampai kamu tidak berani mengambil keputusan.” (hal 213).

Hanya saja ada bagian yang terasa lambat pada novel ini. Berbeda dengan novel sebelumnya “Love on Probation” yang lebih terasa dalam konfliknya. Kesamaan dalam novel ini adalah konflik berpusat pada ketakutan dari para tokoh tentang sebuah masa lalu. Namun lepas dari kekurangannya, bagi penikmat novel romance, Autunm Kiss tetap recomended buat dibaca. 

Dan saya paling suka sama cover ini. Perpaduan warna dan gambarnya menurut saya terasa hangat. Dari novel ini saya belajar untuk tidak lari dari masalah. Selesaikan sampai tuntas dan beranilah melangkah, bangkit lagi setelah sempat jatuh terjerembab.

Srobyong, 20 Juli 2017 

Wednesday, 16 August 2017

[Resensi] Belajar Bersyukur, Sabar dan Ikhlas

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 14 Agustus 2017


Judul               : Syukurilah Hidup Rayakanlah Cinta
Penulis             : Fatih Zam
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-6334-20-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

“Permata tak akan bisa diasah tanpa gesekan, begitu pula manusia, tak ada yang sempurna tanpa cobaan.” (hal 124).

Hidup tanpa cobaan itu memang tidak mungkin. Ada kalanya kita mendapat kemudahan, ada kalanya kita mendapat kesusahan. Saat mendapat kemudahan, sudah semestinya kita mensyukurinya. Dan ketika  menghadapi kesusahan, kita juga harus tetap bersyukur, ditambah mau bersabar dan ikhlas. Karena dengan menerapkan tiga prinsip itu, kita akan lebih menghargai hidup. Bahwa seyogyanya cara bangkit yang paling mudah adalah dengan berdamai dengan diri sendiri.   Jika kita memilih putus asa, yang ada kita hanya akan rugi dan menyesal.

Buku ini dengan pengemasan gaya bahasa yang lugas, renyah dan memikat memparkan tentang kisah-kisah menarik yang bisa kita ambil hikmahnya, untuk perenungan agar menjadi pribadi yang lebih baik. Penulis mengenalkan tentang kisah-kisah yang mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur, sabar dan ikhlas.

Sebut saja cerita berjudul “Awan yang Menanggung Amanah Langit” di mana kisah ini bercerita tentang dua awan yang sama-sama mendapat amanah dari Allah. Kedua awan itu mendapat tugas untuk menampung air dari bumi yang sudah menguap untuk beberap waktu saja. Nanti kalau saatnya sudah tiba, bibit air itu bisa ditumpahkah kembali ke bumi sebagai hujan (hal 79).

Awan kedua melakukan amanah tersebut dengan senang hati. Namun awan yang pertama melakukannya dengan setengah hati. Dia sebal, karena gara-gara amanah itu, keindahan dirinya tidak lagi tampak.  Sehingga para pengagumnya pun melupakan dirinya.  Dia pun protes pada langit yang menjadi perantara sebagai pembawa berita dari Allah. Dia tidak mau melakukan perintah itu lagi. 
Agar terhindar dari tugas itu, akhirnya awan pertama memindahkan beban itu kepada awan kedua.  Dia senang sekali akhirnya tubuhnya kembali indah dan banyak pujian yang diberikan padanya lagi.  Sedangkan awan kedua keadaannya semakin buruk. Tapi dia tetap bersabar dan ikhlas melakukan amanah itu. hingga akhirnya langit memberi kabar kalau dia bisa melepas bibit air ke bumi.  Bersamaan dengan itu, tubuh awan kedua kembali indah. Namun di sisi lain keadaan awan pertama sungguh mengejutkan.

Selain kisah itu tentu saja masih banyak kisah-kisah lain yang tidak kalah inspiratif. Sebuah buku yang patut dibaca dan direnungkan.  Buku ini juga dilengkapi kata-kata motivasi yang pastinya akan membuat kita semakin menyadari tentang pentingnya belajar syukur, sabar dan ikhlas dalam berbagai keadaan. “Kekuatan tidak berasal dari  dari kapasitas fisik. Itu berasal dari kemauan yang gigih.” (hal 147).

Srobyong, 1 Agustus 2017

[Resensi] Pengaruh Kesalahan Orangtua dalam Mendidikan Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 13 Agustus


Judul               : Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan
Penulis             : Ajeng Maharani
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 161 halaman
ISBN               : 978-602-391-352-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Kumpulan cerpen ini sedikit banyak memuat tentang pengaruh kesalahan orangtua dalam mendidik anak. Sehingga anak tumbuh menjadi sosok yang memiliki cara pandang yang salah. Kadang yang lebih parah adakalanya anak itu  menjalani hidup secara menyimpang.  Buku ini terdiri dari 17 cerita yang mengemas tentang luka, kesedihan, rasa putus asa dan tragedi-tragedi yang kerap terjadi dalam diri dan kehidupan manusia. Di sini dengan lihai penulis mengeksekusi cerita, sehingga kisah-kisah yang ditawarkan terasa menarik dan memikat.

Misalnya saja dalam kisah berjudul “Dongeng tentang Ibu dan Seekor Laba-laba di Kamar Mandi”  Mengisahkan tentang seorang anak yang setiap hari melihat pertengkaran kedua orangtuanya.  Ibunya bilang kalau ayahnya sudah tidak mengingat lagi arti keluarga. Ayahnya sudah tidak menyayangi mereka. Si anak tentu saja percaya. Apalagi ayahnya juga kerap memarahinya jika dia berani bertanya ini-itu. 

Suatu hari ibunya bersembunyi dalam kamar. Namun sejak hari ibunya tidak pernah muncul lagi. Apa yang muncul kemudian hanyalah seekor laba-laba. Hal inilah yang kemudian membuat si anak berasumsi kalau ibunya telah berubah menjadi laba-laba, karena perbuatan ayahnya.

Kisah lainnya, “Ia Tengah Menanti Kereta Uap Tuhan yang Akan Membawanya ke Bulan”  cerpen ini dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan  yang akan membuat pembaca mengernyitkan dahi juga menumbuhkan rasa tertarik. “Apa benar Ibu ada di bulan, Ayah?”  “Kapan  Tuhan  akan mengirimkan kereta  uapnya  untukku?” (hal 17-19).   Di sini penulis mengisahkan tentang seorang anak yang  ingin menemui ibunya yang telah meninggal. Namun karena suatu alasan, sang ayah tidak jujur dan tidak pernah mengungkapkan kenyataan tentang kepergian si ibu. Hal ini-lah yang kemudian membuat anak memiliki dogma yang salah.  Dan dia tumbuh menjadi perempuan yang terus terjebak pada kesalahan di masa lalu.

Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul “Maysa Rindu Menyusu Pada Batu” mengisahkan tentang Maysa, gadis kecil yang memiliki keyakinan kalau ibu kandungnya adalah batu. Karena itulah yang mamanya katakan, setiap kali mamanya marah.  “Jangan cengeng. Mama ini sibuk, jangan ganggu Mama dengan suara tangisan seperti itu. Bising. Dasar anak batu, tidak pernah bisa diajak bicara.” (hal 122).

Setelah kejadian itu,  keesokan harinya, Maysa mengambil keputusan untuk tidak  pulang ke rumah. Dia memutuskan untuk mencari ibunya—ibu batu tepatnya. Jika dia bisa menemukan ibunya, Maysa sangat ini tidur dipangkuan ibunya sambil mendengarkan dongeng. Dia juga ingin menanam bunga-bunga di kebun, ingin melukis gunung dan matahari, memasak dan mandi bersama. Selain itu, yang paling Maysa inginkan adalah dia ingin dipeluk dan menyusu pada ibunya. 

Selain beberapa cerpen yang sudah dipaparkan, tentu saja masih banyak cerpen yang menarik dan memikat. Di antaranya, Sesudah Mbah Darto Bunuh Diri, Hikayat Perempuan yang Sekarat, Kesedihan Kita, Imron Ingin Membunuh Bapak dan banyak lagi.  Hampir sebagian besar, pada buku ini kita akan dihadapkan bagaimana  anak-anak menghadapi kesedihan dan luka yang pernah diterohken keluarganya—baik ibu atau ayah.  Selain menggambar kesedihan anak. Di sini penulis juga mengeksplore tentang perempuan dan perihal sex yang menyimpang.

Kisah-kisah dalam buku kumpulan cerpen ini diceritakan dengan sangat memikat. Karena penulis dengan ide-ide yang gila dan tidak terduga, mengantarkan pada sebuah labirin—menyibak isi kepala perempuan dan anak-anak yang jarang diangkat oleh penulis lain. Apalagi diksi yang dipakai penulis juga menarik.

Keunggulan lainnya adalah alenia pembuka yang menarik dan  judul tulisannya—yang meski terkesan cukup panjang, namun di sanalah daya tarik cerpen yang ditulisnya. Hanya saja untuk beberapa bagian, ending cerita cukup mudah ditebak. Namun begitu hal itu tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca buku ini. 

Membaca ini, banyak renungan inspiratif yang bisa kita petik untuk pembelajaran. Di mana dalam mendidik anak kita harus total. Dalam artian selalu jujur bagaimana pun keadaannya. Kita harus membangun komunikasi yang baik dengan anak agar tidak terjadi salah paham. Dan dalam mendidik, tidak semestinya memakai kekerasan, tapi dengan kasih sayang dan ketegasan.

Srobyong, 28 Juli 2017