Friday, 7 December 2018

[Resensi] Kisah Dokter Ahli Ginjal Meluruskan Takdir

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 3 Desember 2018

Judul               : Change Your Destiny
Penulis             : Rully Roesli
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-402-124-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Dalam melawan setiap tantangan, kita harus memiliki mental baja dan saraf besi! Artinya, kita benar-benar harus sangat yakin bisa menang dan siap berjuang luar biasa kerasnya. Pikiran dan keyakinan harus terus positif dan optimis. Dengan  sikap tersebut, badan kita secara alami akan menyesuaikan sehingga kemungkinan berhasil kita semakin tinggi.” (hal 14-15).

Takdir manusia memang sudah ditetapkan oleh Allah. Akan tetapi, takdir itu bisa kita rubah, jika kita mau berusaha. Sebagaimana kita ketahui takdir manusia dibagi dua. Pertama takdir mubram dan mualaq. Takdir mubram  adalah takdir yang tidak bisa dirubah, karena sudah ditentukan dan ditulis di Lauhul Mahfud. Seperti kematian dan kapan kita lahir. Sedangkan takdir muallaq adalah takdir yang bisa dirubah, jika kita berusaha. Seperti rezeki, sembuh dari sakit dan banyak lagi.

Buku ini dengan paparan yang lugas dan mudah dipahami, menjelaskan tentang bagaimana kita bisa meluruskan takdir. Di mana kisah ini merupakan kisah nyata dari seorang dokter ahli ginjal dalam menyikapi berbagai permasalahan hidupnya dengan bijak untuk meluruskan tadir.

Siapa yang menyangka bahwa  Roesli kecil yang sebelumnya tumbuh dengan sehat tiba-tiba, pada usianya yang kelima tahun,  kaki kirinya mengalami polio, sehingga tidak bisa digerakkan.  Keadaan itu tentu cukup mengejutkan. Berbagai alternatif pengobatan sudah dilakukan orangtua Roesli untuk menyembuhkan kakinya. Akan tetapi, ternyata Allah berkehendak lain.

Melihat keadaan itu, akhirnya orangtua Roesli memilih berupaya untuk menyelamatkan mental putranya. Dalam artian, mereka berusaha bersikap wajar dan tidak memperlakukan Roesli selayaknya orang cacat. Dan cara ini sepertinya sangat berhasil. Karena pada kenyataannya, meski terlahir dengan kekurangan, Roesli mampu bersaing dengan teman-temannya lainnya dan berhasil menjadi seorang dokter ahli ginjal. Bahkan dia berhasil mendirikan sebuah rumah sakit khusus ginjal.

Namun ternyata cobaan yang dialami Roesli tidak berhenti di sana saja.  Ketika dia tengah mengisi acara ilmiah di Bali, dia mengalami serangan stroke. Dari hasil CT Scan, para dokter berkesimpulan telah terjadi pendarahan otak pada dokter Roesli akibat hipertensi. Di mana menurut paparan istrinya, tekanan darahnya saat itu mencapai 198/125 mmHg (hal 176).

Berbagai upaya kembali dilakukan untuk memulihkan keadaan Roesli. Berbagai terapi rehabilitasi secara intensif telah dia lakukan. Dari Fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara ditambah tusuk jarum secara rutin. Bahkan dia juga menjalani terapi di kolam renang (hidroterapi) di Ciater Spa Resort, serta menjalani cara rehabilitasi stroke mutakhir yaitu TSM (Transcephalic Magnetic Stimulation) dan DSA  (Digital Subtraction Angiography). Semua ini dijalini Roeli dengan tekun, karena dia ingin sembuh (hal 180).

Hingga akhirnya kelumpuhan di lengan dan tungkainya lambat laun sudah membaik, meski memang tidak seratus persen.  Namun kesembuhan itu sangat disyukuri Roesli. Bahkan dia kembali membuka praktek, karena menurutnya dengan kembali beraktifitas dan bisa berguna bagi orang lain, juga merupakan cara pengobatan tersendiri bagi Roesli.  Tidak hanya itu, dia juga mendapat tawaran dari sahabatnya, dr. Augusta untuk menjadi pembicara ilmiah, meski dalam keadaan tidak sempurna dengan duduk di kursi roda.

Kisah yang dialami Roesli benar-benar sangat menginspirasi. Dengan segala keterbatasannya dia tetap berjuang untuk bangkit dan bisa berguna bagi orang lain. Menurut Roesli dalam menyikapi hidup dan agar bisa meluruskan takdir maka pertama-tama adalah  selalu berpikir positif. Kita harus mau berusaha dengan gigih dalam upaya meraih kesuksesan atau mimpi yang kita miliki. Tidak lupa kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah setelahnya kita harus bertawakal.  Kemudian ketika kita mengalami sebuah ujian, jangan jadikan hal itu menjadi alasan untuk menyerah. Namun jadikan kegagalan sebagai epifani untuk bangkit dan terus berusaha.

“Kadang kehidupan dapat   menumbangkan kita. Kitalah yang memutuskan untuk tetap jatuh atau kembali bangkit.” (hal 61).

Buku ini sangat patut kita baca dan renungkan. Dilengkapi dengan kisah-kisah ketaladan yang lain, serta pembasahan yang menggabungkan  pendekatakn ilmian dan kajian keagamaan, buku ini akan sangat membantu kita untuk membangunkan motivasi dan semangat untuk berjuang.

Srobyong, 16 November 2018

Thursday, 6 December 2018

[Resensi] Nilai Pembelajaran dari Cerita Mitos dan Legenda

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 2 Desember 2018 



Judul               : Di Surga, Kita Dilarang Bersedih
Penulis             : Umar Affiq
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 312 halaman
ISBN               : 978-602-5783-21-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mitos merupakan sebuah kisah tentang masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan dewa serta kisah tentang pahlawan pada zaman dahulu. Di mana kisah tersebut memiliki hubungan erat dengan sebuah asal usul sebuah tempat dan biasanya bersifat gaib.  Legenda adalah cerita-cerita yang dipercayai penduduk di suatu tempat sebagai kisah nyata. Sedangkan mimpi adalah pengalaman dibawah sadar yang membuat kita bisa melihat, mendengarkan atau merasakan hal-hal  lain secara cepat dan singkat. 

Memadukan tiga unsur tersebut dalam sebuah cerita,  buku kumpulan cerpen ini cukup menarik untuk kita baca. Terdiri dari 28 cerita, kita akan diajak berpetualang dengan berbagai mitos, legenda serta mimpi-mimpi, yang mungkin sangat dekat dalam keseharian kita. Tidak hanya itu, melalui kisah-kisah ini kita juga bisa mengambil nilai-nilai pembelajaran yang bisa kita jadikan bahan renungan.

Sebut saja kisah berjudul “Orang-Orang Karang Maling”. Kisah ini menceritakan tentang sebuah desa, yang dihuni oleh para maling.  Dalam tradisi desa tersebut, mereka tidak mempercayai bahwa manusia tertua yang pernah ada di jawa adalah Meganthropus Palaejojavanicus.  Karena di pojok Desa Karang Maling terdapat kompleks pemakaman yang amat luas yang di tengah-tengahnya ada cungkup panjang yang mengayomi makan yang dipercaya sebagai orang Karang Maling pertama bernama Mada Maling (hal 13).

Cerita ini pun diteruskan dari satu generasi ke generasi lain. Anak-anak selalu diajarkan untuk tidak mudah percaya dengan berita-berita yang ada. Karena bisa jadi kisah itu adalah kisah bohongan. Hingga cerita ini sampai pada Kunthari Kampret yang memiliki pemikiran kritis.

Mengambil latar kisah tentang kedatangan Nabi Adam ke bumi, kisah ini cukup menggelitik.  Belum lagi pilihan ending yang ternyata sangat menjebak.  Melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya berpikir kritis dan haus akan pengetahuan baru (hal 11).

Ada pula kisah berjudul “Sungai Darah” yang menceritakan tentang kekagetan tokoh aku, ketika tiba-tiba dia melihat sebuah sungai berdarah. Di mana air dari sungai itu benar-benar anyir, asin dan amis. Di sana tokoh aku bertemu dengan seorang perempuan, yang mengungkapkan tentang alasan kenapa sungai itu bisa tercipta.

“Sungai ini akan terus mengalir selama lelaki itu dan orang-orang sepertinya terus mengorbankan orang-orang di sekitarnya demi menambah kekayaan. Lalu orang-orang  yang dikorbankan akan terlarung dari liang roh sampai ke sini, sedang raganya telah dikuburkan atau barangkali dikremasi  oleh keluarga yang ditinggalkan.” (hal 39-40).

Si tokoh aku itu pun antara percaya dan tidak percaya. Namun ketika sosok perempuan menyebut sebuah nama, tiba-tiba dia merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia duga.  Kali ini memadukan antara mimpi, desas-desus pesugihan dan mitos sungai merah dari mesir kuno—yang berhubungan dengan masa Nabi Musa, penulis menghadirkan kisah yang menarik. Meski bagian akhir cukup mudah ditebak, saya suka dengan pesan tersirat yang terdapat dalam kisah ini.

Melalui kisah ini kita diingatkan tentang betapa berbahaya sikap rakus dan tamak.  Karena sikap itu akan membuat  kita menjadi pribadi yang berani menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan dan tidak segan untuk mengorbankan nyawa orang lain.

Selain dua kisah tersebut, kisah lainnya pun tidak kalah seru dan memikat. Dari semua cerita yang ada, saya paling terkesan dengan cerita  Mayat Tergeletek di Tengah Jalan, Seekor Ular yang Menggigit Ekornya Sendiri dan Bocah Rebo Wekasan. Kisahnya sederhana tapi sangat menarik dan menggelitik.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dipahami, buku ini menarik untuk dibaca. Hanya saja ada beberapa bagian cerita yang menurut saya kurang terasa hidup dan datar. Namun lepas dari kekurangan yang ada, penulis telah berhasil menghadirkan sebuah buku yang menghibur juga memberi banyak nilai pembelajaran. Di antaranya kita diingatkan untuk tidak saling mengunjing atau berbuat ghibah, jangan diperbudah hawa nafsu dan banyak lagi.

Srobyong, 20 September 2018

Tuesday, 4 December 2018

[Resensi] Menyikapi Kejahatan dengan Kebaikan

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 23 November 2018


Judul               : Merindu Baginda Nabi
Penulis             : Habiburrahman El Zhirazy
Penerbit           :  Republika
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : iv + 176 halaman
ISBN               : 978-602-573-419-9
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hidup itu seperti roda yang berputar.  Kadang kita berada di atas, kadang di bawa. Jadi kita tidak boleh terlalu sombong  dengan apa yang sudah kita capai saat ini. Semestinya kita bersikap syukur dan terus menambah iman dan ilmu untuk bekal hidup di dunia dan akhirat.

Setelah sukses dengan karya-karyanya, Kang Abik ini, kembali menelurkan karyanya lagi.  Kali ini dengan pilihan tema yang tidak terlalu berat,  yang saya pikir pas dibaca untuk usia remaja. Karena dalam novel ini lebih banyak kita akan diajak melihat potret dunia remaja dengan berbagai liku kehidupan. Serta kita diajak untuk  merenungi tentang bagaimana kita menghadapi tantangan hidup yang bisa saya katakan tidak mudah.

Seperti biasanya dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dipahami, Kang Abik menghadirkan  kisah yang cukup menarik dan menyentuh. Tentu saja khas dari Kang Abik adalah  nilai-nilai pembelajar hidup yang banyak,  serta adanya unsur dakwa yang sangat kental,  sebagaimana sudah menjadi ciri khas dalam setiap karyanya.

Kisahnya sendiri berpusat pada kehidupan Rifa, gadis dari tong sampah atau gadis terbuang, yang kemudian mendapatkan kasih sayang berlimpah dari orangtua asuhnya.  Dia tumbuh di  Darus Sakinah, yayasan yatim piatu yang diurus oleh Pak Nur, atas wasiat Mbah Tentrem, selaku penemu pertama Rifa. Di sanalah, Rifa didik dengan nilai-nilai agama kental serta pendidikan akhlakul karimah. Sehinga dia tumbuh menjadi gadis yang bersahaja dan pintar. Berbagai prestasi telah dia raih. Bahkan dia sempat ikut pertukaran pelajar ke San jose, Amerika.

Namun ternyata ada Arum, teman sekelas Rifa, yang memiliki  rasa iri dan dengki terhadap Rifa. Apalagi dalam nilai akademisnya selalu kalah dari Rifa. Oleh karena itu dia berusaha agar Rifa bisa tinggal kelas, karena pertukaran pelajar.

“Peraturan kedisiplinan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, Bu! Jangan ada yang jadi anak emas pihak sekolah! Nanti akan bikin suasana tidak sehat, Bu!” (hal 39).

Tidak hanya itu Arum juga berusaha mencelakakan Rifa dengan mengirim seseorang, hingga Rifa mengalami kecelakan motor.  Arum juga tidak segan menyingkirkan orang-orang yang membela dan melindungi Rifa.  Namun begitu, Rifa tetap memilih sabar dan tetap berbuat baik kepada Arum. Dia selalu ingat dengan pesan ibunya.

“Di dunia ini isinya tidak hanya orang baik, ya ada orang jahat (buruk). Jadi   orang baik atau orang jahat itu pilihan. Jadilah orang yang baik. Kalau kami dinakali orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas.  Yang penting kamu tidak nakal dan berbuat nakal kepada orang lain. Kalau kamu dijahati orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas. Yang penting kamu tidak jahat dan tidak menjahati orang lain. Kalau kamu difitnah orang ya biarkan saja, nggak usah dibalas. Yang penting kamu tidak memfitnah orang lain. Kalau kamu berbuat kebajikan tapi tidak dianggap oleh orang lain ya biarkan saja, tidak usah dipikir, sebab Gusti Allah itu Maha Adil. Kalau Allah bersamamu, apalagi yang kamu khawatirkan?” (hal 86).

Selain fokus pada kisah perjalanan hidup Rifa, akan disinggung pula tentang kerinduan umat kepada Rasulullah saw. Kerinduan yang mampu mengantarkan seseorang pada tempat yang tidak terduga. Serta kerinduan yang membuat seorang insan ingin selalu meneladani sikap Rasulullah.

Secara keseluruhan novel ini cukup ringan dan menarik untuk dibaca. Namun dari sekian banyak kelebihan yang ada, saya merasa novel ini juga memiliki banyak lubang kekurangan. Saya merasa ekseskusi cerita kurang memuaskan dan kisahnya cukup datar dan tidak ada gelombang yang berarti. Bahkan untuk pilihan judul, telah membuat saya terkecoh dengan isinya. Namun lepas dari kekurangannya, melalui novel ini kita bisa belajar tentang arti syukur, sabar dan ikhlas dalam menerima takdir.  Kita juga diajarkan untuk tetap berbuat baik, meski telah dijahati. Selain penulis juga menyisipkan pesan agar kita gemar membaca, menghindari narkoba, pornografi serta selalu semangat dalam mencari ilmu dan meraih cita-cita. Karena iman dan ilmu adalah kunci sukses dalam menghadapi tantangan hidup.

“Teman terbaik kalian  dalam menghadapi  tantangan hidup adalah iman dan ilmu. Ilmu adalah investasi terbaik yang akan terus mendatangkan keuntungan setiap saat.” (hal 89).

Srobyong, 18 November 2018

Saturday, 1 December 2018

[Resensi] Pendidikan Keuangan untuk Meraup Kekayaan

Dimuat di Koran Jakarta, Rabu 21 November 2018


Judul               : Why the Rich are Getting Richer
Penulis             : Robert T. Kiyosaki & Tom Wheelwright
Penerjemah      : Fairano Ilyas
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 306 halaman
ISBN               : 978-602-03-8107-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Jika kita ingin menjadi seorang jutawan, maka kita memerlukan pendidikan keuangan. Dengan pendidikan keuangan, kita bisa mengelola uang yang kita miliki dengan baik, sehingga kita bisa memperoleh banyak keuntungan.  Buku yang ditulis Robert T. Kiyosaki dan Tom Wheelwright ini sangat cocok untuk kita baca.  Dengan sudut pandang baru dan cara berpikir yang berbeda, Robert mengajarkan tentang konsep keuangan yang baik dan akurat.  Buku ini dengan lugas dan jelas, akan memaparkan tentang apa itu pendidikan keuangan dan pengaruhnya dalam memperoleh kekayaan. 

Jika dulu menabung merupakan cara pintar dalam mengumpulkan uang, maka saat ini penabung dianggap sebagai pecundang.  Dahulu kala, menjalani hidup di bawah  kemampuan dan banyak menabung adalah sesuatu yang masuk akal. Kita bisa memperoleh jaminan keuangan, mungkin bahkan menjadi kaya, dengan hidup berhemat dan menabung untuk masa depan. Namun setelah 1971, tahun ketika Presiden Nixon melepaskan dolar dari standar emas dan membuka pintu bagi bank serta pemerintah untuk mencetak uang, hidup di bawah kemampuan dan menabung menjadi tidak masuk akal.

Lebih jelasnya dipaparkan oleh penulis, pada 1976 tabungan sebesar $ 1juta X bunga 15% = $150.00 setahun. Pada masa dulu kita akan sejahtera dengan %150.000 dari hasil tabungan kita. Akan tetapi pada masa sekarang, tabungan $ 1juta X bunga 2% = $20.000 setahun. Ini menunjukkan bahwa bunga tabungan mulai meninggi. Kemudian mari kita lihat suku bunga dibandingkan dengan inflasi, yang terjadi karena pemerintah terus mencetak uang. Jika tingkat inflasi 5%, berarti kita telah kehilangan 3% uang yang kita tabung per tahun.

Maka tidak salah ketika Warren Buffet memberikan pesan bagi penabung, “Satu hal yang akan saya katakan pada Anda adalah bahwa investasi terburuk yang Anda lakukan adalah investasi tunai. Semua orang mengatakan uang tunai adalah yang terpenting dan segala sesuatu seperti itu. Dalam beberapa waktu, uang tunai tidak akan ada nilainya.” (hal 36).

Kemudian permasalahan pajak, yaitu pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara yang digunakan kembali untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.  Bagi sebagian orang akan menganggap bahwa pajak, sedikit banyak akan mengurangi kekayaan kita. Padahal jika kita mengetahui pendidikan keuangan, maka kita bisa menyiasati pembayaran pajak lebih kecil secara legal. Sehingga keyayaan kita bukannya berkurang namun bertambah.

Kita bisa melihat siapa yang membayar pajak paling  besar atau sedikit lewat kuadran. Pertama E—employee (pegawai) membayar pajak 40%. B—big business owner (pengusaha besar) membayar pajak 20%. S—Self-employed (bekerja sendiri), small businers, atau spesial dokter, pengacara dan lain sebagainya membayar sebanyak 60%. Dan I—investor aktif membayar 0%.

Misalnya saja Gubernur Mitt Rommey membayar pajak 13% sedangkan Presiden Barack Ombama membayar 30%.  Ini terjadi karena Rommey beroperasi dari kuadran B—big business owner (pengusaha besar) dan sebagai I—investor aktif. Sedangkan Obama beroperasi  sebagai E—employee (pegawai) dan S—Self-employed (bekerja sendiri), small businers, atau spesial dokter, pengacara dan lain sebagainya (hal 55).

Oleh sebab itu Tom Wheelwright, memaparkan “Seseorang harus menempatkan diri dalam situasi yang tepat untuk memperoleh manfaat pajak. Bila kita melakukannya, tidak peduli kaya atau tidak, kita akan memperoleh manfaat pajak.” (hal 57).

Selain yang sudah dijelaskan di atas, penulis juga membahas tentang manfaat utang yang ternyata juga memiliki potensi untuk membuat orang kaya semakin kaya. Salah satunya karena adanya  bunga pinjaman dan utang ternyata bebas pajak. Tom Wheelwright memaparkan, “Aturan umumnya semua pendapatan dikenakan pajak. Pendapat sendiri adalah uang yang Anda terima yang boleh  digunakan sesuka hati tanpa terikat apa-apa. Dan utang bukanlah pendapatan. Anda harus membayar kembali. Jadi, bila Anda meminjam uang untuk diinvestasikan, itu adalah bebas pajak. Hal itu membuat utang menjadi lebih murah daripada ekuitas (uang yang sudah dipajaki). Jadi, meskipun Anda dikenakan bunga 5-6%, utang jauh lebih murah daripada bila Anda menggunakan ekuitas yang dikenakan pajak 40%.” (hal 101).

Buku ini sangat pas dan patut dibaca bagi siapa saja yang ingin bisa mengelola uang dengan baik dan meraup kekayaan.

Srobyong, 18 November 2018

[Resensi] Berdamai dengan Rasa Takut

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 18 November 2018 


Judul               : Turtles All The Way Down
Penulis             :  John Green
Penerjemah      : Prisca Primasari
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 344 halaman
ISBN               : 978-602-402-115-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Buku ini ditulis oleh John Green, penulis yang sebelumnya telah melahirkan buku best seller “The Fault in Our Stars” dan “Looking for Alasaka”. Sebagaimana buku sebelumnya, karya John Green ini pun telah mendapat banyak perhatian dan telah dinanti-nantikan oleh pembaca. Maka tidak salah jika kemudian buku terbarunya kembali mendulang sukses. Bahkan buku ini telah menyabet beberapa penghargaan bergengsi. John Green telah berhasil mengharu birukan para pembacanya lewat kisah yang romantis, humanis dan filosifis.  Lewat buku ini secara tidak langsung juga telah menunjukkan, bahwa John Green identik suka menulis kisah dengan latar tokoh yang berpenyakit.

Menceritakan tentang kehidupan Aza Holmes, gadis yang jika terlihat dari luar nampak biasa dan tidak memiliki masalah. Akan tetapi ketika kita mengenalnya lebih dekat, maka kita akan tahu, bahwa dia memiliki kecenderungan  suka gugup dan khawatir. Dia memiliki penyakit OCD—obsessive compulsive disorder. Mengutip dari  artikel karya Novita Josep, di web hello sehat, OCD adalah sebuah gangguan psikologi yang dapat mempengaruhi pikiran (obsesif) dan perilaku (kompulsif) manusia.  Kelainan ini akan menaganggu pikiran penderitanya dengan menghasilkan rasa gelisah, cemas, khawatir, takut dan menuntut hal yang sama berulang kali.

Aza selalu memiliki kekhawatiran berlebih, sehingga sering kali memunculkan berbagai pikiran di kelapa seperti, berbahayanya tentang gejala infeksi bakteri Clostridium difficile,  yang bisa berakibat fatal pada dirinya, mikroba manusia dan banyak lagi. Sehingga dia perlu membersihkan diri lagi dan lagi.  Meski berbeda, Aza tetaplah remaja biasa yang tetap bersekolah dan bergaul, meski harus berperang dengan pikirannya sendiri.  Aza memiliki sahabat terdekat bernama Daisy, yang telah mengenal berbagai tindakan aneh yang kerap terjadi pada Aza.

Kehidupan dua remaja itu awalnya berjalan normal, hingga suatau hari Daisy mengajak Aza untuk menyelidiki hilangnya seorang miliarder—Russell Pickett—yang berhadiah seratus ribu dolar. Untuk itulah mereka perlu mendekati putra sang miliarder untuk mengorek keterangan. Namun siapa sangka, putra miliarder tersebut, ternyata teman lama Daisy di masa kecilnya dulu, Davis  Pickett.

Dan di sinilah masalahnya, dalam upaya menyelidiki keberadaan Russell Pickett, Aza malah terjebak dalam zona cinta dengan  Davis. Keadaan yang kemudian membuat Aza kembali mengamali dilema berat terhadap pikirannya sendiri. Aza sangat menyadari bagaimana takutnya dirinya jika harus berdekatan dengan orang lain, saling bergesekan, jika di dalam pikirannya sering tumbuh ketakutan dan kekhawatiran tentang bakteri yang  tiba-tiba bisa menyerang dirinya.  Meskipun Aza melakukan pengobatan dengan sesi konseling, hal itu tidak mengurangi kekhawatiran dan ketakutan yang sering bersarang di kepalanya.

Belum lagi masalah lain yang muncul, yang membuat Aza harus berpikir ulang dalam menetukan keputusan  terbaik. Karena hal itu bisa memengaruhi kehidupan orang lain. Fakta menarik yang tidak sengaja dia temukan, ternyata bisa jadi akan menimbulkan kesengsaraan bagi Davis dan adiknya.

Membaca kisah ini, kita akan dihadapkan pada petualangan gadis remaja yang cukup menarik. kecerdasan menganalisa situasi patut untuk diacungi jempol. Dan lagi, meski Aza memiliki ketakutan tersendiri dalam hidupnya, dia tetap berusaha menjalaninya dengan baik. Novel ini menggagas tentang keuletan hidup yang dipadukan dengan kisah kekuatan persahabatan serta ketulusan cinta. Membuat kita seperti melihat langsung kisah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja bagi saya sendiri, novel ini belum sepenuhnya membuat saya jatuh cinta. Pada beberapa bagian, saya merasa ada  alur cerita,  yang cukup membosankan. Saya juga kurang suka dengan gaya bahasa penulis yang menurut hemat saya kurang lugas dan cukup sulit untuk dicerna. Memang benar kesuksesan sebuah buku tidak menjamin sebuah buku bisa dibaca dan disukai semua orang. Karena pada dasarnya semua kembali pada selera masing-masing pembaca.

Namun lepas dari kekurangannya novel ini banyak mengajarkan untuk berdamai dengan rasa takut. Bahwa kita harus berani menghadapi hidup. Tidak apa-apa kadang kita jatuh dan sedih, namun kita harus kuat dna terus melangkah. 

Srobyong, 11 November 2018