Thursday, 24 May 2018

[Resensi] Mengenal Kehidupan Bung Hatta yang Menginspirasi

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 11 Mei 2018


Judul               : Hatta : Aku Datang Karena Sejarah
Penulis             : Sergius Susanto
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 364 halaman
ISBN               : 978-602-402-096-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“..., setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, sesudah konstituante dilantik, saya akan meletakkan  jabatan itu secara resemi.” (hal 13).

Dibuka dengan prolog yang menarik, buku yang membahas tentang kehidupan salah satu proklamator Indonesia—Mohammad Hatta, buku ini sangat patut dibaca bagi semua kalangan. Sergius Susanto menghidupkan kisah perjalanan kehidupan Hatta lewat jalinan  kata yang lugas,  renyah dan aktual. Kita diajak mengenal lebih dekat sosok yang kerap disebut sebagai Gandhi of Indonesia, karena gaya berpolitik Hatta itu selalu mengedepankan perdamaian.

“Penderitaan seharusnya membukakan mata pada makna kemanusiaan. Tapi mengapa orang-orang istana justru gemar menciptakan kesakitan pada rakyat banyak?” (hal 23).

Sedari awal terjun dalam organisasi politik, Hatta sudah siap dengan berbagai konsekuensi yang akan dia dapat. Termasuk ketika dia dijebloskan di penjara Belanda. Lalu tidak berselang lama, dia dibuang di Digul, Banda Niera, Penjara Glodok hingga Pulau Bangka. Namun semua perlakuan jahat yang dilakukan Belanda, tidak membuat semangat juang Hatta surut. Dia malah semakin terpacu untuk melakukan pergerakan.

Bersama Syahrir, Hatta bahkan membangun sebuah organisasi yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia—PNI  yang bertujuan mengumpulkan kekuatan baru  lewat pikiran dan mental anggotanya. Dia yakin dengan pendidikan akan mampu membukakan mata hati terhadap banyak aspek dalam kehidupan ini (hal 163).

 “Rakyat kita tertalu lama ‘dididik’ tentang cita-cita umum dan dendang persatuan. Cara didik yang keliru mengajarkan asas mana yang harus dipakai. Karenanya, kita wajib memajukan pendidikan baru dengan asas yang terang.” (hal  214).

Pandangan ini sangat berbeda dengan  Soekarno yang lebih mengedepankan pada mobilisasi masa.  Namun begitu, karena memiliki tujuan yang sama untuk lepas dari penjajah, mereka pun saling bahu membahu dalam pergerakan. Hingga akhirnya mereka berdiri bersama untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka pun kemudian ditunjuk sebagai presiden—Soekarno dan wakil presiden—Mohammad Hatta.

Hanya saja, setelah  menjabat sebagai wakil presiden selama sebelas tahun, tiba-tiba Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Dia memilih menjadi rakyat biasa. Dia sudah tidak kuasa lagi melihat berbagai penyelewengan wewenang di istana.

“Kita selalu menggembar-gemborkan, bahwa negara kita berdasarkan pancasila, tetapi di mana keadilan, perikemanusiaan dan demokrasi yang sebenarnya. Apa  yang terjadi? Di masa lalu orang-orang pergerakan berjuang untuk mematahkan penindasan dan kezaliman kolonial Belanda. Kini, pemerintah yang merdeka justru mengunci ranah kekebesan rakyatnya. Adakah demokrasi, kalau orang merasa takut, harus tutup mulut, kritik tidak diperbolehkan, sehingga berbagai hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berlaku leluasa?” (hal 296).

Membaca buku ini seperti memasuki langsung masa lalu, tentang perjalanan Bung Hatta selama masa pergerakan. Semangat juang Bung Hatta nampak jelas terpancar melalui kisah ini. Dialah sosok pahlawan yang bersahaja,  adil, peduli dengan pendidikan rakyatnya juga menghargai kedamaian. 
Buku ini secara tidak langung menjawab berbagai rasa penasaran saya tentang kehidupan Bung Hatta, yang memang dalam berbagai literatur jarang dibahas. Bahkan dalam buku materi sejarah. Berbanding terbalik dengan Soeharto yang mana sudah sangat banyak buku yang membahas kisah hidup, perjuangan juga pemikiran dari berbagai sisi.

Secara keseluruhan buku ini memang sangat asyik dinikmati. Bahasa renyah dan tidak sukar dipahami. Hanya saja saya merasa ada bagian yang tidak runtut, bahkan terkesan loncat-loncat, sehingga membuat saya cukup kaget dengan pergantian lokasi atau cerita yang tiba-tiba. Namun lepas dari kekurangannya buku ini tetap rekomendasi untuk dibaca.

Melalui kisah ini, kita dapat meneladi sikap hidup Bung Hatta yang sangat menginsprisai. Kita diajak menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, juga gemar membaca. Kita juga diajak untuk bersatu dan berjuang bersama untuk mencapai satu tujuan.

 “Karena itu, setiap perpecahan, dalam bentuk apa pun, sangat ditentang. Hanya melalui persatuan putra-putra Indonesia kita dapat mencapai tujuan.” (213).

Srobyong, 8 Maret 2018 

Wednesday, 23 May 2018

[Resensi] Kisah Para Perempuan Sukses yang Menginspirasi

Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 8 Mei 2018 


Judul                : Perempuan Pemimpin 
Penulis              : Betti Alisjahbana
Penerbit            :  Mizan
Cetakan           : Pertama, 1 Januari 2017
Tebal                : 290 halaman
ISBN               : 978-979-433-954-1
Peresensi          : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), 49,75 persen dari penduduk Indonesia pada tahun 2013 adalah perempuan. Dengan terbukanya pendidikan bagi perempuan, kita bisa melihat bahwa perempuan punya kemampuan yang sangat tinggi, tidak kalah dengan pria (hal 8). 

Misalnya saja di ITB (Institut Teknologi Bandung), pada tahun akademik 2015-2016,  meski seleksi masuk sangat ketat, 40,5 persen mahasiswa yang diterima adalah perempuan. Padahal di ITB sebagian besar program pendidikannya adalah sains dan teknologi, bidang yang biasanya lebih dekat dengan laki-laki.  Dalam hal predikat kelulusan, dari 349 sarjana yang lulus dengan predikat cumlaude,  41 persen adalah perempuan.

Saat ini para wanita sudah mulai  berpartisipasi pada  posisi kepemimpinan. Mereka menunjukkan potensi yang dimiliki, yang ternyata kemampuan mereka tidak kalah dari kaum laki-laki.  Delapan dari 34 menteri (33,5 persen) di Kabinet Kerja Jokowi adalah perempuan. Di DPR, dari 560 anggota di periode 2014-2019, 97 orang di antaranya (17,3 persen) adalah perempuan (hal 11). Buku ini dengan paparan yang menarik dan menginspirasi, mengajak kita mengenal dan meneladani semangat juang, para wanita dalam meraih kesuksesan.

Sebut saja Atiek Nur Wahyu. Karena kegigihan dan kualitas kerjanya yang apik dan terus berkembang, dia kini menui kesuksesan. Dia memulai karirnya pada tahun  1989 di stasiun RCTI, dan sekarang dia menjadi CEO Trans Media Gruop. Dalam  prinsip kerjanya dia selalu berusaha memberikan upaya terbaik dari setiap tugasnya. Dia memaparkan, “Untuk selalu bisa menjadi yang terbaik, kita harus bisa mengelola kinerja.”

Masih menurut Atiek, “Dalam membangun tim dan mengelola kinerja, sebagai pemimpin, kita harus membangun komunikasi yang baik antar personal, maupun lintas departemen dan visi, sehingga terbentuk kerja sama tim yang baik pula. Bahwa  kesuksesan dan kegagalan kita sangat ditentukan oleh kemampuan dalam mengerjakan detail-detail pekerjaan.” (hal 14).

Ada pula Intan Abdams Katoppo. Dari tahun 2011-2015, dia pernah menjabat sebagai  Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (Persero). Untuk mencapai kesuksesan itu tentu tidak mudah, Intan harus banyak belajar dari mentor. Dia selalu berusaha untuk open heart, open will, dan open mind.   Melalui buku ini, dia juga berbagi  tiga resep  menjadi sukses. Pertama,  jika kita berhasil, kita tidak boleh meremehkan siapa pun dan apa pun. Kedua, kita harus siap mendengar dan menerima masukan dari orang lain. Terakhir, kita harus tahu kapan saat yang tempat untuk berhenti.

Kemudian Ligwina Poerwo-Hananto. Sejak kecil dia memang sudah memiliki cita-cita menjadi pebisnis.  Dia mendirikan bisnis perencana keuangan dengan badan hukum PT Quantum Magna (QM) Financial, pada 2007. Akan tetapi bisnis yang dia bangun tidak langsung sukses dan berjalan lancar. Banyak tantangan yang harus dia hadapi sebelum tahun 2010. Akan tetapi dia tidak menyerah.
Ligwina terus belajar. Salah satunya dengan mengikuti coaching.  Dari coaching dia belajar tentang pentingnya sikap jujur terhadap diri sendiri. Kita harus mengakui kepintaran orang lain dan berani menerima kritik dan  saran. Hingga akhirnya kondisi perusahannya mulai stabil, bahkan melesat.  Saat ini, QM Financial sudah membuat lebih dari 1.000 rencana keuangan (hal 49).

Selain mereka, masih ada  beberapa wanita sukses yang kisahnya tidak kalah menginspirasi. Seperti Mira Amshorse—Direktur Utama PT Sarinah (Persesor) 2012-2014, Mira Lesmana—Produser Film, Founder Miles Films, Nurhayati Subakat—Founder dan CEO PT Paragon Technology Innovation (Wardah Cosmetics) dan banyak lagi. Di mana mereka ternyata memiliki misi yang sama, yaitu ingin memperjuangkan perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.

Menunjukkan bahwa wanita juga pantas menjadi pemimpin. Meski mereka memiliki kelemahan, wanita juga memiliki kelebihan dalam hal meng-handle para pekerja dengan sikap mengayomi. Karena perempuan memiliki sikap sabar, perhatian serta kepekaan emosi dan empati yang tinggi. Perempuan adalah mahkluk multitasting, piawai berjejaring dan bernegosiasi (hal 79).

Sebuah buku yang menarik untuk dikaji dan dibaca. Dari buku ini saya menyimpulkan, bahwa perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki dalam memperoleh kesuksesan.  Serta jika kita ingin menjadi seorang yang sukses, maka kita perlu memiliki misi, mau belajar dari mentor, sabar, membangun jejaring luas, berani keluar dari zona nyaman.

Srobyong, 5 Mei 2018 

Tuesday, 22 May 2018

[Resensi] Petualangan Memburu Puspa Karsa

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 6 Mei 2018 


Judul               : Aroma Karsa
Penulis             : Dee Lestari
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : xiv + 710 halaman
ISBN               : 978-602-291-463-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Siapa yang tidak tertarik ketika mendapat informasi tentang kehebatan sebuah bunga misterius—puspa karsa—yang konon  tiap pemunculannya  bisa mengubah tata Nusantara?  Semua bermula ketika Janirah meninggalkan sebuah peti yang berisi lontar kuno. Di mana lontar itu menunjukkan fakta menarik tentang puspa karsa, yang awalnya Raras pikir hanya ada dalam dongeng, ternyata bunga itu benar-benar ada dan berada di suatu tempat yang tersembunyi.

Menariknya lagi bunga ini memiliki kegunaaan yang luar biasa. “Prosi pertama akan mengubah nasibmu. Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu. Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu.” (hal 9).  Hal itulah yang mendorong Raras ingin membuktikan kebenaran cerita Janirah. Dia ingin memburu dan menemukan Puspa Karsa.

Maka Raras pun membuat sebuah ekspedisi yang didanai Kemara—pabrik milik Janirah yang diakuisisi olehnya. Dan dengan  tangan dinginnya itu dia berhasil membuat Kemara—pabrik yang didirikan Jarinah yang sempat diambang pailit, akibat dikelola oleh Romo—ayah Raras kembali bangkit dan semakin sukses. Ekspedisi tersebut diketuai Profesor Sudjatmiko. Sayangnya pada ekspedisi ini dia harus menelan kegagalan.  Meski begitu, Raras bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia kembali menyusun rencana baru agar bisa  menemukan puspa karsa. Apalagi dalam ekspedisi pertama, dia menemukan sebuah jalan yang mungkin bisa dia gunakan untuk menemukan puspa karsa.

Dan perjalanannya dalam upaya menemukan puspa karsa semakin lengkap ketika dia  tanpa sengaja mengenal Jati Wesi. Pria sederhana yang tinggal di TPA Bantar Gebang. Dia tidak menyangka kalau Jati memiliki indra penciuman yang sangat tajam, melebihi kemampuan putrinya—Tanaya Suma.  Bahkan karena kemampuannya itu Jati dijuluki si Hidung Tikus.

Kehidupan Jati yang awalnya penuh perjuangan, karena harus bekerja dari satu tempat ke tempat yang lain, pun berubah total ketika dia dibawa Raras ke kediamannya dan bahkan disekolahkan ke Paris. Meski dia harus membayar kemudahan itu dengan kebencian dari Tanaya Suma, yang merasa tersaing karena keahliannya dalam meracik parfum juga penciumannya yang tajam.

Namun semakin lama tinggal dengan keluarga Raras,  Jati mulai menemukan misteri tentang siapa dirinya sendiri dan masa lalu yang tidak pernah dia ketahui.  Dan semua terungkap ketika dia ikut andil dalam ekspedisi perburuan puspa karsa. Ekspedisi yang sejak awal banyak ditentang, karena memang menyimpan bahaya—mengingat dalam ekspedisi ini, para anggotanya tidak hanya berhubungan dengan manusia tapi  harus menghadapi makhluk dari lingkung lain yang tidak terlihat dan berbeda.

Namun karena keegoisan Raras, tidak ada  siapa pun yang bisa membantah.  Dan di sana-lah Jati menemkukan sebuah kenyataan yang cukup mengejutkan dan tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Dee Lestari hadir dengan kisah yang unik—karena berani mengambil tema aroma, yang saya pikir jarang diangkat penulis. Belum lagi novel semi fantasi ini  dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan gurih. Sehingga kisah ini sukses membuat saya  terpana dan terhibur. Menegangkan dan membuat penasaran, sejak awal saya  membacanya. Rasanya saya tidak ingin berhenti sebelum mencapai finish

Dipadukan dengan masalah cinta, yang menjadi bumbu menarik dalam sebuah kisah, novel ini semakin menarik untuk diikuti. Saya suka dengan kejutan-kejutan yang ditawarkan Dee dalam mengungkap kelebat misteri yang sejak awal dia bangun.  Mengejutkan dan tidak terduga.  

Kisah ini seperti membuka kenyataan tentang sikap manusia yang selalu rakus dan ingin menguasai hal-hal yang menguntungkan. Manusia kerap egois, tidak memedulikan makhluk lain, asal dirinya bisa sukses.  Dari kisah ini juga saya belajar untuk  menjadi pribadi yang lebih menghargai pendapat orang lain.  Selain itu dari kisah ini kita diingatkan tentang bahaya sikap tamak dan egois—yang pada akhirnya akan membawa kerugian pada diri sendiri.

Srobyong, 21 April 2018

Thursday, 17 May 2018

[CERNAK] Talita dan Seekor Laba-Laba

Dimuat di Lampung Post, 6 Mei 2018


Ratnani Latifah

            Hari ini di sekolah Talita ada pelatihan menulis untuk anak sekolah dasar. Talita yang memang sudah sejak dulu suka menulis, langsung semangat dengan adanya pelatihan tersebut. Dengan saksama dia memerhatikan apa saja yang perlu dilakukan jika ingin menulis sebuah cerita, juga bagaimana cara mengirimkannya ke koran.  Talita juga tidak lupa mencatat hal-hal yang dia rasa penting.

            Talita memang baru kelas enam sekolah dasar, tapi karena sejak kecil, dia sudah terbiasa dibelikan orantuanya berbagai macam buku cerita, Talita jadi  mulai tertarik untuk membuat cerita sendiri. Dia memiliki mimpi, semoga suatu hari tulisannya bisa dimuat di koran atau di majalah kesukaannya.

            Sesampainya di rumah, setelah berganti pakaian, makan dan shalat,  Talita mencoba mempraktikan apa yang dia pelajari tadi. Dia duduk di kursi belajarnya dan mulai menulis.

            “Duch ... kok sulit banget, sih.”  Keluh Talita setelah setengah jam berusaha menulis, tapi belum ada satu pun kalimat yang dia tulis.

            Dia menatap kertasnya yang kosong. Entah kenapa idenya tiba-tiba buntu. Padahal tadi setelah kelas pelatihan, Talita sudah menemukan banyak ide di kepalanya.

            Akhirnya, Talita memutuskan untuk istirahat dulu. Dia memilih membaca majalah bobo yang baru dia beli. Dia mau belajar cara menulis yang baik dan disukai redaktur majalah.

            Malam harinya, setelah belajar, Talita kembali mencoba menulis. Dan kali ini dia berhasil menulis dua cerita.

            “Asyik ... akhirnya berhasil.” Talita berucap dengan girang. 

            Talita langsung semangat untuk menyalin tulisan itu ke komputer.  Dia akan mengirim tulisannya itu pada salah satu koran.

            “Semoga kali ini cerpenku dimuat.” Doa Talita sungguh-sungguh.

            Selama ini, Talita memang sangat rajin menulis cerita dan dikirim ke berbagai koran, tapi ternyata belum ada satu pun naskahnya yang berhasil tayang.  Meski begitu, Talita belum menyerah juga. Setiap hari jika ada waktu, Talita pasti akan menulis atau membaca. 

            Seperti pagi ini, ketika jam pelajaran Matematika kosong, Talita memanfaatkan waktunya dengan menulis.

            “Kamu serius ingin jadi penulis?” tanya Luluk teman satu bangku Talita di sekolah.

            “Tentu saja. Kalau tidak mana mungkin aku ikut pelatihan kemarin?” ucap Talita dengan tersenyum.

            “Kamu keren, Ta. Masih kecil kamu sudah punya mimpi.” Luluk mengacungkan ibu jarinya.

            “Trus bagaimana? Sudah ada tulisan kamu yang dimuat di koran?” Luluk penasaran. Selama ini Talita memang sering bercerita padanya. Luluk juga sering membaca cerita-cerita buatan Talita.

            “Belum ada.” Talita menggeleng lemah.  “Sepertinya tulisanku belum terlalu bagus.” Lanjut Talita.

            “Siapa bilang tulisan kamu jelek? Aku baca tulisanmu bagu-bagus, Ta. Aku saja tidak bisa menulis seperti itu.”

            “Kamu harus semangat terus, Ta. Aku yakin kamu bisa. Kamu harus seperti laba-laba, Ta.”

            “Laba-laba?” Talita mengerutkan dahinya.

            “Kenapa harus seperti laba-laba?” Talita sungguh bingung dengan perumpaan sahabatnya itu.

            Bukannya menjawab Luluk malah tertawa, membuat Talita semakin bingung.

            “Nggak seru ah, kalau aku jawab. Itu buat pr kamu saja, Ta.” Luluk tertawa semakin lebar.
 “Coba kamu amati laba-laba. Nanti kamu pasti paham.” Luluk tersenyum jahil.

“Dan siapa tahu, malah bisa jadi ide kamu untuk menulis cerita.” Lanjut Luluk.

Penasaran dengan apa yang dikatakan Luluk, Talita pun mulai memerhatikan laba-laba, bahkan ketika dia sampai di rumah.

Kenapa dia harus seperti laba-laba? Talita terus bertanya dalam hati.

Talita duduk di meja belajarnya bersiap untuk belajar, sebelum menulis cerita. Saat sedang asyik berpikir itulah, tiba-tiba dia mendengar suara keluhan ibunya.

“Aduh ... laba-laba ini tidak ada lelahnya, ya? Sepertinya baru kemarin dibersihkan, tapi dia sudah membangun rumah baru.”

Seketinya itu Talita langsung tertawa. Sekarang dia paham kenapa Luluk berkata seperti itu.
“Laba-laba itu memiliki sifat tidak mudah menyerah. Meski rumahnya dirusak berkali-kali, tapi laba-laba kembali merajut rumahnya lagi dan lagi.”  Gumam Talita.

“Dan aku harus terus menulis lagi dan lagi, meski gagal dan belum diterbitkan di koran.” Talita tersenyum.

Tiba-tiba dia mendapat ide baru untuk tulisannya.  “Terima kasih Luluk.” Gadis berkepang itu, segera mengetik naskahnya. 

Tapi baru beberapa paragraf, dia mendengar suara ibunya memanggil, meminta dia ke ruang depan.
“Wah ... selamat, Sayang. Kamu hebat sekali.”

Ibunya menyodorkan sebuah paket yang baru datang pos, yang ternyata berisi majalah anak, yang di sana tertera sebuah cerita karya Talita AN berjudul “Boneka dari Ibu”.

Srobyong, 10 Maret 2018 

Tuesday, 15 May 2018

[Resensi] Bahaya Bermain Game dan Cara Mengatasinya

Dimuat di Kabar Madura, Rabu 25 April 2018


Judul                : Ayo Kurangi Bermain Game!
Penulis              : Kim Eun-Jung
Ilustrator           : Plug
Penerjemah      : Tim Tulislah.com
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal                : 48 halaman
ISBN               : 978-602-455-247-3
Peresensi          : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Game adalah permaianan yang menggunakan media elektronik, sebuah hiburan yang berbentuk multimedia dengan tampilan menarik, yang akan membuat kita puas ketika memainkannya.  Saat ini akses bermain game semakin mudah ditemukan. Misalnya melalui ponsel pintar atau leptop.

Memang benar game itu tidak selamanya memiliki dampak buruk bagi anak. Ada kalanya game bisa sebagai sarana edukasi. Namun jika dalam bermain game sudah melebihi kapasitas waktu—dalam bermain game bisa menghasbikan waktu 2-3 jam, maka hal itu pun bisa berbahaya. Jika tidak ada kotrol dalam bermain game, maka hal itu bisa menyebabkan anak menjadi seorang pecandu game.

Pecandu game di sini maskdukan sebuta untuk orang yang tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik karena terlalu sering bermain game. Karena game, seorang pecandu game menjadi tidak teratur makan dan sulit tidur. Walaupun ingin berhenti bermain game, dia tidak bisa. Dia akan marah apabila tidak bisa bermain game (hal 33).

Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mulai mengawasi kadar permainan anak dalam bermain game. Jangan menyepelekan dengan beranggapan bahwa kebiasaan bermain game akan berubah atau sembuh dengan sendirinya. Sebagai orangtua kita harus ikut berperan serta mencoba mengubah kebiasaan buruk anak-anak dalam bermain game yang tidak terkontrol (hal 6).

Buku ini dengan  penyampaian yang mudah dipahami anak—diceritakan lewat sebuah kisah menarik—mengingatkan kepada kita untuk memerhatikan lebih mendalam tentang kebiasaan bermain game yang harus diawasi dan dibatasi, agar dampak yang terjadi tidak merugikan anak.

Di mana diceritakan Bobby ini selalu memikirkan game di mana pun dan kapan pun. Baik di sekolah atau di rumah. Karena kebiasaannya ini dia jadi tidak fokus belajar.  Hal yang pertama dia pikirkan hanya bagaimana caranya agar bisa bermain game sampai puas tanpa dimarahi ibu dan tanpa diganggu siapa pun (hal 8). Pernah dia tidak menyelesaikan pekerjaan rumah—pr karena lebih memilih bermain game. Sayangnya Bobby tidak merasa bersalah dengan sikapnya itu. Bahkan meski keesokan harinya kepalanya pusing karena kebanyakan bermain game, Bobby tetap mengulangi perbuatannya.  Tidak hanya itu, gara-gara kecanduan bermain game, Bobby hampir tertabrak karena tidak memerhatikan jalan. Sayangnya Bobby tetap tidak peduli. Dan masih karena keasyikan bermain game, Bobby terlambat sekolah  (hal 23).

Lalu bagaimana caranya agar anak-anak tidak sampai kecanduan bermain game? Maka di sinilah peran orangtua dalam membantu menjaga dan melatih anak membagi waktu. Kita harus menjelaskan pada anak bahwa pencandu game itu memiliki banyak dampak buruk.  Di mana otak akan malas beraktivitas, leher, pergelangan tangan dan mata akan menjadi sakit dan sering kali kita sulit berkonsentrasi dalam berbagai aktivitas. Selain itu sikap kita jadi  kasar—mudah marah dan cepat lelah (hal 36-37).

Orangtua harus mulai bersikap tegas. Mengajarkan anak bersikap disiplin. Boleh bermain game tapi dengan batasan waktu agar tidak sampai kecanduan. Ajak anak mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan positif. Seperti membantu ibu memasak, mendaki gunung bersama ayah, bermain sepak bola bersama teman-teman dan kegiatan menarik lainnya. 

Srobyong, 30 Desember 2017