Wednesday, 12 September 2018

[Resensi] Revolusi Mental Sebagai Jalan Membangun Karakter Bangsa

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 Agustus 2018


Judul               : Bung Karno dan Revolusi Mental
Penulis             : Sigit Aris Prasetyo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 380 halaman
ISBN               : 978-602-7926-37-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Revolusi mental dalam konteks historis jelas tidak dapat dipisahkan dengan sang konseptor, Bung Karno. Pada tahun  1950-an, dia telah melihat berbagai bibit penyakit mentalis yang menggerogoti mentalitas anak bangsa, baik di masyarakat dan pemerintahan yang dianggapnya kontra revolusi (hal 11). Oleh karena itu dalam pidato di hari kemerdekaan,  tanggal 17 Agustus 1957 Bung Karno mengajak segenap warga Indonesia untuk melakukan  revolusi mental.

“National building membutuhkan bantuannya Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah.” (hal 18).

Di mana maksud revolusi mental adalah sebuah ajakan untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Kita diharapkan meninggalkan sikap-sikap buruk yang akan merugikan diri sendiri juga bangsa. Dan konon gasasan Bung Karno tentang “Revolusi Mental” saat ini, tengah disemaikan dalam program Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menilik dari sebab musabab tersebut, Sigit Aris Prasetyo mencoba menguraikan secara sederhana perihal “Revolusi Mental” melalui potret perkataan, tindakan, karakter dan kehidupan sehari-hari dari Bung Karno. Dengan harapan kita bisa meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai positif yang masih relevan dalam konteks kekinian sebagai upaya membangun bangsa negara yang memiliki karakter unggul.

Di antaranya Bung Karno selalu menggemborkan semangat nasionalisme kepada seluruh rakyat. Karena semangat nasionalisme-lah  yang akan menjadikan warga negara selalu mencintai dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa.  Tanpa nasionalisme sebuah bangsa seperti hidup tanpa roh. Tanpa nasionalisme sangatlah mustahil suatu bangsa dapat tumbuh sebagai bangsa besar. Bahkan sebaliknya, dapat menjadi bangsa lemah, rapuh dan mudah terombang-ambing dalam percaturan politik global (hal 26).

Kita juga harus membina kebhinekaan. Mengingat Indonesia, merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya, agama dan bahasa. Oleh karenanya kita harus menjaga  persatuan tanpa membedakan perbedaan yang ada. Bung Karno pernah berkata, “Kebhinekaan harus terus kita bina, karena justru kebhinekaan inilah unsur menjadikan Ekaan. Bhineka tunggal ika harus kita pahami sebagai satu kesatuan dialektis.” (hal 36). Dengan membina dan menjaga ke-Bhineka Tunggal Ika-an, bangsa Indonesia dapat terus bersatu dan tidak mudah terpecah belah seperti beberapa bangsa lain. 

Tidak ketinggalan, Bung Karno mengingatkan kita untuk  selalu memiliki toleransi beragama. Dia berkata, “Bhineka Tunggal Ika sudah jelas mengatur hidup soal toleransi beragama. Walau kita berbeda agama, suku hingga warna kulit tapi kita tetap satu.” (hal 47). Hal ini ditunjukkan dengan lokasi  Masjid Istiqlal yang dibangun tepat berhadapan dengan  Gereja Katedral. Inilah simbol toleransi bergama yang ingin ditunjukkan Bung Karno. Sikap Bung Karno itu kemudian mengantarkannya sebagai pemimpin negara paling toleran terhadap keberagamaan.

Selanjutnya Bung Karno mengkritisi para pelaku koruptor. Di mana dia menganggap para koruptor sebagai pengkhianat negara. Perilaku tersebut lebih buruk dan hina daripada kejahatan lainnya. Korupsi bukan kejahatan biasa, namun sebagai kejahatan luar biasa. Menurutnya seorang koruptor harus diposisikan ke dalam kasta sosial paling rendah di masyarakat, lebih rendah dari kasta sudra sekalipun (hal 56).

Dalam  pidatonya di depan Kongres Persatuan Pamong Desa, tanggal 12 Mei 1964 di Jakarta, dengan gambalang Bung Karno menista para pelaku koruptor. Bung Karno juga mewanti-wanti rakyatnya untuk tidak melakukan praktik perilaku buruk tersebut.

Selain beberapa hal tersebut, masih ada sikap-sikap yang perlu kita miliki. Seperti anjuran untuk selalu mengayomi orang kecil, selalu mandiri, meningatkan minat baca, tidak melupakan sejarah, selalu bergotong royong, berani bermimpi  dan berimajinasi serta  banyak lagi. Lalu kita juga diingatkan untuk meninggalkan sikap-sikap, seperti ketamakan, kemasalan, kemesuman, keinlanderan—selalu rendah diri, individualisme, dan ego-sentrisme. Kita dituntut untuk menjadi warga Indonesia seutuhnya, menjadi manusia pembina. Sebuah buku yang patut dibaca semua lapisan masyarakat sebagai renungan dan perbaikan diri demi mewujudkan masyarakat unggul dan berkarakter.

Srobyong, 7 Desember 2017

Friday, 7 September 2018

[Resensi] Kehidupan A.J. Fikry Seorang Penikmat dan Penjual Buku

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 4 September 2018


Judul               : Kisah Hidup A.J. Fikry
Penulis             Gabrielle Zevin
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-03-7581-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

“Kita membaca untuk mengetahui kita tidak sendirian.  Kita membaca karena kita sendirian. Kita membaca dan kita tidak sendirian.” (hal 263).

Benar kata pepatah bahwa buku adalah teman paling setia juga teman yang akan selalu menambah pengetahuan. Karena buku akan membuka banyak jendela yang bisa kita masuki kapan saja.  Tidak jauh-jauh dari masalah perbukuan, inilah tema yang diangkat penulis dalam buku ini.

A.J. Fikry  adalah pemilik  Island Books—toko buku satu-satunya di Alice.  Dulu dia membangunnya bersama sang istri—Nicole. Namun sejak istrinya meninggal A.J berubah. Dia mulai menjadi pribadi yang sinis dan emosi. Dia pernah bersikap kasar pada Amelia Loman—wiraniaga penerbit yang menawarkan buku. Dia yang suka membaca—meski hanya karya-karya sastra berat, tidak suka teenlit, chicklit, dan genre lainnya—mulai menganggap buku adalah membosankan—bahkan tidak lagi membaca.

Meski A.J tetap bertahan menjual buku, lambat laun penjualannya merosot tajam. Keadaan itu sungguh membuatnya maskin frustasi. Dia benar-benar tidak memiliki semangat hidup. Dia menenggelamkan diri dengan minum-minum. Hingga suatu haru, A.J menyadari koleksi puisi Poe yang langka telah hilang (hal 34). Dan kemunculan sebuah paket menarik yang dia temukan di pojok tokonya—dilengkapi sepucuk pesan—telah  merubah kehidupan A.J.

“Ini Maya. Umurnya 25 bulan. Ia sangat cerdas, sangat pandai bicara untuk seusianya, dan anak yang sangat manis dan baik. Aku ingin ia tumbuh sebagai anak yang gemar membaca. Aku ingin ia dibesarkan di tempat dengan buku-buku dan di antara orang yang peduli dengan hal-hal semacam itu.” (hal 53-54).

Sejak kehadiran Maya, A.J merasa memiliki kekuatan baru untuk bertahan hidup. Meski tidak berpengalaman dalam merawat bayi, dia berusaha yang terbaik merawat Maya.  Selain itu A.J juga mulai memperbaiki kesalahannya. Dia meminta maaf pada Amelia dan mulai menata kembali bisnis bukunya.  Hingga akhirnya bisnis bukunya mulai berangsur membaik.

Maya pun tumbuh menjadi gadis yang cerita, semakin menggemari buku dan bercita-cita menjadi penulis. Dia belajar banyak dari tulisan-tulisan milik A.J juga dari koleksi buku di Island Books. Dan A.J pun mulai membuka diri—sejak peritiwa pencurian buku itu, A.J menjadi dekat dengan petugas polisi bernama Lambiase—yang awalnya tidak terlalu suka membaca, kini kecanduan membaca—bahkan membuat klub baca polisi.

Kejutan yang tidak terkira adalah ketika A.J menyadari bahwa dia memiliki ketertarikan dengan Amelia. Dia merasa memiliki kecocokan ketika berdiskusi dengan gadis itu. Pengetahuannya tentang berbagai buku dan kecerdasannya membuat A.J tertarik.  Tentu saja selain sekelumit masalah itu, masih banyak kejutan lain yang ditawarkan novel ini. Misalnya tentang misteri siapa orang orangtua kandung Maya, hingga siapa sebenarnya pencuri buku puisi A.J. Penulis menyelesaikan kisahnya dengan ekseskusi yang baik.

Novel ini cukup menghibur, alurnya menarik. Tema buku sudah menjadi daya tarik tersendiri. Membuat kita penasaran dan tidak ingin berhenti membaca sebelum menyelesaikan kisah ini. Hanya saja ada beberapa  bagian yang entah mengapa menurut rasa saya sedikit membosankan.  Tapi hal itu cukup terasamarkan dengan banyaknya pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini.

Secara tidak langsung A.J menjabarkan bagaimana proses yang perlu dilakukan bagi siapa saja yang ingin menulis—yaitu mau membaca dan mulai menulis—itulah pokok utamanya. Di sini A.J juga menyuarakan kekhawatirannya perihal buku elektronik yang sejatinya bisa menurunkan minat baca.
“Buku elektronik bukan hanya akan menghancurkan bisnisku, tapi lebih buruk lagi, membuat berabad-abda budaya baca yang kuat mengalami penurunan dengan pasti dan cepat.” (hal 229).

Dari perjalanan hidup A.J, kita juga diajari untuk menjadi sosok kuat dan harus bangkit, meski banyak cobaan yang menerpa kita. Tak ada sesuatu yang abadi, oleh karena itu kita harus sabar ketika mendapat ujian dan selalu kuat untuk bertahan semaksimal mungkin.

Dan saya sangat setuju dengan pemikiran Nicole dan A.J sebelum mereka membangun Island Books ini di Alice “Sebuah tempat kurang sempurna tanpa toko buku.” (hal 212).

Srobyong, 11 Februari 2018

Thursday, 6 September 2018

[Resensi] Orang Tua Harus Mendidik Anak dengan Benar

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 2 September 2018


Judul               : Home Learning : Belajar Seru Tanpa Batas
Penulis             : Natalia Ridwan, Ning Nathan, Yulia Hendra
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 1 Januari 2018
Tebal               : 224 halaman
ISBN               : 978-602-03-8086-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Education is the way to move mountains, to build bridges, to change teh world. Education is the path to the future. I belive that education is indeed freedom.” (hal 32).

Menjadi orangtua merupakan tantangan besar.  Selain memiliki tanggung jawab dalam merawat anak dari bayi hingga dewasa, kita juga memiliki tanggung jawab dalam memilihkan konsep pendidikan yang baik pada anak.  Namun perlu kita catat dalam masalah pilihan soal pendidikan,  kita tidak boleh menekan atau memaksakan kehendak pada anak. Kita tetap harus berbicara dari hati ke hati, agar masing-masing pihak—orangtua dan anak bisa enjoy dan tidak  merasa terpaksa.

Akan tetapi, saat ini upaya memilihkan pendidikan bagi anak itu gampang-gampang susah. Untuk itulah orangtua kini dituntut lebih kritis dan kreatif dalam menyikapi berbagai ragam pilihan pendidikan yang ada. Di antara metode pendidikan yang bisa kita pilih adalah, membiarkan anak memperoleh pendidikan di luar rumah—dalam artian bisa masuk sekolah  nasional sekolah pendidikan kerja sama (SPK), sekolah internasional, sekolah alam, dan madrasah.

Pilihan lain adalah orangtua bisa memilih home learning. Yaitu sebuah konsep mendidik anak berbasis rumah atau keluarga—di mana metode ini memiliki kebebasan dalam berlajar. Anak bisa belajar dengan bebas, di mana saja, kapan, saja dan dengan siapa saja. Buku ini sendiri mencoba mengungkap sisi menarik dan fleksibel dalam pilihan metode pendidikan home learning.  Tentu saja hadirnya buku ini bukan berarti memengaruhi pilihan orangtua dan mengesampingkan tugas guru dalam sekolah. Akan tetapi buku ini bisa menjadi wacana yang mungkin bisa kita pertimbangkan tanpa lupa memikirkan tentang bibit, bebet dan bobot serta dampak yang akan diperoleh anak.

Saat ini disadari atau tidak, kegiatan  mengajar sering dilakukan semata-mata untuk mengejar target kurikulum. Padahal membuat anak senang belajar jauh lebih penting.  Sir Ken Robinson mengatakan, “Tugas kita adalah mendidik anak-anak agar mereka bisa menghadapi masa depan. Kita mungkin tidak bisa melihat masa depan, tapi merekalah yang akan menghadapinya dan tugas kita adalah membantu mereka mewujudkannya.”

Perlu kita pahami tiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Ada yang cepat tanggap, namun ada juga yang memerlukan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu. Ada yang bisa belajar di mana saja, ada pula yang membutuhkan suasan tenang dalam kesendirian. Dengan demikian, pendekatan belajar yang tepat bukanlah standardisasi, tetapi pemelajaran individual (hal 8-9).

Jika anak adalah subyek, yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah guru super yang menguasai segala-galanya, namun pembimbing yang bisa menciptakan atmosfer yang merangsang minat dan rasa ingin tahu mereka dalam belajar, berpikir, mengajukan pertanyaan dan membandingkan berbagai pandangan.  Galileo Galilie pernah berkata, “Anda tidak bisa mengajari seseorang tentang sesuatu, Anda hanya bisa membantuknya menemukan diri sendiri.” (hal 30).

Sedangkan home learning  sedikit banyak akan membuat anak memiliki kebebasan dalam belajar. Artinya mereka bisa belajar di mana saja, bisa belajar dengan cara apa saja, baik lewat keseharian, saat traveling atau dengan cara-cara yang tidak konvensional.  Anak tidak dituntut untuk mengejar materi sebagaimana yang kerap terjadi dalam sekolah formal. Yang terpenting adalah kenyamanan anak dalam belajar.  

Home learning dianggap sebagai salah satu  metode pendidikan bijak yang bisa membantu anak untuk menambah pengetahuan juga dalam pembelajaran pendidikan moral secara langsung.  Mahatma Gandhi berkata, “There is no school equal to a decent home and no teacher equal to avirtuous parent.” (hal 121). Namun perlu kita catat meskipun home learning mewarkan berbagai kebebasan,  kita juga harus memahami berbagai persiapan materi bagi anak.

Dilengkapi dengan berbagai kisah menarik dari pengalaman para orangtua pelaku home learning, di sini kita akan mendapat gambaran nyata tentang bagaimana cara memilih pendidikan yang terbaik bagi anak. Buku ini akan sangat membantu orangtua dalam mengarahkan anak menekuni bidang sesuai minat dan bakat anak. kesimpulan saya, apa pun pilihan kita dalam menerapkan pendidikan, yang terpenting adalah orangtua tetap menjadi pendamping yang baik, memberikan pengarahan dan tidak memaksakan kehendak pada anak. Karena bagaimana pun orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.

Srobyong, 29 Juli 2018

Saturday, 1 September 2018

[Resensi] Efek Berbahaya dari Asupan Karbohidrat yang Berlebihan

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 21 Agustus 2018 


Judul               : Mitos Jahat Karbohiodrat
Penulis             : dr. Toru Mizoguchi
Penerjemah      : Dian Kusuma Wardhani
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Mei 2018
Tebal               : 172 halaman
ISBN               : 978-602-402-121-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Agar tubuh menjadi sehat kita memerlukan berbagai asupan gizi. Di mana asupan gizi itu bisa kita peroleh dari zat-zat makanan berupa, protein, mineral, vitamin, air, lemak dan karbohidrat. Enam zat tersebut memiliki fungsi sebagai penghasil energi, membangun dan memperbaiki jaringan rusak dan melindungi tubuh.

Karbohidrat merupakan salah satu zat makanan yang berguna untuk menghasilkan energi. Jika kita kekurangan karbohidrat, maka tubuh kita menjadi lemas dan tidak bertenaga. Namun di sisi lain, jika kita terlalu banyak mengkonsumis karbohidrat, maka akan timbul pula efek negatif pada kesehatan tubuh. Untuk itu, dalam mengkonsumsi karbohidrat kita harus membatasinya agar sesuai porsi dan tidak belebihan. Buku ini akan membahas tentang rangkuman bagaimana mendapat nutrisi dan metode membatasi karbohidrat dengan benar, berdasarkan terapi yang dilakukan oleh dr. Toru Mizoguchi (hal 12).

Dalam keseharian, kita pasti sering menikmati hidangan manis, baik makanan atau minuman. Kita juga sering melahap nasi yang baru matang. Secara kasat mata, hidangan itu nampak lezat. Namun siapa sangka, jika kita terlalu sering mengonsumsinya, maka hal itu bisa mengakibatkan penuan dini dan timbulnya berbagai penyakit pada tubuh. Di antara makanan yang banyak mengandung karbohidrat adalah nasi, makanan manis, roti putih,  kentang, sayuran berumbi, dan banyak lagi.

Berikut ini adalah penyakit yang bisa terjangkit jika kita terlalu banyak mengonsmusi zat gula :  diabetes, stroke, jantung,  dyslipidemia—kelainan metabolisme lipid yang ditandai oleh peningkatan maupun fraksi lipid dalam plasma, hipertensi, obesitas, alergi, atopi, depresi,  dan kanker.

Seyogyanya kita harus mulai mengurangi mengkonsumsi karbohidrat. Karena dengan mengurangi karbohidrat, dan mengutamakan mengonsumsi protein dan lemak, akan mengembalikan kondisi tubuh seperti semula (hal 18). Menstabilkan kadar gula  juga berfungsi untuk meningkatkan semua fungsi tubuh. Sedang pola makan dengan banyak karbohidrat akan membuat fluktuasi kadar gula naik turun secara kacau.

Mungkin kita akan bertanya-tanya kenapa  karbohidrat bisa merugikan kesehatan? Padahal karbohidrat merupakan salah satu  sumber energi.  Perlu kita ketahui, saat masuk ke dalam tubuh, karbohidrat akan diserap sebagai glukosa dari lambung melewati usus kecil. Kemudian, oleh cairan darah akan diangkut ke seluruh tubuh melalui saraf-saraf pengangkut.   Sedang kadar glukosa yang terkandung dalam cairah darah adalah kadar karbohidrat atau zat gula dalam tubuh.

Biasanya kadar gula darah akan naik ketika makan dan akan turun setelah beberapa waktu. Saat kondisi sehat, apa pun yang dimana  biasanya kadar gula akan tetap stabil. Akan tetapi, ketika terus- meneris makan makanan yang dapat menaikan kadar gula darah secara signifikan, akan mulai muncul gangguan pada fungsi pengaturan tubuh, sehingga fungsi pengaturan berangsur-angsur akan kacau. Dan pada akhirnya akan terjadi kondisi yang disebut penyakit hipoglikemia (gula darah rendah) (hal 19-20).

Dipaparkan juga bahwa mengkonsumsi karbohidrat berlebihan akan membuat kadar gula darah meningkat secara drastis, insulin akan keluar dalam jumalh besar, kelebihan gula darah akan terakumulasi sebagai viseral. Akibtanya, insulin akan tersu dikeluarkan dalam jumlah yang lebih besar lagi. Hal ini akan terus terjadi berulang-ulang, hingga menyebabkan “sirukulasi insulisn dan lemak viseral yang buruk.” (hal 37). Dan hal ini bisa memicu terjadinya obesitas.

Selain sedikit pembahasan yang sudah dipaparkan di sini, masih banyak lagi pembahasan yang tidak kalah menarik, yang akan menyadarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga asupan karbohidrat yang tepat. Di antaranya adalah pembahasan lebih terperinci tentang bebagai penyakit yag disebut di atas, pengaruh apa yang dimiliki ketika terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat serta penjelasan yang detail tentang hal-hal yang perlu kita lakukan jika ingin memulai hidup sehat.

Tentu saja kehadiran buku bukan berarti melarang kita untuk mengonsusmi karbohidrat, namun kita diingatkan untuk tidak mengonsuminya secara berlebihan. Semoga adanya buku ini bisa membuka wacana yang lebih luas pada kita yang selalu ingin  hidup dengan pola yang sehat.

Srobyong, 3 Agustus 2018 

Wednesday, 29 August 2018

[Resensi]Mengenalkan Ayat Kauniyah dan Qauliyah Pada Anak

Dimuat di Duta Masyarakat, Duta Masyarakat Sabtu 18 Agustus 2018


Judul               : Al-Quran Menakjubkan : Manusia dan Alam
Penulis             : DK Wardahani
Ilustrator         : Diani Apsari & Amalia Kartika Sari
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-455-459-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Membekali anak dengan pendidikan agama sejak dini merupakan pilihan tepat. Karena pendidikan agama adalah pondasi kuat, yang akan membangun kejiwaan, keimanan dan ketawaan anak.  Selain itu dengan bekal pendidikan agama, anak akan tumbuh menjadi sosok yang bertanggung jawab dan berakhlakul kharimah. Salah satunya adalah  mengenalkan anak dengan ayat kauniyah dan qauliyah. Karena secara tidak langsung keduanya akan membuat anak mengenal ciptaan Tuhan dan juga belajar tentang keesaan Tuhan.

Ayat kauniyah adalah ayat yang menunjukkan segala sesuatu yang diciptakan Allah. Hal ini berkaitan dengan apa yang diciptakan Allah, baik itu berupa benda, kejadian atau peristiwa yang ada di alam semesta ini. Sedang Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirman Allah, yang berhubungan dengan cara mengenal Tuhan.  Namun perlu dicatat, dalam mengenalkan pendidikan tentang ayat-ayat kauniyah dan qauliyah, orangtua harus pintar-pintar dalam memilih media yang menarik dan cocok bagi anak. Salah satunya dengan media membaca.

Di antara buku yang patut dibaca untuk anak yang sesuai dengan tema  tersebut adalah buku karya DK Wardhani yang berjudul “Al-Quran Menakjubkan : Manusia dan Alam” ditampilkan dengan kemasan yang menarik, penuh dengan gambar-gambar apik, anak akan semangat dan tertarik untuk belajar dan membacanya. Apalagi penulis memaparkannya dengan bahasa yang sederhana, sesuai dengan pemahaman anak.

Pada bagian pertama kita diajak mengenal dengan manusia pertama yang diciptakan Allah. Dialah Nabi Adam AS yang diciptakan  dari tanah  dengan bentuk manusia. Lalu ditiupkan ruh kepadanya. Nabi Adam As tidak memiliki ayah dan ibu. Nabi Adam As diberi  kelebihan ilmu dibanding makhluk Allah lainnya.  Agar memiliki keturunan Allah memberikan Nabi Adam AS, istri bernama Hawa. Alasan kenapa Allah menciptakan manusia adalah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.

Hal ini senada dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30. “Ingatlah ketika Tuhanmu berifirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (hal 2).

Allah menciptakan manusia dengan bentuk sebaik-baiknya. Oleh karena itu kita patut bersyukur kepada Allah.  Coba kita lihat bentuk tubuh kita. Dimulai dari kaki, tangan, indra mepengecap, mata, gigi, hidung, otak, telinga, sistem pencernaan dan lain sebagainya, masing-masing memiliki manfaat tersendiri.  Dalam surat  Al-Infithaar ayat 7-8 dijelaskan, “Allah telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadiamu dan menjadikannya (sususan tubuh)-mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (hal 9).

Misalnya saja  keberadaan gigi yang berguna untuk merobek dan mengunyah makanan. Gigi juga memiliki pelindung yang disebut email. Pelindung itu membantu mencegah lubang di gigi.  Atau otak yang bisa membuat kita berpikir dan memutuskan banyak hal. Selama kita masih hidup, otak bisa menerima dan mengolah jutaan informasi juga menyimpan jutaan ingatan.

Selain menciptakan manusia, Allah juga menciptakan alam. Ada langit,  bulan, matahari, bintang dan benda-benda langit lainnya.  Terciptanya benda di langit ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah.  Salah satunya kita bisa merenungkan ayat 190 dan 191 dalam surat Ali Imran. “Sesungguhmya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-siang.” (hal 85-86).

Ayat-ayat yang termatub dalam buku ini, selain mengingatkan kita tentang ciptaan Allah, juga mengajak kita untuk mempercayai kebesaran Allah.  Berbagai peristiwa yang ada di muka bumi, seperti terjadinya siang dan malam, pergantian waktu, hujan, kilat dan petir, atau angin, semua sudah Allah jelaskan dalam Al-Quran. Dan hal ini menunjukkan betapa besar kuasa dan kehendak Allah. 

Dilengkapi dengan aktivitas seru, buku ini sangat menarik untuk disugukan kepada anak. Apalagi melalui buku ini, anak juga bisa belajar tentang fakta sains yang ada dalam Al-Quran.  Jadi selama membaca buku ini, selain anak bisa meningkatkan iman dan takwa, ilmu tentang pengetahuan alam dan teknologi juga bisa bertambah.

Srobyong, 26 Mei 2018