Tuesday, 26 September 2017

[Resensi] Jalan Bermusik Irish

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 24 September 2017 


Judul               : Irish
Penulis             : Kamal Agusta
Penerbit           : de Teens
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 220 halaman
ISBN               : 978-602-391-405-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Naskah ini merupakan naskah asli, sebelum ada pemotongan dari redaksi. :) 

Mengambil tema dunia remaja, novel ini berkisah tentang sekelompok anak yang ditantang untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana mereka berjuang mempertahankan klub musik yang mereka cintai, juga bagaimana mereka harus berdamai dengan masalah pribadi. Karena disadari atau tidak, masa remaja  adalah masa transisi. Di mana pada masa ini,  anak-anak sedang berusaha mencari jati diri.  Mereka tidak ingin dikekang atau diatur. Mereka hanya ingin diakui, bukan digurui.

Ada Irish yang  tengah sedih, ketika tahu klub musik  sekolah terancam dibubarkan, kalau dia dan teman-temannya—Fairus, Agung, Bayu, Nurdin dan Mia—tidak bisa menunjukkan prestasi.  Langkah pertama yang dilakukan Irish untuk mencegah pembubaran klub adalah meminta pendapat Bu Dewi, sebagai guru pembimbing.  Namun betapa kagetnya Irish, ketika Bu Dewi meminta dia untuk mengajak Alvaro untuk bergabung, agar bisa membantu untuk menyelamatkan klub itu.

Di sinilah tantangn Irish, apakah dia mau dan mampu melakukannya? Karena seluruh sekolah tahu, Alvaro adalah ada baru yang terkenal sombong dan  troublemaker. Namun di sisi lain, Irish juga tahu jika dia tidak mengajak Alvaro, masalah klub tidak akan selesai, bahkan bisa berakhir menyedihkan. Dan Irish tidak mau itu terjadi, dia harus menunjukkan pada sekolah bahwa dia dan teman-temannya mampu berprestasi lewat musik.

Beda lagi dengan Alvaro, sejak kepergian ibunya, dia memilih menutup diri. Dia melupakan semua mimpi yang pernah dia angankan, dan memilih terpuruk.  Tidak hanya itu, Alvaro juga menyalahkan ayahnya atas kematian sang ibu. Hingga akhirnya dia memilih tidak mau bersosialisasi. Hal itu yang pada akhirnya membuat Alvaro tidak mengindahkan ajakan Irish.  Padahal dulu musik adalah hidupnya. Tapi kegigihan Irish, akhirnya meruntuhkan tembok tinggi yang dia bangun.

 “Kehilangan memang selalu menyakitkan. Sangat menyakitkan lagi jika itu orang yang paling terdekat dan kita sayangi. Tapi, kita nggak boleh larut dalam kesedihan. Kehidupan masih terus berlanjut. Kita harus menerima kehilangan itu.” (hal 160-161).

Namun masalah tidak selesai sampai di sana. Karena setelah Alvaro bergabung, masalah lain juga timbul. Agung dan Bayu ternyata tidak menyukai Alvaro. Mereka menganggap Alvaro terlalu mengatur dan tidak memiliki empati. “Aku nggak sanggup main sama orang seperti dia. Mending aku keluar.” (hal 124 -125). Padahal Agung dan Bayu adalah gitaris handal dalam grup mereka.  Dan klub mereka tidak mungkin bisa berjalan lancar tanpa adanya Agung dan Bayu.

Lalu ada juga cinta segi tiga yang runyam. Di mana Irish harus memilih antara Alvaro atau sahabatnya—Naufal yang tiba-tiba mengungkapkan cinta. Selain itu, yang lebih menegangkan adalah kompetisi band yang mereka ikuti, terancam gagal.  Berbagai masalah dunia remaja tumpah ruah di sana. Dan mereka—para tokoh, berjuang untuk  mengatasi dan menghadapi dengan cara mereka.

Sebuah buku yang menarik. Meski masih ada beberapa kekurangan yang saya rasakan ketiaka membaca. Namun kekurangan tersebut tidak mengurangi kenikmatan dalam membacaa. Di sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa hidup memang selalu akan ada masalah. Tinggal bagaimana kita menyikapi. Selain itu kita juga dapat pelajaran, bahwa tidak ada yang tidak mungkin, jika kita mau berusaha dan berdoa.

Srobyong, 15 Juli 2017 

Wednesday, 20 September 2017

[Resensi] Berguru dari Kisah Bulu Tengon

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu  17 September 2017 


Judul               : Kisah Bulu Tengon
Penulis             : Dian K
Ilustrator         : R. Herningtyas
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 32 halaman
ISBN               :978-602-394-691-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama Jepara.

Indonesia kerap kali disebut sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi—yang mana menggambarkan sebagai negara yang memiliki kekayaan alam. Namun ternyata selain kaya akan alam, Indonesia juga negara yang kaya akan adat dan budaya. Mengingat di Indonesia memang terdiri dari berbagai suku yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Namun begitu, sebagaimana semboyan kita, Bhinneka Tunggal Ika—meskipun berbeda-beda tetap kita satu jua.

Inilah keunikan Indonesia. Dan sebagai warga yang  baik, sepantasnya kita menghargai berbagai kekayaan yang ada di tanah air ini. Salah satunya dengan mengenal cerita- rakyat di Indonesia. Karena sadar atau tidak sadar, dari kisah-kisah rakyaat di Indonesia, kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah tersebut.  Salah satunya adalah “Kisah Bulu Tengon” sebuah kisah rakyat yang berasal dari Kalimantan Utara. Kisah ini patut dijadikan guru dalam berperilaku.

Mengisahkan tentang Ku Anyi yang hidup bahagaia dengan istrinya. Ku Anyi merupakan kepala suku Dayak yang sangat disayangi dan dihormati oleh penduduk. Mengingat Ku Anyi ini memang sangat ramah dan tidak segan membantu. Ku Anyi kerap membagikan hasil buruanya kepada penduduk (hal 4). Hanya satu hal yang kerap membuat Ku Anyi dan istrinya sedih.  Mereka belum juga dianugerai anak oleh Yang Maha Kuasa. Namun begitu, mereka tetap bersabar dan berdoa kepada Allah. “Sabar. Dan teruslah berdoa. Suatu saat Tuhan akan mengabulkan doa kita.” (hal 7). 

Selain bersabar dan berdoa, mereka juga terus berbuat kebaikan. Mereka percaya Kebaikan akan berbuah kebaikan (hal 8).  Hingga pada suatu hari, Ku Anyi bekerja seperti biasa, dia pergi berburu ditemani anjing setianya.  Anehnya, anjing itu tiba-tiba menyalak. Pada awalnya Ku Anyi menduga kalau anjingnya melihat rusa atau kelinci. Tapi ternyata dia salah. Saat itu mereka berada di antara  bambu betung. Dan entah kenapa ada bisikan-bisikan aneh yang membuat Ku Anyi mendekatinya.

Di sana dia menemukan sebuah telur besar, yang akhirnya dia bawa pulang. Mungkin terlur itu bisa dimasak dan dijadikan lauknya.  Selain membawa telur, Ku Anyi juga membawa bambu betung yang juga bisa dijadikan sayur. Sayangnya, ketika Ku Anyi meminta istrinya untuk memask telur dan sayur itu, sang istri menolak, karena mereka sudah memiliki lauk yang lebih cukup. Akhirnya Ku Anyi pun setuju dan berencana memasak telur itu untuk esok hari. Hanya saja ketika pagi tiba, mereka dikejutkan dengan keberadaan dua bayi yang sangat menggemaskan.  Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?

Sebuah kisah yang menarik dan dipaparkan dengan asyik juga. Dilengkapi ilustrasi yang cantik, semakin membuat kisah ini enak untuk dibaca. Membaca kisah ini kita bisa belajar bahwa orang yang suka berbuat kebaikan akan mendapat balasan kebaikan juga.  Dan kita juga belajar, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan.  Selain itu dalam buku ini kita juga bisa belajar tentang sejarah tentang cikal bakal Kesultanan Bulungan.

Menarik bukan? Rasanya sayang jika tidak mengoleksinya. Membaca buku ini selain mendapat pelajaran moral, kita juga belajar sejarah mengenai keunikan-keunikan kisah rakyat di setiap daerah.  Tidak ketinggalan, mengingat buku ini bilingual book, maka kita juga bisa belajar bahasa Inggris lewat buku ini.

Srobyong, 10 Agustus 2017

Saturday, 16 September 2017

[Resensi] Mengenal Berbagai Penyakit yang Kerap Menyerang Lansia

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 8 September 2017


Judul               : Tetap Sehat Saat Lansia
Penulis             :  Erlita Pratiwi & dr. Yekti Mumpuni
Penerbit           : Rapha Publishing, Imprint of Penerbit Andi
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : x + 170 halaman
ISBN               : 978-979-29-6046-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Buku ini memaparkan  berbagai uraian penyakit yang kerap menyerang pada kaum lanjut usia atau lansia, disertai gejala, juga bagaiman cara pencegahan dan penanganannya. Perlu diketahui, tubuh orang lanjut usia rentan mengalami serangan berbagai penyakit karena daya tahan tubuh mulai menurun.  Di antara  gangguan penyakit yang menyerang adalah gagal jantung, gagal ginjal kronis, katarak, dan hepatitis.

Gagal jantung adalah keadaan di mana jumlah darah yang dipompa oleh jantung tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan. Menurut penelitian, jumlah penderita gagal jantung menanjak tajam pada usia 75–84 tahun.  Alasan yang membuat lansia rentan mengalami gagal jantung adalah, dinding pembuluh darah kaku, terjadi kekakuan pada jantung sehingga daya kerja jantung berkurang akibat banyaknya sel mati, serta adanya perubahan metabolisme sel pada usia lanjut (hal 3–4 ).

Faktor yang memicu terjadinya penyakit ini adalah, kelebihan natrium, tidak patuh minum obat dan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu.  Gejala yang terjadi yaitu; merasa lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik, terjadi pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut dan mengalami sesak napas yang hebat.  Cara pencegahan gagal jantung dengan  melaksanakan pola hidup sehat, berolahraga secara teratur, dan makan dengan gizi seimbang (hal 6).

Gagal ginjal dapat diartikan sebagai hilangnya fungsi ginjal yang mungkin terjadi secara cepat atau bisa juga terjadi secara perlahan.  Gagal ginjal akan menyebabkan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh terganggu. Tanda-tanda penyakit ini adalah gatal-gatal secara terus menerus di bagian tubuh,  terjadi penumpukan kotoran di dalam tubuh, nafsu makan turun, terjadi pembengkakan pada beberapa area tubuh—kaki dan betis. Selain itu menurunnya hemoglobin dan tekanan darah meningkat (hal 77).

Cara mengobati gagal ginjal kronis yaitu melakukan cuci darah atau hemodialisis—yaitu tindakan membuang racun sisa metabolisme dari dalam tubuh karena ginjal tidak mampu melakukan fungsinya dengan baik.  Bisa juga dengan transplantasi ginjal—biasanya ini terjadi jika ginjal sudah benar-benar tidak bisa berfungsi lagi.  Yang harus diperhatikan bagi para penderita gagal ginjal kronis itu harus memperhatikan asupan cairan minimal 0,6 liter per hari, jika tidak hal ini bisa menimbulkan keram pada kaki dan penurunan tekanan darah.

Katarak  adalah kerusakan mata di mana lensa mata menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat menembusnya. Pada usia lanjut, katarak diawali dengan terjadinya keburaman pada lensa, kemudian pembengkakan dan pada akhirnya kehilangan transparasi seluruhnya.  Gejala katarak adalah pandangan mulai menjadi kabur dan buram—seperti ada bayangan awan atau asap, sulit melihat pada malam hari, sensitif terhadap cahaya, terdapat lingkaran cahaya pada mata saat memandang sinar, membutuhkan cahaya terang untuk membaca dan saat melihat sebuah obyek, warna obyek akan memudar atau menguning (hal 99).

Cara mencegah katarak dapat dilakukan beberapa cara sebagai berikut; menghindari makanan cepat saji atau makanan yang mengandung lemah jenuh, membiasakan minum teh hijau setiap pagi, minum segelas jus wortel setelah makan siang dan mengkonsumsi sayuran terutama bayam dan rumput laut.
Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati. Penyebabnya antara lain infeksi virus dan karena mengonsumsi obat-obatan tertentu. Gejala yang sering terjadi ketika mengidap hepatitis adalah merasa tidak enak badan—mirip dengan meriang, mudah lelah, hilang nafsu makan, mual dan muntah, sakit kepala, sara sakit di perut bagian bawah, bagian mata yang berwarna putih berubah menjadi kuning dan urin berwarna gelap (hal 135).

Cara pencegagannya adalah menghindari minuman beralkohol, menghindari obat-obat yang dapat merusak hati, menjalankan diet sehat dan seimbang, olahraga teratur dan cukup istirahat. Buku ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga kesehatan tubuh agar tetap sehat meski sudah mencapai masa lanjut usia. Sebuah buku yang patut  dibaca untuk semua kalangan, agar lebih peduli kepada kesehatan.

Srobyong, 26 Juni 2017

Tuesday, 12 September 2017

[Resensi] Menjaga Kesehatan Sampai Lansia

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 10 September 2017 


Judul               : Tetap Sehat Saat Lansia
Penulis             :  Erlita Pratiwi & dr. Yekti Mumpuni
Penerbit           : Rapha Publishing, Imprint of Penerbit Andi
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : x + 170 halaman
ISBN               : 978-979-29-6046-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

Setiap orang sudah pasti ingin selalu dalam keadaan sehat dan bugar. Baik di usia muda atau tua. Namun perlu disadari setiap makhluk hidup itu memiliki siklus kehidupan. Yaitu dimulai dari  pembuahan. Lalu janin menjadi bayi yang mana akan melalui proses kelahiran. Setelah itu bayi akan mengalami masa pertumbuhan. Dimulai dari anak, remaja, dewasa,  tua dan meninggal.

Pada masa pertumbuhan  itu tentu saja daya tahan tubuh kita akan  lebih fit. Namun  semakin bertambah usia—memasuki masa senja atau lansia, daya tahan tubuh akan semakin lemah. Dalam artian tentu tenaga dan kegesitan yang dimiliki akan mulai menurun. Pada masa itu disinyalir rentan sekali terkena berbagai penyakit.  Kira-kira apa saja penyakit itu dan bagaimana menghadapinya?

Dalam buku ini penulis mencoba memaparkan 45 penyakit yang sering hinggap diusia lansia dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Selain mengenalkan berbagai penyakit, penulis tidak lupa menjabarkan bagaimana cara pencegahan dan penangannya.

Di antara penyakit yang menyerang adalah masalah pada jantung. Sebagiamana diketahui jatung memiliki tugas sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh. Sistem peredaran darah dari dan menuju jantung disebut sistem kardiovaskuler. Bila fungsi dan kerja organ jantung terganggu, maka akan berpengaruh terhadap fungsi dan kerja organ vital lain (hal 2).

Di antara gangguan yang terjadi akibat gangguan kardiovaskuler adalah gagal jantung, penyakit jatung koroner,  kelainan katup, dan hipertensi.  Kenapa bisa terkena gagal jantung? Di sini dipaparkan beberapa hal yang memicunya. Di antaranya adalah kelebihan natrium dalam makanan. Dan cara untuk menceganya adalah melakukan pola hidup sehat, berolahraga secara teratur, dan makan dengan gizi seimbang (hal 6).

Sedangkan penyebab penyakit jantung koroner adalah berubahnya pola hidup, terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis, kurang melakukan aktivitas, polusi lingkungan parah dan hipertensi. Untuk pencegahannya dapat dilakukan melakukan pola hidup sehat; seimbang gizi, enyahkan rokok, hindari stres, awasi tekanan darah secara teratur dan teratur dalam olahraga.

Ada pula gangguang paru-paru.  Sebagaimana kita ketahui, paru-paru merupakan alat pernapasa utama manisia. Jumlahnya ada dua—terletak disebelah kanan dan kiri rongga dada, dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besar dan struktur lainnya. Seperti juga organ lainnya, paru-paru pada lansia ini rentak untuk mengalami gangguan. Beberapa gangguang paru-paru yang terjadi pada lansia, antara lain adalah  Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Tuberkulosis Paru, dan Karsinoma Paru.

PPOK ini terdiri tas bronkitis kronis—kelainan saluran napas yang ditandai batuk kronis berdahak, emfisime—kelainan anatomi paru di mana terjadi pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal dan kerusakan dinding alveoli. Terakhir Gabungan bronkitis kronis dan emfisema (hal 31). Disinyalir penyebab PPOK adalah kebiasaan merokok,  adanya paparan  asap rokok dan riawayat infeksi saluran napas bawang berulang.   Penyakit ini sendiri nenempati urutan ke-3 (8,3%) sebagai kematian lansia berusia >65 tahun (hal 32).

Selanjutnya Tuberkulosis Paru, merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberkulosis yang masuk ke dalam saluran napas. Disinyalir penyakit ini menempati urutan ke-4 (7,4%) sebagai penyebab kematian bagi para lansia.

Selain apa yang sudah dipaparkan masih banyak lagi dibahas tentang penyakit-penyakit yang harus diwaspadai. Seperti gangguan pada paru-paru, gangguan pencernaan, ginjal, mata dan banyak lagi. Semua dipaparkan dengan lengkap dimulai dari alasan bagaimana bisa terkena penyakit, ciri-ciri, pencegahan dan penanganannya. Oleh karena itu selagi dini, sebaiknya kita selalu menjaga pola makan dan pola hidup yang baik.  Karena keduanya memiliki pengaruh besar pada dampak kesehatan di usia tua.  Menarik dan membuka wawasan baru untuk lebih memerhatikan kesehatan.

Srobyong 10 Juni 2017

Monday, 11 September 2017

[Resensi] Novel Psikologi Horor yang Mencekam dan Inspirasinya

Dimuat di Jejak Literasi, edisi September 2017


Judul               : A Head Full of Ghosts
Penulis             : Paul Tremblay
Penerjemah      : Reni Indardini
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           :Pertama, Maret 2017
Tebal               :398 halaman
ISBN               : 978-602-385-253-6
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Mengutip  salah satu pendapat dari pembaca novel ini, Sara Gran—penulis Claire DeWitt and the City of the Dead dan Come Closer—mengungkapkan, “Berbeda dengan novel horor mana pun yang pernaah kau baca, tapi anehnya, terasa sangat familier. Kengeriannya akan menghantuimu.”   

Novel ini merupakan Bram Stoker’s Award Winner tahun 2015—sebuah penghargaan yang diberikan  Horror Writers Association (HWA) untuk “prestasi unggul” dalam penulisan novel horor.   Mengambil tema psikologi hororo, novel ini menceritakan tentang  kehidupan keluarga Barrett, sebuah keluarga yang tinggal di pinggiran  New England.  Pada awalnya mereka menjalani kehidupan normal seperti biasa. Sampai sebuah kejadian membuat kehidupan mereka berubah.

Marjorie, putri pertama mereka, yang berusia empat belas tahun, menunjukkan tanda-tanda memiliki sebuah penyakit yang mengharuskan mereka untuk selalu melakukan konsultasi pada dokter Hamilton. Di mana Marjorie kerap melakukan tindakan-tindakan aneh, seperti mengeluarkan suara aneh dan memiliki banyak luka aneh di tubuhnya.   Hal ini tentu saja membuat orangtua Marjorie khawatir. Belum lagi sikap Marjorie meski sudah diobati sama sekali tidak menunjukkan kepulihan. Yang ada, Marjorie semakin menggila.

Hal ini-lah yang pada akhirnya membuat orangtua Marjorie merasa putus asa. Apalagi sudah satu tahun lebih John, ayah Marjorie tidak bekerja akibat PHK masalah yang dilakukan tempat perusahaan dia bekerja dulu—Barter Brothers—perusahaan pembuat mainan yang berbasis di New England (hal 43). Sedang biaya pengobatan Marjorie tidak sedikit.

Selain Marjorie, ada Merry putri bungsu keluarga Barrett yang memang sangat dekat dengan kakaknya. Sehari-hari dia sering bersama kakaknya. Mendengar sang kakak menceritakan kisah-kisah horor yang seru tapi juga menakutkan.

“Menjelang akhir, yang tertinggal hanyalah dua anak perempuan yang menghuni rumah kecil di punck gunung. Kedua anak itu bernama Marjorie dan Merry. Mereka tinggal bersama ayah mereka. Ibu mereka  menghilang sewaktu berbelanja berminggu-minggu sebelumnya, ketika yang tumbuh mulai menyerang mereka. Dan ayah mereka ternyata tidak beres, Marjorie yang malang juga tidak beres. Tinggal si bungsu Merry yang sehat. Lalu tanpa sengaja Merry menemukan jasad ibunya dan menyadari bahwa sang ayah-lah yang telah meracuni ibu dan kakaknyaa.” (hal 55-57).

Saat itu Merry tidak paham, kalau kakaknya sedang sakit. Dia hanya tahu ... kakaknya kadang-kadang memang aneh. Bahkan ayahnya mengangap kalau tubuh Marjorie dirasuki oleh iblis. Oleh karena itu, ayahnya bekerja sama dengan Pastor Wanderlay melakukan eksorsisme—pengusiran hantu.    Selain itu ayahnya juga bekerja sama dengan sebuah acara televisi untuk mem-filmkan apa yang terjadi pada keluarga mereka demi mendapat uang. Mereka masuk dalam acara The Possesion.

Dan lima belas tahun kemudian, kebenaran di balik kisah itu terungkap melalui seorang penulis terkenal—Rachel yang tertarik dengan keluarga Barrett dan meminta kesediaan Merry untuk melakukan wawancara. Di mana pada sesi wawancara itu, Merry saksi mata kejadian yang tidak pernah dia duga—kejadian yang menakutkan dan mencekam, mulai memaparkan fakta menarik dan kisah Marjorie yang tidak pernah menua  dalam kurun waktu lima belas tahun ini.  Sebenarnrya apa yang telah terjadi pada Marjorie dan keluarganya?

Sebuah novel yang menarik. Karena penulis memaparkan dengan cara yang tidak biasa.  Mengambil alur maju mundur, membuat kita diajak pelan-pelan memasuki setiap labirin kebenaran yang disimpan penulis. Namun sejujurnya untuk rasa horor, entah kenapa saya belum merasakan feel-nya, serta novel ini terasa agak lambat dalam penceritaan. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini mencoba membuka tabir tentang pentingnya sebuah keluarga menjaga keharmonisan.  

Kekurangan novel ini tertutupi dengan kepiawaian penulis dan mengeksekusi cerita, sehingga membuat saya menyelesaikan kisah sampai akhir untuk mengetahui kebenaran dari kisah ini. Sebuah kebenaran yang tidak pernah terduga dan cukup membuat saya terkejut. 

Srobyong, 20 Juli 2017